Skip to main content

Belajar Menjadi Ibu dengan Surga di Telapak Kakinya


#1Hari1Ayat Hari ke-4
        Menjadi Ibu dengan surga di telapak kakinya di jaman sekarang sangatlah sulit, tapi bukannya tidak mungkin. Berbagai rintangan menghadang semua ibu yang bercita-cita surga mendapatkan di bawah telapak kakinya. Anak-anak kita sekarang di kelilingi ancaman fisik maupun moral yang membahayakan mereka. Contohnya bisa kita lihat dari berbagai tayangan film atau sinetron yang bertema anak, namun malah mengusung kekerasan fisik dan mental yang tidak sehat untuk anak. Ada juga buku-buku yang terlihat seperti buku anak, ternyata bermuatan kekerasan dan pornografi. Bahkan game yang sering mereka mainkan juga bermuatan kekerasan dan pornografi. Hal inilah yang membuat sulitnya untuk menjadi seorang Ibu.
      Lalu bagaimana caranya agar kita bisa menjadi seorang ibu yang memiliki surga di telapak kakiknya? Saya pun ingin belajar untuk mendapatkan hal itu. Saya pikir tentunya kita harus setiap hari meng-update pengetahuan kita. Mulai dari pengetahuan agama yang sumbernya kita pelajari dari alquran dan hadist, sampai pengetahuan teknologi informasi, karena di sini salah satunya sarang ‘kuman’ yang akan menggerogoti akhlak anak-anak kita.
        Saat ini hampir semua anak-anak sudah sangat dekat dengan teknologi canggih, seperti HP, Blackberry, Ipad, tablet dsb. Masing-masing teknologi itu menawarkan kemudahan mengakses semua hal melalui internet.
       Bahkan anak-anak SD pun sudah mempuyai beberapa akun jejaring sosial yang disediakan secara gratis. Mereka pun bisa membuatnya sendiri tanpa sepengetahuan kita orangtuanya. Namun anak kita, tidak mengerti betapa bahayanya jika mereka membuka konten-konten yang merusak akhlak mereka. Mereka terkadang ikut-ikutan teman, jika si teman punya ini, maka akupun harus punya, demikian yang ada dalam pikiran mereka. Nah di sinilah tantangan terbesar bagi ibu-ibu yang ingin ada surga di telapak kakinya.
       Tentunya kita tidak harus duduk dan mendengarkan penjelasan dari seorang guru atau dosen untuk mendapatkan pengetahun ini. Kita bisa belajar sendiri, dengan memanfaatkan internet, buku-buku, majalah, koran dsb. Jika kita belum bisa mengoperasikan bagaimana berinternet, maka segeralah belajar, karena jangan sampai kita tidak mengetahui apa yang telah dilakukan anak kita di dunia maya. Sering sekali kejadian peculikan atau pembunuhan terhadap anak berawal dari dunia maya ini.
        Jika anak kita punya akun jejaring sosial, maka seharusnya kita juga punya, kita bisa menjadi teman mereka, dengan demikian kita bisa memantau, dengan siapa saja anak kita berteman, dan apa saja yang tulis dalam akunnya tersebut.  
      Tidak cukup sampai di situ, kita juga mengamalkan pengetahuan yang sudah kita dapatkan, di pengajian jika hari ini kita belajar tentang cara rasulullah mendidik anak-anak beliau, maka kita laksanakan di rumah kepada anak-anak kita.  
      Setiap hari adalah waktu belajar bagi seorang ibu. Karena setiap hari ada ribuan kuman yang mungkin saja mengancam anak-anak kita. Semoga Allah memberikan kekuatan pada kita untuk mendidik anak-anak kita sesuai ketentuanNya.Karena Allah memerintahkan kita menjaga anak dan keluarga kita dari sentuhan api neraka dalam surat Attahrim ayat 6 : 



6. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjagaya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

 Sudahkah kita sebagai ibu yang mempunyai surga di telapak kakinya? Ayo kita pelajari bersama-sama. ^_^

Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.