Thursday, May 22, 2025
Friday, February 10, 2023
Ingatan dan Kebiasaan Masa Kecil dan Dampaknya Untuk Saat Ini
“Ayo Apa antar ke rumah ibuk guru yang akan mengajarkanmu mengaji dengan irama,” ajak Apa, ayahku suatu hari. Saat itu aku masih berusia dua belas tahun. Aku menurut. Karena memang aku ingin sekali bisa membaca Al Quran dengan langgam irama yang sering dibacakan oleh qori dan qoriah di acara MTQ.
Saat Ama masih hidup, hanya suara beliau membaca Al Quran dengan irama itu yang masih bisa kuingat. Aku bahkan tak mengingat sama sekali wajah beliau. Dulu beliau sering mengajakku ke TPA. Beliau mengajar anak-anak sedangkan aku boleh main di sekitar anak-anak itu. Usiaku sekitar 4 tahun waktu itu.
Jadi hanya itu yang kuingat dari Ama yarhamuhallah. Aku juga tak begitu paham ketika beliau sakit dan wafat.
Aku baru paham bahwa Amaku sudah tidak ada ketika aku dan adik-adikku harus melakukan segala sesuatunya sendiri. Tak ada lagi bermain di TPA. Kami juga pindah dari rumah tempat biasa kami tinggal.
Hal itulah yang membuat aku jadi selalu mengingat dan mengenang suara Ama ketika beliau mengajar mengaji. Karena hal itu juga aku jadi ingin seperti beliau. Mempunyai suara yang merdu saat melantunkan bacaan Al Quran.
Bersyukur Apa juga berpikiran sama denganku. Aku sudah disuruh belajar membaca Al Quran sejak SD. Setelah lancar membaca membaca Al Quran, Apa menyarankanku untuk ikut lomba MTQ.
“Tak mengapa tak menang. Yang penting epi ikut dan berani membaca Al Quran di depan banyak orang,” demikian cara Apa menyemangatiku. Awalnya tentu saja aku gugup saat mengikuti lomba tersebut. Tapi lama-lama rasa gugupku sedikit berkurang.
“Jika ingin lebih bagus lagi irama dan tajwid bacaan Al Qurannya, Epi harus belajar lagi ke guru khusus,” saran Apa waktu itu.
Nah di sinilah aku sekarang. Menunggu di ruang tamu sebuah rumah berukuran kecil. Tadi Apa mengantarku sampai di depan rumah tersebut. Rumah seorang ustadzah yang menjadi juri lomba MTQ tingkat kota. Aku tak tahu bagaimana Apa mengenal beliau. Kenapa ustadzah itu mau menerimaku sebagai murid beliau. Aku juga tak paham berapa uang yang harus diabayar Apa untuk menggaji guru privat ini.
Tapi yang aku tahu, sejak saat itu aku datang ke rumah ustadzah sekali sepekan.
Aku lupa nama beliau. Saat ini aku hanya mengingat suaranya sama seperti aku mengingat suara Ama. Ustadzah itu mengajariku irama Bayati di beberapa surat Al Quran. Irama itu yang kuulangi berkali-kali di ayat yang sama agar aku terbiasa dengan alunannya.
“Jika epi sudah hapal alunan nadanya, insyaallah akan mudah menerapkannya di ayat lain,” begitu ucap ustadzah itu ketika kutanya kenapa ayat itu terus yang diulang-ulang. Aku bahkan hapal dengan ayat itu hingga saat ini.
Semoga Allah memberkahi ilmu ustadzah itu untukku. Semoga Allah memberkahi Ama dan Apa yang sudah mengajariku cinta Al Quran. Aku memohon pada Allah, agar Allah memudahkanku untuk menghapal Al Quran walau usiaku sudah tidak muda lagi. Semoga Allah mampukan dan mudahkan Al Quran menetap dalam ingatanku sebanyak 30 juz. Aamiin…
1 Desember 2021
Thursday, February 9, 2023
Tinea Capitis ( Infeksi Jamur Kulit Kepala) Penyebab Rambut Rontok/Pitak
Bismillahirrahmanirrahim
Qadarullah 3 bulan terakhir, Hauzan harus bolak-balik ke RS untuk kontrol infeksi jamur di kepalanya. Awalnya kami tidak tahu ada infeksi jamur di kepala Hauzan. Kami terkejut ketika menemukannya saat mencukur rambut Hauzan. Saat itu seperti ada ketombe di kepala Hauzan. Ketombe itu membuat sekelompok rambut di kepala Hauzan menjadi pitak.
Karena khawatir, saya memeriksakan Hauzan ke dokter kulit. Dari diagnosa dokter, ini adalah sejenis jamur yang bisa saja ditularkan dari hewan peliharaan. Dokter menanyakan pada kami apakah kami mempunyai hewan peliharaan? Jika ada, maka kami harus memeriksakan hewan itu juga ke dokter hewan.
Qadarullah sejak tahun lalu, kami memang merawat beberapa kucing kampung di rumah. Awalnya kami memberi makan kucing-kucing liar di depan rumah. Tiba-tiba beberapa bulan kemudian, seseorang meninggalkan bayi kucing di depan rumah kami. Karena tidak tega, kami pun merawat bayi kucing itu.
Sejak saat itu, Hauzan jadi makin sering main sama kucing. Sebelum kami rawat, kucing-kucing itu sudah kami bawa ke klinik hewan terlebih dahulu. Jadi menurut dokter hewan, kucing itu aman untuk dirawat. Hanya saja beberapa waktu kemudian, salah satu kucing itu mengalami infeksi jamur. Kami sudah merawatnya di klinik hewan. Tapi mungkin saja masih ada sisa jamur yang menempel di beberapa tempat di rumah, sehingga mungkin ini yang menular kepada Hauzan. Alhamdulillah saat ini kucing-kucing sudah sembuh dari infeksi jamur.
Jadi dokter menyarankan bahwa pengobatan infeksi jamur di kulit kepala ini akan memakan waktu yang sangat lama. Biasanya dua sampai tiga bulan. Jadi dokter menyarankan agar kami bersabar dengan pengobatan ini dan telaten memberikan obat untuk Hauzan.
Mau takmau saya tentu harus mengikuti saran dokter. Karena saya ingin kulit kepala Hauzan sehat kembali seperti dulu.. Saya melakukan saran dokter ini lebih kurang selama 3 bulan. Alhamdulillah Selasa 7 Februari 2023 kemari, kulit kepala Hauzan sudah bebas dari infeksi jamur, dan pitak di kepalanya sudah mulai tumbuh.
Berikut saran dan pengobatan yang diberikan dokter kepada kami:
1. Hindari bermain bersama kucing. Kalau bisa kucing harus berada terpisah dari rumah dan tidak masuk ke rumah.
2. Minum obat teratur (sesuai obat yang diberikan dokter, ada antibiotik dan anti jamur juga)
3. Menggunakan shampo khusus setiap 2 hari sekali dengan terlebih dahulu mendiamkan shampo di kepala selama 5 -10 menit baru dibilas
4. Membersihkan kulit kepada menggunakan cairan NaCL sebelum mengoleskan salep racikan anti jamur dan antibiotik dari dokter.
5. Mengoleskan salep dua kali sehari pagi dan sore jangan sampai lupa walau sekali. Karena jika lupa, maka pengobatan harus dimulai dari awal.
6. Rambut harus botak selama masa perawatan kulit kepala
7. Tidak mengenakan topi selama masa perawatan kulit kepala
8. Sering-sering mencuci tangan dan menjaga kebersihan kepala dan badan. Karena jamur ini bisa juga menular ke badan
9. Jamur ini sangat menular dan bisa juga menular ke anggota keluarga lain. Jadi gunakan handuk dan pakaian terpisah dengan orang yang mengalami infeksi jamur ini.
Kira-kira demikian saran dari dokter untuk penderita infeksi Jamur Kulit Kepala yang juga dikenal dengan diagnosa Tinea Capitis. Semoga tulisan ini bermanfaat ya.
Jadi bagi pencinta kucing, pastikan kalian selalu mencuci tangan setelah memegang kucing atau hewan peliharaan lainnya. Pastikan kucing dan hewan peliharaan kalian bersih dan sehat dari jamur. Semoga Allah selalu memberikan rahmatNya kepada kita semua. Aamiin...
Jika sahabat mau tahu lebih lanjut tentang sakit ini silakan lihat di link Halodoc ini ya ^_^
Friday, November 18, 2022
Selalu Ambil Hikmah Dari Semua Kejadian
Bismillahirrahmanirrahim.
Kita tak pernah tahu alasan Allah memberikan atau menolak sesuatu untuk kita. Misalnya ketika kita memilih pasangan. Suatu hari kita jatuh cinta dan sangat suka pada seseorang. Rasanya orang itu adalah orang yang cocok untuk kita dan masa depan kita kelak. Tapi qadarullah Allah tidak mengizinkan kita untuk menjadi pasangan orang tersebut. Allah menjadikan orang tersebut menikah dengan orang lain.
Saat hal itu terjadi apa yang kita lakukan? Sebagian dari kita mungkin marah, sedih, menangis dan bahkan bisa saja mengatakan hal yang tidak sepantasnya seorang hamba katakan terhadap Rabb-nya. Kenapa Allah tidak menikahkanku dengannya? Apa Allah tidak sayang padaku? Apa dosaku? Apa salahku? Kenapa orang yang kupilih, yang shalih/shalihah, sudah sesuai dengan kriteria yang diajarkan Rasulullah, malah tidak Allah izinkan aku menikah dengannya? Dan mungkin banyak sekali kalimat yang tak pantas kita sematkan pada Allah.
Hanya sedikit yang bisa menerima ketentuan Allah itu. Hanya beberapa yang memahami firman Allah yang mengatakan, bahwa bisa saja kau menyukai sesuatu namun sesuatu itu buruk di mata Allah. Bisa saja kau membenci sesuatu, tapi sesuatu itu baik di mata Allah.
Jika kita mengalami hal ini, segeralah istighfar. Cari hikmahnya. Jika belum ketemu hikmahnya saat ini, insyaallah akan ketemu hikmahnya kelak di kemudian hari.
Bisa saja ternyata orang yang kau pikir shalih/shalihah itu ternyata mempunyai sifat yang tidak pernah puas dengan pasangannya. Beberapa kali bercerai dan menikah lagi. Atau mungkin saja dia bertempramen kasar, yang tidak terlihat saat kau baru mengenalnya. Kau baru menyadarinya setelah beberapa tahun kemudian dari omongan istrinya atau dari omongan orang lain yang sampai ke telingamu.
Alhamdulillah... Allah menyelamatkanmu dari keburukan sifat calon pasangan yang kau anggap baik itu. Jadi sekali lagi, janganlah berprasangka buruk pada ketentuan Allah. Allah akan memberikan yang terbaik untukmu. Semua kebaikan akan Allah curahkan padamu. Allah tak akan pernah membuatmu menderita. Karena semua yang Allah tentukan itu adalah takdir terbaik untukmu.
Segera cari hikmah dibalik semua takdir Allah padamu. Bersabar, tawakal dan ikhlas adalah kunci kebahagiaanmu di dunia dan di akhirat kelak.
Friday, October 9, 2020
Tangisan Anak Baru
“Ummi, itu murid yang baru masuk dibuli sama si Raja.” Anisa berlari menghampiriku. Saat itu aku sudah mulai memperhatikan bacaan Iqro yang dibaca salah satu muridku. Aku segera menatap Anisa dengan tatapan bingung. Seingatku tidak ada murid baru masuk hari ini. Tapi Anisa meyakinkanku bahwa ada murid baru di kelasku yang sedang menangis karena dibuli oleh kakak kelasnya alias temannya Anisa.
“Cepetan Mi, kasihan itu!” suara Anisa terdengar khawatir.
Aku segera berdiri. “Sebentar ya sayang, Ummi lihat dulu siapa yang menangis.” Pamitku pada Aga, murid yang sedang membaca Iqro’. Aku bergegas keluar masjid. Kulihat seorang anak laki-laki mengenakan gamis hijau sedang terisak. Sepertinya dia menangis sudah cukup lama. Aku memeluk anak itu.
“Ada apa sayang. Kenapa menangis?”
“A a a ku dddilemmmpppar sssammma ddia,” ujarnya terbata. Sepertinya anak yang aku belum kenal namanya ini sedikit gagap. Aku menenangkannya dan mengajaknya ke kelas. Anisa dan beberapa murid lain mengikutiku. Kurasa wali kelas mereka belum datang. Jadi mereka belum mulai belajar.
“Raja tuh M. Aku lihat dia yang melempar adik ini beberapa kali. Padahal adik ini sudah menangis. Dia bukannya berhenti malah makin membuat adik ini menangis,” gerutu Anisa. Sejenak aku bingung, apa yang harus kulakukan? Raja adalah salah satu murid kelas Zaid bin Tabit yang cukup keras sifatnya. Dia hampir selalu menjawab nasehat yang diberikan kepadanya. Dia seolah merasa paling benar. Dia tidak peduli kalau gurunya sedang memberikan nasehat padanya.
Tapi aku harus tetap menemui Raja. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena kulihat anak yang bergamis hijau itu seperti masih trauma dan tidak berhenti menangis. Apalagi dengan kondisinya yang gagap saat bicara, kurasa dia tidak bisa menjelaskan detil kejadian yang membuat dia menangis.
Aku berdiri dan mencari Raja di luar masjid. Dia terlihat sedang bermain sama teman-temannya. Aku menghampiri mereka. Aku mengajak mereka bicara mengenai kejadian itu.
“Raja , boleh Ummi tahu ceritanya tentang adik yang menangis itu?”
“Dia yang duluan Mi!” Raja langsung menyerangku dengan kalimatnya. Aku menarik napas Panjang. Setelah meniupkannya perlahan, aku bertanya lagi pada raja dan temannya yang juga membela Raja. Mereka masih ngotot kalau mereka tidak bersalah. Mereka tidak mau menceritakan kronologi kejadian itu.
Aku tidak bisa membuang waktu, ada banyak murid yang sedang menungguku untuk membaca Iqro’. Aku akan sudahi saja percakapan dengan Raja ini.
“Baiklah sayang. Ummi sebenarnya hanya ingin tahu masalah awalnya di mana. Tapi karena kalian tidak menjawab sesuai pertanyaan Ummi. Ummi hanya ingin mengingatkan satu hal kepada kalian. Ummi tidak marah pada kalian. Hanya satu pesan ibu,” aku menarik napas dan mengembuskan dengan kencang. Rasanya dadaku sesak melihat tingkah Raja yang merasa tidak bersalah.
Aku berdoa dalam hati, Ya Allah… tolong bukakan pintu hati raja untuk menerima kesalahannya.
“Raja sayang, raja tahu kan kalau adik yang menangis tadi usianya jauh lebih kecil dari Raja? Kayaknya masih TK deh. Setahu Ummi, anak TK itu belum mengerti menjahili orang terlebih dahulu. Tapi jika pun benar dia bersalah, apa Raja tidak bisa memaafkan dia? Bukankah Allah dan RasulNya mencintai orang yang suka memaafkan?”
“Enak aja aku memaafkan dia!” Raja tidak terima dengan nasehatku.
“Baiklah. Kalau Raja tidak mau memaafkan adik itu, Ummi tidak bisa berbuat apa-apa. Karena Raja sudah tahu akibatnya kalau kita menyimpan kebencian di hati kita. Ummi hanya berdoa, semoga kelak tidak ada orang yang melakukan hal yang sama pada Raja. Tidak ada yang akan membuli Raja sampai kapan pun. Demikian juga doa Ummi untuk adik tadi. Semoga tidak ada lagi yang jahat pada dia. Tapi Ummi akan bersyukur sekali jika Raja mau minta maaf pada adik itu.”
Aku pun meninggalkan Raja kembali ke kelasku. Aku melihat anak bergamis hijau itu sudah lebih tenang meski dia masih terisak. Aku membisikkan sesuatu ke telinganya.
“Insyaallah kamu anak kuat. Nanti kita baca Iqro’ ya. Menangisnya sudah dulu ya?” Dia mengangguk sambil mengeluarkan buku tulis dan buku Iqro’nya. Aku kembali duduk di depan Aga dan melanjutkan menyimak bacaan Iqro’nya.
Lima belas menit kemudian, kulihat Raja menghampiriku. Dia menyodorkan tangannya sebagai permintaan maaf pada anak bergamis hijau. Maa Syaa Allah… air mata haru mengembun di pelupuk mataku. Allah mengabulkan doaku. Aku meraih tangan Raja dan menyodorkannya ke adik bergamis hijau. Adik bergamis hijau sepertinya masih belum bisa memaafkan Raja. Aku pun menggenggam tangan Raja.
“Alhamdulillah… Ummi bangga padamu, sayang. Terima kasih ya.” Aku memberikan senyum haru padanya.
“Tapi dia tidak mau memaafkan aku, Mi,” gerutunya.
“Insyaallah adik itu sudah memaafkan Raja. Mungkin dia masih takut untuk menerima jabat tangan Raja, sayang.” Aku membelai kepala Raja. Sepertinya anak itu mengerti dengan perkataanku. Dia pun pamit kembali ke kelasnya.
***
Thursday, October 8, 2020
Selamat Datang Ummi
“Ibu mengajar di kelas Saad bin Abi Waqqash ya. Karena kelas itu muridnya banyak sementara hanya ada satu guru yang mengajar di sana.” Demikian instruksi dari kepala sekolah TPA tempat ku mengajar.
Sore itu aku baru saja dites sebagai tenaga pengajar di TPA ini. Tentu saja aku sangat gugup. Dulu, aku juga pernah mengajar di TPA ini, tapi aku resign ketika hamil putera ke tiga. Setelah usia puteraku tujuh tahun, aku disarankan oleh ustadzah yang mengajariku Tahsin untuk mengajar di TPA kembali.
Jadilah sore ini aku di sini. Melewati serangkaian tes seperti wawancara kerja pada umumnya. Aku gugup karena sudah lama tidak mengajar. Apalagi kali ini muridnya tambah banyak dan kelasnya juga bertambah. Waktu ternyata cepat berlalu.
Selesai tes, aku langsung diajak Bu Kepsek ke kelas Saad bin Abi Waqash. Aku memperkenalkan diriku dan selanjutnya belajar mengajar pun dimulai. Kelas yang menjadi tanggung jawabku kali ini adalah kelas lanjut. Anak-anak di kelas ini umumnya sudah hapal tiga perempat Juz Amma. Mereka juga sudah membaca Al Quran, bukan Iqro’.
Setelah berkenalan dengan rekanku dan semua murid, pelajaranpun berlanjut. Sebagian anak mulai mengantri membaca Al Quran di depanku untuk aku simak bacaan mereka. Mereka sudah selesai mengerjakan tugas menulis hadist di buku tulis. Bagi anak yang sudah membaca dan menulis di buku, boleh bermain di halaman masjid. Mereka bermain hingga aku dan rekanku menyelesaikan menyimak bacaan Al Quran semua murid.
Waktu pulang pun tiba. Semua murid sudah selesai membaca Al Quran. Aku memperhatikan rekanku menutup kelas sore itu. Kuharap besok aku sudah memahami cara memulai kelas dan menutup kelas.
***
Hari ini kelas dimulai. Rekanku ternyata belum datang, sementara jam pelajaran sudah harus dimulai. Aku pun membuka kelas dengan mengajak semua murid membaca doa seperti yang mereka lalukan kemarin. Kelas pun dimulai dengan menjelaskan sebuah hadist kepada semua siswa. Aku menulis sebuah hadist pendek tentang berbuat baik kepada orangtua di papan tulis. Kuminta semua siswa untuk menyalin di buku tulis mereka sebanyak 10 kali.
Sebagian anak mulai menulis, sedangkan sebagian lagi mulai mengantri di depanku. Aku mulai menyimak bacaan Al Quran mereka satu persatu. Hingga tak terasa waktu pulang pun tiba. Beberapa anak perempuan tiba-tiba menghampiriku sebelum kami mulai melantunkan doa penutup.
Mereka menyodorkan sebuah buket bunga yang cantik kepadaku. “Ini buat Ummi sebagai ucapan selamat datang dari kami. Semoga Ummi betah mengajar kami ya.”
Ya Allah… air mata haru merebak di pelupuk mataku. Aku tersenyum haru menerika buket bunga itu. buket bunga bougenville berwarna ungu, merah dan putih diletakkan di sebuah gelas air mineral bekas. Buket itu sangat cantik secantik anak-anak yang memberikannya padaku.
“Terima kasih sayang. Insyaallah Ummi akan selalu bersama kalian di sini. Semoga kalian nggak bosan ya.”
Selanjutnya aku pun mengajak mereka membaca doa penutup majelis pada sore hari ini. Subhanakallahumma, wabihamdika, asyhadu anla ila ha illa anta, astaghfiruka atubu ilaik…
Monday, February 17, 2020
Mobilan Baru
Tuesday, February 4, 2020
Fatimah binti Muhammad SAW, Sang Pemimpin Surga (4)
Monday, February 3, 2020
Fatimah binti Muhammad SAW, Sang Pemimpin Surga (3)
Sunday, February 2, 2020
Fatimah Binti Muhammad SAW, Sang Pemimpin Surga (2)
Saturday, February 1, 2020
Fatimah binti Muhammmad SAW, Sang Pemimpin Surga (1)
Tuesday, January 28, 2020
Jangan Merasa Paling Menderita
Anak pertama perempuan, sudah bisa membantu ibunya beberes rumah dan memasak. Demikian juga anak kedua dan ke tiga. sedangkan anak ke empat dan ke lima yang masih sangat membutuhkan perhatian ibunya. Karena mereka masih balita dan SD awal.
Tuesday, October 8, 2019
Milad Mubarak Untuk Syifa
Saturday, March 10, 2018
Proses Kreatif Buku Aku Cinta Masjid
Wednesday, August 23, 2017
Menanamkan Cara Menjaga Prinsip Pada Anak
Monday, August 14, 2017
Untukmu Anak-anakku
Untukmu Anak-anakku
Wednesday, March 29, 2017
Puasa-puasa Sunnah
Saya bersyukur ternyata Hikmal sudah mulai menambah ibadahnya walau gagal puasa. Akhirnya pagi ini kami mulai diskusi setelah saya selesai menyiapkan sarapan dan Hikmal akan berangkat sekolah. Saya bertanya kenapa Hikmal ingin melaksanakan puasa Rajab.

