Thursday, February 4, 2021

Kaget


            Bunda Nay punya kebiasaan unik. Kalau ke kamar mandi dia tidak pernah mengunci pintu kamar mandi. Mungkin karena di rumah sendiri, jadi dia pikir semua orang pasti tahu ada orang di kamar mandi. Bersyukur kebiasaan itu tidak terbawa jika dia perlu BAK atau BAB di tempat umum seperti mall dan masjid.

            Kebiasaan itu lebih parah lagi ketika Bunda Nay bangun sebelum subuh. Dia bahkan tidak menutup rapat pintu kamar mandi. Jadi jika dia BAK atau BAB di kloset, dia bisa melihat ke arah dapur rumah mereka. Orang yang berada di dapur pun bisa melihat kaki orang yang berada di closet jika pintu kamar mandi tidak ditutup.

            Entah kenapa Bunda Nay selalu lupa menutup pintu kamar mandi jika dia bangun sebelum subuh itu. Bersyukur selama ini tidak ada anggota keluarga melihat Bunda Nay sedang BAK atau BAB menjelang subuh. Karena umumnya penghuni rumah mereka baru bangun setelah Bunda Nay membangunkan mereka.

            Kebiasaan aneh Bunda Nay itu akhirnya terpaksa berubah karena kejadian memalukan beberapa hari lalu. Seperti biasa pukul 3.30 WIB, Bunda Nay berjalan ke kamar mandi. Dia tak lupa membaca doa masuk kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi tapi tidak rapat. Lalu dia duduk di closet untuk BAK. Ketika hendak bersuci, matanya tiba-tiba menangkap sesosok wajah dengan senyuman mengarah padanya dari arah dapur.

            Bunda Nay terkejut karena tak menyangka ada yang sudah bangun jam segini. Dia ingin beristighfar karena kaget. Tapi dia segera memindahkan istighfarnya ke dalam hati. Karena tidak boleh menyebut nama Allah saat kita berada di dalam kamar mandi. Pikiranya segera memahami situasi. Benarkah yang dilihatnya itu sosok yang dikenalnya atau bukan? Karena kondisi dapurnya saat itu masih gelap. Bunda Nay tidak menyalakan lampu dapur.

            Bunda Nay merasa belum sepenuhnya sadar saat itu. Otaknya spontan merespon dengan memerintahkan mulutnya bertanya. Ini benar-benar pertanyaan di luar kesadaran Bunda Nay.

            “NANDA?!” tanya Bunda Nay dengan suara sangat bergetar tapi menggelegar. Respon otak yang kaget, takut tapi berusaha untuk berani. Jantungnya berdetak keras suara dan napasnya terdengar menderu.

            “Iya Bunda. Kenapa? Bunda masih lama ya?” jawab sosok itu sambil memperlihatkan senyumnya lebih lebar.  

            Bunda Nay memperhatikan sosok itu dengan seksama. Dia perhatikan dari wajah hingga kaki. Meski pakaian tidur Nanda juga gelap, Bunda Nay yakin sosok itu adalah putrinya. Bukan sesuatu yang perlu ditakutkannya. Dia ingin sekali mengucapkan hamdalah dengan lantang karena lega. Tapi dia beralih mengucapkannya dalam hati.

            “Kamu udah bangun? Biasanya susah kalau Bunda bangunin. Lagian kenapa berdiri di sana nggak ngomong. Malah senyum-senyum aja bikin Bunda kaget,” ucap Bunda Nay sambil menarik napas lega. Dia mengusap dadanya beberapa kali untuk menenangkan detak jantungnya. “Bersyukur Bunda nggak kena pingsan lihat kamu tiba-tiba berdiri di sana.” 

            Bunda Nay menyelesaikan bersucinya. Dia menarik napas dalam beberapa kali untuk menenangkan diri. Setelah itu dia bergegas menyikat gigi

            “Aku nunggu Bunda. Pas Bunda melihat aku, ya aku senyumlah,” jawab Nanda santai. Wajahnya tak menunjukkan penyesalan karena sudah membuat bundanya kaget.

            “Lagian kenapa pintu kamar mandinya nggak Bunda tutup? Aku kan sebenarnya udah bangun dari tadi. Tapi karena lampu ruang tamu belum nyala, jadi aku nggak keluar dulu. Nah pas lampu nyala, baru aku keluar kamar dan langsung ke kamar mandi. Ternyata ada Bunda di kamar mandi.”

            “Jam segini kan memang Bunda yang biasanya di kamar mandi. Lain kali Nanda bersuara kek, biar Bunda nggak kaget kayak tadi,” cecar Bunda Nay setelah dia selesai menyikat gigi. Dia keluar kamar mandi dan segera berwudu di tempat wudu yang letaknya di samping kamar mandi.

            “Iya Bun, maafkan Nanda ya. Nanda hanya senang melihat Bunda, makanya cuman senyum aja tadi,” jawab Nanda menyesal. Nanda memeluk Bundanya yang masih berwudu. Bunda Nay tersenyum. Dia mencium kepala Nanda setelah selesai wudu.

            “Bunda takut dan kaget banget tadi loh.” Bunda Nay mengusap kepala Nanda.

            “Pantesan suara Bunda terdengar aneh tadi.” Nanda tersenyum dan masuk ke kamar mandi. 

            “Iya, Bunda juga merasakan suara Bunda tadi sedikit aneh. Mungkin karena takut itu kali ya.” Bunda Nay berjalan ke kamarnya. Dia ingin melaksanakan shalat tahajud. Bermunajat kepada Allah untuk bersyukur atas semua karunia Allah terhadap keluarga mereka. 


Monday, February 1, 2021

Musibah Bertubi


            “Udah lama nggak kelihatan Bunda Nay. Sakit ya?” sapa Bude Mini ketika mereka bertemu saat membeli sayur. 

            “Alhamdulillah sehat Bude. Pak Amri yang baru demam. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah mendingan. Saya sengaja nggak keluar rumah Bude. Isoman aja, menahan diri nggak keluar rumah karena Pak Amri lagi kurang sehat.”

            “Hah! Pak Amri demam Bun? Di tes swab nggak Bun?” celetuk Bu Dora.

            “Demamnya nggak tinggi kok Bu Dora. Alhamdulillah nggak ada batuk dan pilek juga, makannya juga biasa. Sekarang sudah nggak demam Bu. Dia nggak di swab. Karena katanya dia juga nggak kontak dengan pasien covid.”

            “Mungkin kecapaian ya Bunda Nay. Kemarin itu saya lihat Pak Amri ngangkat-ngangkat puing. Katanya tukangnya kerja sendiri,” tanya Bude Mini lagi.

            “Mungkin Bude. Pak Amri nggak biasa kerja berat, sekalinya begitu jadi kecapaian deh,” Bunda Nay berusaha tersenyum. Beginilah kalau tinggal di komplek, ada saja yang menjadi bahan perbincangan ibu-ibu ketika bertemu. Apalagi saat pandemi ini muncul, Pak RT melarang warganya untuk duduk-duduk mengobrol di depan rumah maupun di warung. 

            Akhirnya saat berbelanja sayur seperti inilah warga menyempatkan sejenak mengobrol antar tetangga. Sebenarnya ini hikmah yang luar biasa bagi Bunda Nay yang tidak suka ikut mengobrol tanpa tujuan jelas. Setidaknya aktivitas ngerumpi Ibu-ibu komplek bisa ditiadakan, demikian pikiran Bunda Nay. 

            Tapi ternyata itu tidak sepenuhnya berjalan dengan lancar. Buktinya saat membeli sayur begini mereka tetap mengobrol. Bahkan sampai lupa dengan tujuan semula untuk membeli sayur. Mang Karjo kadang terlihat kesal menunggu ibu-ibu belanja sayur karena keasyikan ngobrol.

             Bunda Nay bergegas memilih sayuran dan langsung meminta Mang Karjo untuk menghitung belanjaannya. Setelah itu dia membayarkan sejumlah uang ke Mang Karjo.

            “Ohya Mang Karjo, saya turut berduka ya Mang. Maaf saya nggak bisa ke rumah Mang Karjo untuk takziah Bu Karjo.” Bunda Nay menyelipkan amplop berisi uang ke dalam tas pinggang Mang Karjo.

            “Nggak apa-apa Bunda Nay. Memang nggak ada yang boleh datang kok Bun. Kita semua diisolasi hampir sebulan. Mohon doanya aja Bunda Nay. Sebenarnya saya sendiri juga bingung. Istri saya punya sakit asma memang. Begitu napasnya sesak dan kita bawa ke rumah sakit, ternyata nggak tertolong dan positif covid katanya. Bersyukur saya dan anak-anak negative hasil swabnya. Ohya, makasih banyak ini ya Bunda Nay.” 

            “Sama-sama Mang. Semoga selalu sehat seterusnya ya Mang. Ayo Ibu-ibu saya duluan ya…” Bunda Nay bergegas ke rumahnya. Sebenarnya Bunda Nay malas belanja sayur jika sedang banyak ibu-ibu seperti tadi. Tapi dia sudah mencoba menunggu beberapa menit, ibu-ibu komplek masih saja ngobrol di depan gerobak Mang Karjo. Makanya dia terpaksa belanja sayur karena stok sayuran sudah habis di kulkasnya. 

            Biasanya dia memesannya via WA ke istri Mang Karjo dan Mang Karjo akan mengantarkannya ke rumah Bunda Nay. Namun beberapa pekan lalu istri Mang Karjo wafat. Menurut berita di WA grup RT, beliau wafat karena covid. Jadi mereka sekeluarga di isolasi selama 3 pekan sejak wafatnya sang istri. 

            Di awal Januari ini banyak hal yang membuat Bunda Nay bersedih. Ada banyak musibah yang terjadi. Musibah itu menimpa keluarganya, sahabatnya dan beberapa orang yang dia kenal. Demikian juga banyak musibah yang menimpa negeri ini. Jatuhnya pesawat, banjir, tanah longsor dan lainnya. Membuat Bunda Nay menjadi kehilangan energinya.

             Bersyukur dia selalu berusaha mengingat ada Allah Tempat Bergantung. Jadi  dia segera bangkit dari kesedihan. Allah sebaik-baik tempat berlindung, bergantung dan berserah diri. Karena Allah Maha Penyelamat. Allah Maha Segalanya. Jadi tak akan terjadi segala sesuatunya tanpa sepengetahuan dan seizin Allah. Bunda Nay meyakini ini bagian dari rahmat Allah untuknya, keluarganya, sahabatnya dan negeri ini. Bunda Nay memperbanyak shalat tobat. Memohon ampunan Allah. Dia mengajak keluarganya dan kita semua untuk melaksanakan shalat tobat di rumah masing-masing. Memohon ampunan Allah atas semua dosa-dosa kita. Semoga Allah mengampuni dosa kita dan mengijabah doa-doa kita. 

            Bersedih secukupnya, gembira pun seperlunya. Tetap berada di pertengahan. Allahu musta’an. Aamiin… 


Sunday, January 31, 2021

Selamat Jalan Sahabat


            “Innalillahi wainna ilaihi rajiun…” ucap Bunda Nay lirih. Badannya langsung lemas mendengar berita dari Bu Nur via telepon. Bu Nur mengabarkan bahwa sahabat mereka Bu Di baru saja wafat. Bunda Nay sangat terkejut mendengar berita itu. Mereka satu pengajian. Tadi pagi sahabatnya itu minta doa agar Allah mudahkan proses melahirkan puteranya yang ke empat. 

            “Ada apa Bun?” tanya Nanda ketika melihat Bunda Nay menahan tangis sambil memegang HPnya.

            “Teman Bunda wafat, sayang,” ucapnya lirih. Bunda Nay segera beristighfar dan menarik napas dalam berkali-kali. Setiap mendengar berita kematian, selalu membuat badannya menjadi lemas. Bukan hanya berita kematian, tapi berita orang sakit pun demikian. Seolah dia merasa dia yang sakit. 

            “Astaghfirullah al azhim wa atubu ilaih…” ucap Bunda Nay berulang kali sambil menarik napasnya. Karena ingin mengetahui lebih jauh tentang sahabatnya itu, Bunda Nay bergegas membaca chat di grup WA pengajian mereka. Chating ibu-ibu teman pengajiannya dan ustadzah tidak ada yang menjelaskan kronologi wafatnya sang sahabat.

            Ada yang mengatakan karena perdarahan saat melahirkan. Tapi kabar pasti belum sampai ke mereka. Membuat Bunda Nay tak yakin kalau sahabatnya itu sudah pergi. 

            “Minta tolong dipastikan dulu ke RT ibu ya bu,” demikian chat Bunda Nay ke temannya yang memberi informasi. Dia masih berharap kabar itu tidak benar. Sore itu hujan mulai turun. Januari memang musim hujan. Tapi sore ini terasa sangat kelabu. Bunda Nay terkenang kembali bahwa tadi pagi sebelum meminta doa agar mudah melahirkan itu, sang sahabat sudah menulis laproran kholas satu juz untuk hari sebelumnya. 

            Karena Bunda Nay yang mencatat laporan one day one juz di grup pengajiannya. Laporan itu direkap setiap hari Sabtu. Dan sahabatnya itu sudah melaporkan bahwa pekan lalu dia sudah berhasil membaca 7 juz selama sepekan. Alhamdulillah semenjak dia hamil dia tak pernah absen membaca al quran satu juz setiap hari. 

            “Ya Allah Bu Di, sungguh Allah menyayangimu. Aku yakin engkau syahid karena wafat saat melahirkan puteramu,” gumam Bunda Nay sambil menyeka air matanya. Dia tak bisa membendung lagi air matanya yang mengalir menganak sungai. 

            Nanda menyodorkan tisu ke Bundanya. Bunda Nay mengambil tisu dan menyeka air matanya yang terus saja mengalir. 

            “Allah… tempatkan sahabatku di tempat terbaik di sisiMu. Terimalah semua ibadahnya, ampuni dosanya dan lapangkan kuburnya. Jadikan Al Quran sebagai penerang kuburnya dan sebagai syafaat kelak dia di yaumil akhir. Hamba bersaksi bahwa sahabatku itu adalah orang yang sangat mencintai Al Quran.” Demikian doa Bunda Nay setelah beberapa waktu kemudian.

            Hujan makin deras mengguyur perumahan  Bidara Mas. Beberapa waktu kemudian Bunda Nay mendapat kabar pasti bahwa sahabatnya itu melahirkan putera yang sehat seberat 4000 gr. Setelah itu terjadi perdarahan. Bidan yang membantu melahirkan merujuk ke RS terdekat, tapi RS tidak ada yang bisa menerima kondisi sahabatnya karena dua RS yang mereka kunjungi penuh dengan pasien covid.

            Sahabatnya kehabisan darah di RS yang terakhir menerimanya. Sesungguhnya semua ini milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Allahu yarham untukmu sahabat, batin Bunda Nay. 

                                                

Thursday, January 28, 2021

Hikmah Dibalik Musibah Covid19


 

            Hari ini 6 Mai 2020. Sudah satu setengah bulan kami berada di rumah tanpa keluar rumah sama sekali. Hanya sampai halaman rumah dan itu juga untuk mendapatkan cahaya matahari pagi. Bapak Syifa masih bekerja selang sehari. Dia juga yang membeli semua keperluan rumah. Mulai dari sayur, lauk pauk hingga minyak goreng dan sabun mandi.

            Sejauh ini saya hanya ingin mengambil hikmah yang Allah berikan atas musibah ini. Karena saya meyakini bahwa Allah mengizinkan sesuatu itu terjadi lengkap dengan hikmahnya. Bisa jadi wabah ini hal yang kita benci, tapi ini yang terbaik untuk kita saat ini. Beberapa hikmah itu antara lain, Hikmal yang menjadi imam shalat bagi kami sekeluarga. 

            Saya biasanya shalat di rumah sendiri. Suami dan Hauzan shalat ke masjid ketika subuh, maghrib dan isya. Ketika wabah ini, Hikmal dan Syifa jadi kembali ke Bekasi. Sehingga kami bisa melaksanakan shalat subuh, maghrib dan isya berjamaah di rumah. Apalagi saat Ramadhan ini, Hikmal juga menjadi imam untuk shalat tarawih. Alhamdulillah..

            Hikmahnya, Hikmal bisa terus murajaah hapalan al qurannya, dan kami bisa menjalankan shalat berjamaah setiap hari. 

            Hikmah lain, kami jadi lebih rajin bersih-bersih. Anak-anak jadi lebih banyak membantu mengerjakan pekerjaan rumah. seperti menyapu, mengepel, mencuci pakaian, mencuci piring, dan menyikat kamar mandi. 

            Suami juga jadi lebih kreatif membuat keran air di dekat pintu pagar untuk mencuci tangan menggunakan sabun setiap kita masuk ke rumah. biasanya kami mencuci tangan menggunakan sabun hanya ketika akan makan atau ketika tangan benar-benar kotor. Tapi sekarang, setiap memegang sesuatu setelah dari luar rumah, maka kami segera mencuci tangan. Setiap belanja sayur, saya mencucinya pakai sabun pencuci piring. Biasanya hanya dengan air mengalir saja.

            Semoga hal ini bukan lebay ya. Hanya sebagai ikhtiar untuk mencegah penularan covid19 ini.

            Selain itu, suami jadi belajar membuat masker. Beliau memang suka menjahit, kami punya mesin jahit di rumah. Tapi sejak tiga pekan ini, suami jadi rajin membuat masker kain. Beliau melihat contoh pembuatan masker di yutub. Dari model segi empat hingga model masker yang oval seperti yang digunakan pengendara sepeda motor.

            Alhamdulillah sudah beberapa puluh lembar masker buatannya yang bisa kami gunakan untuk keluar rumah ketika mengambil manfaat sinar mentari pagi. Masih banyak hikmah lainnya yang insyaallah nanti akan saya lanjutkan menulisnya. Semoga dengan selalu berbaik sangka pada ketentuan Allah ini, kita makin dicintai dan mencintai Allah SWT. Aamiin…

 

 catatan : Postingan ini harusnya diposting Ramadhan th lalu. Maaf baru diposting karena lupa. ^_^ 


Wednesday, January 27, 2021

Isolasi Mandiri ( Maret 2020)


Bekasi 20 April 2020 

 

            Sejak bulan Januari 2020 sebuah wabah penyakit yang dinamakan wabah Korona mulai menjadi berita di seluruh dunia. Wabah itu ditemukan menyerang penduduk kota Wuhan, Tiongkok. Virus ini membuat lumpuh saluran napas pasiennya. Pasien yang tertular virus ini akan mengaami demam, batuk dan reak yang susah dikeluarkan hingga sesak napas.

            Makhluk kecil itu berkembang biak di paru-paru penderitanya. Sehingga alveoli paru tidak mendapatkan cukup oksigen yang membuat penderitanya kesulitan bernapas. Cara penyebaran virus ini pun sangat cepat melalui droplet. Ketika penderita bersin dan dia tidak menutup mulut dan hidungnya, maka cairan hidung dan air ludah yang dikeluarkannya melalui droplet bisa menulari orang lain.

            Banyak sekali penduduk Wuhan yang tidak tertolong karena begitu cepat penularannya. Sehingga pemerintah Tiongkok melalukan lockdown kota tersebut. seketika kota tersebut seperti kota mati yang tidak berpenghuni karena semua penduduk diwajibkan berada di dalam rumah mereka. 

            Awal maret lalu, penyakit ini sudah menulari beberapa orang di Indonesia dan negara lain. Beberapa jamaah umroh di Makkah dan Madinah juga terjangkit wabah ini. sehingga Hikmal dan teman-temannya yang saat itu sedang belajar di Madinah, harus segera kembali ke tanah air.

            Tanggal 16 maret 2020 Hikmal sampai di bandara Soeta. Kami menjemputnya dengan hati diliputi kecemasan. Cemas karena kamu harus datang ke bandara yang ditenggarai sebagai tempat penularan covid19 ini. Sebelum berangkat dari bandara Madinah saya sudah berpesan agar Hikmal mengenakan masker di sepanjang penerbangan. Agar hikmal sering-sering mencuci tangan dengan sabun. Jika tidak bisa, gunakan handsanitizer.

            Setelah bertemu, kami pun langsung belanja membeli kebutuhan selama sepekan. Ternyata di bandara Hikmal diminta mengisi form yang menyatakan dia harus melalukan isolasi mandiri selama 14 karena dia baru dari luar negeri. Hal ini diperlukan untuk mengantisipasi jika dia tertular covid19 selama di luar negeri.

            Isolasi mandiri pun kami mulai di rumah. Selama 14 hari saya melarang hikmal dan semua anggota keluarga kami untuk keluar rumah. Tapi suami masih harus keluar rumah karena beliau bekerja. Sementara hauzan sudah mulai libur karena dari sekolah juga sudah disuruh untuk tetap berada di dalam rumah selama 2 pekan.

            Alhamdulillah 2 pekan Karantina mandiri terlewati. Saya lega selama waktu itu kami semua sehat. Tapi ternyata karantina mandiri kami harus ditambah. Karena saat ini kasus covid19 di Jakarta dan Indonesia sudah makin bertambah. Jumlah pasien meningkat setiap hari. Hanya kepada Allah kami berlindung dan berserah diri. 

            Setiap hari terasa begitu lama. Semua aktivitas dilakukan di rumah. Bahkan shalat berjamaah sudah dilarang sejak tanggal 20 maret 2020. Entah kenapa, mendadak saya jadi paranoid terhadap semua orang. Rasa cemas kembali menghantui saya. Walau dulu rasa cemas itu sudah berkurang, tapi sebulan terakhir ini rasa cemas saya kembali muncul. 

            Tidur kembali tidak nyenyak. Rasa begah dan napas sedikit sesak kembali terasa. Saya memohon pada Allah agar menghilangkan rasa cemas saya. Saya harus bersyukur, keadaan saya lebih baik dari pada banyak orang di luar sana. Banyak orang yang tidak punya uang untuk makan karena mereka tidak bisa berjualan. Ada yang di PHK karena perusahan mereka terkena imbas dari wabah ini.

            Ya Allah… Hamba mohon ampun atas semua dosa. Rasanya tak bisa membayangkan keadaan orang lain yang kondisinya lebih buruk dibanding ketika keadaan normal tanpa wabah. Ya Allah… saat ini begitu terasa betapa kebebasan yang Engkau berikan sangat berharga. Hanya berdiam di rumah mengajarkan kami banyak hal. 

            Hikmahnya tentu saja bisa berkumpul bersama keluarga lebih banyak dari biasanya. Bisa melihat anak-anak melakukan pekerjaan rumah tangga dengan pembagian tugas dari mereka. Beberapa hari lagi Ramadhan menjelang. Semoga Allah meridhai kami untuk melaksanakan ibadah Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Aamiin…

 



Catatan :

Tulisan ini saya tulis april th 2020. Lupa posting saat itu. Semoga Allah segera menghentikan penyebaran virus covid19 ini. Aamiin.. stay save, stay at home, stay health ya sahabat. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan mengijabah doa-doa kita. aamiin... 

Panggilan Kesayangan

            

 

          
 

           “Innalillahi… ternyata mampat saluran airnya. Harus diperbaiki ini,” gumam Pak Amri suami Bunda Nay. Dia dari tadi mencuci piring di dapur, tapi air sisa cucian piring masih menggenang di bak pencuci piring.

            “Udah diperiksa ya Pak?” tanya Bunda Nay ikut khawatir. Malam ini mungkin sebagian orang sedang bersenang-senang karena pergantian tahun. Tapi tidak dengan keluarga Bunda Nay. Mereka setiap tahun baru biasanya di rumah saja. Apalagi khusus tahun ini, di mana wabah covid19 masih meluas di dunia. Pak Amri tidak akan mengizinkan anggota keluarganya keluar rumah untuk menikmati malam pergantian tahun.

            Ditambah lagi malam ini di luar hujan deras. Pak Amri baru akan mencuci piring bekas makan malam mereka ketika dia bergumam tadi.

            “Baru ngecek di sini sih. Belum keluar. Hujan deras begini, nggak akan kelihatan saluran airnya. Karena got pasti penuh air hujan,” jawab Pak Amri sambil menunjuk bak cuci piring. Bak itu terisi setengahnya dengan air kotor bekas mencuci beberapa piring.

            Pak Amri akhirnya meninggalkan bak cuci piring dan piring kotor yang tersisa. “Besok sajalah dilanjutkan. Nggak mungkin juga mengecek keluar sekarang.” Pak Amri mencuci tangannya dan berjalan meninggalkan dapur. 

                                                            ***

            Pagi ini Bunda Nay sudah sibuk menyiapkan kopi dan camilan untuk tukang. Alhamdulillah tukang bangunan langganan keluarga mereka bisa datang pagi itu. Pak Amri sudah memeriksa saluran air rumah mereka setelah subuh tadi ketika sudah sedikit terang. Hujan sudah reda sejak dini hari. Got di depan rumah Bunda Nay cukup terendam air. Saluran air mereka ternyata berada di bawah permukaan air got. Jadi wajar saja air tidak mengalir dari bak cuci piring.

            “Lebih baik dipindah saja saluran airnya Pak,” saran Pak Supra, tukang bangunan.

            “Baik pak. Yang penting air dari pembuangan bisa ngalir ke got.” Demikian percakapan Pak Syaf dan Pak Supra tadi pagi. Sekarang Pak Supra sudah mulai bekerja. Bunda Nay bergegas menyajikan kopi dan camilan. Dia alergi dengan debu, dia ingin segera ke lantai dua dan berkurung di sana sambil mengerjakan pekerjaannya di depan laptop.

            Nanda dan Abang sedang asyik di kamar lantai satu. Mereka juga berkurung di kamar agar tidak terganggu dengan suara palu dan pekerjaan tukang. 

            Jam shalat Jumat pun tiba. Abang dan Pak Amri sudah rapi hendak berangkat ke Masjid untuk shalat Jumat. Mereka pamit kepada Bunda Nay.

            “Mama, kita mau jumatan ya!” teriak Abang.

            “Sayang, kita berangkat ke masjid dulu ya,” ujar Pak Amri.

            “Aku di rumah aja ya Bun!” Nanda ikut berteriak. 

            “Ya ampun! Itu panggilan ke Ibu beda-beda gitu ya Bu?” tanya Pak Supra sebelum pulang untuk shalat Jumat.

            “Pak Supra belum dengar aja satu panggilan lagi dari si sulung,” jawab Bunda Nay sambil tersenyum.

            “Manggil apa si kakak Bu?” tanya Pak Supra penasaran.

            “Manggil emak,” sela Nanda sambil cekikikan.

            “Loh kok bisa gitu?”

            “Anak saya memang ajaib semua Pak. Padahal dulu waktu bayi diajarinnya panggil Bunda. Nanda masih istiqamah panggil Bunda. Kalo kakaknya udah seenaknya aja. Nggak tau ntar Nanda mau mengubahnya jadi panggil apa,” jawab Bunda Nay sambil tersenyum.

            “Keren itu mah Bu. Anak-anak bebas memanggil ibu mereka dengan panggilan kesayangan masing-masing.” Pak Supra pun pamit untuk shalat Jumat.  

Thursday, January 7, 2021

Pangeran Muqtadir (Pangeran dan Putri Asmaul Husna)

                                                                 Pangeran Muqtadir

            Pangeran Muqtadir termenung di depan jendela istana. Dia memandangi langit yang masih mencurahkan hujan dengan deras. Sudah dua hari hujan tak berhenti. Dia khawatir dengan keadaan rumah masyarakat di kerajaannya. Apakah mereka baik-baik saja? Bagaimana jika rumah mereka terendam banjir? 

            Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran pangeran Muqtadir. Karena biasanya jika hujan tiada henti seperti dua hari ini, akan terjadi banjir di beberapa desa di kerajaan mereka. Biasanya desa yang terkena banjir adalah desa yang dekat dengan sungai. Banjir terjadi karena sungai meluap. 

            “Semoga saja tidak terjadi banjir,” doa Pangeran Muqtadir.

            Baru saja Pangeran Muqtadir selesai dengan doanya, tiba-tiba dua pengawal menghampirinya.

            “Maaf yang mulia, kamu ingin melaporkan, bahwa desa Kedak mengalami banjir yang cukup parah. Karena sungai meluap. Sebagian masyarakatnya sudah mengungsi. Sepertinya mereka tidak bisa kembali ke rumah mereka lagi. Karena rumah mereka sudah tersapu banjir bandang,” lapor salah satu pengawal istana.

            Pangeran Muqtadir terkejut mendengar laporan itu. Dia harus berpikir cepat untuk melakukan sesuatu. 

            “Panggil semua pejabat kerajaan, lalu sebarkan bantuan untuk penduduk yang kena musibah. Ajak mereka yang kehilangan rumah dan masyarakat lainnya untuk membangun rumah kembali bagi mereka di desa yang jauh dari sungai. Sebaiknya mereka tidak tinggal di dekat sungai lagi. Nanti daerah sekitar sungai akan ditanami berbagai pohon. Sungai itu nanti akan dikeruk agar bisa menampung air lebih banyak.” Perintah Pangeran Muqtadir.

            Para pengawal pun bergerak cepat. Mereka segera mengumumkan perintah pangeran kepada seluruh pejabat istana dan seluruh warga. Rakyat kerajaan Garut bahu membahu membantu korban banjir dan membangun kembali rumah untuk mereka.

                                                                        ***

 


Arti 

Muqtadir : Berkuasa. Allah Maha Berkuasa terhadap semua makhluknya. Kita pun bisa mencontoh nama Allah ini dengan cara menggunakan kekuasaan yang kita miliki untuk kebaikan.