Tuesday, June 16, 2020

Ulangan Fisika

            “Ngapain lo bengong pagi-pagi gini?” Putra menepuk pundakku. Aku menoleh dan tersenyum kecut.
            “Ngantuk gue. Semalem gue jagain kakek di rumah sakit. Asma beliau kumat,” sahutku sambil meregangkan badan. Aku berdiri dan menarik napas dalam. Kuangkat tanganku ke atas. Kutarik lembut tanganku hingga kurasakan semua otot dan sendiku meregang. Rasa pegal di seluruh badanku sedikit berkurang. Setelah itu aku duduk kembali di bangku.
            Pagi ini kelasku sudah riuh rendah oleh suara teman-temanku. Jam pelajaran pertama, akan ada ulangan Fisika. Beberapa temanku terlihat asyik membaca catatan mereka. sedangkan aku, aku masih bengong di depan buku catatanku. Kurang tidur beberapa hari ini membuatku kehilangan semangat belajar.

Monday, June 8, 2020

My Dare 2

Pintu kamar Bu Ira tertutup. Aku berdoa semoga Bu Ira sedang keluar, sehingga aku tidak perlu menyelesaikan tantangan gila ini. ketika aku mendekat, ternyata kulihat jendela kamar Bu Ira sedikit terbuka. Itu artinya dia ada di dalam kamar. Aku menarik napas mengumpulkan kekuatan. Lalu perlahan kuketuk pintu kamar Dewi Penjagal itu. Begitu julukan yang diberikan teman-temanku pada Bu Ira.
“Assalamualaikum Bu Ira,” sapaku setelah mengetuk pintu. Bu Ira tidak menyahut. Sepertinya wanita paruh baya ini sedang tidur. Aku lega. Kuintip keberadaannya di jendela. Kasurnya berhadapan langsung dengan jendela. Aku memang harus melakukan itu agar teman-temanku tidak berpikir aku berbohong nanti.  

Sunday, June 7, 2020

My Dare

Selesai sudah ulangan semester kali ini. Aku bergegas menuju kamarku dan mengempaskan badanku di atas kasur. Teman-temanku yang lain menyusulku di belakang. Beberapa temanku yang lain sudah masuk kamar lebih dulu. 
            “Merdeka!” teriak mereka satu persatu ketika masuk kamar.(Kayak abis perang aja) Kami tinggal di asrama. Satu kamar berukuran 12 x 6 Meter ini terdapat 10 tempat tidur bertingkat. Di dinding sebelah kiri terdapat dua puluh pintu lemari berukuran 1,5 x 1x 0,5 Meter, menjulang hingga ke langit-langit kamar. Panjang lemari nyaris mendekati pintu kamar kami.

Wednesday, June 3, 2020

DIpecat 2

         “Widi, rasanya sudah tidak ada yang kurang, kan? Coba kamu ingat-ingat kira-kira apa pekerjaan yang belum kita kerjakan, masalahnya pagi ini suster Keni si pencatat dosa sudah datang,” Farah sibuk merapikan kembali laporan tugas mereka malam tadi.
       “Saya rasa sudah semua Mbak.”
        Farah mulai membacakan laporan tugas mereka malam tadi kepada rekan sejawatnya yang bertugas pagi ini. Sementara itu Widi merapikan beberapa kamar pasien yang belum sempat dirapikannya tadi.
      Suster Marni koordinator ruangan itu menemani Suster Keni  untuk mengunjungi pasien- pasien ke kamar mereka. Suster Keni sudah datang sejak jam tujuh tadi pagi.

Tuesday, June 2, 2020

Dipecat 1

         “Assalamualaikum Pak Irwan, apa kabar?” sapa Widi kepada pasiennya saat jam pergantian dinas malam. Widi adalah seorang perawat di RS Harapan Kasih di Jakarta.  Sudah dua tahun dia bekerja di rumah sakit itu. Gadis berlesung pipi ini berasal dari Bukittinggi Sumatera Barat. Dia merantau ke Jakarta bersama temannya. Widi berhasil lolos pada sesi wawancara kerja, sementara temannya tidak lolos. Widi bersyukur bisa bekerja di salah satu rumah sakit swasta terbesar di Jakarta ini.
        “Waalaikumsalam, baik suster Widi, oh ya, nanti malam masih ada suntikan amoxilin kan suster?” Pak Irwan balik bertanya.
        “Iya Pak, masih ada satu kali lagi, untuk jam dua belas malam. Maaf loh mengganggu tidur Bapak lagi dengan suntikan Amoxilin itu,” jelas Widi tersenyum.

Monday, June 1, 2020

Jaga Malam 2

Tidak ada yang perlu ditakutkan, gumamku dalam hati. Aku mempercepat langkah.  Koridor menuju ruang internis terasa makin jauh dari biasanya. Entah kenapa, malam ini, perasaanku dihantui rasa takut. Apalagi  gerimis yang membasahi Bukittinggi, kotaku, semakin membuat suasana terasa mencekam. Padahal saat ini masih pukul 11.00 malam. 
Tok... tok... tok... suara sepatuku memecah kesunyian malam. Angin malam yang cukup kencang kembali menampar tubuhku. Seiring kepergian angin itu, aku mencium aroma kembang sedap malam. Bulu halus di tengkukku berdiri. Setahuku, tidak ada kembang sedap malam yang ditanam disekitar koridor ini. Ah sudahlah, jangan berpikiran macam-macam Nia. Aku memaksa diri untuk menghilangkan rasa takut. 

Sunday, May 31, 2020

Jaga Malam

 “Syukurlah, akhirnya Dokter Edi menambah perawat juga,” cerita suster Gita padaku. 
Aku tersenyum mendengarnya. Ada nada lega dalam ucapan suster Gita. Begitu juga yang kurasakan. Akhir-akhir ini kami memang kewalahan menghadapi banyaknya pasien yang dirawat di rumah sakit ini. Walau aku seorang dokter jaga, tapi aku bisa melihat para perawat yang kewalahan melayani pasien. Aku tidak bisa membantu mereka, karena pekerjaanku tak lebih sedikit dari pekerjaan mereka.
Beberapa kali para pasien dan keluarganya komplen karena kurangnya pelayanan perawat. Tentu saja hal itu terjadi karena saat bertugas tak jarang suster itu hanya berdua melayani tiga puluh pasien di ruangan. aku juga ikut bersyukur, akhirnya direktur rumah sakit kami menambah personil perawat. Kuharap setelah ini, tidak ada keluhan lagi dari para pasien.