Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Wednesday, July 14, 2021

Baju Aneh

             “Ini baju untuk kalian. Ayo pakai!” tante memberikan sebuah kaos tanpa lengan dan celana pendek padaku dan Aini sepupuku.  Apakah ini harus kukenakan? Ini kan bukan baju, tapi kaos dalam? Seperti itu yang terlintas dipikiranku.

            Kulihat Aini menerima baju yang diberikan tante dan segera ke kamar menggantinya. Sedangkan aku, hanya bisa termangu memandangi satu stel pakaian yang kuyakini tak pantas kupakai. Karena aku seorang anak perempuan. Usiaku sepuluh tahun. Aku malu jika mengenakan pakaian yang baru diberikan tante padaku.

            Beberapa saat kemudian, Aini keluar dari kamar dengan baju barunya. Kaos lengan pendek dan celana pendek di atas paha. Ya Allah… ini sungguh membuatku geli. Aku makin tak mau mengenakan pakaian itu.

            “Ayo Nay, ganti pakaianmu. Kenakan ini!” perinta tante. Wajahnya mulai terlihat garang. Matanya melotot sebagaimana jika dia marah padaku. Tante Peni adalah adik Papa. Aku dan sepupuku Aini tinggal Bersama nenek dan juga tante Peni. Kami harus selalu mengikuti perintah tante Peni jika tak ingin cubitannya menancap di kulit lengan kami. 

            Kurasa aku yang paling sering mendapatkan cubitan itu. Awalnya kupikir karena aku sering tidak segera melakukan perintahnya seperti mencuci piring, menyapu rumah dan lainnya. Tapi semakin lama kuperhatikan, bukan karena faktor itu saja. Sepertinya dia memang lebih menyayangi sepupuku Aini daripada aku.

            Karena kulihat Aini juga sering mengabaikan perintah Tante Peni, tapi Aini jarang mendapatkan cubitan di lengan. Yah mungkin ini hanya perasaanku saja. Semoga memang begitu ya.

            “Tapi ini kan kaos dalam tante,” ujarku menolak secara halus. “Apalagi ini celananya bukan untuk anak perempuan, tapi untuk anak laki-laki.”

            “Siapa bilang ini kaos dalam dan celana anak laki-laki! Kamu nggak lihat ini motifnya boneka beruang begini? Warnanya juga kuning dan pink. Celana ini juga begitu, ada gambar beruang di kantong belakangnya!” Tante Peni menunjuk ke kaos dan celana yang kupegang.

            Benar juga yang dikatakan Tante Peni, ada gambar beruang di kaos tak berlengan itu. Tapi aku risih jika harus mengenakan model pakaian yang tak pernah kukenakan sama sekali.

            “Udah pakai aja Nay, cakep kok.” Aini membujukku. Kuperhatikan Aini dengan pakaian yang dikenakannya. Aini memang tomboy. Jadi dia sepertinya nyaman mengenakan pakaian itu. Kuperhatikan lengan Aini dengan kulit kuning langsatnya. Celana yang di atas pahanya juga memperlihatkan warna paha Aini. Aku bergidik membayangkan jika aku mengenakan pakaian itu.

            “Aku nggak mau Tante,” kuserahkan pakaian itu kepada Tante Peni.

            “PAKAI!” bentaknya. Aku terlonjak kaget. Jantungku berdegup kencang. Jika sudah berteriak seperti ini, biasanya cubitan atau pukulan pasti akan mendarat di tubuhku jika aku tidak menurutinya.

            Padahal baru kemarin aku mendapatkan cubitan di lengan. Tanda biru bekas cubitan itu bahkan belum hilang. Jika aku mengenakan pakaian yang diberikan Tante ini, pasti akan terlihat lebam karena cubitan tersebut. Ya Allah… ampuni aku karena terpaksa mengenakan pakaian ini. 

            Aku ke kamar untuk berganti pakaian. Rasanya aku tak kuat menahan cubitan lagi hari ini. Sedari tadi aku belum makan. Jadi kurasa bisa saja aku pingsan karena menahan cubitan dan rasa lapar. 

            Setelah selesai berganti pakaian, aku keluar kamar. “Nah kan bagus ini. Warna pink cocok dengan kulit sawo matang kamu,” ucapan Tante Peni seperti sedang mengolokku. Mana ada warna pink cocok dikenakan oleh anak berkulit sawo matang. 

            Sungguh tak nyaman mengenakan pakaian tak berlengan dan tak berkaki ini. Seperti angin yang membalut semua badanku. Dingin dan geli menjadi satu. 

            “Sekarang kalian berdua pergi ke rumah papa kamu ya Nay. Kasih tahu papa kamu bahwa tante sudah membelikan kalian baju,” perintah Tante Peni.

            “Hah! Pergi dengan pakaian seperti ini Tante?” tanyaku tak percaya.

            “Iyalah. Kan mau kasih tahu papa kamu tentang baju ini!”

            Aku tak percaya. Bagaimana mungkin aku harus keluar rumah dengan pakaian seperti ini? Aku bisa jadi olok-olokan teman-temanku nanti. Apalagi ada bekas cubitan di lengan kananku.

            “Udah, sana pergi!” Tante membuyarkan lamunanku.

            “Ayo Nay!” Aini menarik lenganku. Dia sepertinya menikmati pakaian barunya. Aku terpaksa melangkah mengikuti Aini. Rumah papaku berjarak seratus meter dari rumah nenek. Begitu keluar dari rumah, teriknya sinar mentari langsung menghujam kulitku. Hawa panas menerpa seluruh lengan dan kakiku. 

            Pakaian ini sama sekali tidak melindungiku dari udara dingin dan sengatan matahari. Aini berlari kecil sambil bernyanyi. Dia terlihat sangat senang. Berbeda denganku yang terlihat sangat tertekan. Sepanjang jalan menuju rumah papa, aku hanya menunduk menghindari tatapan orang. Kupikir semua orang memandangiku dengan tatapan aneh.

            Sampai di rumah papa, Aini langsung masuk sembari mengucapkan salam. Tapi tak ada yang menjawab salam kami. Kupikir papa pasti masih di kantor. Karena ini belum terlalu sore. Papa biasanya pulang dari kantornya sekitar pukul empat.

            Semenjak mama meninggal tiga tahun lalu, papa memintaku tinggal di rumah nenek. Karena beliau tidak bisa sepenuhnya merawatku. Beliau sibuk di kantornya dan tidak punya banyak waktu memasak makanan untuk kami. Papa makan malam ke rumah nenek. Sarapan dan makan siang biasanya di kantor. 

            Aku lega papa tidak ada di rumah. Aku tak mau melihat wajah papa bingung melihatku dengan pakaian seperti ini. Papa paham sekali bahwa aku sangat mengidolakan mama. Mamaku seorang ustadzah, beliau mengajar mengaji di TPA dekat rumah kami. Pakaian beliau selalu tertutup. Beliau membiasakan aku juga dengan pakaian menutup aurat. Setidaknya beliau membelikanku rok sebatas betis dan baju dengan lengan se-siku.

            “Anak-anak tidak apa-apa mengenakan pakaian seperti ini. Tapi Nay harus membiasakan mengenakan pakaian gamis seperti Mama ya. Agar terbiasa kelak hingga dewasa,” demikian pesan beliau padaku. Hal ini tak kan pernah kulupakan.

            “Nay tak kan pernah mengenakan pakaian ini lagi, Ma. Maafkan Nay ya Ma. Sampai di rumah nanti Nay akan mengganti pakaian ini dengan pakaian yang lebih menutup aurat.” Aku mengajak Aini kembali ke rumah nenek. Aku akan menguatkan diri jika Tante mencubitku bahkan jika dia memukulku sekali pun. Aku berjanji tak akan pernah mengenakan pakaian ini selamanya.

                                                                        ***

 

Monday, June 7, 2021

Burdah Mush’ab Bin Umair

            Aku sangat sedih karena hanya bisa menutupi sebagian badan dari sahabat tercinta Rasulullah SAW ini. Sahabat yang menjadi duta pertama bagi kejayaan umat muslim di Madinah. Beliau bernama Mush’ab Bin Umair. Sahabat tercinta Rasulullah SAW itu sudah pergi untuk selamanya. Beliau syahid di medan pertempuran perang Uhud.

            “Coba tarik burdah itu ke bawah untuk menutupi kaki Mush’ab,” terdengar suara Rasulullah SAW memberi perintah pada sahabatnya yang lain. Aku kaget mendengarnya, tapi aku bersiap. Seseorang menarikku hingga menutupi kaki Mush’ab. Sayangnya ketika kaki beliau sudah berhasil ditutup, kepala dan mukanya masih terlihat.  Hal itulah yang membuatku bersedih.

            Kenapa aku tidak cukup panjang untuk menutupi semua badan sahabat mulia itu? Beberapa saat kemudian Rasulullah memerintahkan untuk menarikku ke atas kepala Mush’ab. Tapi hasilnya tetap sama. Kepala Mush’ab berhasil kututup, namun kakinya kali ini yang terlihat. Aku tidak tahu harus bagaimana.  

“Dahulu ketika di Mekah, dia yang paling kaya. Paling tampan, dan paling bagus pakaiannya. Namun semua itu ditinggalkannya demi membela agama Allah. Sekarang dia syahid dan hanya sebuah burdah ini yang menemaninya,” kata Rasulullah SAW sedih.

            Aku sangat merasakan kesedihan Rasulullah SAW. Karena aku tahu benar kehidupan Mush’ab. Aku selalu menemani Mush’ab sejak awal mengenal islam. Mush’ab yang baik demikian gelar yang diberikan padanya. Dia adalah laki-laki pemberani. 

Masih ingat dalam ingatanku waktu menemani Mush’ab di Madinah. Ketika itu Rasulullah SAW memberikan tanggung jawab kepada Mush’ab  untuk membimbing kaum Anshar.  Mereka sudah berbaiat kepada Rasulullah di Bukit Aqabah. Rasulullah SAW juga meminta Mush’ab untuk menyebarkan agama Allah di Madinah. Mush’ab pun langsung bertindak. Pertama dia menginap sebagai tamu di rumah As’ad Bin Zararah.

            “Aku akan mengunjungi kabilah-kabilah, tempat pertemuan dan rumah-rumah penduduk Madinah. Maukah kamu menemaniku wahai As’ad?” pinta Mush’ab kala itu. As’ad pun menerimanya. Mereka membacakan ayat-ayat Allah di setiap pertemuan itu. Aku selalu mendengar dan mengikuti semua kegiatan Mush’ab. Aku ikut senang ketika setiap hari makin banyak pengikut Rasulullah SAW melalui pembelajaran dari Mush’ab.

            Hingga suatu hari salah satu pemimpin kabilah marah dan menghunuskan pedangnya pada Mush’ab. Namanya Usaid bin Hudlair.  Aku sangat terkejut dan ingin berteriak agar Mush’ab segera keluar dari pertemuan itu. Karena semua orang sudah berhamburan keluar. Namun Mush’ab masih tetap tinggal dan menyambut Usaid bin Hudlair yang sedang murka.

            “Tinggalkan segera tempat ini!” bentak Usaid. Aku gemetar mendengarnya. Tapi tidak dengan Mush’ab. Dia terlihat tenang. Wajahnya memancarkan ketulusan seorang muslim sejati. Sambil tersenyum dia berkata.

            “Ijinkan saya membacakan sedikit ayat-ayat Allah untuk Anda. Setelah itu, jika Anda tidak suka mendengarnya, saya akan keluar dari sini.”

            Usaid setuju. Dia bersedia mendengar terlebih dahulu. Mush’ab pun mulai melantunkan ayat-ayat Allah dan menjelaskan tentang maksud dari ayat itu. Subhanallah walhamdulillah... hati Usaid bergetar mendengar ayat suci itu. Usaid pun langsung bersyahadat. Aku lega melihatnya. 

            Itulah salah satu hal yang tak dapat kulupakan dari kepribadian Mush’ab. Apalagi hingga akhir hidup beliau, aku melihat sendiri kegigihan Mush’ab membela Allah dan RasulNya.

            Saat di perang Uhud ini, Mush’ab bertugas memegang bendera perang. Beliau memegang bendera itu dengan tangan kanannya. Lalu ketika pasukan muslim terpecah, Mush’ab maju untuk melindungi Rasulullah SAW. Seorang musuh yang berkuda menebas lengan kanan Mush’ab hingga putus.

“Ya Allah lindungi Mush’ab !” pekikku ketika melihat hal itu. Aku sungguh takut. Bendera yang dipegang Mush’ab pun jatuh. Tapi Mush’ab belum menyerah. Dia memekikkan kalimat penyemangat yang membuat kumerinding mendengarnya. Mush’ab memekikkan kalimat itu sambil mengambil bendera dengan tangan kirinya.

            “Muhammad itu hanyalah seorang Rasul dan sebelumnya telah didahului oleh beberap Rasul.” Hal ini dilakukan Mush’ab untuk membangkitkan semangatnya membela agama Allah. Namun si kafir Quraisy yang bernama Ibnu Qumaiah itu tak peduli. Dia lalu menebas tangan kiri Mush’ab.

Aku tak tahan melihatnya. Mush’ab yang baik masih saja belum kehilangan semangat. Kudengar ia meneriakkan kembali kalimat penyemangat itu. “Muhammad itu tak lain adalah seorang Rasul dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul.”

            Tiba-tiba musuhnya menyerang dada Mush’ab dengan tombak hingga tiga kali tusukan. Mush’ab tersungkur. Bendera yang dipegangnya jatuh. Aku pun ikut terjatuh bersama syahidnya sahabatku yang mulia. Aku menangis. Tangis sedih dan bahagia. Sedih karena tidak akan bisa menemani sahabat muliaku ini dalam perjuangannya menegakkan agama Allah. Bahagia karena diperkenankan menjadi penutup tubuh suci sang sahabat.  Semoga Allah memberikan syurga terbaik untuk sahabat mulia ini, doaku dalam hati.

            Aku lihat  Rasulullah SAW masih tercenung sedih memperhatikan sahabatnya itu. Setelah itu beliau berdiri. Beliau memandang semua pasukan muslim yang gugur. Beliau berkata bahwa beliau akan menjadi saksi di hari kiamat nanti atas kematian para syuhada tersebut. 

Lalu Rasulullah SAW berpesan kepada kaum muslimin yang masih hidup, “Hai manusia! Berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka. ucapkanlah salam! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang muslim pun sampai hari kiamat yang memberi salam pada mereka. Pasti mereka akan membalasnya.”

            Aku pun mengucapkan salam perpisahan pada sahabat tercintaku. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Mush’ab. Aku akan selalu berada di sisimu sampai Allah membangkitkanmu nanti.”

                                                            ***

Tahukah kamu bahwa kalimat penyemangat yang diucapkan Mush’ab Bin Umair ketika tangannya ditebas oleh orang kafir, dikukuhkan Allah sebagai wahyu kepada Rasulullah SAW. Dan ayat ini selalu kita baca dalam AlQuran. Ayat itu terdapat dalam surat Ali Imran ayat 144. Arti ayat itu adalah : Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul,sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul ...

 

 

Catatan : Burdah adalah sebuah jubah yang terbuat dari bulu domba.

Sunday, March 28, 2021

Ulang Tahun Emma

      
               Emma bersedih. Dia termenung di kamarnya. Pesta ulang tahunnya akan diadakan malam ini. Papa sedang bertugas di Medan, sementara mama masih di kantornya. Padahal mereka telah berjanji akan berusaha hadir di acara ulang tahun Emma. Beberapa hari yang lalu Emma juga sudah mengajak teman-temannya datang ke rumah. Menghadiri pesta ulang tahunnya. 
            “Kenapa sih Mama dan Papa belum pulang?” gumamnya lirih. Ia memandangi baju pesta yang sudah dikenakannya. Meskipun semua persiapan pesta ulang tahunnya sudah siap. Tapi tanpa kehadiran kedua orang tuanya, bukanlah pesta ulang tahun yang diharapkannya.
            “Sudahlah Emma, Tante juga bisa kan mendampingi Emma meniup lilin nanti,” Tante Weni menenangkan Emma. Beliau adalah adik papa. Papa dan mama menitipkan persiapan ulang tahun Emma kepada Tante Weni.
           “Iya sih Tante, tapi aku maunya papa dan mama hadir di acara ulang tahunku,” Emma menahan tangisnya. Ia menyesal kenapa tidak mengikuti saran mama. Mama menyarankan pesta ulangtahunnya hari minggu saja. Walau lewat 3 hari dari tanggal lahirnya. Tapi Emma memaksa ingin mengadakan pesta itu hari Kamis ini. Pas di tanggal lahirnya. Hasilnya terpaksa seperti ini, mama dan papa tidak bisa cuti, karena jadwal kerja mereka sangat padat.
         “Keluar yuk, teman-temanmu sudah datang,” Tante Weni memegang lengan Emma. Emma masih diam dan tidak mau beranjak dari kursi di kamarnya.
         “Emma.., teman-teman sudah ngumpul nih,” teriak Sita sahabatnya dari luar kamar. Sita melongok di pintu kamar Emma. Ia masuk dan menghampiri Emma.
         “Kamu kenapa, kok kelihatannya sedih?” tanya Sita khawatir.
          “Ah, enggak kok. Ya udah, ayo kita mulai acaranya,” Emma berusaha tersenyum. Ia berjalan keluar kamar diiringi Sita. Di ruang keluarga sudah hadir semua teman-temannya. Mereka terlihat senang dan gembira. Harusnya aku tidak boleh bersedih, batin Emma. Kalau ia bersedih di pestanya, bagaimana dengan teman-temannya? Emma menarik napas panjang, lalu dihembuskannya kencang. Setelah itu ia tersenyum dan bergabung bersam teman-temannya.
         “Terima kasih sudah datang di acara ulang tahunku,” ujar Emma ketika acara pestanya dimulai. Tepuk tanganpun riuh terdengar. Acara pesta dimulai. Pertama acara tiup lilin dan potong kue diiring lagu selamat ulang tahun. Dilanjutkan dengan games yang sudah dipersiapkan Tante Weni untuk Emma dan teman-temannya.
      Semua anak terlihat menikmati games itu. Suara musik yang mengiringi games membuat mereka berteriak kegirangan. 
           “Sekarang gamesnya untuk lima orang. Kelima peserta berjalan sambil menari mengitari 4 kursi ini, diiringi musik. Jika musik berhenti, kalian harus segera duduk. Yang tidak mendapatkan tempat duduk berarti kalah dan harus keluar dari permainan. Tante akan mengambil satu kursi setelah itu. Demikian seterusnya hingga tersisa satu kursi. Yang berhasil duduk di kursi, itulah pemenangnya dan akan tante kasih hadiah.” Jelas Tante Weni. 
      “Aku..,aku Tante.., aku...,” terdengar teriakan teman-teman Emma berebutan ingin mengikuti games itu. Tante Weni dan Emma, memilih lima orang. Setelah itu gamespun dimulai. Musik dinyalakan, dan merekapun berjalan sambil menari mengitari 4 kursi yang sudah disiapkan. Sementara teman-teman yang lain mengikutinya sambil meneriakkan jogoan mereka masing-masing. Tiba-tiba musik berhenti. Mereka berebutan duduk. Teriakan teman-teman Emma semakin bergemuruh. 
           “Yah.. Gina tidak dapat kursi, berarti kamu kalah,” seru Emma. Lalu gamespun berlanjut. Suara teman-teman Emma semakin riuh meneriaki jagoan mereka masing-masing. Ketika kursi terakhir tinggal, hanya ada dua peserta yang tersisa. Mereka kembali berjakan sambil menari mengitari kursi. Hingga mereka memperoleh satu pemenang. Tante weni mwmbwrikan hadiah untuk Katya yang berhasil menang. 
           Zap! Tiba-tiba listrik di rumah Emma padam. Semua anak berteriak ketakutan. 
          “Tenang-anak-anak!” terdengar suara Tante Weni di tengah suara ketakutan mereka. “Sebentar tante ambil lampu emergensi dulu,” tambah Tante Weni. 
        “Yah.. gimana nih..” Emma hampir menangis. Kesedihannya tadi sudah berkurang, tapi kenapa harus mati lampu ketika ia sedang merayakan hari ulangtahunnya.
        “Kriing...,” “whuaa...!” suara telepon rumah mengagetkan Emma dan teman-temannya. Perlahan Emma berjalan menuju meja telepon. 
          “Halo! Bisa bicara dengan Emma?” terdengar suara seorang anak dari ujung telepon. 
         “Iya, saya sendiri, ini siapa?” Emma bingung, siapa yang menelponnya. Semua temannya hadir di sini. Apalagi Emma tidak begitu mengenal suara di telepon itu.
          “Aku Lusi, hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu,” ujar suara anak perempuan itu. Seolah ia sudah mengenal Emma cukup lama.
          “Oh terima kasih, sudah ya, listrik di rumahku lagi mati nih,” Emma meletakkan gagang telponnya.
          “Tunggu Emma, bisakah kamu melihat keluar rumah sebentar?” 
         “Maksud kamu apa?” Emma mulai kesal.
        “Aku ingin kamu keluar rumahmu sebentar saja. Aku menunggumu di luar rumah.”
        “Hhh..., Baiklah,” Emma mendengus kesal. Ia segera mengembalikan gagang teleponnya. Sementara itu Tante Weni sudah menyalakan lampu emergensi. Teman-teman Emma juga sudah tidak berisik seperti tadi lagi.
          “Baiklah anak-anak, kita lanjutkanb acara kita ya,” Tante Weni kembali berdiri di tengah teman-teman Emma.
           “Sebentar Tante, ada yang menelponku tadi, dia memintaku keluar rumah.” Emma berjalan menuju pintu. Tante Weni mengikuti Emma dari belakang. Teman-teman Emma penasaran ingin tahu apa yang sedang terjadi. Merekapun berbondong  mengikuti Emma.
          HAPPY BIRTHDAY EMMA, WE LOVE U terlihat tulisan seperti itu di halaman rumah. Tulisan yang disusun dengan lilin yang menyala. Indah sekali, Emma hampir tidak percaya dengan yang baru saja di lihatnya. Ada mama dan papa tersenyum sambil membentangkan tangan mereka. Seorang anak perempuan sebayanya berdiri di samping mama. 
        “Mama , Papa!” Emma berlari dan menghambur ke dalam pelukan orang tuanya. 
        “Selamat ulang tahun  sayang. Maaf Mama dan Papa telat ya. Ini Lusi, Mama minta tolong dia menelponmu tadi. Lusi tetangga baru kita,” mama menunjuk rumah sebelah.
       “Hai, selamat ulang tahun  ya, tadi kebetulan aku duduk di teras, aku lihat Papa dan Mamamu sibuk mamasang dan menyalakan lilin. Aku mengajukan diri membantu mereka.” Lusi tersenyum senang.
        “Oh, terima kasih ya,” Emma memeluk Lusi.
        “Wow! Keren!” suara teman-teman Emma takjub melihat deretan lilin yang menyala itu. 
       Tak lama kemudian lampupun menyala kembali. “Jadi tadi yang  tadi mematikan lampu itu Mama dan Papa ya,” tebak Emma. Karena ia melihat lampu rumah Lusi dan tetangga lainnya masih menyala. Mama dan papa mengangguk sambil tersenyum. “Ma kasih ya Ma, Pa,” Emma berjanji tidak akan berburuk sangka lagi terhadap mama dan papanya.
     Alhamdulillah, ternyata hari ini adalah hari ulang tahun yang sangat mengesankan.

catatan : Cerpen yang saya tulis November 2011 lalu. Sayang disimpan di file. Masih culun idenya. ^_^

Thursday, February 4, 2021

Kaget


            Bunda Nay punya kebiasaan unik. Kalau ke kamar mandi dia tidak pernah mengunci pintu kamar mandi. Mungkin karena di rumah sendiri, jadi dia pikir semua orang pasti tahu ada orang di kamar mandi. Bersyukur kebiasaan itu tidak terbawa jika dia perlu BAK atau BAB di tempat umum seperti mall dan masjid.

            Kebiasaan itu lebih parah lagi ketika Bunda Nay bangun sebelum subuh. Dia bahkan tidak menutup rapat pintu kamar mandi. Jadi jika dia BAK atau BAB di kloset, dia bisa melihat ke arah dapur rumah mereka. Orang yang berada di dapur pun bisa melihat kaki orang yang berada di closet jika pintu kamar mandi tidak ditutup.

            Entah kenapa Bunda Nay selalu lupa menutup pintu kamar mandi jika dia bangun sebelum subuh itu. Bersyukur selama ini tidak ada anggota keluarga melihat Bunda Nay sedang BAK atau BAB menjelang subuh. Karena umumnya penghuni rumah mereka baru bangun setelah Bunda Nay membangunkan mereka.

            Kebiasaan aneh Bunda Nay itu akhirnya terpaksa berubah karena kejadian memalukan beberapa hari lalu. Seperti biasa pukul 3.30 WIB, Bunda Nay berjalan ke kamar mandi. Dia tak lupa membaca doa masuk kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi tapi tidak rapat. Lalu dia duduk di closet untuk BAK. Ketika hendak bersuci, matanya tiba-tiba menangkap sesosok wajah dengan senyuman mengarah padanya dari arah dapur.

            Bunda Nay terkejut karena tak menyangka ada yang sudah bangun jam segini. Dia ingin beristighfar karena kaget. Tapi dia segera memindahkan istighfarnya ke dalam hati. Karena tidak boleh menyebut nama Allah saat kita berada di dalam kamar mandi. Pikiranya segera memahami situasi. Benarkah yang dilihatnya itu sosok yang dikenalnya atau bukan? Karena kondisi dapurnya saat itu masih gelap. Bunda Nay tidak menyalakan lampu dapur.

            Bunda Nay merasa belum sepenuhnya sadar saat itu. Otaknya spontan merespon dengan memerintahkan mulutnya bertanya. Ini benar-benar pertanyaan di luar kesadaran Bunda Nay.

            “NANDA?!” tanya Bunda Nay dengan suara sangat bergetar tapi menggelegar. Respon otak yang kaget, takut tapi berusaha untuk berani. Jantungnya berdetak keras suara dan napasnya terdengar menderu.

            “Iya Bunda. Kenapa? Bunda masih lama ya?” jawab sosok itu sambil memperlihatkan senyumnya lebih lebar.  

            Bunda Nay memperhatikan sosok itu dengan seksama. Dia perhatikan dari wajah hingga kaki. Meski pakaian tidur Nanda juga gelap, Bunda Nay yakin sosok itu adalah putrinya. Bukan sesuatu yang perlu ditakutkannya. Dia ingin sekali mengucapkan hamdalah dengan lantang karena lega. Tapi dia beralih mengucapkannya dalam hati.

            “Kamu udah bangun? Biasanya susah kalau Bunda bangunin. Lagian kenapa berdiri di sana nggak ngomong. Malah senyum-senyum aja bikin Bunda kaget,” ucap Bunda Nay sambil menarik napas lega. Dia mengusap dadanya beberapa kali untuk menenangkan detak jantungnya. “Bersyukur Bunda nggak kena pingsan lihat kamu tiba-tiba berdiri di sana.” 

            Bunda Nay menyelesaikan bersucinya. Dia menarik napas dalam beberapa kali untuk menenangkan diri. Setelah itu dia bergegas menyikat gigi

            “Aku nunggu Bunda. Pas Bunda melihat aku, ya aku senyumlah,” jawab Nanda santai. Wajahnya tak menunjukkan penyesalan karena sudah membuat bundanya kaget.

            “Lagian kenapa pintu kamar mandinya nggak Bunda tutup? Aku kan sebenarnya udah bangun dari tadi. Tapi karena lampu ruang tamu belum nyala, jadi aku nggak keluar dulu. Nah pas lampu nyala, baru aku keluar kamar dan langsung ke kamar mandi. Ternyata ada Bunda di kamar mandi.”

            “Jam segini kan memang Bunda yang biasanya di kamar mandi. Lain kali Nanda bersuara kek, biar Bunda nggak kaget kayak tadi,” cecar Bunda Nay setelah dia selesai menyikat gigi. Dia keluar kamar mandi dan segera berwudu di tempat wudu yang letaknya di samping kamar mandi.

            “Iya Bun, maafkan Nanda ya. Nanda hanya senang melihat Bunda, makanya cuman senyum aja tadi,” jawab Nanda menyesal. Nanda memeluk Bundanya yang masih berwudu. Bunda Nay tersenyum. Dia mencium kepala Nanda setelah selesai wudu.

            “Bunda takut dan kaget banget tadi loh.” Bunda Nay mengusap kepala Nanda.

            “Pantesan suara Bunda terdengar aneh tadi.” Nanda tersenyum dan masuk ke kamar mandi. 

            “Iya, Bunda juga merasakan suara Bunda tadi sedikit aneh. Mungkin karena takut itu kali ya.” Bunda Nay berjalan ke kamarnya. Dia ingin melaksanakan shalat tahajud. Bermunajat kepada Allah untuk bersyukur atas semua karunia Allah terhadap keluarga mereka. 


Monday, February 1, 2021

Musibah Bertubi


            “Udah lama nggak kelihatan Bunda Nay. Sakit ya?” sapa Bude Mini ketika mereka bertemu saat membeli sayur. 

            “Alhamdulillah sehat Bude. Pak Amri yang baru demam. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah mendingan. Saya sengaja nggak keluar rumah Bude. Isoman aja, menahan diri nggak keluar rumah karena Pak Amri lagi kurang sehat.”

            “Hah! Pak Amri demam Bun? Di tes swab nggak Bun?” celetuk Bu Dora.

            “Demamnya nggak tinggi kok Bu Dora. Alhamdulillah nggak ada batuk dan pilek juga, makannya juga biasa. Sekarang sudah nggak demam Bu. Dia nggak di swab. Karena katanya dia juga nggak kontak dengan pasien covid.”

            “Mungkin kecapaian ya Bunda Nay. Kemarin itu saya lihat Pak Amri ngangkat-ngangkat puing. Katanya tukangnya kerja sendiri,” tanya Bude Mini lagi.

            “Mungkin Bude. Pak Amri nggak biasa kerja berat, sekalinya begitu jadi kecapaian deh,” Bunda Nay berusaha tersenyum. Beginilah kalau tinggal di komplek, ada saja yang menjadi bahan perbincangan ibu-ibu ketika bertemu. Apalagi saat pandemi ini muncul, Pak RT melarang warganya untuk duduk-duduk mengobrol di depan rumah maupun di warung. 

            Akhirnya saat berbelanja sayur seperti inilah warga menyempatkan sejenak mengobrol antar tetangga. Sebenarnya ini hikmah yang luar biasa bagi Bunda Nay yang tidak suka ikut mengobrol tanpa tujuan jelas. Setidaknya aktivitas ngerumpi Ibu-ibu komplek bisa ditiadakan, demikian pikiran Bunda Nay. 

            Tapi ternyata itu tidak sepenuhnya berjalan dengan lancar. Buktinya saat membeli sayur begini mereka tetap mengobrol. Bahkan sampai lupa dengan tujuan semula untuk membeli sayur. Mang Karjo kadang terlihat kesal menunggu ibu-ibu belanja sayur karena keasyikan ngobrol.

             Bunda Nay bergegas memilih sayuran dan langsung meminta Mang Karjo untuk menghitung belanjaannya. Setelah itu dia membayarkan sejumlah uang ke Mang Karjo.

            “Ohya Mang Karjo, saya turut berduka ya Mang. Maaf saya nggak bisa ke rumah Mang Karjo untuk takziah Bu Karjo.” Bunda Nay menyelipkan amplop berisi uang ke dalam tas pinggang Mang Karjo.

            “Nggak apa-apa Bunda Nay. Memang nggak ada yang boleh datang kok Bun. Kita semua diisolasi hampir sebulan. Mohon doanya aja Bunda Nay. Sebenarnya saya sendiri juga bingung. Istri saya punya sakit asma memang. Begitu napasnya sesak dan kita bawa ke rumah sakit, ternyata nggak tertolong dan positif covid katanya. Bersyukur saya dan anak-anak negative hasil swabnya. Ohya, makasih banyak ini ya Bunda Nay.” 

            “Sama-sama Mang. Semoga selalu sehat seterusnya ya Mang. Ayo Ibu-ibu saya duluan ya…” Bunda Nay bergegas ke rumahnya. Sebenarnya Bunda Nay malas belanja sayur jika sedang banyak ibu-ibu seperti tadi. Tapi dia sudah mencoba menunggu beberapa menit, ibu-ibu komplek masih saja ngobrol di depan gerobak Mang Karjo. Makanya dia terpaksa belanja sayur karena stok sayuran sudah habis di kulkasnya. 

            Biasanya dia memesannya via WA ke istri Mang Karjo dan Mang Karjo akan mengantarkannya ke rumah Bunda Nay. Namun beberapa pekan lalu istri Mang Karjo wafat. Menurut berita di WA grup RT, beliau wafat karena covid. Jadi mereka sekeluarga di isolasi selama 3 pekan sejak wafatnya sang istri. 

            Di awal Januari ini banyak hal yang membuat Bunda Nay bersedih. Ada banyak musibah yang terjadi. Musibah itu menimpa keluarganya, sahabatnya dan beberapa orang yang dia kenal. Demikian juga banyak musibah yang menimpa negeri ini. Jatuhnya pesawat, banjir, tanah longsor dan lainnya. Membuat Bunda Nay menjadi kehilangan energinya.

             Bersyukur dia selalu berusaha mengingat ada Allah Tempat Bergantung. Jadi  dia segera bangkit dari kesedihan. Allah sebaik-baik tempat berlindung, bergantung dan berserah diri. Karena Allah Maha Penyelamat. Allah Maha Segalanya. Jadi tak akan terjadi segala sesuatunya tanpa sepengetahuan dan seizin Allah. Bunda Nay meyakini ini bagian dari rahmat Allah untuknya, keluarganya, sahabatnya dan negeri ini. Bunda Nay memperbanyak shalat tobat. Memohon ampunan Allah. Dia mengajak keluarganya dan kita semua untuk melaksanakan shalat tobat di rumah masing-masing. Memohon ampunan Allah atas semua dosa-dosa kita. Semoga Allah mengampuni dosa kita dan mengijabah doa-doa kita. 

            Bersedih secukupnya, gembira pun seperlunya. Tetap berada di pertengahan. Allahu musta’an. Aamiin… 


Sunday, January 31, 2021

Selamat Jalan Sahabat


            “Innalillahi wainna ilaihi rajiun…” ucap Bunda Nay lirih. Badannya langsung lemas mendengar berita dari Bu Nur via telepon. Bu Nur mengabarkan bahwa sahabat mereka Bu Di baru saja wafat. Bunda Nay sangat terkejut mendengar berita itu. Mereka satu pengajian. Tadi pagi sahabatnya itu minta doa agar Allah mudahkan proses melahirkan puteranya yang ke empat. 

            “Ada apa Bun?” tanya Nanda ketika melihat Bunda Nay menahan tangis sambil memegang HPnya.

            “Teman Bunda wafat, sayang,” ucapnya lirih. Bunda Nay segera beristighfar dan menarik napas dalam berkali-kali. Setiap mendengar berita kematian, selalu membuat badannya menjadi lemas. Bukan hanya berita kematian, tapi berita orang sakit pun demikian. Seolah dia merasa dia yang sakit. 

            “Astaghfirullah al azhim wa atubu ilaih…” ucap Bunda Nay berulang kali sambil menarik napasnya. Karena ingin mengetahui lebih jauh tentang sahabatnya itu, Bunda Nay bergegas membaca chat di grup WA pengajian mereka. Chating ibu-ibu teman pengajiannya dan ustadzah tidak ada yang menjelaskan kronologi wafatnya sang sahabat.

            Ada yang mengatakan karena perdarahan saat melahirkan. Tapi kabar pasti belum sampai ke mereka. Membuat Bunda Nay tak yakin kalau sahabatnya itu sudah pergi. 

            “Minta tolong dipastikan dulu ke RT ibu ya bu,” demikian chat Bunda Nay ke temannya yang memberi informasi. Dia masih berharap kabar itu tidak benar. Sore itu hujan mulai turun. Januari memang musim hujan. Tapi sore ini terasa sangat kelabu. Bunda Nay terkenang kembali bahwa tadi pagi sebelum meminta doa agar mudah melahirkan itu, sang sahabat sudah menulis laproran kholas satu juz untuk hari sebelumnya. 

            Karena Bunda Nay yang mencatat laporan one day one juz di grup pengajiannya. Laporan itu direkap setiap hari Sabtu. Dan sahabatnya itu sudah melaporkan bahwa pekan lalu dia sudah berhasil membaca 7 juz selama sepekan. Alhamdulillah semenjak dia hamil dia tak pernah absen membaca al quran satu juz setiap hari. 

            “Ya Allah Bu Di, sungguh Allah menyayangimu. Aku yakin engkau syahid karena wafat saat melahirkan puteramu,” gumam Bunda Nay sambil menyeka air matanya. Dia tak bisa membendung lagi air matanya yang mengalir menganak sungai. 

            Nanda menyodorkan tisu ke Bundanya. Bunda Nay mengambil tisu dan menyeka air matanya yang terus saja mengalir. 

            “Allah… tempatkan sahabatku di tempat terbaik di sisiMu. Terimalah semua ibadahnya, ampuni dosanya dan lapangkan kuburnya. Jadikan Al Quran sebagai penerang kuburnya dan sebagai syafaat kelak dia di yaumil akhir. Hamba bersaksi bahwa sahabatku itu adalah orang yang sangat mencintai Al Quran.” Demikian doa Bunda Nay setelah beberapa waktu kemudian.

            Hujan makin deras mengguyur perumahan  Bidara Mas. Beberapa waktu kemudian Bunda Nay mendapat kabar pasti bahwa sahabatnya itu melahirkan putera yang sehat seberat 4000 gr. Setelah itu terjadi perdarahan. Bidan yang membantu melahirkan merujuk ke RS terdekat, tapi RS tidak ada yang bisa menerima kondisi sahabatnya karena dua RS yang mereka kunjungi penuh dengan pasien covid.

            Sahabatnya kehabisan darah di RS yang terakhir menerimanya. Sesungguhnya semua ini milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Allahu yarham untukmu sahabat, batin Bunda Nay. 

                                                

Thursday, January 28, 2021

Hikmah Dibalik Musibah Covid19


 

            Hari ini 6 Mai 2020. Sudah satu setengah bulan kami berada di rumah tanpa keluar rumah sama sekali. Hanya sampai halaman rumah dan itu juga untuk mendapatkan cahaya matahari pagi. Bapak Syifa masih bekerja selang sehari. Dia juga yang membeli semua keperluan rumah. Mulai dari sayur, lauk pauk hingga minyak goreng dan sabun mandi.

            Sejauh ini saya hanya ingin mengambil hikmah yang Allah berikan atas musibah ini. Karena saya meyakini bahwa Allah mengizinkan sesuatu itu terjadi lengkap dengan hikmahnya. Bisa jadi wabah ini hal yang kita benci, tapi ini yang terbaik untuk kita saat ini. Beberapa hikmah itu antara lain, Hikmal yang menjadi imam shalat bagi kami sekeluarga. 

            Saya biasanya shalat di rumah sendiri. Suami dan Hauzan shalat ke masjid ketika subuh, maghrib dan isya. Ketika wabah ini, Hikmal dan Syifa jadi kembali ke Bekasi. Sehingga kami bisa melaksanakan shalat subuh, maghrib dan isya berjamaah di rumah. Apalagi saat Ramadhan ini, Hikmal juga menjadi imam untuk shalat tarawih. Alhamdulillah..

            Hikmahnya, Hikmal bisa terus murajaah hapalan al qurannya, dan kami bisa menjalankan shalat berjamaah setiap hari. 

            Hikmah lain, kami jadi lebih rajin bersih-bersih. Anak-anak jadi lebih banyak membantu mengerjakan pekerjaan rumah. seperti menyapu, mengepel, mencuci pakaian, mencuci piring, dan menyikat kamar mandi. 

            Suami juga jadi lebih kreatif membuat keran air di dekat pintu pagar untuk mencuci tangan menggunakan sabun setiap kita masuk ke rumah. biasanya kami mencuci tangan menggunakan sabun hanya ketika akan makan atau ketika tangan benar-benar kotor. Tapi sekarang, setiap memegang sesuatu setelah dari luar rumah, maka kami segera mencuci tangan. Setiap belanja sayur, saya mencucinya pakai sabun pencuci piring. Biasanya hanya dengan air mengalir saja.

            Semoga hal ini bukan lebay ya. Hanya sebagai ikhtiar untuk mencegah penularan covid19 ini.

            Selain itu, suami jadi belajar membuat masker. Beliau memang suka menjahit, kami punya mesin jahit di rumah. Tapi sejak tiga pekan ini, suami jadi rajin membuat masker kain. Beliau melihat contoh pembuatan masker di yutub. Dari model segi empat hingga model masker yang oval seperti yang digunakan pengendara sepeda motor.

            Alhamdulillah sudah beberapa puluh lembar masker buatannya yang bisa kami gunakan untuk keluar rumah ketika mengambil manfaat sinar mentari pagi. Masih banyak hikmah lainnya yang insyaallah nanti akan saya lanjutkan menulisnya. Semoga dengan selalu berbaik sangka pada ketentuan Allah ini, kita makin dicintai dan mencintai Allah SWT. Aamiin…

 

 catatan : Postingan ini harusnya diposting Ramadhan th lalu. Maaf baru diposting karena lupa. ^_^ 


Wednesday, January 27, 2021

Isolasi Mandiri ( Maret 2020)


Bekasi 20 April 2020 

 

            Sejak bulan Januari 2020 sebuah wabah penyakit yang dinamakan wabah Korona mulai menjadi berita di seluruh dunia. Wabah itu ditemukan menyerang penduduk kota Wuhan, Tiongkok. Virus ini membuat lumpuh saluran napas pasiennya. Pasien yang tertular virus ini akan mengaami demam, batuk dan reak yang susah dikeluarkan hingga sesak napas.

            Makhluk kecil itu berkembang biak di paru-paru penderitanya. Sehingga alveoli paru tidak mendapatkan cukup oksigen yang membuat penderitanya kesulitan bernapas. Cara penyebaran virus ini pun sangat cepat melalui droplet. Ketika penderita bersin dan dia tidak menutup mulut dan hidungnya, maka cairan hidung dan air ludah yang dikeluarkannya melalui droplet bisa menulari orang lain.

            Banyak sekali penduduk Wuhan yang tidak tertolong karena begitu cepat penularannya. Sehingga pemerintah Tiongkok melalukan lockdown kota tersebut. seketika kota tersebut seperti kota mati yang tidak berpenghuni karena semua penduduk diwajibkan berada di dalam rumah mereka. 

            Awal maret lalu, penyakit ini sudah menulari beberapa orang di Indonesia dan negara lain. Beberapa jamaah umroh di Makkah dan Madinah juga terjangkit wabah ini. sehingga Hikmal dan teman-temannya yang saat itu sedang belajar di Madinah, harus segera kembali ke tanah air.

            Tanggal 16 maret 2020 Hikmal sampai di bandara Soeta. Kami menjemputnya dengan hati diliputi kecemasan. Cemas karena kamu harus datang ke bandara yang ditenggarai sebagai tempat penularan covid19 ini. Sebelum berangkat dari bandara Madinah saya sudah berpesan agar Hikmal mengenakan masker di sepanjang penerbangan. Agar hikmal sering-sering mencuci tangan dengan sabun. Jika tidak bisa, gunakan handsanitizer.

            Setelah bertemu, kami pun langsung belanja membeli kebutuhan selama sepekan. Ternyata di bandara Hikmal diminta mengisi form yang menyatakan dia harus melalukan isolasi mandiri selama 14 karena dia baru dari luar negeri. Hal ini diperlukan untuk mengantisipasi jika dia tertular covid19 selama di luar negeri.

            Isolasi mandiri pun kami mulai di rumah. Selama 14 hari saya melarang hikmal dan semua anggota keluarga kami untuk keluar rumah. Tapi suami masih harus keluar rumah karena beliau bekerja. Sementara hauzan sudah mulai libur karena dari sekolah juga sudah disuruh untuk tetap berada di dalam rumah selama 2 pekan.

            Alhamdulillah 2 pekan Karantina mandiri terlewati. Saya lega selama waktu itu kami semua sehat. Tapi ternyata karantina mandiri kami harus ditambah. Karena saat ini kasus covid19 di Jakarta dan Indonesia sudah makin bertambah. Jumlah pasien meningkat setiap hari. Hanya kepada Allah kami berlindung dan berserah diri. 

            Setiap hari terasa begitu lama. Semua aktivitas dilakukan di rumah. Bahkan shalat berjamaah sudah dilarang sejak tanggal 20 maret 2020. Entah kenapa, mendadak saya jadi paranoid terhadap semua orang. Rasa cemas kembali menghantui saya. Walau dulu rasa cemas itu sudah berkurang, tapi sebulan terakhir ini rasa cemas saya kembali muncul. 

            Tidur kembali tidak nyenyak. Rasa begah dan napas sedikit sesak kembali terasa. Saya memohon pada Allah agar menghilangkan rasa cemas saya. Saya harus bersyukur, keadaan saya lebih baik dari pada banyak orang di luar sana. Banyak orang yang tidak punya uang untuk makan karena mereka tidak bisa berjualan. Ada yang di PHK karena perusahan mereka terkena imbas dari wabah ini.

            Ya Allah… Hamba mohon ampun atas semua dosa. Rasanya tak bisa membayangkan keadaan orang lain yang kondisinya lebih buruk dibanding ketika keadaan normal tanpa wabah. Ya Allah… saat ini begitu terasa betapa kebebasan yang Engkau berikan sangat berharga. Hanya berdiam di rumah mengajarkan kami banyak hal. 

            Hikmahnya tentu saja bisa berkumpul bersama keluarga lebih banyak dari biasanya. Bisa melihat anak-anak melakukan pekerjaan rumah tangga dengan pembagian tugas dari mereka. Beberapa hari lagi Ramadhan menjelang. Semoga Allah meridhai kami untuk melaksanakan ibadah Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Aamiin…

 



Catatan :

Tulisan ini saya tulis april th 2020. Lupa posting saat itu. Semoga Allah segera menghentikan penyebaran virus covid19 ini. Aamiin.. stay save, stay at home, stay health ya sahabat. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan mengijabah doa-doa kita. aamiin... 

Thursday, January 7, 2021

Pangeran Muqtadir (Pangeran dan Putri Asmaul Husna)

                                                                 Pangeran Muqtadir

            Pangeran Muqtadir termenung di depan jendela istana. Dia memandangi langit yang masih mencurahkan hujan dengan deras. Sudah dua hari hujan tak berhenti. Dia khawatir dengan keadaan rumah masyarakat di kerajaannya. Apakah mereka baik-baik saja? Bagaimana jika rumah mereka terendam banjir? 

            Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran pangeran Muqtadir. Karena biasanya jika hujan tiada henti seperti dua hari ini, akan terjadi banjir di beberapa desa di kerajaan mereka. Biasanya desa yang terkena banjir adalah desa yang dekat dengan sungai. Banjir terjadi karena sungai meluap. 

            “Semoga saja tidak terjadi banjir,” doa Pangeran Muqtadir.

            Baru saja Pangeran Muqtadir selesai dengan doanya, tiba-tiba dua pengawal menghampirinya.

            “Maaf yang mulia, kamu ingin melaporkan, bahwa desa Kedak mengalami banjir yang cukup parah. Karena sungai meluap. Sebagian masyarakatnya sudah mengungsi. Sepertinya mereka tidak bisa kembali ke rumah mereka lagi. Karena rumah mereka sudah tersapu banjir bandang,” lapor salah satu pengawal istana.

            Pangeran Muqtadir terkejut mendengar laporan itu. Dia harus berpikir cepat untuk melakukan sesuatu. 

            “Panggil semua pejabat kerajaan, lalu sebarkan bantuan untuk penduduk yang kena musibah. Ajak mereka yang kehilangan rumah dan masyarakat lainnya untuk membangun rumah kembali bagi mereka di desa yang jauh dari sungai. Sebaiknya mereka tidak tinggal di dekat sungai lagi. Nanti daerah sekitar sungai akan ditanami berbagai pohon. Sungai itu nanti akan dikeruk agar bisa menampung air lebih banyak.” Perintah Pangeran Muqtadir.

            Para pengawal pun bergerak cepat. Mereka segera mengumumkan perintah pangeran kepada seluruh pejabat istana dan seluruh warga. Rakyat kerajaan Garut bahu membahu membantu korban banjir dan membangun kembali rumah untuk mereka.

                                                                        ***

 


Arti 

Muqtadir : Berkuasa. Allah Maha Berkuasa terhadap semua makhluknya. Kita pun bisa mencontoh nama Allah ini dengan cara menggunakan kekuasaan yang kita miliki untuk kebaikan. 


Wednesday, January 6, 2021

Pangeran Malik (Pangeran dan Putri Asmaulhusna)

 

Pangeran Malik

            Pangeran Malik berbaring di ranjangnya. Hari ini dia tidak ingin melakukan apapun. Dia ingin bermalas-malasan di tempat tidur. Kemarin dia seharian latihan memanah. Hari sebelumnya dia latihan berkuda. Sebelumnya lagi latihan berenang dan belajar di malam hari. Makanya hari ini dia ingin istirahat. 

            “Ah, enaknya nggak melakukan apa pun,” gumam Pangeran Malik sambil menarik selimutnya. Dia kembali memejamkan matanya.

            “Kakak, ayo kita main di luar,” terdengar suara Pangeran Syahdan memanggil di luar kamar. Pangeran Syahdan adalah adik Pangeran Malik.

            Pangeran Malik menarik selimutnya ke atas kepala. “Ah, kenapa Syahdan ngajak main, sih?” gumamnya kesal.

            “Ayo, main gundu, Kak,” tiba-tiba Pangeran Syahdan sudah berada di samping Pangeran Malik.

            “Kamu main sendiri aja. Kakak masih ngantuk, nih,” jawab Pangeran Malik dari balik selimutnya.

            “Ngak mau. Aku maunya main sama Kakak,” Pangeran Syahdan menarik selimut Pangeran Malik. 

            “Kakak capek. Kakak ingin istirahat dulu hari ini,” ujar Pangeran Malik memelas. Dia tahu, kemauan Syahdan pasti sangat kuat. Jika Syahdan menginginkan sesuatu, maka hal itu harus terwujud. Makanya tidak ada yang bisa menghentikan Pangeran Syahdan jika dia menginginkan sesuatu.

            “Ayo, Kak!” Pangeran Syahdan mulai merengek. Adiknya itu baru berusia lima tahun. Mungkin karena itu dia belum bisa dikasih pengertian. Pangeran Malik sangat kesal. Dia kembali menarik selimut yang sudah di tangan Syahdan. Hingga Syahdan terjatuh, lalu menangis.

            “Tuh, kan? Selalu menangis!” gerutu Pangeran Malik. Dia lalu duduk dan mendengus kesal. Rasanya ingin dia berteriak pada adik kecilnya itu. Pangeran Malik teringat pesan gurunya agar jika dia marah, dia harus segera istighfar dan menarik napas dalam lalu mengembuskannya.

            Pangeran Malik melakukan pesan gurunya itu. Setelah dia agak tenang, dia lalu membujuk Pangeran Syahdan untuk diam. Tiba-tiba dia teringat ucapan Bunda Ratu.

            “Kamu tahu sayang, kenapa Ayah dan Bunda menamakanmu dengan nama Malik? Agar kamu bisa mencontoh sifat Allah yaitu Maha Memiliki, Raja dari segala raja. Kami berdoa agar kamu mampu menguasai dirimu untuk berbuat kebaikan. Jika kamu ingin berbuat buruk, maka kamu akan segera menguasai dirimu agar kamu berbuat baik.”

            Pangeran Malik tersenyum. “Ayo kita main, Dik,” ajaknya pada Pangeran Syahdan. Mereka pun bermain di luar istana dengan gembira.

                                                                        ***

Arti dan Dalil

Al Malik artinya Allah adalah pemilik, raja yang memerintah seluruh alam semesta. Baik yang terlihat maupun tak terlihat. Allah-lah yang mengendalikan dan menguasai semua urusan makhluk. 

Dalil nya terdapat dalam al quran 

1.     Surah Thaha ayat 114

2.     Surah Al Mukminun ayat 116

3.     Surah Al Hasyr ayat 23

4.     Surah Al Jumuah ayat 1

Ketika kita ingin mencontoh sifat Allah Al Malik, maka hal yang harus kita lakukan adalah menjadi raja bagi diri sendiri. Maksudnya menguasai diri kita untuk selalu berbuat kebaikan. Ketika ada keinginan untuk malas belajar, ingin main terus dan malas melakukan hal-hal yang bermanfaat, maka lawanlah sifat itu. Kita adalah raja terhadap diri kita sendiri. Kita perintahkan kepada diri kita untuk selalu berbu

at kebaikan.