Tuesday, December 29, 2020

Obrolan Bunda dan Nanda



            Pagi ini Bunda dan Nanda sedang menyantap sarapan mereka di ruang keluarga. Abang dan kakak sedang tidak di rumah. Abang masih di boardingnya di Bogor. Sedangkan Kakak, masih di Malang, karena Kakak mahasiswa di Universitas Brawijaya. Sedangkan Bapak sudah berangkat kerja sejak pukul 6.00. 

            Keluarga Nanda jarang sekali makan bersama di meja makan. Mereka lebih suka sarapan, makan siang dan makan malam di ruang keluarga. Entah sejak kapan hal itu dimulai. Mereka mengambil nasi dan lauk dari meja makan, lalu membawa makanan tersebut ke ruang keluarga dan duduk bersama di sana sambil makan. 

            Kadang Bunda ikut membawa lauk dan sayur ke ruang keluarga agar anak dan suaminya lebih mudah jika ingin menambah sayur dan lauk. Di ruang keluarga itu ada karpet dan sofa. Nah mereka duduk melingkar setengah lingkaran di atas karpet tersebut. Ohya, ada televisi dan rak penuh buku juga di ruang keluarga mereka. 

            Biasanya setelah shalat subuh dan membaca Al Quran, Bunda menyalakan televisi. Beliau memilih chanel siaran langsung dari Makkah Al Mukarramah. Lantunan muratal mulai terdengar di rumah mereka menemani Bunda menyiapkan sarapan. Saat itu dulu, semua anggota keluarga sudah bersiap berangkat sekolah dan bekerja. Tapi saat ini hanya ada Nanda, Bunda dan Bapak di rumah. 

            Di tengah pandemi covid19 yang sudah hampir setahun ini, Nanda tidak bersiap untuk sekolah di pagi hari. Jadi kegiatan setelah subuhnya berganti menjadi main game di tab. Bunda mengingatkan Nanda agar main game di tab-nya cukup 2 jam saja. Nanda setuju dengan Bunda.

            “Bun, apakah Allah tidak mendengar doa kita bun?” celetuk Nanda ketika menyendok nasi goreng ke mulutnya.

            “Kenapa Nanda berpikir begitu?”

            “Karena virus corona sudah hampir setahun menyerang dunia. Kita selalu berdoa agar Allah menghentikan penularan virus ini. Tapi kayaknya orang yang kena virus ini makin banyak, Bun.”

            Bunda tersenyum. “Bunda rasa Allah sedang menolong kita sayang.”

            “Loh, kenapa Bunda berpikir begitu?” Nanda menelan nasi goreng yang ada di mulutnya lalu dia memandang Bunda dengan wajah penasaran.

            “Coba Nanda pikir, sejak ada virus ini, kita jadi lebih bersih kan? Kemana-mana pakai masker sehingga kita tidak menghirup debu atau virus yang tidak seharusnya masuk ke saluran napas kita. Lalu kita juga sering cuci tangan atau kita malah jadi sering berwudhu. Wudhu itu aja sudah menambah pahala kita. Jadi kita dapat bersihnya dan dapat pahala juga.”

            “Tapi kan beda Bun. Ini kesannya kan kita terpaksa memakai masker dan berwudhu atau cuci tangan.”

            “Insyaallah kalau kita niatkan karena Allah, kita lama-lama akan nyaman menjalankannya. Awalnya memang seperti terpaksa sih. Sama seperti kita melakukan shalat, puasa, sedekah, zakat dan lainnya. Itu awalnya pasti seperti terpaksa kan? Tapi lama-lama karena kita sudah biasa melakukannya, jadinya sudah tidak terpaksa lagi. Kita malah merasa ada yang kurang kalau tidak melakukannya.”

            “Tapi kayaknya kalau pakai masker kemana-mana itu juga nggak ada tuntunan dalam Al Quran dan hadist kan Bun?”

            “Benar sayang. Kalau pakai masker ini kan sarannya jika kita keluar rumah saja kan? Nah kalau kita di dalam rumah dan kita sehat, tidak perlu pakai masker. Kecuali kalau kita kena flu atau batuk, baru pakai masker di rumah. Nah tuntunan dalam hadist kan sebaiknya kita lebih baik berada di dalam rumah kecuali ada pekerjaan di luar rumah.”

            “Memang ada hadist seperti itu bun?”

            “Ada Nak, wanita dan anak-anak itu sebaiknya di rumah saja. Bunda lupa perawi hadistnya. Tapi Bunda pernah baca kurang lebih maknanya seperti itu.”

            “Aku pikir itu kan jadi melanggar hak asasi manusia untuk bernapas secara bebas bun?”

            “Justru itu melindungi hak asasi manusia karena menjaga manusia itu dari tertular virus ini. Karena virus ini menyebarnya melalui droplet kan. Makanya kita harus pakai masker jika berada di luar rumah. Tapi jika tidak ingin pakai masker, ya tetap di rumah saja. Insyaallah lebih aman di rumah kan?”

            Nanda terdiam. Murid kelas 4 SD itu mencerna kata-kata Bundanya. “Tapi kan jadinya aku nggak bisa main Bun. Itu kan hak aku juga main sama teman-temanku.” Nanda tiba-tiba ingat pelajaran hak dan kewajiban yang baru dia pelajari di kelas 4 ini.

            “Betul sayang, untuk itu Allah menyuruh kita bersabar. Sabar itu pahalanya banyak loh,” Bunda tersenyum memandang wajah cemberut putrinya.

            “Aku sudah bersabar Bun. Tapi banyak juga anak-anak lain yang masih main bebas dan nggak pakai masker tuh. Mereka juga belum tentu sering-sering mencuci tangan.”

            Bunda tersenyum lagi. “Tadi kan Bunda sudah bilang, sabar itu banyak pahalanya kan? Mungkin saja anak-anak itu tidak tahu ada pahala sabar. Nanda kan sudah tahu, makanya Nanda bersabar kan sayang?” Bunda mencubit pipi gembil Nanda. Nanda tersenyum malu. 

            “Ternyata begitu ya Bun?”

            “Betul sayang. Kita berbaik sangka aja terhadap ketentuan Allah ini ya. Kita juga harus berbaik sangka terhadap orang-orang yang belum bisa bersabar dalam ujian ini. Insyaallah semua ketentuan Allah ini ada hikmahnya.”

            “Tapi kenapa ya Bun, aku baca di internet orang-orang di negara tempat virus ini pertama ditemukan sudah bebas seperti biasa tuh Bun. Mereka sudah pesta-pesta dan kumpul-kumpul lagi. Mereka bahkan akan merayakan tahun baru dengan berbagai kegiatan dan pesta. Mereka juga banyak yang nggak pakai masker dan nggak jaga jarak juga. Apa Allah lebih memilih mendengar doa mereka daripada doa kita?” 

            “Loh kok begitu lagi pemikiran anak Bunda?” Bunda tersenyum sambil mengacak poni Nanda. 

            “Aku cuman pengen tahu aja Bun?”

            “Bunda tadi bilang kita berbaik sangka sama ketentuan Allah kan sayang? Jadi kita berpikir aja kalau Allah sedang menolong kita agar tidak berbuat maksiat jika keluar rumah. Contohnya kita tidak perlu ikut-ikutan berpesta, bisa saja saat berpesta itu ada maksiat di sana. Jadi kondisi sekarang ini menahan kita untuk tidak berbuat seperti itu kan?”

            “Tapi selama ini kita kan juga nggak pernah berpesta Bun? Kenapa kita juga ikut merasakan dampaknya?” 

            “Ujian Allah itu menimpa semua orang sayang. Nah bagi orang beriman, mereka akan bersabar dengan ujian ini. Saat ini Allah melihat kesungguhan kita beriman pada ketentuanNya, Nak. Allah sudah berjanji kan, setiap ada kesulitan, pasti ada kemudahan. Ingat kisah Nabi Ibrahim, beliau tetap yakin Allah menolong beliau walau beliau dibakar di api yang menyala oleh raja Namrudz.”

            “Demikian juga dengan Nabi Musa, yang tetap yakin bahwa Allah akan menolong beliau ketika berada di depan laut sedangkan ada Firaun dan tentaranya yang akan menyerang mereka. Allah akan menurunkan pertolonganNya di saat yang tepat, sayang. Jadi kita harus bersabar ya, Nak. Insyaallah segera Allah hentikan penularan virus ini.” Bunda mencium kepala Nanda. Beliau memeluk Nanda dengan lembut. Nanda mengangguk paham. Hanya doa dan sabar yang harus dilakukannya saat ini.

            Bunda bersyukur Nanda bisa menahan diri untuk tidak main di luar rumah selama beberapa bulan ini. Ketika Nanda sangat ingin keluar rumah, Nanda pun bersedia mengenakan masker. Dan menjaga jarak dengan temannya. Serta sering mencuci tangan. Bertemu temannya itu juga hanya sesekali dilakukan Nanda jika dia kangen sekali pada temannya yang juga tetangganya. [NS]

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. ^_^