Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

    Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

       Saya lalu menutup mata kanan. Saya melihat dengan mata kiri saja. Tapi lingkaran cokelat bening tadi tidak ada di dinding. Berulang kali saya melihat dengan sebelah mata bergantian. Tetap saja mata kanan melihat lingkaran cokelat bening sebesar bola sepak dan mata kiri tidak seperti itu. Karena merasa tdak nyaman, akhirnya saya pun memeriksakan mata saya ke dokter mata.
     Dokter mata mengatakan bahwa ada masalah dengan saraf mata kanan saya. Beliau hanya menyarankan untuk mengurangi aktivitas saya hingga 50 persen. Hal ini disebabkan karena saya kecapean atau karena sres. Beliau memberikan vitamin mata. "Ibu hanya perlu istirahat," demikian saran dokter mata yang saya kunjungi.
      Saya pun mengikuti  saran dokter itu. Walau bingung mau mengurangi kegiatan yang mana. Saya terpaksa memutuskan tidak menulis apa pun untuk sementara waktu. Saya kuatir mungkin penyebab penyakit mata saya, salah satunya karena terlalu lama memelototi komputer. Apalagi saat mata saya seperti ini, saya agak susah menulis, karena semua huruf terlihat bergoyang. Jadi saya pikir saya tidak bisa menulis karena pasti akan banyak typo di sana sini. Sehingga konsentrasi menulis pasti buyar.
      Setelah istirahat seminggu, mata saya masih belum normal seperti semula. Saya mulai khawatir. Saya mencoba mencari di gugel tentang penyakit mata saya. Sayangnya saya tidak menemukan artikel yang saya cari. Yang ada, saya malah makin cemas karena beberapa artikel yang saya baca ada yang mengatakan gejala yang agak mirip dengan penyakit mata saya sebagai penyakit yang agak parah. Ditambah lagi seorang teman mengatakan mungkin saja itu penyakit glaukoma atau katarak.
      Karena kekhawatiran yang berlebihan itu, jari kaki dan tangan saya mulai kesemutan. Saya makin panik. Akhirnya saya memeriksakan diri ke dokter saraf. Saya pikir mungkin saja dokter saraf bisa menjelaskan penyakit saya. Dokter saraf yang saya pikir baik itu, menyarankan saya untuk cek darah dan serangkaian cek lainnya. Saya menyetujuinya karena saya ingin tahu ada apa dengan mata dan badan saya yang makin sering kesemutan di tangan dan kaki.
       Serangkaian pemeriksaan itu mulai saya jalani. Karena harus puasa dulu, untuk pengambilan sampel darah, saya pun disarankan untuk dirawat inap. Saya menurut. Selama rawat inap, saya menjalani pemeriksaan darah, EEG (Electro Encephalo Graphy) dan MRI (Magnetic Resonansi Imaging). Dulu sekali, ketika masih bekerja sebagai perawat, saya pernah mengantar pasien untuk menjalani pemeriksaan ini. Namun sekarang, saya sendiri yang menjalaninya. Saya jadi tahu bagaimana perasaan pasien ketika mereka memasuki ruangan pemeriksaan.
      Sayangnya sembari menjalani pemeriksaan itu, dokter saraf memberikan aneka obat saraf melalui suntikan ke tubuh saya. Karena saat itu beliau meminta saya untuk di-infus. Saat itu saya agak kecewa, karena hasil pemeriksaan laboratorium darah saya normal. Kenapa beliau masih memberikan obat yang nggak ada gunanya itu ke saya. Saya sudah berusah menolaknya. Tapi beliau mengatakan obat itu hanya vitamin (sejenis neurobion, saya lupa nama obatnya). Setelah semua hasil pemeriksaan itu diketahui, ternyata hasil EEG dan MRI juga normal. Dokter saraf menyarankan saya untuk konsul dengan dokter spesialis saraf mata.
      Saya makin kecewa kenapa nggak dari awal beliau menyarankan saya ke dokter spesialis saraf mata. Saya nggak tahu kalau ternyata ada dokter mata yang khusus menangani saraf mata. Kalau tahu dari awal, mungkin saya akan langsung memeriksakan mata saya kepada beliau. Apalagi dokter mata yang pertama saya temui tidak menyarankan saya ke dokter saraf mata. Makanya saya berpikir untuk ke dokter saraf biasa.
     Tapi mungkin Allah ingin saya memahami semua ini melalui proses yang berbelit. Saya pun akhirnya konsul ke dokter saraf mata. Ternyata j\hanya ada satu dokter saraf mata di Jakarta dan sekitarnya. Beliau hanya praktik di RS Mata Aini, Jakarta. Namanya Dokter Muhammad Sidik.
         Saya pun diantar perawat di RS Bekasi ke dokter Sidik. Di RS Aini, dokter Sidik meminta saya melakukan pemeriksaan saraf mata. Nama pemeriksaannya adalah OCT. Awalnya mata kanan saya ditetesi sejenis obat tetes mata. Rasanya perih di mata. Tapi perawat di klinik sudah memberitahukan terlebih dahulu kalau obat tetes mata itu perih.
      Beberapa menit kemudian baru mata saya diperiksa menggunakan alat OCT (Optical Coherence Tomograph). Cara kerja alat itu seperti sebuah kamera khusus yang tersambung ke komputer. Petugas yang memeriksa bisa melihat mata kita di layar komputer. Kita hanya diminta melihat ke sebuah gambar yang ada di dalam alat itu. Lalu fokus melihatnya sambil sedikit melotot tanpa berkedip. Petugas meminta untuk terus melihat sambil memotretnya. Petugas OCT  memotret (men-scan) beberapa kali untuk mengambil hasil scan terbaik dari saraf mata tersebut.
      Selesai pemeriksaan OCT, saya menunggu beberapa menit untuk mengambil hasilnya. Selanjutnya saya kembali ke dokter Sidik dengan membawa hasil pemeriksaan. Dokter sidik menjelaskan bahwa saraf mata saya mengalami pembengkakan karena infeksi. Saraf mata kanan saya itu terisi dengan cairan. Makanya saya melihat seperti melihat dibalik air. Beliau juga mengatakan kalau penyakit ini disebabkan karena stres yang berlebihan.
       "Biasanya penyakit seperti ini dialami laki-laki. Insyaallah mata ibu bisa kembali normal. Tapi ibu harus sabar, karena proses untuk mata ibu kembali normal cukup lama." jelas Dokter Sidik. Beliau lalu memberikan obat tetes mata dan vitamin mata sebagai obat mata kanan saya. Obat tetes mata itu gunanya untuk menyerap cairan yang menumpuk di saraf mata.
       Saya lega, akhirnya tahu penyakit saya. Insyaallah saya akan sabar menjalani proses kesembuhan mata saya. Saya sangat berterima kasih pada dokter Sidik yang sangat baik. Tentunya saya bersyukur pada Allah karena sekarang setelah tiga kali kontrol ke dokter Sidik, beliau mengatakan saraf mata saya sudah normal. Walau mungkin masih tersisa rasa sedikit tidak nyamam dalam penglihatan. Tapi insyaallah nanti akan normal kembali dalam beberapa hari atau minggu.
       Alhamdulillah yang dikatakan dokter Sidik benar. Saya sudah bisa kembali menulis sekarang. Huruf yang saya ketik sudah tidak bergoyang lagi. Walau masih tersisa sedikit rasa tidak nyaman ketika melihat jauh.Tapi saya sudah merasa mata kanan saya sudah kembali seperti semula. Terima kasih ya Allah. Terima kasih dokter Sidik. Semoga dokter selalu sehat dan bisa terus membantu pasien yang mengalami penyakit mata seperti saya. Semoga Allah memberikan balasan terbaik untuk dokter Sidik dan keluarga. Aamiin...
      
                                                               dokter Muhammad Sidik Spm
catatatn : Hari terakhir saya kontrol ke dokter Sidik, saya minta izin pada beliau untuk memotret beliau. Saya juga minta izin untuk berbagi pengalaman saya melalui postingan di blog. Untunglah beliau bersedia di foto. Beliau juga berterima kasih karena sudah difoto. Baik banget ya dokternya. ^_^

 Kalau ingin tahu tentang pemeriksaan OCT sila mampir ke sini
 Kalau ingin tahu tentang RS Mata Aini dan Dokter Sidik sila cek di sini

Comments

  1. sekarang gimana kondisi penglihatan mbak Nelfi? semoga sudah sehat ya.. duh mbak, saya juga takut nih, karena kondisi harian saya tinggi stres dan mata saya pun minus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk hasil OCT nya sudah normal Lia. Tapi masih sedikit kurang nyaman untuk melihat jauh. Jaga kesehatan aja Lia. Jangan terlalu capek dan stres. 😊

      Delete
  2. Pantas lama tidak muncul, Mbak Nelfi.
    Semoga matanya segera normal lagi dan nulis lagi ya, Mbak Nelfi.
    Semangat, Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... Makasih doanya mas Baim. Semangat! 😊

      Delete
  3. Makasih sudah berbagi Mbak Nelfi :), semoga ide-ide yang tertunda selama sakit....segera meluncur dengan mudah :)

    ReplyDelete
  4. Kalau sudha kecapean, lebih baik istirahatkan.. dari pada akan timbul masalah.


    Tips Kesehatan dan Kecantikan

    ReplyDelete
  5. Makasih mba, salam kenal daro saya fitri, atas rekomendasinya.. kmarin saya ke dr.sidik.. krna sblumnya saya ke dr. Spesialis mata yg di rujuk ke dr.saraf mata karena ada saraf yg membengkak. Saya gk tau sblumnya hrus ke dokter saraf mana yg bagus.. stelah daya ke dr. Sidik dokternya baik bgt. Senin saya kontrol lg dan ada sdikit tindakan.. mudah2an cpt sembuh ya sperti mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... Semoga cepat sembuh ya mbak fitri. Makasih sudah mampir. 😊

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. ^_^

Popular posts from this blog

Kejadian Aneh di Asrama

Summarecon Bekasi, Dekat di Hati