Thursday, August 5, 2021

Semangat Untuk Para Ibu

Bismillahirrahmanirrahim 

Maret 2019 virus ini hadir di sini. Sejak itu suasana rumah, sekolah, lingkungan, pasar, dan lainnya berubah. Kemana-mana harus mengenakan masker. Cuci tangan lebih sering dari sebelumnya. 

Belajar dan bekerja dari rumah.  Sebulan pertama mungkin masih bisa menerima keadaan ini. Tapi bulan berikutnya sampai sekarang,  sudah banyak yang tidak tahan dengan keadaan ini. 

Belajar daring sangat tidak leluasa. Apalagi di rumah ada 3 anak dan satu bapak yang belajar dan bekerja di rumah. Masing-masing membutuhkan tempat untuk belajar dan bekerja. Masing-masing juga butuh gadget untuk kegiatan mereka. 

Saat itu mulai muncul konflik antara anak dan anak lainnya. Antara ayah dan anak, antara ibu dan anak dan seterusnya. Beban kerja ibu di rumah jadi bertambah. 

Biasanya mencuci, memasak, membersihkan rumah, bertambah dengan mengajari anak. Apalagi ketika anak tidak paham dengan penjelasan guru yang tak begitu jelas saat sinyal internet lemah. Tak jarang ibu makin lelah dan bertambah lelah ketika suaminya ikut mengomel karena pekerjaan lewat daring tak berjalan lancar. 

Maa syaAllah... sungguh luar biasa dampak psikologis dan sosial yang terjadi dalam satu keluarga. Saat ini kesabaran dan keridhaan para ibu sangat diuji hingga berlipat. 

Wahai ibu, kalian hebat! Kalian kuat! Kalian pasti bisa mengatasi masalah ini. Tarik napas, buang perlahan. Lafazkan istighfar di setiap helaan napas kalian. Buang semua beban perlahan. Nikmati sekitar! Bunga, awan, pohon, mentari, semua menyenangkan bukan?

Ingatlah kalian sedang beribadah kepada Rabb kalian. Kalian harus lebih kuat dari semua anggota keluarga di rumah. Karena kalian tiangnya. Jika kalian rapuh, maka rumah dan seisinya rubuh. Mohon selalu kepada Rabb kalian agar kalian tetap kuat dan ridha menghadapi ujian ini. Ingatlah, ini insyaallah segera berlalu. Kelak ini akan menjadi kenangan tak terlupakan yang akan membuat kalian selalu bersyukur dan tersenyum. 

Wahai ibu, mulailah harimu dengan Bismillaah, lebarkan senyummu, yakinkan dirimu, bahwa Allah bersamamu. Selamat beraktivitas untuk semua ibu dimanapun berada. ❤❤❤🌄🪴🌺
#WritingForHealingId1
#notetomyself

Wednesday, August 4, 2021

Kecewa Secukupnya

Bismillahirrahmanirrahim
Kecewa pada seseorang pasti pernah dialami semua orang. Namun tidak semua orang bisa menghadapi rasa kecewanya terhadap sesuatu atau seseorang.

Sebagian orang memilih untuk memelihara dendam ketika kecewa. Sebagian lagi membiarkannya begitu saja. Sebagian lagi mencari hikmah dari rasa kecewanya.

Lalu bagaimana caranya agar rasa kecewa kepada orang yang membuat kecewa itu tidak menyakitkan kita? Tidak membuat kita sedih dan sakit hati.

Lebih baik memilih saran dari beberapa ustadz dari kajian kajian mereka. Atau bisa juga memilih saran dari buku-buku yang ditulis para ulama.

Contohnya begini, suatu kali kita kecewa dengan tingkah laku anak yang belum sesuai dengan keinginan kita dan keinginan Allah. Segera instropeksi diri, pasti ada hikmahnya.

Allah sedang mengajari kita untuk terus mengajarkan kebaikan pada anak-anak kita. Hilangkan rasa kecewa dengan kalimat bahwa tak semua anak mudah menerima ajaran kebaikan.

Sama seperti anak nabi Nuh AS yg membangkang pada Allah dan ayahnya yang seorang nabi. Kita bisa lebih sedikit berlapang dada karena anak kita tidak seperti anak nabi Nuh AS. Anak Nabi Nuh  membangkang dan menolak Allah dan Rasul Nya. Sedangkan anak kita hanya membangkang dalam masalah kecil saja.

Insyaallah anak kita masih bisa terus kita ajak kepada kebaikan dan terus kita doakan kepada Allah, agar Allah memberikan hidayah kepadanya.

Atau suami/istri kita masih jauh dari ajaran Allah dan Rasul Nya. Ingatlah, bahwa Allah juga menguji sayyidah Asiah dengan suaminya Firaun yang menolak mengesakan Allah.

Ingat juga istri Nabi Nuh dan Nabi Luth yang membangkang pada Allah dan Rasul Nya.

Alhamdulillah suami/istri kita tidak sampai seperti firaun dan tidak seperti istri Nabi Nuh dan Nabi Luth.

Dengan demikian kekecewaan kita bisa sedikit mereda. Bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini. Bahwa kita harus memperbanyak doa kepada Allah. Bahwa kita harus makin mendekatkan diri pada Allah agar Allah mengabulkan doa-doa kita. 

Kecewa tak mengapa. Tapi kecewa itu hanya secukupnya. Tidak berharap pada manusia. Hanya berharap pada Allah. Agar semua terasa lapang.  Semoga Allah pertemukan kita dan keluarga kita kelak di surgaNya. Aamiin

Wednesday, July 14, 2021

Baju Aneh

             “Ini baju untuk kalian. Ayo pakai!” tante memberikan sebuah kaos tanpa lengan dan celana pendek padaku dan Aini sepupuku.  Apakah ini harus kukenakan? Ini kan bukan baju, tapi kaos dalam? Seperti itu yang terlintas dipikiranku.

            Kulihat Aini menerima baju yang diberikan tante dan segera ke kamar menggantinya. Sedangkan aku, hanya bisa termangu memandangi satu stel pakaian yang kuyakini tak pantas kupakai. Karena aku seorang anak perempuan. Usiaku sepuluh tahun. Aku malu jika mengenakan pakaian yang baru diberikan tante padaku.

            Beberapa saat kemudian, Aini keluar dari kamar dengan baju barunya. Kaos lengan pendek dan celana pendek di atas paha. Ya Allah… ini sungguh membuatku geli. Aku makin tak mau mengenakan pakaian itu.

            “Ayo Nay, ganti pakaianmu. Kenakan ini!” perinta tante. Wajahnya mulai terlihat garang. Matanya melotot sebagaimana jika dia marah padaku. Tante Peni adalah adik Papa. Aku dan sepupuku Aini tinggal Bersama nenek dan juga tante Peni. Kami harus selalu mengikuti perintah tante Peni jika tak ingin cubitannya menancap di kulit lengan kami. 

            Kurasa aku yang paling sering mendapatkan cubitan itu. Awalnya kupikir karena aku sering tidak segera melakukan perintahnya seperti mencuci piring, menyapu rumah dan lainnya. Tapi semakin lama kuperhatikan, bukan karena faktor itu saja. Sepertinya dia memang lebih menyayangi sepupuku Aini daripada aku.

            Karena kulihat Aini juga sering mengabaikan perintah Tante Peni, tapi Aini jarang mendapatkan cubitan di lengan. Yah mungkin ini hanya perasaanku saja. Semoga memang begitu ya.

            “Tapi ini kan kaos dalam tante,” ujarku menolak secara halus. “Apalagi ini celananya bukan untuk anak perempuan, tapi untuk anak laki-laki.”

            “Siapa bilang ini kaos dalam dan celana anak laki-laki! Kamu nggak lihat ini motifnya boneka beruang begini? Warnanya juga kuning dan pink. Celana ini juga begitu, ada gambar beruang di kantong belakangnya!” Tante Peni menunjuk ke kaos dan celana yang kupegang.

            Benar juga yang dikatakan Tante Peni, ada gambar beruang di kaos tak berlengan itu. Tapi aku risih jika harus mengenakan model pakaian yang tak pernah kukenakan sama sekali.

            “Udah pakai aja Nay, cakep kok.” Aini membujukku. Kuperhatikan Aini dengan pakaian yang dikenakannya. Aini memang tomboy. Jadi dia sepertinya nyaman mengenakan pakaian itu. Kuperhatikan lengan Aini dengan kulit kuning langsatnya. Celana yang di atas pahanya juga memperlihatkan warna paha Aini. Aku bergidik membayangkan jika aku mengenakan pakaian itu.

            “Aku nggak mau Tante,” kuserahkan pakaian itu kepada Tante Peni.

            “PAKAI!” bentaknya. Aku terlonjak kaget. Jantungku berdegup kencang. Jika sudah berteriak seperti ini, biasanya cubitan atau pukulan pasti akan mendarat di tubuhku jika aku tidak menurutinya.

            Padahal baru kemarin aku mendapatkan cubitan di lengan. Tanda biru bekas cubitan itu bahkan belum hilang. Jika aku mengenakan pakaian yang diberikan Tante ini, pasti akan terlihat lebam karena cubitan tersebut. Ya Allah… ampuni aku karena terpaksa mengenakan pakaian ini. 

            Aku ke kamar untuk berganti pakaian. Rasanya aku tak kuat menahan cubitan lagi hari ini. Sedari tadi aku belum makan. Jadi kurasa bisa saja aku pingsan karena menahan cubitan dan rasa lapar. 

            Setelah selesai berganti pakaian, aku keluar kamar. “Nah kan bagus ini. Warna pink cocok dengan kulit sawo matang kamu,” ucapan Tante Peni seperti sedang mengolokku. Mana ada warna pink cocok dikenakan oleh anak berkulit sawo matang. 

            Sungguh tak nyaman mengenakan pakaian tak berlengan dan tak berkaki ini. Seperti angin yang membalut semua badanku. Dingin dan geli menjadi satu. 

            “Sekarang kalian berdua pergi ke rumah papa kamu ya Nay. Kasih tahu papa kamu bahwa tante sudah membelikan kalian baju,” perintah Tante Peni.

            “Hah! Pergi dengan pakaian seperti ini Tante?” tanyaku tak percaya.

            “Iyalah. Kan mau kasih tahu papa kamu tentang baju ini!”

            Aku tak percaya. Bagaimana mungkin aku harus keluar rumah dengan pakaian seperti ini? Aku bisa jadi olok-olokan teman-temanku nanti. Apalagi ada bekas cubitan di lengan kananku.

            “Udah, sana pergi!” Tante membuyarkan lamunanku.

            “Ayo Nay!” Aini menarik lenganku. Dia sepertinya menikmati pakaian barunya. Aku terpaksa melangkah mengikuti Aini. Rumah papaku berjarak seratus meter dari rumah nenek. Begitu keluar dari rumah, teriknya sinar mentari langsung menghujam kulitku. Hawa panas menerpa seluruh lengan dan kakiku. 

            Pakaian ini sama sekali tidak melindungiku dari udara dingin dan sengatan matahari. Aini berlari kecil sambil bernyanyi. Dia terlihat sangat senang. Berbeda denganku yang terlihat sangat tertekan. Sepanjang jalan menuju rumah papa, aku hanya menunduk menghindari tatapan orang. Kupikir semua orang memandangiku dengan tatapan aneh.

            Sampai di rumah papa, Aini langsung masuk sembari mengucapkan salam. Tapi tak ada yang menjawab salam kami. Kupikir papa pasti masih di kantor. Karena ini belum terlalu sore. Papa biasanya pulang dari kantornya sekitar pukul empat.

            Semenjak mama meninggal tiga tahun lalu, papa memintaku tinggal di rumah nenek. Karena beliau tidak bisa sepenuhnya merawatku. Beliau sibuk di kantornya dan tidak punya banyak waktu memasak makanan untuk kami. Papa makan malam ke rumah nenek. Sarapan dan makan siang biasanya di kantor. 

            Aku lega papa tidak ada di rumah. Aku tak mau melihat wajah papa bingung melihatku dengan pakaian seperti ini. Papa paham sekali bahwa aku sangat mengidolakan mama. Mamaku seorang ustadzah, beliau mengajar mengaji di TPA dekat rumah kami. Pakaian beliau selalu tertutup. Beliau membiasakan aku juga dengan pakaian menutup aurat. Setidaknya beliau membelikanku rok sebatas betis dan baju dengan lengan se-siku.

            “Anak-anak tidak apa-apa mengenakan pakaian seperti ini. Tapi Nay harus membiasakan mengenakan pakaian gamis seperti Mama ya. Agar terbiasa kelak hingga dewasa,” demikian pesan beliau padaku. Hal ini tak kan pernah kulupakan.

            “Nay tak kan pernah mengenakan pakaian ini lagi, Ma. Maafkan Nay ya Ma. Sampai di rumah nanti Nay akan mengganti pakaian ini dengan pakaian yang lebih menutup aurat.” Aku mengajak Aini kembali ke rumah nenek. Aku akan menguatkan diri jika Tante mencubitku bahkan jika dia memukulku sekali pun. Aku berjanji tak akan pernah mengenakan pakaian ini selamanya.

                                                                        ***

 

Thursday, July 1, 2021

Terpeleset

 Akhir-akhir ini virus covid19 makin menyebar dengan masiv. Keluarga Bunda Nay makin berhati-hati untuk keluar rumah. Padahal Bunda Nay baru merasa bisa menghilangkan rasa parnonya terhadap penularan virus ini. Tapi kenyataannya, kekhawatirannya muncul lagi. 

Pasrahkan semuanya pada Allah, karena hanya padaNya tempat kita bersandar. Yang penting kita tetap menjaga kesehatan, menggunakan masker jika keluar rumah, menjaga jarak dengan orang-orang, menghindari kerumunan, mencuci tangan sesering mungkin. Kalau tidak penting banget, jangan keluar rumah. Hal ini yang selalu diterapkan Bunda Nay ke anak dan suami dan adik-adiknya di kampung.

Segala sesuatunya di dunia ini terjadi pasti karena Allah mengizinkannya terjadi. Semuanya bergerak atas izin Allah. Jadi kita sebagai hambaNya harus bersyukur dan bersabar ketika mendapat nikmat, bersabar, ikhlas dan ridho ketika mendapatkan ujian. Dengan demikian kita bisa menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Demikian prinsip Bunda Nay. Hal tersebut yang berusaha dilakukannya setiap hari. 

Seperti kejadian beberapa hari lalu, Bunda Nay pergi ke pasar komplek. Setelah belanja, Bunda Nay kembali ke rumah. Di jalan menuju rumah, Bunda Nay melihat 3 orang bapak-bapak sedang berjalan. Sepertinya mereka adalah Pak RT bendahara dan humas RT yang sedang meminta iuran RT. Mereka terlihat mengenakan masker dan berjalan saling berjarak.

"Kenapa bapak-bapak itu berjalan memenuhi jalan? Ini bagaimana cara lewatnya?" demikian batin Bunda Nay.

Bunda Nay terpaksa melewati depan pagar  rumah salah satu tetangganya. Itu bukan jalan sebenarnya. Tapi semacam jembatan kecil penghubung antara rumah dan jalan. Karena ada got di bawah jembatan kecil itu. Entah kenapa saat berjalan di sana, tiba-tiba Bunda Nay sudah terduduk tak berdaya di jalanan. "Allahu akbar!" serunya kaget.

Bapak-bapak yang persis berada di sampingnya, mencoba membantu Bunda Nay. 

"Ibu nggak apa-apa Bu?"

"Saya nggak apa-apa Pak. Terima kasih." Bunda Nay mencoba untuk berdiri. Tangannya kirinya terasa sakit. sepertinya tumbuhan berupa pohon kecil di taman pemilik rumah itu menggores tangan Bunda Nay. Bersyukur Bunda Nay mengenakan gamis dan jilbab lebar. Hanya rasa sakit yang dia rasakan.

Setelah berdiri, Bunda Nay memperhatikan ke lantai yang menyebab dia jatuh. Ternyata lantai yang dia injak adalah lantai dari keramik. Pantas saja Bunda Nay jatuh karena terpeleset. Saat itu gerimis, jadi lantainya pasti basah. Apalagi Bunda Nay mengenakan sendal jepit yang dari karet itu. "

Bunda Nay pun melanjutkan langkahnya menuju rumah. Bersyukur kantong belanjaan tidak terlepas dari tangannya. Jadi dia tidak perlu memungut belanjaan sayur yang berceceran. Bunda Nay berjalan dengan langkah biasa. Dia berusaha menahan rasa sakit di kaki kiri dan tangan kirinya. Rasanya malu membuat Bunda Nay berjalan seperti biasanya. 

Dalam hatinya Bunda Nay ingin menyalahkan bapak-bapak yang berjalan berjejer memenuhi jalan. Tapi segera dia beristighfar. Kejadian pagi ini pasti terjadi karena kelalaiannya. Allah mengizinkan hal itu terjadi agar dia mencari hikmahnya. Bunda Nay segera memperbanyak istighfar. Alhamdulillah ala kulli hal. 

Bersyukur kakinya tidak keseleo. Hanya ada memar saja di tangan kirinya saat bunda Nay memeriksa tangannya sesampai di rumah. Innamaal usri yusra. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. 

Tetap semangat untuk semua sahabat yang sakit. Semoga segera pulih dan Allah ampuni dosa-dosa kita. aamiin.[NS]


Monday, June 7, 2021

Burdah Mush’ab Bin Umair

            Aku sangat sedih karena hanya bisa menutupi sebagian badan dari sahabat tercinta Rasulullah SAW ini. Sahabat yang menjadi duta pertama bagi kejayaan umat muslim di Madinah. Beliau bernama Mush’ab Bin Umair. Sahabat tercinta Rasulullah SAW itu sudah pergi untuk selamanya. Beliau syahid di medan pertempuran perang Uhud.

            “Coba tarik burdah itu ke bawah untuk menutupi kaki Mush’ab,” terdengar suara Rasulullah SAW memberi perintah pada sahabatnya yang lain. Aku kaget mendengarnya, tapi aku bersiap. Seseorang menarikku hingga menutupi kaki Mush’ab. Sayangnya ketika kaki beliau sudah berhasil ditutup, kepala dan mukanya masih terlihat.  Hal itulah yang membuatku bersedih.

            Kenapa aku tidak cukup panjang untuk menutupi semua badan sahabat mulia itu? Beberapa saat kemudian Rasulullah memerintahkan untuk menarikku ke atas kepala Mush’ab. Tapi hasilnya tetap sama. Kepala Mush’ab berhasil kututup, namun kakinya kali ini yang terlihat. Aku tidak tahu harus bagaimana.  

“Dahulu ketika di Mekah, dia yang paling kaya. Paling tampan, dan paling bagus pakaiannya. Namun semua itu ditinggalkannya demi membela agama Allah. Sekarang dia syahid dan hanya sebuah burdah ini yang menemaninya,” kata Rasulullah SAW sedih.

            Aku sangat merasakan kesedihan Rasulullah SAW. Karena aku tahu benar kehidupan Mush’ab. Aku selalu menemani Mush’ab sejak awal mengenal islam. Mush’ab yang baik demikian gelar yang diberikan padanya. Dia adalah laki-laki pemberani. 

Masih ingat dalam ingatanku waktu menemani Mush’ab di Madinah. Ketika itu Rasulullah SAW memberikan tanggung jawab kepada Mush’ab  untuk membimbing kaum Anshar.  Mereka sudah berbaiat kepada Rasulullah di Bukit Aqabah. Rasulullah SAW juga meminta Mush’ab untuk menyebarkan agama Allah di Madinah. Mush’ab pun langsung bertindak. Pertama dia menginap sebagai tamu di rumah As’ad Bin Zararah.

            “Aku akan mengunjungi kabilah-kabilah, tempat pertemuan dan rumah-rumah penduduk Madinah. Maukah kamu menemaniku wahai As’ad?” pinta Mush’ab kala itu. As’ad pun menerimanya. Mereka membacakan ayat-ayat Allah di setiap pertemuan itu. Aku selalu mendengar dan mengikuti semua kegiatan Mush’ab. Aku ikut senang ketika setiap hari makin banyak pengikut Rasulullah SAW melalui pembelajaran dari Mush’ab.

            Hingga suatu hari salah satu pemimpin kabilah marah dan menghunuskan pedangnya pada Mush’ab. Namanya Usaid bin Hudlair.  Aku sangat terkejut dan ingin berteriak agar Mush’ab segera keluar dari pertemuan itu. Karena semua orang sudah berhamburan keluar. Namun Mush’ab masih tetap tinggal dan menyambut Usaid bin Hudlair yang sedang murka.

            “Tinggalkan segera tempat ini!” bentak Usaid. Aku gemetar mendengarnya. Tapi tidak dengan Mush’ab. Dia terlihat tenang. Wajahnya memancarkan ketulusan seorang muslim sejati. Sambil tersenyum dia berkata.

            “Ijinkan saya membacakan sedikit ayat-ayat Allah untuk Anda. Setelah itu, jika Anda tidak suka mendengarnya, saya akan keluar dari sini.”

            Usaid setuju. Dia bersedia mendengar terlebih dahulu. Mush’ab pun mulai melantunkan ayat-ayat Allah dan menjelaskan tentang maksud dari ayat itu. Subhanallah walhamdulillah... hati Usaid bergetar mendengar ayat suci itu. Usaid pun langsung bersyahadat. Aku lega melihatnya. 

            Itulah salah satu hal yang tak dapat kulupakan dari kepribadian Mush’ab. Apalagi hingga akhir hidup beliau, aku melihat sendiri kegigihan Mush’ab membela Allah dan RasulNya.

            Saat di perang Uhud ini, Mush’ab bertugas memegang bendera perang. Beliau memegang bendera itu dengan tangan kanannya. Lalu ketika pasukan muslim terpecah, Mush’ab maju untuk melindungi Rasulullah SAW. Seorang musuh yang berkuda menebas lengan kanan Mush’ab hingga putus.

“Ya Allah lindungi Mush’ab !” pekikku ketika melihat hal itu. Aku sungguh takut. Bendera yang dipegang Mush’ab pun jatuh. Tapi Mush’ab belum menyerah. Dia memekikkan kalimat penyemangat yang membuat kumerinding mendengarnya. Mush’ab memekikkan kalimat itu sambil mengambil bendera dengan tangan kirinya.

            “Muhammad itu hanyalah seorang Rasul dan sebelumnya telah didahului oleh beberap Rasul.” Hal ini dilakukan Mush’ab untuk membangkitkan semangatnya membela agama Allah. Namun si kafir Quraisy yang bernama Ibnu Qumaiah itu tak peduli. Dia lalu menebas tangan kiri Mush’ab.

Aku tak tahan melihatnya. Mush’ab yang baik masih saja belum kehilangan semangat. Kudengar ia meneriakkan kembali kalimat penyemangat itu. “Muhammad itu tak lain adalah seorang Rasul dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul.”

            Tiba-tiba musuhnya menyerang dada Mush’ab dengan tombak hingga tiga kali tusukan. Mush’ab tersungkur. Bendera yang dipegangnya jatuh. Aku pun ikut terjatuh bersama syahidnya sahabatku yang mulia. Aku menangis. Tangis sedih dan bahagia. Sedih karena tidak akan bisa menemani sahabat muliaku ini dalam perjuangannya menegakkan agama Allah. Bahagia karena diperkenankan menjadi penutup tubuh suci sang sahabat.  Semoga Allah memberikan syurga terbaik untuk sahabat mulia ini, doaku dalam hati.

            Aku lihat  Rasulullah SAW masih tercenung sedih memperhatikan sahabatnya itu. Setelah itu beliau berdiri. Beliau memandang semua pasukan muslim yang gugur. Beliau berkata bahwa beliau akan menjadi saksi di hari kiamat nanti atas kematian para syuhada tersebut. 

Lalu Rasulullah SAW berpesan kepada kaum muslimin yang masih hidup, “Hai manusia! Berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka. ucapkanlah salam! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang muslim pun sampai hari kiamat yang memberi salam pada mereka. Pasti mereka akan membalasnya.”

            Aku pun mengucapkan salam perpisahan pada sahabat tercintaku. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Mush’ab. Aku akan selalu berada di sisimu sampai Allah membangkitkanmu nanti.”

                                                            ***

Tahukah kamu bahwa kalimat penyemangat yang diucapkan Mush’ab Bin Umair ketika tangannya ditebas oleh orang kafir, dikukuhkan Allah sebagai wahyu kepada Rasulullah SAW. Dan ayat ini selalu kita baca dalam AlQuran. Ayat itu terdapat dalam surat Ali Imran ayat 144. Arti ayat itu adalah : Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul,sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul ...

 

 

Catatan : Burdah adalah sebuah jubah yang terbuat dari bulu domba.

Saturday, May 1, 2021

Surat Bunda Nay


         Bunda Nay lagi bingung menghadapi Abang Nanda, Haikal. Sudah beberapa bulan ini Haikal mengenal seorang perempuan. Usia mereka sepantaran. Mereka masih sama-sama sekolah di SMA. Haikal mengatakan kalau qanita, teman yang baru dikenalnya itu adalah masa depannya.
        "Loh kayaknya jauh banget itu pemikiran kamu?" tanya Bunda Nay begitu Haikal bercerita tentang cewek itu.
         "Lah kan Bunda nggak ngijinin aku pacaran, jadi ya aku berpikir langsung nikah aja!" jawab Haikal santai.
         Entah Bunda Nay harus bersedih atau bahagia mendengar ucapan putranya itu. Satu sisi Haikal benar, Bunda Nay sudah menceritakan kepada anak-anaknya bahwa tak ada pacaran dalam islam. Kalau mau taaruf dan langsung nikah. Tapi tentunya tidak secepat ini juga kan?
Bagaimana mungkin Haikal yang belum tamat SMA sudah mengatakan akan menikah? Lah anaknya itu kan belum punya pekerjaan atau bisnis yang akan menopang kehidupannya bersama istrinya kelak kan?
        Bunda Nay sudah meminta Haikal untuk berteman saja dengan cewek itu, layaknya anak-anak lain. Bukan pacaran, tapi hanya bersilaturrahim. Sayangnya karena mungkin karena ini cinta pertama bagi Haikal, dia tetap ngeyel akan segera menikah karena tak mau pacaran. Ya Salaam... apa yang harus dilakukan Bunda Nay?
        Bunda Nay langsung mengadu pada Allah, mohon Allah membukakan pintu hati Haikal agar paham dengan maksud Bunda Nay. Tidak mudah untuk menikahi anak gadis orang apalagi pada kondisi saat ini.
        Makin hari Bunda Nay makin dibuat pusing dengan keinginan Haikal yang ternyata sangat serius itu. Bunda Nay dan suaminya sangat takut anaknya menjadi melampaui batas bersama cewek itu. Bunda Nay sudah memberikan berbagai contoh kasus tentang pernikahan dini yang hanya berlandaskan nafsu. 
        "Haikal paham dengan maksud Bunda kok. Makanya Haikal ingin menikah muda agar tak melakukan dosa!" demikian selalu jawaban sang anak. 
        Bunda Nay pun memutuskan memberi batasan tegas bagi Haikal. Bersama suaminya mereka mengajak sang anak untuk duduk bersama dan membahas keinginan Haikal itu. Bunda Nay memberikan berbagai contoh dari kejadian yang pernah ada melalui berita di internet dan kejadian nyata di sekitar mereka. Setiap hari tak henti Bunda Nay memohon ampunan Allah dan memberi hidayah kepada anaknya.
        Alhamdulillah Haikal pun akhirnya paham. Dia bersedia "melupakan" sementara firts lovenya untuk masa depan yang mereka dambakan.
    "Aku tetap berkomitmen sama dia bahwa kami akan bersama kelak, insyaallah," demikian ucapan Haikal kemarin.
        "Silakan, yang penting kalian tidak berpikir untuk berpacaran. Karena ada zina hati, zina mata dan lainnya di dalam pacaran itu."
        "Tapi masalahnya Qanita jadi nangis mulu Bun. Dia nggak mau putus katanya."
        "Bunda bantu agar dia paham mau?"
        "Boleh deh."
        "Oke, bentar Bunda tulis surat ya. Nanti kamu kasih ke dia."
        Bunda Nay pun menulis sebuah chat yang ditujukan untuk teman perempuan Haikal. Begini isinya.

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum wr.wb

Dear Qanita, perkenalkan ini ibu Haikal 
Maaf jika chat ibu mengganggu ya...
Langsung aja,
Ibu berterima kasih karena Qanita sudah menyayangi Haikal. Sudah mau berteman dengan Haikal dan saling berbagi cerita dengan anak ibu.

Ibu yakin kalian tulus dalam berteman. Untuk itu ibu bangga pada kalian.
Hanya saja ibu perhatikan mungkin cara kalian berkomunikasi sudah tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw.

Sebagai seorang ibu, tentunya ibu ingin kalian berteman dalam tuntunan agama.
Jadi karena itu ibu meminta Haikal untuk mengendalikan diri dalam berkomunikasi dengan Qanita.

Karena kita berharap Allah meridhai pertemanan kalian, jadi tentunya kalian juga harus melaksanakan aturan Allah tersebut dalam berteman.

Ibu meminta kalian menjaga diri dan menahan diri ini semata2 karena ibu menyayangi kalian. Bukan karena ibu tidak menyukai Qanita, bukan itu alasannya.

Alasannya hanya karena ada aturan Allah yang harus kalian taati dalam pertemanan kalian jika kalian ingin Allah meridhai kalian.

Ibu percaya kalian pasti bisa bersikap patuh pada aturan Allah ini. Kalian sudah dewasa untuk paham dan menjalankan aturan itu.

Ibu berharap kalian memahami alasan ibu ini. Ibu ingin menjaga kalian dari hal-hal yang mungkin kalian sudah pahami.

Demikian dari ibu ya. Semoga kalian bisa memahami maksud ibu.

Ada sebuah quote yang ibu dapat dari film kisah Nabi Yusuf AS. Begini bunyinya :

Cinta itu suci. Seorang pecinta tak mungkin berkhianat. Pecinta tak akan membiarkan wilayah suci hatinya ternoda.
Nafsu tak boleh diartikan sebagai cinta.

"Yusuf AS"

Jadi jika kalian benar-benar saling menyayangi, insyaallah kalian paham dengan maksud ibu ini. Berkasih sayanglah hanya karena Allah. Taati aturan Allah, insyaallah Allah akan memberikan kebaikan kepada kalian.

Ibu menyayangi kalian karena Allah.
Salam sayang dari ibu.

Friday, April 30, 2021

Surat Untuk Sahabat




Dear Rika 

Pasti Rika sudah berbahagia di sisi Allah.
Sungguh Allah sangat menyayangi Rika. Allah beri Rika seorang suami yang mencintai Rika dengan tulus. Kenapa Epi bisa tahu padahal kita sudah lama tak bertemu? Padahal kita bertemu dulu sekali ketika kita masih sama-sama jadi santri di MTI Candung. Setelah itu kita kehilangan kontak satu sama lain hingga beberapa tahun lalu Allah mempertemukan kita kembali.

Qadarullah, Allah mempertemukan kita saat kondisi kesehatan Rika sedang kurang sehat. Kanker menyebabkan Rika menjadi ringkih dan kehilangan berat badan sangat drastis.

Pada akhirnya kita hanya bertemu dua kali sebelum Rika dipanggil Allah. Epi bersyukur karena Allah mempertemukan kita kembali saat itu. Kita dan kawan-kawan lain saling mengenang kisah saat kita menjadi santri.

Pertemuan dua kali itu cukup untuk Epi mengenal tulusnya suami Rika. Berbahagialah Rika karena hal itu. Beliau menjaga dan merawat Rika dengan tulus. Epi bisa melihat bagaimana cinta kalian satu sama lain. Maa sya Allah... sungguh pemandangan yang indah melihat kalian saling memuji dan saling mengungkapkan kebaikan pasangan kalian.

Ternyata Allah lebih menyayangimu sahabat. Allah menjemputmu Desember tahun 2020 lalu. Sungguh Epi tak menyangka. Karena Epi berpikir setelah Rika dioperasi dulu, kesehatan Rika sudah membaik. Apalagi beberapa kali epi menanyakannya via WA, Rika mengaakan Alhamdulillah sudah membaik.

Ternyata penyakit itu masih menggerogoti tubuhmu sahabat. Ujianmu belum selesai dengan penyakit itu. Allah memintamu untuk lebih bersabar lagi, hingga Allah ingin bertemu denganmu di awal Desembar lalu.

Walau tak menyangka, Epi dan kawan-kawan lain tentu harus ikhlas melepasmu. Demikian juga dengan suamimu. Epi lihat beliau tegar. Beberapa postingannya di FB selalu menceritakan tentang besarnya cintanya padamu kawan.

Epi pernah mendengar ceramah dokter Aisah Dahlan yang mengatakan jika ingin tahu sebesar apa cinta suami ke kita, maka bisa diketahui ketika istrinya sudah mendahuluinya menghadap Allah.
Suami yang sangat mencintai istrinya pasti susah untuk move on. Inilah yang terjadi dengan suami Rika saat ini.

Begitulah yang Epi lihat dari suami Rika setelah kepergian Rika ini. Tak terasa sudah 4 bulan Rika berada di sisi Allah.
Selama itu Epi lihat beberapa kali FB Rika ditandai oleh suami Rika ketika muncul kenangan bersama Rika di FB beliau.

Maa syaAllah rasanya sungguh terharu betapa beliau masih menyimpan rasa cintanya pada Rika walau Rika telah tiada.

Dan yang paling membuat Epi takjub adalah ketika beliau menelpon Epi kemarin. Awalnya beliau menulis chat menggunakan nomor telepon Rika. Beliau minta alamat Epi di Bekasi. Karena Epi belum menjawab chat tersebut, beliau akhirnya menelepon Epi. Beliau ingin minta alamat epi untuk mengirimkan paket berupa camilan. Sebagai tanda agar silaturrahim dengan Rika tak terputus.

Maa syaAllah... Epi tak setuju dengan beliau karena pasti merepotkan kalau mengirimkan paket tersebut. Tapi beliau memaksa. Epi paham betapa beliau ingin menyampaikan niat Rika dulu ketika masih sehat. InsyaAllah Rika, tentu Epi akan selalu mengingat Rika sebagai sahabat terbaik Epi. Insyaallah Epi mendoakan agar Rika berbahagia di sisi-Nya.

Tentu Epi juga mendoakan kebaikan untuk suami Rika. Baru kali ini Epi melihat seorang laki-laki yang begitu tulus mencintai istrinya bahkan ketika istrinya sudah tiada.

Ohya, Epi ingat ada satu orang lagi yang seperti suami Rika, yaitu Apa epi hehehe... beliau sama seperti suami Rika, selalu mengenang almarhumah Ama Epi. Padahal Ama sudah pergi ketika Epi berusia 5 tahun.

Alfatihah untuk Rika, Apa dan Ama epi. Semoga kalian bahagia di sisiNya. Aamiin
Salam sayang dari sahabatmu.

Nelfi Syafrina