Friday, November 6, 2015

Infeksi Saraf Mata Akibat Stres dan Kecapaian

    Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Wednesday, September 23, 2015

Bisakah Iri Dengan Orang Yang Sabar Menghadapi Penderitaannya

Rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput di rumah sendiri. Begitu sebagian orang mengatakan. Melihat keberhasilan orang lain atau rekan dan teman, membuat kita iri. Parahnya kita bahkan mungkin saja membuat gosip yang bukan-bukan tentang leberhasilan mereka. Bisa juga kita mendoakan agar mereka menderita dan keberhasilan mereka hilang.
    Tapi coba kita renungkan kembali, Allah menciptakan kebagiaan berbarengan dengan ujian atau penderitaan. Jadi ketika kita iri melihat seseorang kaya, berhasil, punya anak shaleh dan shalehah, punya pekerjaan keren dan semua kebahagiaan lainnya,ala yakinlah, mereka juga sudah melewati ujian atau penderitaan.

Sunday, September 20, 2015

Nikmat Yang Terlupakan

       Nikmat mata. Mungkin selama ini saya   tidak begitu memperhatikan nikmat Allah yang satu ini. Sebagai penulis, mata adalah salah satu modal utama yang wajib dijaga. Tapi saya telah lalai menjaganya. Walau dokter sudah menyarankam saya pakai kaca mata, saya hanya sesekali saja menggunakannya.
       Masih bisa kok mengetik gak pake kaca mata, demikian selalu batin saya berkata. Saya pun memaksa mata saya mengetik, membaca buku referensi, mengedit naskah, mencari referensi di gugel dan youtube, dan lainnya.

Thursday, September 3, 2015

Doa dan Harapan di Usia 40 Tahun

Terima kasih atas usia yang sudah mencapai 40 tahun ini ya Allah
kusadari kehidupanku hanyalah milikMu
Kau berikan aku kehidupan ini, tapi kutahu belum ada yang bisa kulakukan untukMu
yang kutahu hanyalah, bahwa Engkau memutuskan memberi amanah besar pada Rasul-Mu ketika beliau berusia 40 tahun

Dalam pikiranku, artinya amanah terbesar pada setiap insan, Engkau berikan pada usia itu
kini amanah itu sudah berada di pundakku
kumohon, bimbing aku, arahkan aku untuk memikul amanah itu
jaga aku dari kejahatan jin dan manusia yang akan menjerumuskanku dan menjauhkanku dariMu
berikan padaku semua kebaikanMu


tambahkan ilmuku agar makin dekat denganMu
izin aku untuk selalu beribadah dan taat padaMu
jauhi aku dari dosa-dosa seperti Engkau menjauhkan timur dan barat
sehatkanlah badanku dan mudahkanlah segala urusanku
kabulkanlah doa dan harapanku


Ya Allah... ampuni aku dan kedua orangtuaku. kasihi mereka sebagaimana mereka mengasihiku ketika aku kecil
Rabbana atia minladunka rahmah, wahayyi'lana min amrina rasyada
Rabbana taqabbal minna innaka antassamii'ul aliim
Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhrati hasanah waqina azabannar

Terimalah doaku

Wednesday, August 5, 2015

Review Buku Seri Teka-teki Hari Ceria Islam

Monday, July 6, 2015

Menyusun Rubik Ala Anak 4,5 Tahun

Sabtu lalu, Hauzan dan Hikmal tak sengaja melihat video you tube tentang cara menyusun rubik. Mainan berbentuk kubus yang kudu disamain warnanya setelah mengacaknya terlebih dahulu.
   Hauzan sangat serius melihat video itu. Sepertinya dia tertarik untuk memiliki mainan berwarna warni tersebut. Setelah selesai menonton satu video berdurasi 4 menit, Hauzan langsung memohon pada bapaknya untuk membelikan sebuah rubik.
     Si bapak pun berjanji akan membelikannya nanti sore. Tak sabar Hauzan menunggu sore. Saking tak sabarnya beberapa kali dia mengingatkan bapaknya kalau hari sudah sore. Walau dia tahu saat itu kami baru saja shalat zuhur.

Saturday, June 13, 2015

Wisuda Hikmal

Hari ini hari wisuda atau hari kelulusan Hikmal dari SDIT Al Muchtar Bekasi. Pagi2 sekali Hikmal sudah rapi dengan pakaian seragam khusus untuk wisudanya.
Karena harus datang lebih awal, maka saya pun mengantar Hikmal ke sekolahnya lebih awal.
      Ketika sampai di sekolah, Hikmal berpesan agar saya tidak telat datang ke acara wisudanya nanti. Tentu saja saya mengangguk cepat.
Jam delapan saya pun berangkat ke acara wisuda Hikmal. Acara pun dimulai dengan khidmat.
      Saya terharu melihat Hikmal dan teman2nya terlihat sudah sangat "dewasa".  Enam tahun lalu mereka masih sangat imut. Masih sering merengek minta ini dan itu. Tapi sekarang, mereka seolah sudah sangat mandiri.
       Kenangan waktu dia memulai pendidikan dasarnya di SD ini pun kembali menyeruak di pikiran saya.
Betapa waktu cepat berlalu. Banyak cerita Hikmal mengenai guru dan teman2nya. Tapi hanya beberapa yang benar2 saya ingat. Dan saya pikir tidak akan pernah saya lupakan.
     Salah satunya adalah ketika suatu hari saya memeriksa kuku Hikmal. Waktu Hikmal kelas 3 SD. Biasanya saya yang memotong kuku putera saya itu. Tapi begitu saya lihat, kukunya ternyata sudah dipotong. Ketika saya tanya siapa yang memotong kukunya, Hikmal mengatakan bahwa Pak Uhi, salah satu gurunya yang memotong kukunya.
Sejak saat itu beberapa kali ketika saya lupa memotong kuku Hikmal, maka Pak Uhi selalu memotong kukunya. Bukan kuku Hikmal saja yang dipotong oleh pak Uhi. Tapi hampir semua kuku murid2nya yang lain.
      Menurut cerita hikmal, jika hari itu ada pelajaran Tahfiz yang diajarkan Pak Uhi, maka pak Uhi pasti memeriksa semua kuku muridnya. Yang kedapatan kukunya panjang, maka akan langsung dipotong oleh pak Uhi. Ternyata Pak Uhi tidak memukul tangan anak2 ketika kuku mereka panjang. Tapi langsung bertindak dengan membantu memotong kuku mereka.
      Saya jadi ingat, dulu sekali, waktu Syifa, kakak Hikmal masih SD, pak Uhi juga pernah beberapa kali memotong kuku Syifa.
      Betapa saya sangat terharu dengan perhatian guru seperti Pak Uhi. Hal ini mungkin sepele. Mungkin saja anak2 tidak begitu menyukainya. Karena merasa malu jika kuku mereka dipotong oleh gurunya. Hikmal juga merasakan itu. Dia malu kalau pak uhi memotong kukunya. Jadi dia berusaha ingat untuk selalu memotong kuku tiap pekan.
     Tapi saya yakin perhatian Pak Uhi pada mereka akan terus mereka kenang. Akan menjadi kenangan paling indah bagi mereka. Saya yakin, memotong kuku yang sepele itu adalah bagian dari menjaga kebersihan diri mereka.
      Semoga mereka selalu ingat bahwa mereka harus selalu bersih baik lahir mau pun batin di mana pun mereka berada.
      Semoga Pak Uhi dan keluarga selalu sehat selalu dalam lindungan dan rahmat Allah SWT di mana pun bapak berada.
Terima kasih tak terhingga kepada semua guru2 Hikmal selama di SDIT Al muchtar. Mohon maaf atas kesalahan Hikmal. Doakan Hikmal bisa menjadi pemimpin yang shalih seperti yang bapak ibu guru ajarkan.
       Semoga semua ilmu, kebaikan dan perhatian ibu dan bapak menjadi pahala dan mendapat balasan terbaik dari Allah SWT. Aamiin YRA

Tuesday, June 9, 2015

Jangan Membaca Dongeng

Beberapa waktu lalu saya mendengar dan menonton acara tausiah di sebuah TV swasta. Saat itu pembahasnnya tentang mendidik anak. Sebagai seorang ibu, tentu saja saya sangat tertarik dengan tema ini. Dengan khusu' saya mendengarkan dan memperhatikan penjelasan dari ustad dan ustadzah yang sedang memberikan tausiah.
    Walau semua yang mereka sampaikan itu sudah saya ketahui, tapi setidaknya bermanfaat sebagai pengingat bagi saya. Hingga pembahasam sang ustadzah sampai kepada sebuah kalimat yang meminta setiap orang tua mukmin agar tidak memberikan atau membacakan dongeng kepada anak-anaknya. Cukup dengan membacakan dan mengisahkan tentang cerita rasulullah dan sahabat beliau serta kisah dalam al quran saja.
      Sungguh saya terkejut mendengar perkataan sang ustadzah. Karena sebagai seorang penulis bacaan anak, saya tentunya menginginkan buku saya bisa dibaca semua anak. Khususnya anak muslim. Karena saya memang mengkhususkan diri menulis buku bertema cerita anak muslim.
     Jika sang ustadzah melarang para orangtua untuk membacakan kisah selain kisah dalam alquran dan hadist, apa yang terjadi dengan buku yang saya tulis? Apakah saya berdosa menulis buku-buku itu?
     Karena penasaran, saya pun mencoba menanyakan maksud beliau. Saya cari page FB beliau. Saya inbox beliau. Sayangnya pertanyaan saya tidak dijawab sampai sekarang. Alhasil saya jadi merenung tentang naskah yang akan saya tulis ke depan.
     Bagaimana jika ternyata dongeng2 yg saya tulis itu ternyata memang tidak diizinkan oleh Allah dan RasulNya? Bagaimana saya akan menanggung kesalahan saya itu nanti di akhirat? Dan beribu pertanyaan serta kekhawatiran pun mulai muncul.
      Saya segera mohon ampun pada Allah. Beberapa hari saya tidak menulis cerita dongeng dan cerpen sama sekali. Saya hanya menulis di blog saja. Hingga saya berhasil menghilangkan kegelisahan saya itu setelah beberapa hari merenung.
     Semuanya saya kembalikan pada Allah. Niat saya menulis dongeng atau cerpen untuk anak adalah agar anak anak yang membaca buku saya mendapatkan manfaat dari buku tersebut. Misalnya manfaat berupa hiburan. Syukur syukur bisa lebih dari itu. Mereka bisa mendapat suatu hikmah dari pesan yang sampaikan dalam cerita. Mereka bisa menjadi mandiri setelah membaca buku saya. Mereka jadi berani, bertanggung jawab dan makin dekat dengan teman keluarga dan kerabat mereka.
    Saya akan lebih bahagia lagi jika mereka menjadi makin taat kepada Allah dan RasulNya setelah membaca buku saya. Bukankah itu sama saja dengan saya mendapatkan pahala dari ilmu yang sudah saya ajarkan?
    Hanya seperti itu cara satu-satunya untuk mengembalikan semangat menulis saya. Khususnya menulis cerita anak. Semoga Allah mengampuni saya jika karya saya ternyata memang tidak Dia izinkan. Tapi saya yakin Dia Maha Mengetahui niat saya.
       Saya yakin Allah mengizinkan saya menuliskan semua ide saya itu jadi sebuah buku. Saya selalu mengharapkan semua kebaikan dari Allah untuk semua karya yang saya tulis.
     Segala puji bagi Allah yang sudah menenangkan saya. Terima kasih saya pada Allah yang sudah menentramkan hati saya. Semoga Dia selalu menjaga saya dari hal yang tidak diizinkanNya. Aamiin ya rabbal alamaiin...

Saturday, May 16, 2015

Masalah Anakmu Adalah Masalahmu Juga

Sore tadi, tiba2 Hikmal putera ke dua saya menangis berlari ke rumah. Betapa paniknya saya melihat dia menangis sambik tersengal2 sehingga susah menjelaskan kepada saya apa yang sedang terjadi.
    Berbagai pikiran buruk berkecamuk dalam otak saya. Saya buru2 memeriksa semua anggota badannya. Apa ada yang terluka. Karena terakhir kali saya melihat dia menangis seperti itu ketika dia jatuh dari sepeda dan kepalanya mengeluarkan banyak darah.
    Saya perhatikan tidak ada satu pun luka di badannya.
     "Si Jaki bu. Tolong si jaki." Ujar Hikmal terbata2. Hingga dia terlihat kesulitan bernapas. Saya makin panik. Ada apa dengan temannya itu?
    "Hikmal tenang dulu. Coba jelaskan pada ibu apa yang terjadi?" Tanya saya dengan nada sangat panik. Karena saya khawatir melihat Hikmal menangis sampai kehabisan napas seperti itu.
     "Aku tadi mukul si jaki. Tapi dia duluan yang jahatin aku. Dia sekarang sakit. Bapaknya bilang ibu harus membawanya ke rumah sakit.." jelas hikmal tersengal. Air matanya masih terus mengalir. Rasa takut dan khawatir terlihat jelas di wajahnya.
     Hikmal sudah 11 tahun sekarang. Rasanya janggal kalau dia menangis karena berkelahi dengan temannya.
    Saya langsung lari menuju rumah Jaki. Rumahnya di depan rumah kami. Di depan rumah saya, bapak Jaki terlihat hendak membuka pintu. Karena sangat khawatir dengan keadaan Jaki, saya lupa menyapa bapaknya. Saya langsung masuk ke rumah Jaki.
    Di rumah jaki, saya lihat dia berbaring sambil menangis. Saya lihat ibunya sedang mengolesi obat nyeri otot ke dada anaknya.
     Saya lemas. Saya pegang tangan dan kaki Jaki. Rasanya basah dan dingin. Saya berpikir itu keringat dingin. Lalu saya minta maaf atas perbuatan anak saya. Saya minta maaf pada jaki dan ibunya.
     Sementara itu saya raba nadi di pergelangan tangannya. Saya ingin memastikan keadaan nadinya. Saya perhatikan napasnya. Dia menangis dan terisak. Jadi napasnya agak tersengal.
     Saya tanya bagian mana yang ditonjok Hikmal. Bagian mana yang sakit. Saya juga bertanya tentang keadaan napasnya. Apa dia kesulitan bernapas atau tidak.
    Jaki menunjuk dada sebelah kanan. Lalu dia bilang kalau napasnya agak sesak.
    Saya ajak dia ke rumah sakit. Tapi jaki menolaknya. Saya tanya lagi apa tadi jaki muntah atau batuk setelah ditonjok. Katanya tidak.
     Saya meminta ibunya untuk mengajak jaki ke rumah sakit. Karena dia mengeluh sakit di bagian ulu hatinya. Tapi orang tuanya mengatakan, " Nanti saja. Mungkin jaki kaget dan takut. Karena tadi dia bersembunyi dan nangis di kamar mandi. Jadi saya nggak tahu juga apa yg terjadi. Lalu setelah saya tanya ternyata dia habis dipukul Hikmal." Jelas ibu jaki.
    Begitu mendengar penjelasan ibu jaki saya jadi bertanya dalam hati. Apa mungkin Hikmal yang tak pernah berkelahi itu menonjok anak yang lebih kecil darinya. Kenapa anak saya sampai kalap begitu. Apa yang terjadi sebenarnya.
    Saya pun minta izin ke rumah sebentar untuk menemui hikmal. Karena tadi saya panik saya berpikir anak saya yang bersalah. Dan sekarang saya ingin mengetahui kronologi kejadiannya.
     Sampai di rumah hikmal masih menangis walau tidak seperti tadi. Ketika saya tanya hikmal mulai menjelaskan. Bahwa saat dia main bola bersama teman2nya dan juga jaki. Jaki menendang bola ke kepala hikmal. Bola itu seperti sengaja di arahkan ke kepala Hikmal. Hikmal meminta jaki tidak melakukannya lagi. Karena hikmal kesakitan saat bola mengenai kepalanya.
  Ternyata jaki tidak mendengarkan hikmal. Beberapa kali berikutnya jaki seolah sengaja menendang bola ke arah badan hikmal. Sehingga kena dada dan kepala hikmal lagi. Hal ini berulang sampai 4 kali. Dan jaki tetap tidak mau mendengarkan permintaan  hikmal agar tidak mengarahkan bola ke badannya.
     Karena sakit terkena bola yang ditendang keras ke badannya, hikmal pun jadi kesal dan mengejar jaki. Lalu dia menedang kaki jaki. Ketika jaki jatuh dia memukul jaki.
    Saat dia memukul jaki itulah bapak jaki melihat mereka. Lalu jaki berlari masuk ke rumahnya. Dan beberapa menit kemudian bapaknya marah ke hikmal.
Bapak jaki menyuruh hikmal memanggil saya agar mengantar anaknya ke rumah sakit.
Setelah mendengar penjelasan hikmal. Saya mengajak hikmal minta maaf kepada jaki. Lalu saya pun minta maaf lagi pada jaki dan orangtuanya.
     Saya perhatikan lagi dada dan perut jaki. Tidak ada memar atau merah bekas pukulan di sana. Saya berharap jaki baik2 saja. Tapi sebagai tanda penyesalan saya atas sikap anak saya. Maka saya kembali membujuk jaki untuk diperiksa ke rumah sakit.
    Mungkin jika diperiksa dokter dan dironsen akan ketahuan keadaan di dadanya. Sayangnya orangtua jaki mengatakan nggak perlu.
     "Nanti saja kalau jaki sudah sedikit tenang." Demikian mereka memberi alasan.
    Berulang kali saya mengajak mereka ke rumah sakit. Tapi mereka masih menolak. Akhirnya karena sudah hampir azan maghrib. Saya pun pamit pulang.
    "Sekali lagi maafkan hikmal ya bu. Maafkan hikmal ya jaki. Kalau nanti ke rumah sakit. Tolong panggil saya. Saya akan membayar pengobatan jaki." Pinta saya.
    "Mungkin hanya kaget bu. Mudah2an nggak apa2, apalagi dia anaknya juga penggeli. Siapa tahu dia geli ketika dipegang badannya. Tapi dia bilang sakit." demikian jawaban ibu,  bapak, dan nenek jaki.
    Walau agak lega mendengar penjelasan mereka. Saya masih khawatir dengan keadaan jaki. Semoga Allah memberi kesehatan pada Jaki. Mohon doanya ya teman2.

Friday, March 13, 2015

Asal Mula Nama Nagari Minang Kabau


                                    
Suatu hari, pasukan kerajaan Majapahit hendak menyerang kerajaan Pagaruyung, di Sumatera Barat. Tujuan mereka hendak memperluas daerah kekuasaan. Kabar itu terdengar oleh Raja Pagaruyung. Beliau segera mengumpulkan para pegawai istana untuk meminta pendapat.
“Tuan-tuan sekalian, sebagaimana kita ketahui, prajurit Majapahit sudah sampai di Kiliran Jawo. Mereka sudah mendirikan tenda sebagai pusat pertahanan mereka di sana. Sebagai raja Pagaruyung, aku tidak ingin ada pertumpahan darah di kerajaanku. Apa yang harus kita lakukan?” tanya raja setelah semua pegawai istana berkumpul.

Ruangan rapat yang dipenuhi beberapa orang laki-laki itu menjadi hening. Mereka semua terlihat berpikir keras.
“Kita lawan saja menggunakan pasukan gajah dan kuda, yang mulia,” saran salah satu panglima.
“Peperangan adalah kata terakhir yang harus kita lakukan. Apa kalian punya rencana lain selain peperangan? Aku ingin perdamaian. Tapi rasanya mungkin mereka tidak akan mau berdamai,” ucap Raja sambil memegang keningnya. Beliau terlihat berpikir keras.
“Maaf yang mulia, bagaimana kalau kita minta para wanita kerajaan untuk menemui mereka? Kita utus tuan putri sebagai pemimpin pasukan wanita ini,” saran Penasehat Istana.
“Tugas mereka melakukan negosiasi damai. Semoga pasukan Majapahit, mau menerima utusan kita. Karena, hamba rasa, mereka pasti sungkan melawan pasukan wanita,” tambah Penasehat Istana.
“Usulanmu sangat bagus, penasehat,” ucap Raja sambil tersenyum. Beliau yakin, usul itu, akan berhasil. Setidaknya bisa menunda peperangan selama beberapa hari. Jika hal ini gagal, Raja akan berusaha mencari jalan lain selain perang.
“Pengawal! Tolong panggil Puti Datuk Tantejo Garhano ke sini!” perintah Raja pada pengawalnya. Salah satu pengawal segera berlari ke ruangan tempat sang putri berada. Pengawal itu langsung meminta putri menghadap baginda raja di ruang pertemuan.
“Baiklah,” jawab Puti. Dia bergegas ke ruang pertemuan menemui ayahnya.
“Ananda, Puti, bersediakah kamu memimpin beberapa wanita untuk melakukan negosiasi ke sana?” tanya Raja setelah menjelaskan rencana beliau.
“Bersedia, Ayahanda,” jawab sang putri mantap.
                                                            ***
Keesokan harinya, pasukan wanita yang dipimpin Puti Datuk Tantejo Garhano sudah sampai di Kiliran Jawo. Daerah perbatasan kerajaan Pagaruyung dengan kerajaan Majapahit. Sang putri mengajak serta beberapa dayang dan saudara perempuannya dari lingkungan istana. Mereka membawa makanan yang lezat sebagai hadiah.
Panglima perang kerajaan Majapahit terkejut melihat kedatangan pasukan kecil yang isinya wanita semua.
“Kenapa mereka menyuruh wanita berperang?” batin Raja Majapahit. Karena tak mau bingung terlalu lama, panglima menerima kehadiran mereka.
“Mohon ampun, Tuanku. Kedatangan kami ke sini ingin bernegosiasi.” Puti Datuk Tantejo pun menjelaskan maksud kedatangan mereka.
“Dengan ini, kami mohon agar tuanku bersedia mengganti peperangan dengan adu kerbau.” Puti mengakhiri diplomasinya.
Raja Majapahit terdiam. Lalu dia meminta waktu untuk berunding. Beberapa menit kemudian, Raja Majapahit pun membuat keputusan.
“Baiklah. Tantangan dari raja kalian, kami terima. Jika kerbau kami menang, maka kerajaan Pagaruyung akan menjadi kekuasaan Majapahit. Jika kami kalah, maka kami bersedia meninggalkan kerajaan Pagaruyung.”
Puti Datuk Tantejo Garhano senang mendengarnya. Mereka membuat kesepakatan tentang waktu dan tempat dilaksanakannya adu kerbau. Mereka tidak menentukan jenis kerbau yang akan digunakan dalam pertandingan.
Lalu pasukan wanita itu kembali ke istana mereka. mereka melapor pada Raja. Raja Pagaruyung segera memerintahkan pengawal untuk mencari anak kerbau yang masih menyusu.
Hari yang ditentukan pun tiba. Hampir seluruh rakyat Pagaruyung hadir menyaksikan pertandingan itu. Demikian juga dengan pasukan Kerajaan Majapahit. Mereka  membawa kerbau berukuran besar dan kuat ke dalam arena lomba. Mereka yakin, kerbau mereka yang akan memenangkan pertandingan.
Panglima perang Pagaruyung segera mengeluarkan kerbau andalannya. Kerbau kecil itu dibiarkan lapar dan tidak menyusu sebelum pertandingan. Semua penonton terkejut melihat ukuran kerbau yang dibawa panglima.
“Kenapa kerbau kecil yang dibawanya? Apa Raja ingin kita kalah?” gerutu beberapa penonton.
  Ketika masuk arena pertandingan, anak kerbau mengamuk karena lapar. Panglima dan beberapa prajurit terlihat kesulitan menahan amukan kerbau kecil.
Peluit panjang tanda pertarungan pun ditiup. Panglima Pagaruyung melepas anak kerbau yang sudah sangat kelaparan. Anak kerbau itu melesat menuju kerbau besar yang dikira induknya. Dia langsung mencari susu di bagian perut kerbau besar. Kerbau besar jadi bingung dan berputar-putar untuk menyerang kerbau kecil. Karena lelah berputar, kerbau besar pun tumbang.
Semua rakyat pagaruyung bersorak gembira menyambut kemenangan itu. Mereka meneriakkan yel-yel, “Manang Kabau! Manang Kabau!”
Sejak saat itu Kerajaan Pagaruyung dan sekitarnya dikenal dengan nama Nagari  Minang Kabau. [NS]
                                                ***
catatan : diolah dari berbagai sumber dengan ending ala saya ^_^


Hauzan dan Tingkahnya

Hauzan, putra bungsu saya. Usianya 4, 5 tahun. Dia masih cadel dan sedikit disleksia. Jadi beberapa perkataannya hanya saya saja yang mengerti. Kadang bapak dan kakak-kakaknya bingung, Hauzan bicara apa. Apalagi Hauzan bisa marah jika ucapannya tidak dimengerti orang yang diajaknya bicara. Dia sangat cerewet. Suka bercerita bahkan sering bertanya.

Friday, March 6, 2015

Pacaran Bikin Sial


      
Bapak Ambar tiba-tiba meminta HP anaknya. Hal ini memang sudah mereka sepakati sejak bapak membelikan HP untuk Ambar, anak gadisnya yang sudah remaja. Saat itu Ambar sudah duduk di bangku SMP kelas 3.
Have a nice dream ya beib :*
Demikian SMS dari seorang anak laki-laki yang terbaca oleh bapak Ambar. Karuan saja bapak Ambar naik pitam. Dia langsung menanyakan perihal SMS itu pada Ambar.
“Ini apa maksudnya nih Kak?” tanya sang bapak dengan kening berkerut dan muka menahan marah.  Ambar tercekat. Mukanya pucat. Dia memang sudah berjanji pada bapaknya untuk tidak pacaran dulu. Tapi apa mau dikata, cowok yang bernama Rafa itu terus menerus mendekatinya. Bahkan selalu mengirim sms yang menyatakan cinta padanya.
“Maaf Pak, Rafa yang memaksa ingin pacaran sama Ambar. Ambar sudah berulang kali menolak, tapi Rafa nggak peduli,” sahut Ambar dengan muka ditekuk.
                                    ***
Pasti kejadian seperti ini pernah kamu alami. Orangtua melarangmu untuk pacaran. Satu sisi kamu setuju dengan orang tua. Tapi di sisi lain, kamu merasa nggak gaul kalau tidak punya pacar. Apalagi teman-temanmu sudah punya pacar, bahkan sejak mereka masih SD! Masa kita yang sudah SMP tidak boleh pacaran? Pasti begitu yang terlintas dalam pikiranmu kan?

Tuesday, March 3, 2015

Pacaran = Musibah Besar



                                    
Hasil survei Badan Kependudukan dan Keluarga Nasional tahun 2010 mencatat bahwa 51 % remaja di Jabodetabek melakukan seks pranikah. Artinya setiap 100 remaja di Jabodetabek, terdapat 51 orang yang sudah tidak perawan. Innalillahi...
Itu baru di Jabodetabek loh. Coba kita lihat catatan BKKBN di kota lain seperti di Surabaya tercatat 54 % , di Medan 52 % , di Bandung 47 %, dan di Yogyakarta 37 %. Ini tahun 2010 loh. Lalu sekarang angka itu jadi berapa? Ckckck... semoga kamu bukan dari bagian itu ya.

Tuesday, February 24, 2015

Berurusan Dengan Pesohor

Tak pernah terbayangkan dalam pikiran saya bahwa suatu hari nanti saya akan berurusan dengan beberapa pesohor negeri ini. Awalnya ketika saya menulis sebuah novel anak bertema masakan. Saya mencari Chef Juna dan Pak Bondan untuk memberikan endorsement pada novel tersebut. Judul novel saya itu adalah Kania's Dream.

       Alhamdulillah setelah mencari di twiter dan FB mereka, saya berhasil meminta endorsement dari Pak Bondan yangterkenal dengan kalimat 'Maknyus'-nya. Chef Juna hanya bisa saya hubungi lewat salah satu fans yang cukup dekat dengannya. Chef Juna tidak bisa memberikan endorsement tapi bersedia menjadi salah satu tokoh chef dalam buku saya tersebut.Tentu saja saya sangat bersyukur karena Allah mempermudah urusan saya dengan para pesohor ini.
        Di lain kesempatan, editor saya meminta saya menulis kisah masa kecil beberapa politisi. Saya pun kembali berburu alamat email, twiter, FB dan nomor kontak mereka. Beberapa orang berhasil saya dapatkan. Ada yang bersedia saya wawancarai tapi dengan beberapa syarat. Ada juga yang memberikan saya alamat penulis yang pernah menulis biografinya.  Dan pada akhirnya, saya terpaksa membatalkan menulis tentang masa kecil tokoh ini karena banyak tokoh yang tidak merespon permintaan wawancara dari saya.
        Beberapa bulan terakhir ini, saya kembali berjibaku dengan mencari alamat email dan nomor kontak pesohor. Kali ini di bidang olah raga. Dan hasilnya, dari 9 orang yang saya cari dalam 2 bulan ini, hanya 5 orang yang bersedia menjawab email dan telepon saya. Beberapa di antaranya hanya dijawab oleh asisten atau menejernya sekali saja. Saya sangat ingin buku ini terbit. Tapi saya mulai pesimis dengan ketidak jelasan jawaban para pesohor yang masih saya tunggu.
     Doakan saya agar mereka segera menjawab dan membalas sms, email dan telepon saya ya. Rasanya sayang kan jika dibatalkan. Karena sudah ada 5 atlit yang bersedia saya wawancarai. Allah... tolong saya. mudahkan urusan saya dengan para pesohor ini. Aamiin...
      

Thursday, February 12, 2015

Romantisme Allah dan Rasulullah SAW Untuk HambaNya yang Shaleh

Pagi ini, pukul 6.00, saya menonton tayangan siraman rohani di sebuah stasiun TV swasta. Ada ustad Yusuf Mansur yang menyampaikan ilmu islam di sana. Karena saya nontonnya telat, jadi saya hanya mendapatkan beberapa tambahan ilmu saja. Salah satunya ketika ustad YM  bercerita tentang perjalanan isra' dan mikraj Rasulullah SAW bersama Malaikat Jibril AS.
        Saya selalu suka dengan cerita yang dikisahkan semua ustad. Khususnya kisah tentang isra' mikraj. Kisah isra' mikraj alhamdulillah saya sudah sering mendengarnya dan juga kembali menceritakannya kepada anak-anak dan murid-murid saya. Bahkan saya juga menuliskannya dalam sebuah buku yang insyaallah akan segera terbit.

Tuesday, February 10, 2015

Anakku Sayang, Berkarya Dulu Aja, Yuk!


                                                                                                     
Jatuh cinta, berjuta rasanya. Begitulah bunyi sebuah bait lagu. Saat itu perasaan seperti melayang. Seolah tiap hari penuh bunga. Merasa selalu ingin dekat dengannya. Dag-dig dug menunggu sms atau bbm darinya. Jika si dia tidak mengirim sms atau bbm, rasa rindu mendera. Demikianlah yang terjadi pada orang yang sedang jatuh cinta.

Thursday, January 29, 2015

Orang Tua Kita Butuh Kasih Sayang dan Perhatian

Tadi pagi, seperti biasa, saya menemani Hauzan main di luar rumah. Saat menemani hauzan itulah saya biasanya berinteraksi dengan tetangga-tetangga saya. Sesekali kami saling bertegur sapa. Karena pagi hari adalah jam sibuk bagi semua orang, makanya Hauzan saya temani di luar rumah. Karena tidak ada anak seusianya di dekat rumah kami. Apalagi, teman-teman yang biasa main bersam Hauzan, sedang sekolah semua.
       Ketika sedang asyik mengikuti Hauzan yang sedang bermain sepeda, salah satu tetangga menyapa Hauzan. Beliau sudah tua. Hauzan dan saya biasanya menyapa beliau dengan panggilan nenek. Nenek adalah wanita tua yang sangat rajin. Beliau pensiunan PNS di sebuah perguruan tinggi di Palembang. Saat ini beliau pindah ke Bekasi, agar bisa dekat dengan anak beliau. Beliau rela menjual rumahnya yang di Palembang, demi membeli rumah di Bekasi.

Wednesday, January 28, 2015

Menyamar Menjadi Anak

Saya pernah melakukan ini. Waktu itu ada sms dari teman putri saya. Sms itu bunyinya membuat saya tersinggung sebagai ibu. Tanpa bertanya pada anak saya, saya langsung menjawab sms itu dengan kalimat menasehati, khas emak-emak. 
      Yang terjadi kemudian, anak saya marah pada saya. Karena temannya meledeknya habis-habisan. Mereka mengatakan bahwa putri saya persis emak-emak bawel. Putri saya nggak suka disebut seperti itu, karena dia memang tidak begitu. Bukan dia yang menjawab sms temannya itu. Walau dia sudah menjelaskan ke temannya. Tetap saja cap sebagai emak-emak bawel menempel padanya.
      Saya minta maaf dan menjelaskan alasan saya menjawab sms dari temannya itu. Untunglah anak saya memaafkan. Tapi saya merasa tidak enak hati karena kejadian itu. Saya berjanji tidak akan menyamar menjadi anak saya lagi.

Friday, January 23, 2015

Tips Memilih ART



                                                      
Sebagai ibu bekerja maupun ibu yang tidak bekerja, karena suatu hal kita perlu mendelegasikan pekerjaan rumah tangga kepada ART. Beberapa hal berikut sebaiknya kita perhatikan ketika memilih ART, agar kita bisa tenang ketika meninggalkan rumah.
1.      Agamanya.
Tentunya kita ingin ART yang akan mendampingi tugas kita adalah seorang yang seagama dan seiman dengan kita. Karena dengan agama dan keimanan yang sama, bisa meminimalisi kesalahan ART  yang mungkin terjadi.

Thursday, January 22, 2015

Tips Hemat Membersihkan Peralatan Rumah Tangga



                                                      
  Beberapa waktu lalu saya membersihkan gudang di rumah saya. Ternyata saya menemukan “harta karun” berupa koran dan tabloid lama. Saya membuka dan membaca kembali beberapa arikel di tabloid tersebut. Salah satunya cara hemat membersihkan peralatan rumah tangga. Saya akan berbagi tips tesebut  dengan Anda. Selamat berhemat ya. ^_^

Wednesday, January 21, 2015

Bijak Menggunakan Gadget



Faris senang mendapat hadiah Tablet dari ayahnya. Ayahnya berjanji akan membelikan Tablet untuknya setelah Faris disunat. Tadi siang, setelah kembali ke rumah, Ayah langsung memberikan kado yang dijanjikannya.
“Ini kado yang ayah janjikan. Gunakan benda ini dengan sebaik-baiknya ya. Ayah harap tablet ini bisa membantu Faris melupakan rasa sakit bekas disunat. Tapi Faris harus ingat, jangan sampai lupa waktu. Jangan lupa waktu shalat dan belajar,” ucap Ayah.
“Siap Ayah! Pasti aku nggak akan lupa waktu. Makasih ya Yah,” sahut Faris senang. Dia lalu menyalakan Tablet barunya.

Monday, January 12, 2015

Kurikulum 2013

Beberapa hari lalu  saya mengambil rapor Syifa, putri pertama saya. Syifa bersekolah di Sekolah Menengah Analisis Kimia Bogor. Alhamdulillah nilai rapor Syifa bagus.
      Yang ingin saya ceritakan di sini adalah rapor kurikulum 2013 yang sangat berbeda dengan rapor kurikulum 2006. Sebenarnya rapor Kurikulum 2013 ini sudah dimulai sejak semester lalu. Hanya saja semester ini mengalami penyempurnaan. Begitu yang saya tangkap dari hasil rapat orangtua murid sebelum mengambil rapor tadi.

Sunday, January 4, 2015

Pentingnya Mencatat Utang

Semua manusia pasti pernah berutang. Termasuk saya. Entah itu utang dalam jumlah kecil. Seperti utang ke tukang sayur. Atau utang dalam jumlah besar, seperti kredit motor, mobil bahkan rumah.
     Untuk utang ke bank atau kredit, biasanya kita pasti sudah tahu dan sudah mencatatnya. Karena saat akad kredit ada catatan tersendiri untuk itu. Yang seringkali kita lupa adalah utang yang kecil atau utang ke selain bank. Seperti utang ke saudara, tetangga,tukang sayur, ke teman dan lainnya.
      Nah, saran saya, sebaiknya tahun baru ini, jadikanlah membayar semua utang menjadi sebuah resolusi. Kalau perlu untuk tidak berutang sama sekali. Dimulai dengan mencatat utang yang pernah ada. Lalu bayarlah satu persatu utang tersebut.