Friday, January 1, 2021

Pangeran dan Putri Asmaul Husna (Pangeran Rahman)

Pangeran Rahman

Pangeran Rahman sedang latihan berkuda di lapangan tak jauh dari istal. Dia terlihat sangat bersemangat menunggang kudanya. Beberapa hari lagi akan ada lomba pacuan kuda di sekolah kerajaan. Pangeran Rahman ingin mengambil bagian dalam lomba itu.

“Ayo, Zulfikar, kita harus bersemangat latihan, biar kita menang!” Ujar Pangeran Rahman sambil menepuk lembut punggung Zulfikar, kuda kesayangannya. Kuda itu berwarna cokelat tua. Surai dan ekornya panjang. Jika Pangeran Rahman sudah berada di atas punggungnya, Zulfikar pasti sangat senang.

Zulfikar mengerti dengan semua perintah Pangeran Rahman. Mereka sudah terlihat seperti sahabat karib. Pangeran Rahman sangat menyayangi kudanya itu. Dia selalu memberi makan dan memandikan Zulfikar setiap hari. Tak lupa dia juga meminta paman penjaga istal untuk membersihkan kuku Zulfikar jika sudah waktunya dibersihkan.

“Baiklah, Zulfikar. Latihan hari ini cukup sampai di sini. Akan kita lanjutkan besok. Aku yakin, kita akan menang pada pertandingan minggu depan,” ujar Pangeran Rahman. Dia lalu turun dari punggung Zulfikar. Mereka latihan hari itu selama dua jam. 

Pangeran Rahman membawa Zulfikar kembali ke kandangnya. Sampai di kandang, dia memberi makan dan minum pada Zulfikar. 

                                                            ***

Hari yang dinanti pun tiba. Saat ini, Pangeran Rahman terlihat sedang menunggang Zulfikar. Mereka sudah berada dalam pacuan kuda. Pangeran Rahman dan Zulfikar tertinggal di urutan ke empat. 

“Zulfikar, aku sangat ingin menang. Tapi jika kau lelah, maka sebaiknya kita tidak usah memaksakan diri,” Pangeran Rahman menepuk lembut punggung Zulfikar. Hari ini memang untuk pertama kalinya Zulfikar mengikuti pacuan kuda. 

Pangeran Rahman melihat lawannya yang lain cukup tangguh. Kuda mereka lebih besar dari Zulfikar. Walau di awal dia sangat ingin menang. Tapi Pangeran Rahman tak ingin Zulfikar terluka. Karena dia melihat ada dua kuda yang ukuran tubuhnya sama dengan Zulfikar, tiba-tiba jatuh. Mungkin karena memaksakan diri berlari kencang.

Makanya dia menenangkan Zulfikar seperti tadi. Pangeran Rahman tak ingin melihat Zulfikar jatuh. Mungkin kesempatan menang akan mereka raih lain waktu.

Zulfikar mengerti dengang pikiran Pangeran Rahman. Tapi dia juga ingin memenangkan pertandingan itu. Dia tahu dengan kemampuannya. Zulfikar pun memacu larinya. 

“Hap!” Pangeran Rahman dan Zulfikar berhasil mendahului dua kuda di depan mereka. Selanjutnya semangat Zulfikar makin bertambah. Hingga akhirnya dia berhasil mencapai garis finis lebih dulu.

“Alhamdulillah! Terima kasih Zulfikar. Kau adalah kuda paling hebat yang kumiliki!” Pangeran Rahman memeluk Zulfikar dan menciumnya berkali-kali. Dia senang akhirnya keinginannya tercapai.

                                                ***

Arti dan Dalil

Pangeran Rahman dinamakan oleh orangtuanya dengan Abdurrahman. Artinya hamba dari Yang Maha Pengasih, yaitu Allah. Allah memiliki nama lain, yaitu Ar-Rahman. Artinya Maha Pengasih. Allah-lah yang memberikan kasih dan sayangnya kepada semua makhluk di langit dan bumi. Allah SWT memberikan semua kasih sayang beliau kepada semua makhluk tanpa terkecuali.

            Kita bisa mencontoh nama Allah ini dengan mengasihi semua makhluk termasuk binatang dan tumbuhan. Seperti yang dilakukan Pangeran Rahman yang sangat sayang kepada Zulfikar, kudanya.

Dalil dari nama Ar-Rahman bisa kita temukan dalam Al Quran.

1.     Surah Al Fatihah ayat 1: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

2.     Surah Al Fatihah ayat 3: Yang Maha Pengasih lag Maha Penyayang.

3.     Surah Ar Rahman ayat 1: Yang Maha Pengasih

4.     Surah Yasin, ayat 52 : (Pada ketika itu) 

 

Wednesday, December 30, 2020

Cerita Bunda Nay dan Tetangga


          


  Suara Mang Karjo tukang sayur keliling terdengar memanggil ibu-ibu di blok A Perumahan Bidara Mas. Nanda sedang main game saat itu. Tiba-tiba dia ingat kalau tadi Bunda berpesan tolong panggil Bunda jika Mang Karjo lewat.

            “Bunda… Mang Karjo udah datang tuh!” teriak Nanda dari ruang keluarga. Dia masih asyik dengan gadgetnya. Ditunggunya suara Bunda menjawab seruannya. Ternyata Bunda belum menjawab. Nanda pun bangkit dari sofa dan berjalan ke kamar. Dia melihat Bunda sedang shalat Dhuha.

            Nanda menunggu Bunda selesai shalat sambil main game Among Us di tab-nya. “Mang Karjo sudah datang tuh Bun,” ujarnya ketika melihat Bunda sudah selesai berdoa. 

            “Oke, makasih ya, Nak,” Bunda bergegas melipat mukenanya. Selanjutnya beliau mengenakan jilbab marun dan berjalan keluar rumah. Tak lupa Bunda mengenakan masker kain berwarna marun juga. Masker itu diambil Bunda dalam kotak khusus tempat masker bersih siap pakai. Kotak tersebut terletak di atas meja ruang tamu. Sengaja beliau meletakkan di sana untuk memudahkan anggota keluarga mengambil masker jika ingin keluar rumah.

            “Bismillahi la yadhurru maasmihi syaiun fil ardhi walaa fissamaai. Wahuas saamiiul aliim.” Tambahan doa Bunda setelah membaca doa keluar rumah. Doa tambahan ini memang baru dibaca Bunda Nay setiap hendak keluar rumah sejak pandemi mewabah di Bekasi, kota mereka.

            Bunda Nay berjalan santai ke arah motor sayur Mang Karjo. Seperti biasa, Mang Karjo memarkir motornya di depan rumah Bude Mini. Menurut Mang  Karjo, di sana lebih adem. Karena di depan rumah Bude Mini ada pohon mangga yang cukup rimbun.

          Bunda Nay melihat sudah ada tiga orang tetangganya di sana. Dua menit berjalan, Bunda Nay sampai di sana. Beliau menyapa tetangganya dengan salam. 

            “Wah Bunda Nay rajin banget, masih pakai masker aja keluar rumah,” sapa Bu Dora, salah satu tetangga Bunda Nay.

            “Oh ini, kayaknya sudah jadi kebiasaan saya Bu Dora. Bu Dora mana maskernya?” goda Bunda Nay. Karena hanya dia yang mengenakan masker. Ibu-ibu lain tidak mengenakan masker. Sedangkan Mang Karjo hanya meletakkan maskernya di dagu.

            “Nggak perlulah Bunda Nay. Kita kan di sini aman-aman aja. Insyaallah nggak ada yang kena corona,” jawab Bu Dora sambil memilih sayuran yang akan dibelinya.

            “Aamiin…” ucap Bunda Nay tulus. Beliau berharap agar Allah melindungi warga kompleknya dan seluruh masyarakat lain agar terhindar dari corona. 

            “Lagian kita sudah capek-capek makai masker, cuci tangan, jaga jarak, eee malah orang-orang masih santai aja. Bahkan yang paling parah saya dengan berita ada perawat yang melakukan perbuatan asusila dengan pasien covid19 di Wisma Atlet. Bagaimana Allah mau mengusir virus ini, orangnya banyak yang berbuat maksiat begitu,” celetuk Bude Mini, tetangga Bunda Nay yang lain.  

            “Astaghfirullah…” serentak suara Ibu-ibu yang sedang berbelanja beristighfar. Bunda Nay sebenarnya juga sudah membaca berita itu dari media online. Sungguh hatinya hancur membaca berita tersebut. Ditambah lagi berita-berita sebelumnya yang tak kalah membuat terkejut.  

            “Kita hanya bisa berdoa dan berusaha agar keluarga kita terhindar dari hal seperti itu ya Bude. Ayo sama-sama kita bertobat agar Allah menjaga negara kita dari kehancuran moral. Kita awali dari keluarga kita dulu, jika setiap keluarga berdoa dan bertobat pada Allah, insyaallah akan Allah ijabah doanya ibu-ibu,” ucap Bunda Nay.

            “Hanya itu senjata terakhir kita Bunda Nay. Hanya bersabar, shalat dan berdoa,” tambah Bu Dora.

            “Sama memperbanyak sedekah ibu-ibu. Nih mumpung pada ngumpul di sini, sekalian saya mau ngasih tahu ya ibu-ibu. Insyaallah nanti di masjid kita, akan diselenggarakan Jumat Berbagi. Nah targetnya nanti akan kita bagikan sembako untuk warga RW kita dan RW tetangga yang terdampak covid ini Bu. Barangkali Ibu-ibu semua mau ikut bersedekah, meringankan beban mereka.” Bude Mini menyerahkan proposal yang dibawanya kepada Ibu-ibu yang sedang berbelanja sayur di Mang Karjo.

            “Huuu… bisa aja Bude Mini ini!” seru Bu Husna sambil menepuk lembut pundak Bude Mini diiringi tawa ibu-ibu yang sedang berbelanja sayur.

            “Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui namanya ini Bu,” jawab Bude Mini kalem. “Biar gak sering-sering keluar rumah, ya kan Bunda Nay?”

            Bunda Nay tersenyum sambil menggangguk. Walau senyumnya tidak terlihat, tapi matanya yang menyipit saat tersenyum seolah sudah memberitahu ibu-ibu komplek kalau dia setuju dengan pendapat Bude Mini.

            “Ayo Ibu-ibu, insyaallah sedekah juga bisa menolak musibah yang akan menimpa kita,” ajak Bunda Nay. Bunda Nay mengeluarkan uangnya dari dompet dan memberikannya pada Bude Mini. Mang Karjo ikut juga bersedekah diikuti ibu-ibu lain yang sedang berbelanja.

            “Semoga sedekah saya yang tak seberapa ini bisa menghindari saya dari musibah corona dan musibah lainnya ya Bude,” ujar Mang Karjo sambil menyerahkan uangnya ke Bude Mini. Ibu-ibu lainnya serentak mengaminkan. Allahumma aamiin ya Allah… [NS]

Tuesday, December 29, 2020

Obrolan Bunda dan Nanda



            Pagi ini Bunda dan Nanda sedang menyantap sarapan mereka di ruang keluarga. Abang dan kakak sedang tidak di rumah. Abang masih di boardingnya di Bogor. Sedangkan Kakak, masih di Malang, karena Kakak mahasiswa di Universitas Brawijaya. Sedangkan Bapak sudah berangkat kerja sejak pukul 6.00. 

            Keluarga Nanda jarang sekali makan bersama di meja makan. Mereka lebih suka sarapan, makan siang dan makan malam di ruang keluarga. Entah sejak kapan hal itu dimulai. Mereka mengambil nasi dan lauk dari meja makan, lalu membawa makanan tersebut ke ruang keluarga dan duduk bersama di sana sambil makan. 

            Kadang Bunda ikut membawa lauk dan sayur ke ruang keluarga agar anak dan suaminya lebih mudah jika ingin menambah sayur dan lauk. Di ruang keluarga itu ada karpet dan sofa. Nah mereka duduk melingkar setengah lingkaran di atas karpet tersebut. Ohya, ada televisi dan rak penuh buku juga di ruang keluarga mereka. 

            Biasanya setelah shalat subuh dan membaca Al Quran, Bunda menyalakan televisi. Beliau memilih chanel siaran langsung dari Makkah Al Mukarramah. Lantunan muratal mulai terdengar di rumah mereka menemani Bunda menyiapkan sarapan. Saat itu dulu, semua anggota keluarga sudah bersiap berangkat sekolah dan bekerja. Tapi saat ini hanya ada Nanda, Bunda dan Bapak di rumah. 

            Di tengah pandemi covid19 yang sudah hampir setahun ini, Nanda tidak bersiap untuk sekolah di pagi hari. Jadi kegiatan setelah subuhnya berganti menjadi main game di tab. Bunda mengingatkan Nanda agar main game di tab-nya cukup 2 jam saja. Nanda setuju dengan Bunda.

            “Bun, apakah Allah tidak mendengar doa kita bun?” celetuk Nanda ketika menyendok nasi goreng ke mulutnya.

            “Kenapa Nanda berpikir begitu?”

            “Karena virus corona sudah hampir setahun menyerang dunia. Kita selalu berdoa agar Allah menghentikan penularan virus ini. Tapi kayaknya orang yang kena virus ini makin banyak, Bun.”

            Bunda tersenyum. “Bunda rasa Allah sedang menolong kita sayang.”

            “Loh, kenapa Bunda berpikir begitu?” Nanda menelan nasi goreng yang ada di mulutnya lalu dia memandang Bunda dengan wajah penasaran.

            “Coba Nanda pikir, sejak ada virus ini, kita jadi lebih bersih kan? Kemana-mana pakai masker sehingga kita tidak menghirup debu atau virus yang tidak seharusnya masuk ke saluran napas kita. Lalu kita juga sering cuci tangan atau kita malah jadi sering berwudhu. Wudhu itu aja sudah menambah pahala kita. Jadi kita dapat bersihnya dan dapat pahala juga.”

            “Tapi kan beda Bun. Ini kesannya kan kita terpaksa memakai masker dan berwudhu atau cuci tangan.”

            “Insyaallah kalau kita niatkan karena Allah, kita lama-lama akan nyaman menjalankannya. Awalnya memang seperti terpaksa sih. Sama seperti kita melakukan shalat, puasa, sedekah, zakat dan lainnya. Itu awalnya pasti seperti terpaksa kan? Tapi lama-lama karena kita sudah biasa melakukannya, jadinya sudah tidak terpaksa lagi. Kita malah merasa ada yang kurang kalau tidak melakukannya.”

            “Tapi kayaknya kalau pakai masker kemana-mana itu juga nggak ada tuntunan dalam Al Quran dan hadist kan Bun?”

            “Benar sayang. Kalau pakai masker ini kan sarannya jika kita keluar rumah saja kan? Nah kalau kita di dalam rumah dan kita sehat, tidak perlu pakai masker. Kecuali kalau kita kena flu atau batuk, baru pakai masker di rumah. Nah tuntunan dalam hadist kan sebaiknya kita lebih baik berada di dalam rumah kecuali ada pekerjaan di luar rumah.”

            “Memang ada hadist seperti itu bun?”

            “Ada Nak, wanita dan anak-anak itu sebaiknya di rumah saja. Bunda lupa perawi hadistnya. Tapi Bunda pernah baca kurang lebih maknanya seperti itu.”

            “Aku pikir itu kan jadi melanggar hak asasi manusia untuk bernapas secara bebas bun?”

            “Justru itu melindungi hak asasi manusia karena menjaga manusia itu dari tertular virus ini. Karena virus ini menyebarnya melalui droplet kan. Makanya kita harus pakai masker jika berada di luar rumah. Tapi jika tidak ingin pakai masker, ya tetap di rumah saja. Insyaallah lebih aman di rumah kan?”

            Nanda terdiam. Murid kelas 4 SD itu mencerna kata-kata Bundanya. “Tapi kan jadinya aku nggak bisa main Bun. Itu kan hak aku juga main sama teman-temanku.” Nanda tiba-tiba ingat pelajaran hak dan kewajiban yang baru dia pelajari di kelas 4 ini.

            “Betul sayang, untuk itu Allah menyuruh kita bersabar. Sabar itu pahalanya banyak loh,” Bunda tersenyum memandang wajah cemberut putrinya.

            “Aku sudah bersabar Bun. Tapi banyak juga anak-anak lain yang masih main bebas dan nggak pakai masker tuh. Mereka juga belum tentu sering-sering mencuci tangan.”

            Bunda tersenyum lagi. “Tadi kan Bunda sudah bilang, sabar itu banyak pahalanya kan? Mungkin saja anak-anak itu tidak tahu ada pahala sabar. Nanda kan sudah tahu, makanya Nanda bersabar kan sayang?” Bunda mencubit pipi gembil Nanda. Nanda tersenyum malu. 

            “Ternyata begitu ya Bun?”

            “Betul sayang. Kita berbaik sangka aja terhadap ketentuan Allah ini ya. Kita juga harus berbaik sangka terhadap orang-orang yang belum bisa bersabar dalam ujian ini. Insyaallah semua ketentuan Allah ini ada hikmahnya.”

            “Tapi kenapa ya Bun, aku baca di internet orang-orang di negara tempat virus ini pertama ditemukan sudah bebas seperti biasa tuh Bun. Mereka sudah pesta-pesta dan kumpul-kumpul lagi. Mereka bahkan akan merayakan tahun baru dengan berbagai kegiatan dan pesta. Mereka juga banyak yang nggak pakai masker dan nggak jaga jarak juga. Apa Allah lebih memilih mendengar doa mereka daripada doa kita?” 

            “Loh kok begitu lagi pemikiran anak Bunda?” Bunda tersenyum sambil mengacak poni Nanda. 

            “Aku cuman pengen tahu aja Bun?”

            “Bunda tadi bilang kita berbaik sangka sama ketentuan Allah kan sayang? Jadi kita berpikir aja kalau Allah sedang menolong kita agar tidak berbuat maksiat jika keluar rumah. Contohnya kita tidak perlu ikut-ikutan berpesta, bisa saja saat berpesta itu ada maksiat di sana. Jadi kondisi sekarang ini menahan kita untuk tidak berbuat seperti itu kan?”

            “Tapi selama ini kita kan juga nggak pernah berpesta Bun? Kenapa kita juga ikut merasakan dampaknya?” 

            “Ujian Allah itu menimpa semua orang sayang. Nah bagi orang beriman, mereka akan bersabar dengan ujian ini. Saat ini Allah melihat kesungguhan kita beriman pada ketentuanNya, Nak. Allah sudah berjanji kan, setiap ada kesulitan, pasti ada kemudahan. Ingat kisah Nabi Ibrahim, beliau tetap yakin Allah menolong beliau walau beliau dibakar di api yang menyala oleh raja Namrudz.”

            “Demikian juga dengan Nabi Musa, yang tetap yakin bahwa Allah akan menolong beliau ketika berada di depan laut sedangkan ada Firaun dan tentaranya yang akan menyerang mereka. Allah akan menurunkan pertolonganNya di saat yang tepat, sayang. Jadi kita harus bersabar ya, Nak. Insyaallah segera Allah hentikan penularan virus ini.” Bunda mencium kepala Nanda. Beliau memeluk Nanda dengan lembut. Nanda mengangguk paham. Hanya doa dan sabar yang harus dilakukannya saat ini.

            Bunda bersyukur Nanda bisa menahan diri untuk tidak main di luar rumah selama beberapa bulan ini. Ketika Nanda sangat ingin keluar rumah, Nanda pun bersedia mengenakan masker. Dan menjaga jarak dengan temannya. Serta sering mencuci tangan. Bertemu temannya itu juga hanya sesekali dilakukan Nanda jika dia kangen sekali pada temannya yang juga tetangganya. [NS]

Friday, December 11, 2020

Sabar dan Syukur

Bismillahirrahmanirrahim
Sama seperti cuaca yang selalu berubah silih berganti. Kadang cuaca cerah, kadang berawan, kadang mendung. Tapi di setiap perubahan cuaca itu ada keindahan tersendiri. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya.
Demikian juga dengan "cuaca" kehidupan kita. Kadang cerah ceria, kadang berawan duka yang mungkin juga berselimut mendung kesedihan. Tapi setiap cuaca kehidupan itu juga Allah sediakan keindahan atau hikmah tersendiri untuk kita.
Tidak bahagia berlebihan ketika cuaca kehidupan cerah ceria, tidak sedih berkepanjangan ketika cuaca kehidupan diselimuti mendung kelabu. Tetap di pertengahan dalam sikap syukur atas semua yang Allah berikan.
Carilah hikmah keindahan di setiap cuaca kehidupan yang menghampiri. Semoga Allah selalu meridhai dan memberkahi kita. Aamiin...

Friday, November 20, 2020

Bahasa Planet

        

            Beberapa hari ini Lili dibuat bingung mendengar percakapan teman-temannya. Mereka berbicara seperti menggunakan bahasa yang tidak pernah Lili dengar sebelumnya. Lili menyebutnya bahasa planet.

            “Kalian lagi ngomongin apaan sih?” tanya Lili penasaran pada Lusi dan Tata yang sedang mengobrol. Tapi kedua temannya itu hanya tersenyum, tidak mau menjawab pertanyaan Lili. Lili pun berlalu meninggalkan mereka. 

            “Aneh! Kenapa mereka bicara dengan bahasa yang tidak dimengerti orang lain? Apa mereka sedang membicarakan aku?” gumam Lili sambil menuruni tangga menuju lantai dasar.

            Setelah berada di lantai dasar, Lili kembali mendengar Romi dan Syufra mengobrol dengan Bahasa yang sama. Lili jengkel mendengarnya. Romi kan saudaranya, dia juga bisa bicara menggunakan bahasa planet itu. Kenapa hanya Lili yang tidak paham.

            “Kalian ngomongin apa sih? Kok bahasanya aneh gitu?” tanya Lili kepada Syufra dan Romi.cer

            “Ngobrol biasa aja kok. Kamu jangan di sini dong. Ini kan obrolan anak laki-laki. Kamu nggak boleh tahu. Pergi sana!” jawab Syufra sambil mendorong bahu Lili. Lili kesal mendengar ucapan temannya itu. Dia makin penasaran dengan bahasa yang digunakan teman-temannya. Untuk mengurangi kesalnya, Lili pergi ke kantin di depan sekolah mereka. Dia memilih untuk jajan permen gulali kesukaannya.   

            “Iginigi kegembagaligian uguagangnyaga,” ujar Ni Ena saat memberi kembalian uang Lili. 

            “Hah! Ni Ena juga bisa ngomong pakai Bahasa planet itu?” Tanya Lili penasaran.

            “Uni jadi terbiasa, anak-anak pada ngomong begitu sih. Kenapa? Lili nggak paham ya? Biasanya kalau Uni ngomong gitu, anak-anak balas lagi dengan cara ngomong yang sama,” tanya Ni Ena pemilik warung.

            “Iya, aku nggak tahu, kayaknya baru hari ini aku mendengar mereka berbicara begitu. Ajarin dong Ni!” 

            “Gampang kok. Tinggal ditambahkan huruf G dan huruf vocal yang sesuai dengan suku kata yang kita ucapkan aja. Memang sih ngomongnya jadi agak lama. Tapi seru aja dengarnya. Kayak semacam Bahasa sandi gitu,” jelas Ni Ena.

            “Ya udah, ajarin Lili ya Ni,” Lili menatap Ni Ena penuh harap.

            “Ya udah. Lili sekarang mau ngomong apa? Gini aja, kalau uni nanya Lili mau ke mana? Itu ngomongnya jadi gini Trigisaga magaugu kege maganaga.”

            Lili menyimak ucapan Ni Ena sembari mengikutinya. Beberapa kali dia mencoba berbicara dengan Bahasa itu tentunya dengan kata-kata baru. Hingga sepuluh menit kemudian, dia pun mahir menggunakan Bahasa planet itu.

            “Asyik! Magakagasigih yaga Nigi Egenaga,”  Lili melonjak kegirangan. Dia berlari menuju kelasnya sambil menyanyikan lagu Bintang Kecil menggunakan bahasa yang baru dipelajarinya.

            Ketika Lili sampai di kelas, bel tanda istirahat usai pun berdering. Dia terlihat sangat gembira karena menguasai Bahasa baru seperti teman-temannya. Lili masih saja melantunkan lagu Bintang Kecil dengan menggunakan bahasa planet-nya. 

            Jam pelajaran terakhir adalah jam pelajaran kesenian. Bu Epi masuk kelas dan meminta anak-anak untuk bernyanyi bergantian di depan kelas. Lili pertama kali menunjuk tangan. Dia tak sabar untuk memperdengarkan pada Bu Epi nyanyi baru yang dia kuasai.

            Bu Epi pun mempersilahkan Lili menyanyi di depan kelas. Dengan bersemangat Lili menyanyikan lagu Bintang Kecil versi baru.

            “Bigintagang kegecigil digi lagangigit yagang bigirugu….”

            Bu Epi menatap Lili dengan bingung. Sedangkan teman-teman Lili menahan tawa. Mereka takut tertawa lebar karena khawatir Bu Epi marah. 

            “Lili kok nyanyinya gitu?”

            “Ini lagu Bintang Kecil versi terbaru Bu,” jawab Lili serius. Bu Epi terbahak melihat wajah serius Lili. 

            “Oke, tapi kali ini Lili nyanyinya pakai lagu yang versi lama aja ya. Ibu nggak ngerti soalnya.”

            Lili menggangguk. Dia mencoba untuk menyanyikan lagu Bintang Kecil versi asli. Sayangnya dia lupa lirik aslinya, karena sedari tadi dia sudah terbiasa menyanyikan lagu Bintang Kecil versi baru. Bu Epi pun memakluminya. Beliau memberi tepuk tangan dan menyuruh Lili kembali duduk di bangkunya. Pelajaran bernyanyi pun dilanjutkan dengan penampilan teman-teman lainnya. ^_^

Wednesday, November 18, 2020

Pulpen Hilang

Pagi itu murid-murid SD Inpres Bukit Cangang sudah mulai banyak yang hadir di sekolah. Jam pelajaran belum dimulai. Beberapa anak terlihat berlarian di halaman. Sebagian ada yang main di kelas mereka di lantai dua. 

            Devi dan teman-temannya juga sudah berada di kelas mereka. Jam dinding di kelas masih menunjukkan angka 7.25 wib. Sekitar 5 menit lagi menuju bel sekolah berdering. Di kelasnya Devi mengobrol bersama teman-teman perempuannya. Sementara itu beberapa anak laki-laki terlihat asyik bermain sentil pulpen.

            Salah satunya Jon dan Amin. Mereka meletakkan pulpen di atas meja, lalu menyentil pulpen mereka ke pulpen lawan hingga pulpen itu jatuh. Jika pulpen lawan jatuh, berarti anak yang menyentil adalah pemenangnya. Mereka bermain di meja tengah paling depan agar leluasa bergerak dan mencari celah untuk menyentil pulpen. Meja itu persis berada di depan meja guru.

            Tak lama berselang, bel sekolah pun berdering. Sebagian murid kelas empat itu sudah duduk manis di kursi mereka masing-masing. Sedangkan Jon dan Amin masih asyik dengan permainan mereka. 

            “Bu Lela datang. Bu Lela datang!” Seru Tomi kepada teman-temannya. Beberapa anak yang masih berdiri dan mengobrol segera duduk manis. Demikian juga dengan Jon dan Amin, mereka segera berlari ke tempat duduk mereka.

            Ketukan suara sepatu Bu Lela, guru matematika mereka terdengar tak jauh dari pintu kelas. Lalu wajah serius Bu Lela pun terlihat memasuki kelas. Entah kenapa setiap Bu Lela yang mengajar, semua murid kelas empat ini selalu terlihat serius. 

            Kelas pun dimulai dengan membaca doa. Mereka menyimak penjelasan Bu Lela dengan sungguh-sungguh. Sebelum kelas berakhir Bu Lela memberikan tugas perkalian kepada mereka. 

            “Kerjakan sekarang halaman lima belas ya. Halaman enam belas untuk pe er,” pesan Bu Lela sebelum meninggalkan kelas. Seisi kelas menjawab,” Iya Bu,” dengan serentak.

            Setelah Bu Lela keluar kelas, kelas kembali riuh. Devi bertanya pada Yosa tentang perkalian delapan yang cukup sulit. Demikian juga dengan Elfi, dia bertanya kepada Sinta. Hampir semua anak riuh dengan tugas mereka. 

            “Kamu yang mengambil pulpenku kan?” tiba-tiba teriakan Jon terdengar membuat seisi kelas melihat ke arahnya. Keriuhan tadi menjadi hening seketika. Jon berteriak pada Amin yang duduk di belakangnya.

            “Aku nggak ngambil pulpenmu. Kan tadi waktu Bu Lela masuk kita ngambil pulpen masing-masing!” jawab Amin kesal.

            “Aku nggak sempat mengambil pulpenku, karena suara sepatu Bu Lela sudah dekat pintu!” ujar Jon dengan suara masih tinggi. Teman-temannya yang lain mulai menenangkan Jon. 

            “Coba kamu cari dulu di bawah meja,” saran Hengki dan Tomi. 

            “Sudah. Dari tadi juga sudah  kucari di bawah meja, tapi nggak ada,” jawab Jon jengkel. “Aku yakin dia yang ngambil nih!” tambah Jon sambil menunjuk Amin.

            Amin tidak terima dituduh sebagai pencuri pulpen. Tangannya mengepal hendak memukul Jon. Devi melihat hal itu. Dia sangat takut kalau teman-temannya berkelahi.

            “Amin, kamu bantu Jon aja nyari pulpennya,” ajak Devi sembari menenangkan Amin. 

            “Ayo kawan-kawan, bantu Amin mencari pulpen Jon yang hilang,” ajak Cory dan Yosa. Teman-teman lain pun setuju. Mereka menghentikan pekerjaan mereka dan mulai mencari ke kolong meja masing-masing.

            “Ini ada di sini!” teriak Ade yang bertubuh kurus. Dia memperlihatkan sebuah pulpen di tangannya. Semua mata memandang pada Ade.

            “Kamu yang menyembunyikan ya?” tuduh Jon pada Ade.

            “Nggak, aku menemukannya di bawah meja guru. Mungkin tadi jatuh waktu kamu selesai main,” jawab Ade takut-takut. 

            “Iya kayaknya jatuh ke bawah meja guru. Tadi aku mendengar suara pulpen jatuh, tapi karena Bu Lela sudah masuk, aku nggak memperhatikan ke mana jatuhnya pulpen itu,” ucap Devi. Devi baru menyadarinya. Kebetulan meja Devi adalah meja yang dijadikan tempat main oleh Jon dan Amin tadi. 

            Tanpa basa-basi lagi, Jon segera mengambil pulpennya dari tangan Ade. Dia harus mengerjakan tugas matematika segera.

            “Kamu nggak makasih sama Ade, Jon?” ucap Cory. 

            “Makasih ya,” ujar Jon lirih. Ade mengangguk sambil tersenyum. Kelas pun kembali tenang. Semua murid kembali mengerjakan tugas yang diberikan Bu Lela. 

Hufft… syukurlah tidak terjadi perkelahian, gumam Devi. Alhamdulillah…  ^_^

                                                                        ***                        

Sunday, November 15, 2020

Misteri Batu Besar

 

            “Kita jangan lewat sana ya Nel. Ada ular gede di bawah batu itu,” kata Vivi. Nelfi terkejut mendengar ucapan Vivi itu. Dia punya trauma dengan ular. Dia sangat takut melihat ular. Karena dulu, ketika dia TK ada ular cukup besar masuk ke rumah mereka. orangtua Nelfi panik dan hampir celaka ketika mencoba menangkap ular itu.

            “Siapa yang bilang?” tanya Nelfi penasaran. Siang itu murid SD Inpres Bukit Cangang baru pulang sekolah. Mereka semua berlarian menuju rumah masing-masing. Ada yang rumahnya di depan sekolah, ada juga yang rumahnya berjaran 2 KM dari sekolah. Tak terlihat wajah Lelah di mata mereka. Mereka senang sekali setelah setengah hari bersekolah. 

            “Tata dan teman-teman lain. Tadi mereka cerita begitu,” jelas Vivi. Nelfi memperhatikan batu besar yang dimaksud Vivi. Sekilas batu itu memang terlihat misterius. Letaknya di pinggir jalan pertigaan. Batu itu sangat besar, seukuran setengah rumah. 

            Tapi Nelfi tak percaya begitu saja. Kenapa baru hari ini dia mendengar cerita tentang batu itu? Padahal mereka sekolah di sana kan sudah hampir 4 tahun. Selama ini tak pernah terdengar ada cerita tentang batu yang di bawahnya merupakan sarang ular besar.

            “Aku sering cari buah beri di sana bareng kawan-kawan lain. Nggak pernah ketemu ular tuh,” sanggah Nelfi.

            “Ya udah kalau nggak percaya, yang penting aku sudah kasih tau kamu. Kalau nanti tiba-tiba kamu ketemu ular besar, jangan nyalahin aku ya,” Vivi berlari di jalan menuju rumahnya. Rumah Nelfi dan Vivi searah. Mereka sering bertemu di jalan dan berangkat atau pulang bareng. Kadang ada Yuli, Yusi dan kawan lainnya. Tak jarang juga mereka bertemu Romi dan Fadil yang juga searah dengan mereka.

            “Hei! Tungguin Vi!” Nelfi pun mengejar sahabatnya itu. 

            “Aku percaya kok. Aku ngomong kayak gitu biar aku nggak takut,” jelas Nelfi setelah berhasil mengiringi langkah Vivi.

            “Makanya tadi kamu harusnya ikut ngobrol sama kita di luar perpus. Kamu sih asyik baca buku di perpus, jadinya kamu nggak percaya sama cerita itu. Tata aja kalau mau ngaji lewat sana, dia pasti lari katanya,” gerutu Vivi.

            “Iya… iya… maaf deh. Tapi kok kita selama ini nggak pernah dengar ceritanya ya?” tanya Nelfi lagi. Vivi mengangkat bahunya tanda tak tahu.

            “Hei! Lagi cerita apa?” tiba-tiba suara seseorang mengagetkan mereka. Nelfi dan Vivi serentak menoleh. Ada Romi ternyata di belakang mereka.

            “Itu tentang batu besar yang di dekat sekolah. Katanya ada sarang ular di bawahnya,” jelas Vivi.

            “Oh itu. Aku pernah juga mendengar ceritanya. Tapi kemarin kutanya ke Ni As yang di warung. Katanya ada ular atau nggak sih dia nggak tahu. Cuman, memang orang tua melarang anak-anak lewat sana karena jalan itu berbahaya. Coba saja kamu lihat, batunya kan gede banget tuh. Nah letak batunya juga agak miring. Padahal jalan itu kan menurun? Jadi para orang tua khawatir batunya bergeser dan menggelinding menimpa orang yang lewat di sana,” jelas Romi.

            “Ooo… ternyata itu sebabnya. Nah kalau gitu kita memang harus jangan lewat sana ya. Biar nggak ketimpa batu besar itu,” ucap Nelfi lega. Mereka bertiga pun menyeberangi jalan raya menuju rumah mereka. Lega rasanya tidak dihantui ketakutan terhadap ular besar. Kejadian masa TK masih diingatnya hingga sekarang. Ular hitam besar yang sangat susah untuk ditangkap. Hiiiyyy ... ^_^

                                                                                 ***


Kisah Semasa SD yang saya tulis untuk teman-teman SD saya di WAG. Selamat membaca, semoga berkenan ya. ^_^