Thursday, October 29, 2020

Menenangkan Hati Yang Cemas Selama Pandemi

Saat wabah covid19 ini terjadi, perasaan pertama yang menghantui saya adalah rasa cemas, takut dan khawatir. Berbagai pemikiran yang belum tentu akan terjadi, mulai berkembang liar di kepala. Umumnya adalah pikiran buruk yang membuat jantung jadi lebih sering berdebar. Tidur malam jadi sering terbangun dan merasa cemas sepanjang hari.

            Rasanya sangat tidak nyaman. Saya berusaha menenangkan diri dengan berzikir, memperbanyak istighfar, membaca Al Quran agar hati menjadi tenang. Bersyukur Allah selalu mengingatkan saya tentang keberadaanNya. Saat cemas melanda, suatu hari saya mendengar ceramah seorang ustadz di media social. Beliau mengatakan jika kita masih saja cemas meski kita sudah sering berzikir, maka kita harus memperhatikan kembali zikir yang kita ucapkan.

            Sudahkah kita berzikir dari lubuk hati yang paling dalam. Sudahkah kita memohon ampun atas satu persatu dosa yang kita lakukan. Sudahkah kita menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah. Karena untuk seorang hamba nilai ketauhidannya kepada Allah masih diragukan jika dia tidak benar-benar menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah. 

            Ketika seseorang sakit, maka Allah yang akan menyembuhkan. Dia harus yakin itu, maka kesembuhan akan Allah hadirkan. Ketika musibah datang, itu pasti atas izin Allah, maka dia yakin Allah juga yang akan mengangkat musibah itu. Seorang hamba yang benar tauhidnya pasti sepenuhnya berserah diri pada Allah. Sehingga Allah pun hadir bersamanya.

            Seperti kisah Nabi Ibrahim yang dibakar oleh raja Namrudz. Nabi Ibrahim menyerahkan dirinya sepenuhnya pada pertolongan Allah. Sehingga Allah pun memerintahkan api menjadi dingin dan tidak membuat celaka Nabi Ibrahim. Saat ini, sikap itu yang wajib kita tanamkan dalam hati ketika rasa cemas, khawatir dan takut melanda. Bahwa Allah akan menjaga kita dari hal buruk. 

            Yang paling penting, kita segera bertobat atas semua dosa, memperbanyak istighfar memohon ampunan Allah. Dan berserah diri pada takdir dari Allah. Karena semua yang terjadi di muka bumi dan langit pasti atas izin Allah. Bahkan jika seekor nyamuk menggigit kita pun itu pasti karena izin Allah. 

Jadi hal ini yang harus kita tanamkan dalam hati kita. Bahwa hanya Allah tempat kita bergantung. Perbanyak mengingat Allah dan mohon ampunanNya. 

            Hanya dengan begitu hati kita menjadi lebih tenang menghadapi wabah ini dan musibah lainnya. Semoga Allah menjaga kita semua dari wabah covid19. Semoga Allah segera memerintahkan hambanya yang kecil itu untuk segera meninggalkan bumi ini. aamiin… 

 

Sunday, October 25, 2020

Thank's Mak Jampi

  “Umua baru 35 tapi bantuak urang umua 50,” gerutu Sutan Palindih pada Leni istrinya.  Leni tersedak, ia segera mengambil gelas yang sudah berisi air dan langsung meminumnya sampai habis. Malam itu mereka sedang makan malam. Entah ini kali keberapa suami Leni itu melontarkan kata-kata pedas seperti itu. Perempuan berdarah Minang ini menarik napasnya.

             Padahal tadi ketika suaminya pulang dari kantornya, tak ada pertengkaran diantara mereka. Begitu Leni mengeluh tentang ibu-ibu komplek perumahan mereka yang sering berutang di warungnya, ujung-ujungnya Sutan Palindih pasti akan melontarkan pernyataan yang sama. Mengomentari umurnya yang masih 35 tahun, namun terlihat seperti ibu-ibu yang sudah berumur 50 tahun.

             Leni bukannya tidak menyadari akan kekurangannya yang satu ini. Setiap habis mandi dan mematut diri di depan cermin, ia sedih melihat wajahnya yang dipenuhi noda hitam akibat penuaan dini. Badannya juga tidak selangsing dulu. Seperti sebelum ia menikah dengan Sutan Palindih. Tapi apa dayanya, kesibukannya mengurus 3 anaknya, rumah tangganya serta sebuah warung di depan rumahnya itu telah membuatnya lupa untuk merawat diri sendiri.

             “Ambo bukannyo ndak nio manjago badan Uda. Ambo sudah ikut senam di sanggar Mbak Andien. Ambo juga sudah beli bedak yang katanya membuat wajah lebih muda di salon Mbak Fatima. Tapi muka dan badan ambo masih saja seperti ini,“ sahut Leni lemah. Ia juga bingung kenapa usahanya untuk membuat badannya lebih langsing dan  membuat kulitnya lebih cerah selalu saja gagal.

“Tentu saja kau tidak berhasil, kau datang ke situ hanya sesekali saja. Bedaknya pun tak kau pakai tiap hari,” sembur Sutan Palindih. Leni semakin tersudut.

 

“Ambo sibuk di warung , makanya ambo tidak bisa ke sanggar itu tiap hari,“ Ia berusaha membela diri.

             “Semua orang juga sibuk, tapi kenapa mereka bisa menjaga badannya. Lagipula apa hubungannya kesibukan kau dengan memakai bedak? Memakai bedak saja kau tak rutin, bagaimana muka kau akan terlihat bersinar seperti si Fatima dan Si Andien itu,“ sahut Sutan Palindih geram, ia kesal sekali jika perkataannya disahuti istrinya seperti itu.

           “Baiklah Uda, besok Ambo ke sanggar Mbak Andien lagi,“ Leni mengalah. Ia tidak ingin ribut dengan suaminya. Ia selalu ingat pesan Apak ketika ia menikah dulu, “Suamimu yang bertanggung jawab terhadapmu dunia akhirat, jadi kau harus patuh padanya. Dia sudah menjadi tuanmu sekarang. Apak hanya ingin mendengar yang baik-baik saja dari kalian, tolong kau ingat itu.“

             Pernyataan Apak itulah yang membuat Leni mengikuti semua perintah suaminya. Apapun yang terlontar dari mulut sutan Palindih adalah titah baginya yang tidak akan pernah dilanggarnya. Banyak sudah perintah Sutan Palindih yang kadang tidak sesuai dengan keinginan Leni. Matanya menerawang mengingat perintah suaminya 5 tahun yang lalu.

 “Sebaiknya kau tidak usah bekerja lagi, kau urusi saja anak-anak di rumah,” pinta Sutan Palindih waktu itu. Walau kaget dengan permintaan itu, Leni memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai teller di salahsatu bank swastadi Jakarta.

        Setelah itu ia berkutat dengan rumah tangganya dan merawat anak-anaknya. Ia berusaha mencari kegiatan dengan membuka warung kecil di depan rumahnya. Sebenarnya Sutan Palindih keberatan jika Leni membuka warung.

“Lumayan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari dan menambah cicilan rumah Uda, lagi pula ambo bingung mau melakukan apa setelah anak-anak berangkat sekolah.” Demikian Leni beralasan. Sutan Palindih akhirnya setuju, dengan syarat ia tidak akan pernah melayani para pembeli.  

“Sebaiknya kau tutup saja warung itu,“ demikian perintah Sutan Palindih beberapa waktu lalu. Leni hanya diam, tidak mungkin itu dilakukannya. Ketika itu Sutan Palindih melihat nilai rapor anak-anak mereka merosot. Padahal Leni sudah meminta anaknya untuk les di rumah Ibu Nurmala, tetangga mereka.

          “Ibu Nur gimana sih, saya sudah bayar mahal-mahal, tapi nilai anak-anak saya masih saja rendah! Bu Nur mau dibayar berapa biar nilai anak saya jadi tinggi sih!” semburnya kepada Bu Nurmala. Leni mendatangi rumah Bu Guru itu sesaat setelah melihat nilai rapor anak-anaknya.

            “Uni, saya sudah mengajari anak Uni. Mereka anak pintar. Saya juga bingung kenapa nilai mereka jadi rendah?” Bu Nur memelas.

“Kalau mereka pintar harusnya mereka juara kelas dong!” sahut Leni sengit. Ia masih tidak terima dengan nilai anaknya. Ia merasa sudah mengeluarkan uang cukup banyak demi anak-anaknya itu.

“Sabarlah dulu Uni, mungkin kita bicarakan baik-baik dengan mereka. Saya pernah mendengar kalau Remon ingin Uni yang mengajarinya belajar. Waktu itu anak-anak Uni bercerita di sini. Kebetulan saya sedang di kamar mengambil buku latihan. Ketika saya kembali saya tak sengaja mendengar cerita mereka itu.” Jelas Bu Nur panjang lebar. Leni tertegun, mungkinkah anak-anaknya butuh perhatiannya?

 “Tapi kenapa mereka memilih cara ini untuk mendapatkan perhatianku,“ gumam Leni. Ia buru-buru berlalu dari rumah Bu Nur tanpa sepatah katapun. Bu Nur memandang kasihan melihat perempuan itu. 

                                                *****

            “Remon bangunlah Nak, sudah azan,“ Leni memangunkan sulungnya. Ia baru saja pulang dari pasar membeli sayuran untuk dijualnya kembali. Sebelum subuh diusahakannya untuk segera kembali ke rumah guna melakukan shalat subuh berjamaah di mushalla.

            “Hhh..., iya Mak,“ Remon mengeliat. Ia segera membuka matanya. Ia tidak mau membuat ibunya menjadi marah karena ia tidak mau bangun. Leni tersenyum, ia berjalan ke samping tempat tidur di sisi yang lain. “Doni, bangun Nak,” ujarnya sambil mengelus rambut Doni. Bungsunya mengeliat dan berganti arah tidur. Leni mengelus rambut Doni lagi. Kali ini disertai ciuman di kepala Doni. Doni mengeliat lagi. Ia merasakan dinginnya pipi ibunya yang sempat menyentuh telinganya tadi. Anak itu segera bangun dan mengucek matanya.

            “Kalian berwudhulah dulu, Amak mau membangunkan Weni ya,” Leni berjalan meninggalkan kamar kedua putranya itu. Kamar Weni di samping kamar Remon dan Doni. Leni membuka pintu kamar Weni, ternyata Weni sudah bangun dan sedang mengenakan mukenahnya. Leni tersenyum anak perempuannya itu untunglah sudah terbiasa dengan bangun subuh.

            “Ayo Doni, sudah azan tuh,” terdengar suara Remon memanggil adiknya. Beriringan mereka menuju pintu rumah. Leni, Sutan Palindih dan Weni sudah duduk menungu di teras rumah mereka.

            “Cepat pakai tangkelek[1] kalian,” perintah Sutan Palindih kepada kedua bocah itu. Mereka menggangguk dan segera mengenakan bakiak. Setelah itu mereka sekeluarga berjalan menuju mushalla yang tidak begitu jauh dari rumah.

            “Treng…treng.., treng.. treng…,” Koor bakiak mereka itu memecah kesunyian subuh. Sebagian warga komplek yang masih tertidur lelap. Suara itu seperti membelai tidur mereka.

            “Ondeh mandeh.. pakak talingo ambo!” tiba-tiba suara seseorang menghentikan langkah anak-beranak itu.  Serentak mereka menoleh ke rumah Uda Young yang berada di sebelah kanan mereka. “Apa kalian tidak bisa pakai sandal biasa saja!?“

            “Maksud Uda apo?“ sahut Leni bingung. Setiap hari mereka ke mushalla melewati rumah Young dan rumah warga lainnya, tak pernah ada komplen sebelumnya.

            “Suara bakiak kalian itu sudah membuat ambo tidak bisa tidur. Biasonyo Ambo diam se, kini Ambo dak tahan lai, pakak talingo ambo mandanga suaro tangkelek tu tiok subuah!”  Uda Young menghampiri mereka. Alisnya terangkat, keningnya berkerut , matanya melotot. Leni melihatnya seperti monster yang siap memakan keluarga mereka hidup-hidup.

            “Saba Uda , ancak wak sumbayang ka musajik dulu[2],” sutan Palindih menyabarkan Young yang masih bujangan walaupun umurnya sudah kepala 4 . Di tangan kanan Young masih terselip bantal guling. Sepertinya laki-laki perlente ini memang selalu rapi di manapun ia berada. Bahkan pagi itu ia masih saja mengenakan kaos bukan piyama.

             “Saba-saba! Ambo sudah bersabar selama ini! Setiap hari kalian anak beranak lewat jalan ini dengan suara bakiak itu! Apa kalian pikir ini jalan nenek moyang kalian !? Banyak yang terganggu dengan suara bakiak kalian. Mereka tak mengatakannya bukan karena mereka suka, tapi karena mereka tidak mau ribut samo kalian!” Udo Young benar-benar naik pitam. Ia baru pulang dari pekerjaannya jam 3 pagi. Ia belum tidur sama sekali, ketika ia mencoba untuk tidur, suara bakiak keluarga Leni mengusiknya. 

            “Eh Uda Young! harusnyo Uda bersyukur, kami sudah membangunkan Uda untuk shalat subuh. Jangan suka tidur kalau sudah subuh, nanti rejeki dipatuk ayam,” balas Leni sengit. Ia tidak terima dibentak-bentak seperti itu. Sejak kemarin ia ingin melampiaskan kekesalan karena sudah dimarahi suaminya. Kebetulan pagi ini ada yang ngajak berantam. Leni bisa melampiaskan kemarahannya itu.

            “Alah mah, dak lamak didanga urang,[3]“ Sutan Palindih menyabarkan istrinya. Ia tahu tabiat Leni, jika sudah marah pasti mulutnya merepet seperti petasan banting. Leni tak peduli lagi waktu dan tempat jika sedang marah. Memang kepada Sutan Palindih Leni tidak pernah membantah, tapi jika ada orang lain yang menyinggungnya dengan cara kasar seperti tadi, maka Leni akan membalasnya dengan kasar juga.

            Leni terdiam, perintah suaminya adalah titah baginya. Ia menundukkan wajahnya menahan semua amarahnya. Emang si Young ini gak bisa ngasih tau baik-baik apa, batinnya.

            “Maafkan kami Uda, besok kami tidak akan mengenakan bakiak ini lagi ke mushalla,“ Sutan Palindih menjabat tangan Young. Young sebenarnya sedikit syok dengan semburan Leni tadi. Dia tidak menyangka Leni bisa bicara segitu kerasnya. Untunglah suaminya segera menenangkan Leni. Young malu juga jika ada warga yang melihat  mereka bertengkar di kesunyian subuh ini. Bisa-bisa warga menuduhku beraninya sama perempuan aja, batin Young.

            “Ya sudah, ambo hanya berharap suara Bakiak itu jangan terlalu terdengar. Kan bisa berjalan tanpa harus menyeretnya,” jawab Young sambil membalikkan badannya. Ia ingin meneruskan tidurnya.

Sutan Palindih mengangguk setuju. Mereka pun berjalan menuju mushalla. Remon, Weni dan Doni sebenarnya tadi ketakutan. Mereka tak menyangka ibu mereka bisa sehisteris itu. Mereka bersembunyi dibelakang ayah mereka. Tapi ketika ibu mereka sudah terlihat tenang, mereka mulai mendekati Leni dan melanjutkan perjalanan ke mushalla.

            “Maafkan Ambo Da,“ Leni tertunduk di sepanjang perjalanan ke mushalla. Ia menyesal telah kehilangan kendali di depan anak-anaknya.

            “Di rumah saja nanti kita bicarakan,“ mereka masuk ke dalam mushalla dan segera melakukan shalat subuh berjama’ah yang sudah dimulai.

                                                            ****

“Uni Leni, ngapain pagi-pagi udah bengong..!“ suara Mak Jampi tetangganya membuyarkan lamunan Leni. Leni bingung dengan keputusannya semalam. Ia idak bisa meluangkan waktunya untuk senam dan merawat diri di salon kecantikan. Leni berpikir, jika ia pergi ke sanggar senam itu, siapa yang akan menjaga warungnya.

“Eh Mak Jampi…” Leni gelagapan. “Ini pesenan pinangnya,” Leni mengeluarkan bungkusan pinang yang di pesan Mak Jampi kemarin.

“Saya lihat Uni Leni lagi ada masalah ya,” tebak Mak Jampi. Wanita cantik dengan dandanan khasnya mengenakan kebaya encim ini dikenal warga sebagai ahli herbal. Mak Jampi telah banyak menyelesaikan masalah warga komplek Perumahan Bumi Makmur itu.

“Mending minta ramuan dari Mak Jampi saja Uni,” saran Ziah beberapa hari yang lalu. Tapi Leni belum sempat konsultasi ke rumah Mak Jampi. Padahal Mak Jampi sering menitip pinang padanya. “Untuk pasien saya, biar tambah keset,“ demikian ujar Mak Jampi setiap Leni bertanya untuk apa. Leni bingung apa maksud perkataan Mak Jampi itu. Tapi ia malas bertanya.

“Mak Jampi, boleh saya konsultasi gak, tapi kalo bisa di sini saja ya,” Tiba-tiba Leni berpikir harus berkonsultasi saat itu juga dengan Mak Jampi.

“Boleh, asal Uni Leni gak keberatan banyak orang yang mendengar masalah Uni,” Mak Jampi melirik ibu-ibu yang sudah berdatangan ingin membeli sayur.

“Hayo! Uni Leni mau konsul apa sama Mak Jampi?” tanya Ziah menyelidik. Gadis itu sering berutang di warung Leni. Leni tersenyum kecut. Tidak mungkin rasanya untuk berkonsultasi di antara penghuni komplek ini. “Nanti saya ke rumah Mak Jampi aja deh,“ putusnya.

 “Saya tunggu loh ya,” senyum Mak Jampi. Ia berlalu dengan membawa pinang pesanannya. Sebelumnya diserahkannya selembar uang sepuluh ribuan kepada Leni. Leni mengangguk,” iya Mak Jampi, ma kasih ya,” sahutnya sambil melayani Ziah yang minta dibungkuskan 1 ons cabe.

“Uni, pete-nya dua papan ya,” pinta Monika tang selalu berbelanja bersama Ziah. Leni menggangguk dan mengambilkan petai untuk Monika.

“Saya sudah Uni, tolong di hitung,“ Ziah memberikan semua sayuran yang sudah dipilihnya kepada Leni. Leni mengambil sayuran itu dan memasukkannya  ke dalam kantong kresek,“Semuanya sepuluh ribu,” ujarnya.

“Biasa ya Uni, dicatat dulu aja,” senyum Ziah sambil mengambil kantong belanjaannya.

“Ondeh mandeh Ziah... lah banyak utang kau, yang dulu belum dibayar. Kini mau ngutang lagi.“ Leni menarik kembali kantong belanjaan Ziah. Ia tidak mau Ziah berutang lagi hari ini.

“Uni, saya belum gajian. Minggu depan saya bayar deh…“ Ziah berusaha menenangkan Leni. Wajah Leni sudah memerah. Mulutnya maju dua senti. Hidungnya kembang kempis seperti banteng yang siap menyeruduk orang. Wanita yang selalu menutup kepalanya dengan selendang itu sudah siap menyemburkan kemarahannya.

“Dak bisa! Harus kau bayar sekarang, apa kau tak tahu, berapalah keuntungan ambo! Ambo harus memutar uang itu lagi untuk modal. Kalau kau berutang terus kapan ambo berangkat haji!“ Perempuan yang selalu mengenakan baju lengan panjang dan sarung batik itu, sudah tidak bisa mengendalikan emosinya. Ibu-ibu lain yang sedang berbelanja hanya mematung memperhatikan Ziah dan Leni.

“Lagi dapet kali,“ bisik salah satu dari mereka.

“Bukan.. pasti karena tadi pagi habis didamprat Uda Young,“ timpal yang lain.

“Aku kira karena habis dimarahi suaminya tuh,“ tebak yang berbaju merah. Ketiga perempuan itu cekikikan menebak apa penyebab kemarahan Leni pagi itu. Leni masih saja merepet membahas utang Ziah yang belum dibayarnya.

 Didampratnya Ziah habis-habisan. Ziah hanya tertunduk malu. Dia memang belum bisa membayar utangnya. Tapi kenapa Leni memakinya di depan orang banyak seperti ini?

“Iya Uni, nanti saya bayar. Sekarang saya benar-benar tidak ada uang,” sahut Ziah menahan malu. Ia bingung harus bagaimana.Tidak mungkin dia pulang begitu saja.  Mau balas menjawab, rasanya tak patut juga. Karena banyak sekali orang di sini.

“Sudahlah Uni Leni, pasti Ziah mau membayarnya besok,“ Monika menyabarkan Leni untuk membela Ziah. “Nanti saya akan  mengingatkannya.“ Kedua gadis ini memang bersahabat. Walau kadang seperti Tom and Jerry.

“Baiklah, Ambo tunggu sampai besok, jika besok tak kau bayar, Ambo ambil motor butut kau itu,“ ancam Leni. Ziah memang selalu mengendarai motor butut ke kantornya.

“Ih jangan motor saya dong Ni... Motor saya lebih mahal dari utang saya ke Uni.“ Ziah tak bisa membayangkan jika ia kehilangan benda berharga miliknya satu-satunya itu. Apalagi Leni terlalu lebay, jika menyita motornya demi utang yang hanya beberapa ratus ribu saja. 

“Nanti saya yang bayar kalo Mbak Ziah gak bayar Uni,“ sela Monika sambil mencubit pinggang Ziah. Ia berharap Ziah tidak memperpanjang urusannya dengan Leni.

“Kalau Monika mau jadi penjamin gini kan enak, ya udah ini bawa sayurnya. Nanti saya catat dan totalkan dengan utang yang lama ya,“ putus Leni dengan suara cemprengnya yang membuat ibu-ibu geleng-geleng kepala.  Kedua gadis itu menarik napas lega.

“Makasih Uni,” Monika segera menarik lengan Ziah untuk segera berlalu dari warung Leni.

“Monika! Kau tak belanja!“ teriak leni.

“Dak jadi Uni, ntar aja,“ Monika dan Ziah mempercepat langkahnya.

“Wajahnya sih biasa aja, suaranya... kayak petasan banting, bikin panas kuping aja,“ gerutu Ziah disepanjang jalan.

“Lagian ngapain kamu ladenin sih? Udah tau orangnya begitu, malah diladenin, mending kamu bayar aja deh utang kamu sama dia. Gak enak tadi tetangga pada ngeliatin kamu. Kayak kamu gak punya uang aja buat bayar.“ Monika mengomeli Ziah.

“Iya besok aku bayar, aku pikir dia lupa, kalo dia lupa kan aku gak perlu bayar.“

“Mana mungkin si Padang satu itu lupa. Dia mencatat semua utang warga di sini. Lihat saja catatan utang itu, gak pernah jauh darinya.” Mereka pun masuk ke rumah mereka masing-masing.

****

Siang itu Leni mendatangi rumah Mak Jampi, seperti yang dijanjikannya. Ia menutup warungnya yang agak sepi kalau siang hari. Biasanya jam segitu dimanfaatkannya untuk tidur siang setengah jam. Tapi karena masalahnya ini harus segera diselesaikan akhirnya ia merelakan jam tidur siangnya untuk berkonsultasi dengan Mak Jampi.

“Assalamualaikum... Mak Jampi...” Leni memanggil MakJampi dari halaman rumahnya.

“Walaikumsalam... mari silahkan masuk.“ Mak Jampi keluar menyambut tamunya. Leni tersenyum dan masuk ke dalam rumah Mak Jampi. Kebetulan siang itu tidak ada pasien lain yang sedang berkonsultasi dengan Mak Jampi.

“Mangga pinarak badhe ngersaaken menapa Jeng?” tanya Mak Jampi ketika Leni sudah duduk dihadapannya. Leni terdiam, walau sebenarnya ia malu mengatakan masalahnya, tapi ia harus melakukannya. Sebenarnya ia tidak mau mengunjungi Mak Jampi lebih kepada ia tidak mau masalahnya diketahui orang lain. Ia takut disebut sebagai istri yang membuka aib suaminya jika harus curhat kepada orang lain.

Jika ia ikut senam di sanggar senam Andien, itu hanya sekedar senam saja, ia tak pernah mengeluh kepada Andien kalau ia ingin kurus karena suaminya sudah komplen melihat bentuk badannya. Begitu juga ketika ia membeli bedak dan facial di salon Fatima, ia tidak pernah mengatakan kalau ia nyalon karena sudah dikomplen suaminya. Ia menyimpan sendiri masalah itu.

Tapi kini ia harus mengatakannya karena menurut para warga yang menggunakan jasa Mak Jampi, semua pasien harus menceritakan masalahnya agar Mak Jampi bisa mencarikan jalan keluar yang terbaik bagi permasalahan tersebut.

“Begini Mak Jampi,” Leni mulai bercerita tentang keluhannya. Semuanya diceritakannya tanpa satupun yang terlewat. ”Saya harap Mak Jampi bisa menyimpan cerita saya ini,” tutup Leni di akhir ceritanya.

“Baik Uni Leni, Insyallah rahasia Uni aman sama saya. Masalah Uni bisa terselesaikan dengan ramuan yang bisa Uni bikin sendiri di rumah. Ramuan ini bisa membuat Uni bertambah langsing dan juga kulit muka menjadi lebih cerah. Tapi Uni harus benar-benar menjalankannya. Insyaallah dua bulan Uni sudah melihat hasilnya.”

“Dua Bulan! Benarkah Mak Jampi?” Leni tak percaya mendengar penuturan Mak Jampi. Mudah-mudahan ini memang jalan keluar bagi permasalahannya.

“Begini, nanti Uni makan 5 buah apel dalam sehari. Selama 5 hari.  Setelah itu hari ke enam kurangi porsi apel menjadi 2 ditambah dengan 2 macam buah lainnya. Bisa anggur, pisang, pir, pepaya, melon atau buah yang Uni sukai. Pola makan Uni harus diubah menjadi, sarapan dengan 1 buah pisang, 1 apel, 1 iris melon. Jam 11 baru makan nasi. Atau sekalian aja jadi makan siang. Kurangi porsi nasi dari biasanya. Malam makan sebelum jam 7 hanya makan buah dan sayur saja. Minum air hangat sehabis makan makanan yang belemak.  Minum air putih harus 2 liter sehari,” jelas Mak Jampi panjang lebar. Ia mencatat semua yang disebutkan Mak Jampi itu.

“Hanya itu Mak Jampi!” Leni tak percaya. “Sepertinya gampang, mudah-mudahan saya bisa mengikuti saran Mak Jampi ini,” Leni menutup catatannya.

"Ohya, kalo uni mau, bikin rebusan air kunyit dan lemon. Lalu minum tiap pagi dan malam. Satu lagi, Uni harus ikhlas, ingatlah, suami Uni komplen itu bukan berarti dia benci, tapi karena dia sayang sama Uni, dia ingin Uni menjadi lebih baik dan lebih memperhatikan diri sendiri,” saran Mak Jampi diakhir konsultasinya.

“Terima kasih Mak Jampi, insyaallah akan saya ingat dan lakukan pesan Mak Jampi itu,” Leni pamit dan meninggalkan amplop yang sudah diisinya selembar uang seratus ribuan dari rumah.

Kalau ada masalah lain, pintu rumah saya terbuka lebar untuk Uni,” Mak Jampi tersenyum mengikuti langkah Leni yang sudah akan meninggalkan rumahnya.

          “Matur suwun rawuhipun, mugi-mugi Pangeran paring berkah dumateng panjenengan Jeng,” doa Mak Jampi untuk Leni. 

“Terima kasih juga Mak Jampi,” Leni meninggalkan rumah Mak Jampi dengan perasaan lega. Seolah ia baru melepas gunung dari pundaknya. Langkahnya benar-benar ringan menuju rumahnya.   

****

“Kita makan di sana saja,” Sutan Palindih menunjuk sebuah restoran bergaya betawi yang terletak di kawasan Kota Tua itu. keluarga mereka sedang menikmati liburan akhir pekan. Hal yang sudah lama tidak mereka lakukan.

Sudah 3 bulan berlalu dari semenjak Leni berkonsultasi dengan Mak Jampi. Semenjak itu  juga Leni rutin mengkonsumsi buah dan sayur yang disarankan Mak Jampi. Sedikit demi sedikit perubahan sudah terlihat di wajah dan badannya. Wajahnya sudah tidak begitu kusam lagi. Berat badannya juga sudah mulai turun meski baru 4 kilo. 

        Leni juga masih rajin senam di Sanggar Andien, dan tetap memakai produk perawatan wajah dari salon Fatima.

“Uni Leni sebaiknya mencari asisten untuk menjaga warung,” demikian pesan Mak Jampi padanya pada konsultasi berikutnya. “Uni terlalu lelah, sehingga Uni tidak menikmati hidup Uni. Uni Leni harus sering-sering keluar untuk rekreasi atau sekedar mencari udara segar. Jangan hanya berkutat di rumah saja.”

“Baiklah Mak Jampi, saya akan mencoba mencari asisten,” sahut Leni waktu itu. untung saja Geri adiknya bersedia tinggal bersamanya dan menjadi asistennya di warung. Geri baru saja menyelesaikan kuliahnya. Sambil mencari pekerjaan tak ada salahnya ia membantu kakaknya. Sutan Palindihpun setuju dengan keputusan Leni itu.

Masalah Leni satu persatu sudah berhasil diselesaikannya. Ternyata masalah itu datang dari dirinya sendiri, jika ia kembali memikirkan niat awalnya untuk menjadi ibu yang  baik bagi anak-anaknya, pastilah ia tidak akan mengalami masalah yang menurutnya rumit ini.

Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Ikhlas menjalani masalah yang menimpa kita, akan membuat masalah itu terselesaikan dengan mudah. Dia sekarang juga sudah tidak gampang marah lagi.

“Mau makan apa?” Sutan Palindih menyerahkan daftar menu yang berbentu foto dalam pigura itu kepada istrinya. Leni melihat foto artis terkenal luar negeri yang disodorkan suaminya. Sebenarnya mereka baru pertama kalinya ke restoran itu. Restoran yang bergaya betawi dengan berbagai ornamen khas betawi lainnya. Di setiap tiangnya ada beberapa foto artis luar negeri Tempo Doeloe. Berwarna hitam putih.

Di belakang foto itu ada pilihan menu dan harganya. “Lucu ya Mak,” Remon memperhatikan Bingkai Foto Menu itu.  

“Hah!Harganya mahal bana Uda!” pekik Leni. Mulutnya terngaga melihat harga segelas susu full cream seharga Rp 21. 500,- . Sutan Palindih buru-buru mengambil foto itu, diperhatikannya angka yang tertera di setiap menu.

“Salah masuak tampaik makan wak  mah[4],” suaranya bergetar. Wajahnya pucat pasi. Mereka berlima.  Jika harga susu saja 20 ribuan, berapa rupiah uang yang harus dikeluarkannya.

“Kalau gitu ambo dak usah makan lah.” Putus Leni.

“Mak, aku laper nih, ayo pesen sandwich aja,” rengek Doni. Anak itu sudah kelaparan dari tadi. Leni melirik harga sandwich,” Rp 50.400.- “ gumamnya. Leni memandang suaminya. Lalu beralih memandang anak-anaknya yang sudah tak sabar ingin makan. Matanya beralih ke pengunjung yang lain.

“Patuiklah maha, urang bule sadonya isi tampaik makan ko mah[5],” ucapnya ketika melihat disekelilingnya ternyata banyak bule dan keluarga mereka.

“Mahal ya Mak. Kalau gitu kita keluar aja yuk,” Remon seperti mengerti dengan kesulitan orangtuanya.

“Yah... kok keluar lagi, aku laper nih..!” rengek Doni dan Weni. Remon lalu membisikkan sesuatu di telinga kedua adiknya.

“Hah! Beneran Uda, ya udah Mak kita keluar aja,” kedua anak itu segera menarik lengan Leni dan Sutan Palindih.

“Kita pesan aja susu full cream ini dulu, gak enak keluar kalo gak mimun apa-apa,” putus Sutan Palindih. Iamemanggil pelayan. Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang. Dua gelas susu full cream . Remon dan kedua adiknya berebutan menghabiskan dua gelas susu itu.

“Yah.. gak ada rasanya!” Weni mengembalikan gelasnya. Wajahnya terlihat lucu. Leni tersenyum, ia sebenarnya ingin tertawa ketika melihat ekspresi Weni ketika meminum susu tanpa gula itu. “Namanya aja susu full cream sayang... ya gak manis lah,” senyum Leni sambil membelai rambut anak gadisnya itu. Setelah susu habis mereka segera meninggalkan restoran itu.

“Remon ngomong apa ke Doni? Kenapa Doni jadi gak mau makan?” tanya Leni ketika mereka memilih  makan di kaki lima yang  berada di samping restoran tadi.

“Aku bilang kalau makan yang ada di situ dicampur dengan daging babi Mak,” senyum Remon.

“Ondeh mandeh! Remon...Remon...” Leni dan Sutan Palindih tersenyum dan mengelus rambut putranya itu.

Ia senang bisa menikmati liburan bersama anak dan suaminya. Sekarang nilai anak-anaknya sudah kembali bagus. Ia memilih mendampingi anaknya ketika belajar. Karena warung sudah di pegang oleh Geri.

“Sebaiknya panjenengan minta maaf pada mereka,” saran Mak Jampi ketika Leni bercerita Uda Young , Ziah dan Bu Nurmala tiba-tiba tidak mau lagi berbelanja di warungnya.

“Begitu ya Mak Jampi, baiklah, tapi bagaimana caranya?” Leni gengsi jika harus datang ke rumah mereka.

“ Nanti rabu depan Uni Leni datang ke sini lagi ya. Saya akan mengajak Bu Nur, Uda Young, dan Ziah ke sini,” saran Mak Jampi. Leni menggangguk setuju.

Pada hari Rabu itu mereka berempat sudah berkumpul di rumah Mak Jampi. Leni yang merasa masih gengsi hanya mencuri pandang saja kepada ketiga orang yang pernah bersitegang dengannya.

“Ngapain juga si Padang satu ini ke sini?” batin Ziah. Dia tak sudi bertemu dengan orang yang sudah menghinanya di depan khalayak ramai. Demikian juga dengan Young. Dia malah tak melihat sama sekali kepada Leni. Kalau Bu Nur masih berusaha tersenyum kepada Leni meskipun sedikit dipaksakan.

“Maaf loh ya Mbak Ziah, Bu Nur, Uda young dan Uni Leni. Saya sengaja mengumpulkan kalian berempat di rumah saya agar kalaian bisa kembali seperti semula. Tidak diem-dieman kayak anak kecil,” ujar Mak Jampi langsung ke pokok masalah.

“Kok Mak Jampi tahu kami diem-dieman sama Uni Leni?” celetuk Ziah.

“Sebenarnya Uni Leni ingin minta maaf pada panjenengan semua, makanya saya sarankan di rumah saya saja,” jelas Mak Jampi dengan logat jawanya.

“Ya sudah, moggo salaman, dan saling memaafkan, tidak baik sesama saudara sendiri bermusuhan,” Mak Jampi menyolek pundak Leni.

“Eh iya... saya minta maaf atas sikap saya tempo hari ya,” ujar Leni gelagapan. Mukanya merah menahan malu.

“Sudah saya maafkan kok Uni,” Bu Nur memeluk Leni.

“Maafkan saya juga ya Uni Leni,” Ziah ikut memeluk Leni. Mereka bertiga berpelukan seperti Teletubbies .

“Ambo juga sudah memaafkan, apa perlu Ambo memeluk Uni Leni juga? Kalau perlu mari sini kita berpelukan...” canda Uda Young. Ia berjalan menuju ketiga perempuan yang sedang berpelukan itu.

“Eh gak usah Da, bukan muhrim,” teriak mereka serempak.

“Ah... Ambo kira boleh berpelukan,” seringai Uda Young. Mak Jampi, Leni, Ziah dan Bu Nur hanya tersenyum kecut.

            “Makasih ya Mak Jampi,” Leni memeluk Mak Jampi setelah dia mengucapkan terima kasih kepada Bu Nur, Ziah dan Uda Young. Mak Jampi tersenyum. Ia senang sudah berhasil lagi memecahkan masalah seseorang atau mungkin masalah beberapa orang, dalam sekali pertemuan.

 

  

 

[1] bakiak

 

[2] Sabar ya Uda, sebaiknya kita shalat ke masjid dulu

 

[3] Udah.. gak enak didengar orang

 

[4] “ Salah masuk restoran kita.”

 

[5] “Pantesan mahal, bule semua di restoran ini.”



naskah jadul tahun 07-08- 2011 

Sunday, October 18, 2020

Kisah Si Kembar Di TPA

Sore itu seperti biasa aku mengajar di TPA. Beberapa murid berlarian menghampiriku. Mereka menyalamiku dan memegang bajuku. Biasanya aku selalu mengajak mereka berdoa begitu aku masuk ke kelas. Mereka berebutan untuk duduk di sampingku.

            Biasanya kuajak mereka untuk berdoa sambil duduk melingkar. Setelah doa selesai, mereka kuminta untuk murajaah hapalan surah pendek yang sudah mereka hapal. Baru kami masuk ke kelas, jika murajaah selesai.

            Selanjutnya kelas pun dimulai. Anak-anak sudah meletakkan buku iqra’ mereka di depan mejaku sebagai tanda antrian. Jadi mereka bisa menulis bahan pelajaran dengan tenang tanpa khawatir mendapatkan urutan terakhir untuk membaca Iqra’

            Aku hanya perlu membaca nama di depan buku Iqra’ untuk memanggil anak yang sudah mengantri. Selanjutnya mereka akan datang satu persatu sesuai antrian. Jadi mereka bisa melakukan dua hal dalam waktu yang sama.

            Giliran membaca iqra’ pun berjalan sesuai antrian. Hingga antrian sampai kepada Rani. Rani membaca buku Iqra sesuai dengan halaman yang akan dibacanya yang tercatat di buku hijau catatan khusus untuk semua santri.

            Selanjutnya aku mendengarkan bacaan iqra’ satu persatu dari semua murid. Giliran Rini yang membawa buku iqra’nya padaku. Aku terkejut melihat di buku catatannya bahwa dia sudah membaca tadi. 

            “Rini tadi sudah baca iqra’ kan? Ini tanggalnya hari ini loh,” tanyaku sambil memperlihatkan buku kegiatan hariannya.

            “Belum bu,” jawabnya santai. Aku mengernyitkan dahi. Ini jelas sekali tertera di sini tanggal hari ini. tiba-tiba aku ingat dan langsung membuka halaman nama buku kegiatan tersebut. ternyata buku itu adalah milik Rani, kembaran Rini.

            “Ini punya Rani ya?” tanyaku sambil tersenyum. 

            “Iya, Bu,” jawabnya polos. Aku berusaha menahan tawa. Ya Allah… si kembar ini hampir membuatku kebingungan. Aku pun melanjutkan mendengar bacaan Iqra’ Rini.

            “Rini gak bawa buku Iqra’” tanyaku. Dia menggeleng.

            “Baik. Kita pinjam buku Rani hari ini aja ya. Besok Rini bawa buku iqra’ sendiri,” ujarku. Gadis kecil itu mengangguk sambil tersenyum. Kami pun melanjutkan pelajaran hari itu. Si kembar ini memang agak unik. Semoga kalian kelak menjadi gadis shalihah yang menjaga kehormatannya, keluarga dan agama. Aamiin…

 

                                    ***

Saturday, October 17, 2020

Apakah Anak Saya Sudah Pulang, Ummi?

Ba’da Maghrib, seperti biasa anak-anak mulai belajar mengaji di rumah. tidak butuh lama bagiku untuk mengajar 3 anak. Aku meminta mereka menulis salah satu surah pendek, sambil mengantri untuk membaca buku Iqra’. Sebelumnya aku menjelaskan kepada mereka tentang adab kepada orangtua dan guru serta teman-teman mereka.

            Setelah semua anak selesai mengerjakan tugas dan membaca Iqra’ mereka pun menutup kelas malam ini dengan doa kafaratul majlis. Biasanya mereka selesai sebelum azan isya berkumandang.

            “Langsung pulang ya, Nak.” Demikian pesanku kepada mereka ketika mereka keluar dari pintu rumahku. 

            “Tapi kami mau shalat di masjid dulu, Ummi,” jawab Farhan. 

            “Oh. Baik. Nanti setelah shalat, langsung pulang ya,” pesanku. Mereka mengangguk kompak. Setelah itu mereka berangkat ke masjid sambil mengayuh sepeda mereka. jarak rumah mereka dengan rumahku sekitar 300 meter. Jadi mereka memilih mengayuh sepeda ke rumahku. Sebelumnya, mereka mengendarai motor listrik untuk berangkat mengaji.

            Melihat mereka mengendarai motor listrik, aku jadi khawatir. Karena malam hari agak riskan bermain dengan motor mini itu. aku khawatir mereka ditabrak mobil atau motor yang lewat  di jalan depan rumah. apalagi motor mini mereka tidak dilengkapi lampu untuk penerangan. Bersyukur mereka mengerti keberatanku. Mereka akhirnya menggunakan sepeda untuk berangkat mengaji.

                                                                        ***

            Pukul 20.35 HP ku berdering. Kulihat nomor yang masuk adalah Ibunya Farhan. Kuterima telepon itu.

            “Ummi, anak-anak sudah selesai kan mengajinya?”

            “Sudah bun. Tadi waktu azan isya. Mereka langsung ke masjid katanya.”

            “Oh gitu ya Ummi. Tapi kenapa sampai sekarang Farhan belum di rumah ya?”

            Aku agak terkejut mendengar pertanyaan itu. Apakah anak-anak masih di masjid? Tapi ini sudah hampir pukul Sembilan. Shalat isya sudah selesai dari tadi. 

            “Mungkin mereka main dulu waktu pulang dari masjid tadi Bun. Moga sebentar lagi mereka sampai di rumah ya, Bun.” Begitu kalimat yang bisa kukatakan pada Bunda Farhan. Suara Ibu tiri itu Farhan itu terdengar sangat cemas.

            “Mungkin ya Ummi. Moga sebentar lagi mereka sampai di rumah. makasih ya Ummi,” wanita muda berusia sekitar 30 tahun itu pun menutup teleponnya. Aku berdoa dalam hati semoga Farhan segera sampai di rumah agar bundanya lega. 

            Sepuluh menit kemudian, aku menanyakan kabar Farhan melalui pesan WA. Ternyata dia sudah di rumah sekitar lima menit lalu. Aku bersyukur karena tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.

                                                            ***

Thursday, October 15, 2020

Belajar Dari Muridku

Aku sedang mengisi absensi siswa ketika beberapa murid mulai masuk ke kelas. Mereka berebutan untuk mendapatkan computer. Umumnya mereka terengah-engah karena berlari dari kelas mereka menuju ruang computer ini.

            “Hhh… capek!” ujar Karina sambil menyalamiku.

            “Karina lari ke sini?” tanyaku.

            “Iya Bu. Biar kebagian computer,” jawabnya sambil mengatur napas.

            “Insyaallah kebagian kok. Lain kali, jalan aja ya,” saranku. 

            Aku paham, awal kelas menulis ini dibuka dulu, banyak sekali murid yang ingin mengikutinya. Sehingga hanya sebagian murid yang bisa menggunakan computer untuk menulis cerita. Sebagian lainnya terpasksa menulis langsung di buku mereka.

            “Nanti kalau nggak kebagian gimana Bu?” tanyanya setelah mengisi absen kehadiran.

            “Insyaallah kebagian sayang. Kan yang ikut menulis sudah mulai berkurang. Hanya kalian yang masih bersemangat yang terus berada di kelas ini,” jawabku meyakinkannya. Karina tersenyum mendengar jawabanku. Tak lama setelah itu, beberapa murid pun datang dengan cara yang sama. mereka terengah-engah karena berlari dari kelas mereka menuju lab computer.

            Aku hanya bisa tersenyum menyaksikan tingkah mereka yang tetap bersemangat menyalamiku walau napas mereka terengah. Satu persatu mereka mulai mengisi absen kehadiran. 

            “Hhhh… lemes banget bu!” ucap seorang murid yang baru datang dengan senyum di wajahnya. Sama dengan teman-temannya, dia juga datang dengan napas yang memburu karena berlari menuju kelas.

            “Bawa minum nggak, Nak? Kalau ada, minum dulu aja biar nggak lemes,” saranku.

            Saat itu Lita sudah selesai mengisi absennya. Dia menjawabku dengan santai, “Nggak mau ah bu. Aku insyaallah puasa.” 

            Deg! Hatiku terasa ditampar. Murid yang ada di depanku ini masih kelas lima SD. Dan dia sedang puasa sunnah! Bagaimana denganku? Aku selalu berpikir hanya melakukan shaum sunnah di hari senin saja, karena hari senin jadwalku tidak sepadat hari kamis. Tapi dia? Tiap hari jadwal sekolahnya kan padat dari pagi hingga sore. Hari kamis seperti ini ada jadwal eskul juga. Dia masih melaksanakan shaum sunnah! Padahal dia masih SD dan belum balig! Ya Allah… aku menahan gerimis di wajahku. 

            “Hmmm… gitu ya? Tapi Lita kuat kan?” pertanyaan paling konyol meluncur dari mulutku.

            “Insyaallah kuat bu.”

            “Alhamdulillah… jadi tadi Lita lari dari lantai 2 ke sini?” 

            “Dari lantai satu Bu.”

            “Ya Allah… lain kali jalan aja ya.”

            “Kan takut nggak kebagian computer.”

            “Ntar ibu deh yang ngetag in computer untuk Lita.”

            “Beneran nih bu?” matanya membola menatapku.

            Aku mengangguk sambil tersenyum meyakinkan Lita. 

            “Oke. Makasih ya bu.” Dia pun mulai menyalakan komputernya. Sambil menunggu beberapa murid lagi, aku bertanya padanya. “Lita kalau hari senin juga shaum?”

            “Nggak Bu. Hari senin aku olah raga. Nggak kuat shaum.”

            Aku mengangguk setuju. Dia benar. Lebih baik shaum saat kelas menulis daripada saat jam olahraga. 

            “Nggak ngiler lihat yang lain ngemil?” aku menunjuk teman-temannya yang makan cemilan mereka sebelum kelas dimulai.

            “Alhamdulillah nggak bu. Kalau hari biasa kan aku juga bisa ngemil.”

            Aku tersenyum. Kumulai kelas menulis sore ini dengan membaca basmalah dan menjelaskan beberapa Teknik menulis kepada murid-muridku. Selanjutnya mereka melakukan latihan menulis sesuai dengan arahanku. Sambil memeriksa pekerjaan mereka, aku bersyukur Allah mengingatkanku melalui Lita. Terima kasih Lita, semoga ibu juga bisa shaum di hari Kamis sama sepertimu. 

                                                            ***

 

Saturday, October 10, 2020

Doa Seorang Anak

Hari ini seorang murid datang ke rumah untuk belajar mengaji. Awalnya karena aku menerima pesan Watsapp dari walinya bahwa Putera tidak bisa ikut TPA lagi karena dia sekolah siang. Baru pulang sekolah sore pukul 17.15. Aku menyarankan agar Putera tetap masuk ke TPA pulang sekolah walau telat. 

            “Kasihan dia Ustadzah, karena sudah kecapean pulang sekolah,” demikian alasan walinya padaku. Aku sedih ketika mendengar ada anak yang berhenti mempelajari Al Quran. Aku pun menawarkan diri agar Putera belajar Iqra’ di rumahku pagi hari. Karena Alhamdulillah aku bisa meluangkan waktuku di pagi hari setelah anak dan suamiku berangkat sekolah dan bekerja.

            “Kalau malam bisa nggak Ustadzah?” tanya sang wali. Lama aku baru menjawab pesan watsapp itu. aku harus bertanya dulu pada suamiku apa beliau mengizinkan aku mengajar seorang murid di rumah. Aku putuskan akan memberikan jawabannya setelah aku menadapat persetujuan suami.

            Alhamdulillah suamiku memberi izin untuk mengajar Iqra’ di rumah. Aku segera mengabari wali-nya Putera. Selanjutnya dia pun mulai datang ke rumah malam ini. Putera bungsuku sangat senang melihat ada teman sebayanya belajar mengaji di rumah. dia pun makin bersemangat untuk melancarkan bacaan Iqra’nya.

            Aku membuka pelajaran sebagaimana di TPA. Kami mulai dengan doa , belajar membaca Iqra’ , menulis hadist pendek dan murajaah surah pendek. Malam itu, pelajaran berlangsung dengan lancar, Alhamdulillah…

            Malam berikutnya, saat menjelaskan tentang adab kepada orangtua, Putera bertanya padaku. 

            “Aku pernah berdoa untuk mama dan papaku. Tapi Allah nggak mengabulkan doaku,” mulut mungil itu tiba-tiba mengejutkanku dengan pernyataannya.

            “Memangnya Putera berdoa tentang apa?” tanyaku sambil menatap matanya.

            “Aku berdoa agar mama dan papa membelikanku mainan.”

            “Hhhmmm gitu ya. Ummi rasa, Allah belum mengabulkannya saat ini. Mungkin besok atau besoknya lagi.”

            “Tapi sampai kapan? Kan aku bosan kalau lama banget menunggu.”

            “Sayang, doa yang Putera panjatkan pada Allah, bisa saja dikabulkan Allah dalam bentuk lain. Misalnya Allah memberikan kesehatan pada papa dan mama Putera. Allah jaga keluarga putra agar tidak sakit. Putera senang nggak kalau papa dan mamanya sakit?”

            “Nggak lah. Aku Sukanya mama dan papaku sehat.”

            “Nah, bagus sekali itu. Jika mama dan papa sakit, putera jadi nggak bisa main sama mereka kan?” 

            “Iya.”

            “Jadi artinya Allah mengabulkan doa Putera dengan menjadikan papa dan mama sehat agar bisa main sama Putera. Gimana? Putera masih mau berdoa kepada Allah nggak?”

            “Ooo gitu ya Ummi.”

            “Iya sayang.”

            “Mau lah. Aku mau terus berdoa pada Allah.” 

            Pelajaran malam ini pun ditutup dengan rasa puas di wajah Putera. Alhamdulillah…

            

                                                                        ***

 

 

 

Friday, October 9, 2020

Tangisan Anak Baru

“Ummi, itu murid yang baru masuk dibuli sama si Raja.” Anisa berlari menghampiriku. Saat itu aku sudah mulai memperhatikan bacaan Iqro yang dibaca salah satu muridku. Aku segera menatap Anisa dengan tatapan bingung. Seingatku tidak ada murid baru masuk hari ini. Tapi Anisa meyakinkanku bahwa ada murid baru di kelasku yang sedang menangis karena dibuli oleh kakak kelasnya alias temannya Anisa.

            “Cepetan Mi, kasihan itu!” suara Anisa terdengar khawatir.

           Aku segera berdiri. “Sebentar ya sayang, Ummi lihat dulu siapa yang menangis.” Pamitku pada Aga, murid yang sedang membaca Iqro’. Aku bergegas keluar masjid. Kulihat seorang anak laki-laki mengenakan gamis hijau sedang terisak. Sepertinya dia menangis sudah cukup lama. Aku memeluk anak itu. 

            “Ada apa sayang. Kenapa menangis?”

            “A a a ku dddilemmmpppar sssammma ddia,” ujarnya terbata. Sepertinya anak yang aku belum kenal namanya ini sedikit gagap. Aku menenangkannya dan mengajaknya ke kelas. Anisa dan beberapa murid lain mengikutiku. Kurasa wali kelas mereka belum datang. Jadi mereka belum mulai belajar.

            “Raja tuh M. Aku lihat dia yang melempar adik ini beberapa kali. Padahal adik ini sudah menangis. Dia bukannya berhenti malah makin membuat adik ini menangis,” gerutu Anisa. Sejenak aku bingung, apa yang harus kulakukan? Raja adalah salah satu murid kelas Zaid bin Tabit yang cukup keras sifatnya. Dia hampir selalu menjawab nasehat yang diberikan kepadanya. Dia seolah merasa paling benar. Dia tidak peduli kalau gurunya sedang memberikan nasehat padanya.

            Tapi aku harus tetap menemui Raja. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena kulihat anak yang bergamis hijau itu seperti masih trauma dan tidak berhenti menangis. Apalagi dengan kondisinya yang gagap saat bicara, kurasa dia tidak bisa menjelaskan detil kejadian yang membuat dia menangis. 

            Aku berdiri dan mencari Raja di luar masjid. Dia terlihat sedang bermain sama teman-temannya. Aku menghampiri mereka. Aku mengajak mereka bicara mengenai kejadian itu.

            “Raja , boleh Ummi tahu ceritanya tentang adik yang menangis itu?”

            “Dia yang duluan Mi!” Raja langsung menyerangku dengan kalimatnya. Aku menarik napas Panjang. Setelah meniupkannya perlahan, aku bertanya lagi pada raja dan temannya yang juga membela Raja. Mereka masih ngotot kalau mereka tidak bersalah. Mereka tidak mau menceritakan kronologi kejadian itu.

            Aku tidak bisa membuang waktu, ada banyak murid yang sedang menungguku untuk membaca Iqro’. Aku akan sudahi saja percakapan dengan Raja ini. 

            “Baiklah sayang. Ummi sebenarnya hanya ingin tahu masalah awalnya di mana. Tapi karena kalian tidak menjawab sesuai pertanyaan Ummi. Ummi hanya ingin mengingatkan satu hal kepada kalian. Ummi tidak marah pada kalian. Hanya satu pesan ibu,” aku menarik napas dan mengembuskan dengan kencang. Rasanya dadaku sesak melihat tingkah Raja yang merasa tidak bersalah. 

            Aku berdoa dalam hati, Ya Allah… tolong bukakan pintu hati raja untuk menerima kesalahannya.

            “Raja sayang, raja tahu kan kalau adik yang menangis tadi usianya jauh lebih kecil dari Raja? Kayaknya masih TK deh. Setahu Ummi, anak TK itu belum mengerti menjahili orang terlebih dahulu. Tapi jika pun benar dia bersalah, apa Raja tidak bisa memaafkan dia? Bukankah Allah dan RasulNya mencintai orang yang suka memaafkan?”

            “Enak aja aku memaafkan dia!” Raja tidak terima dengan nasehatku.

            “Baiklah. Kalau Raja tidak mau memaafkan adik itu, Ummi tidak bisa berbuat apa-apa. Karena Raja sudah tahu akibatnya kalau kita menyimpan kebencian di hati kita. Ummi hanya berdoa, semoga kelak tidak ada orang yang melakukan hal yang sama pada Raja. Tidak ada yang akan membuli Raja sampai kapan pun. Demikian juga doa Ummi untuk adik tadi. Semoga tidak ada lagi yang jahat pada dia. Tapi Ummi akan bersyukur sekali jika Raja mau minta maaf pada adik itu.”

            Aku pun meninggalkan Raja kembali ke kelasku. Aku melihat anak bergamis hijau itu sudah lebih tenang meski dia masih terisak. Aku membisikkan sesuatu ke telinganya.

            “Insyaallah kamu anak kuat. Nanti kita baca Iqro’ ya. Menangisnya sudah dulu ya?” Dia mengangguk sambil mengeluarkan buku tulis dan buku Iqro’nya. Aku kembali duduk di depan Aga dan melanjutkan menyimak bacaan Iqro’nya. 

            Lima belas menit kemudian, kulihat Raja menghampiriku. Dia menyodorkan tangannya sebagai permintaan maaf pada anak bergamis hijau. Maa Syaa Allah… air mata haru mengembun di pelupuk mataku. Allah mengabulkan doaku. Aku meraih tangan Raja dan menyodorkannya ke adik bergamis hijau. Adik bergamis hijau sepertinya masih belum bisa memaafkan Raja. Aku pun menggenggam tangan Raja.  

            “Alhamdulillah… Ummi bangga padamu, sayang. Terima kasih ya.” Aku memberikan senyum haru padanya. 

            “Tapi dia tidak mau memaafkan aku, Mi,” gerutunya.

            “Insyaallah adik itu sudah memaafkan Raja. Mungkin dia masih takut untuk menerima jabat tangan Raja, sayang.” Aku membelai kepala Raja. Sepertinya anak itu mengerti dengan perkataanku. Dia pun pamit kembali ke kelasnya.

                                                            ***