Sunday, October 18, 2020

Kisah Si Kembar Di TPA

Sore itu seperti biasa aku mengajar di TPA. Beberapa murid berlarian menghampiriku. Mereka menyalamiku dan memegang bajuku. Biasanya aku selalu mengajak mereka berdoa begitu aku masuk ke kelas. Mereka berebutan untuk duduk di sampingku.

            Biasanya kuajak mereka untuk berdoa sambil duduk melingkar. Setelah doa selesai, mereka kuminta untuk murajaah hapalan surah pendek yang sudah mereka hapal. Baru kami masuk ke kelas, jika murajaah selesai.

            Selanjutnya kelas pun dimulai. Anak-anak sudah meletakkan buku iqra’ mereka di depan mejaku sebagai tanda antrian. Jadi mereka bisa menulis bahan pelajaran dengan tenang tanpa khawatir mendapatkan urutan terakhir untuk membaca Iqra’

            Aku hanya perlu membaca nama di depan buku Iqra’ untuk memanggil anak yang sudah mengantri. Selanjutnya mereka akan datang satu persatu sesuai antrian. Jadi mereka bisa melakukan dua hal dalam waktu yang sama.

            Giliran membaca iqra’ pun berjalan sesuai antrian. Hingga antrian sampai kepada Rani. Rani membaca buku Iqra sesuai dengan halaman yang akan dibacanya yang tercatat di buku hijau catatan khusus untuk semua santri.

            Selanjutnya aku mendengarkan bacaan iqra’ satu persatu dari semua murid. Giliran Rini yang membawa buku iqra’nya padaku. Aku terkejut melihat di buku catatannya bahwa dia sudah membaca tadi. 

            “Rini tadi sudah baca iqra’ kan? Ini tanggalnya hari ini loh,” tanyaku sambil memperlihatkan buku kegiatan hariannya.

            “Belum bu,” jawabnya santai. Aku mengernyitkan dahi. Ini jelas sekali tertera di sini tanggal hari ini. tiba-tiba aku ingat dan langsung membuka halaman nama buku kegiatan tersebut. ternyata buku itu adalah milik Rani, kembaran Rini.

            “Ini punya Rani ya?” tanyaku sambil tersenyum. 

            “Iya, Bu,” jawabnya polos. Aku berusaha menahan tawa. Ya Allah… si kembar ini hampir membuatku kebingungan. Aku pun melanjutkan mendengar bacaan Iqra’ Rini.

            “Rini gak bawa buku Iqra’” tanyaku. Dia menggeleng.

            “Baik. Kita pinjam buku Rani hari ini aja ya. Besok Rini bawa buku iqra’ sendiri,” ujarku. Gadis kecil itu mengangguk sambil tersenyum. Kami pun melanjutkan pelajaran hari itu. Si kembar ini memang agak unik. Semoga kalian kelak menjadi gadis shalihah yang menjaga kehormatannya, keluarga dan agama. Aamiin…

 

                                    ***

Saturday, October 17, 2020

Apakah Anak Saya Sudah Pulang, Ummi?

Ba’da Maghrib, seperti biasa anak-anak mulai belajar mengaji di rumah. tidak butuh lama bagiku untuk mengajar 3 anak. Aku meminta mereka menulis salah satu surah pendek, sambil mengantri untuk membaca buku Iqra’. Sebelumnya aku menjelaskan kepada mereka tentang adab kepada orangtua dan guru serta teman-teman mereka.

            Setelah semua anak selesai mengerjakan tugas dan membaca Iqra’ mereka pun menutup kelas malam ini dengan doa kafaratul majlis. Biasanya mereka selesai sebelum azan isya berkumandang.

            “Langsung pulang ya, Nak.” Demikian pesanku kepada mereka ketika mereka keluar dari pintu rumahku. 

            “Tapi kami mau shalat di masjid dulu, Ummi,” jawab Farhan. 

            “Oh. Baik. Nanti setelah shalat, langsung pulang ya,” pesanku. Mereka mengangguk kompak. Setelah itu mereka berangkat ke masjid sambil mengayuh sepeda mereka. jarak rumah mereka dengan rumahku sekitar 300 meter. Jadi mereka memilih mengayuh sepeda ke rumahku. Sebelumnya, mereka mengendarai motor listrik untuk berangkat mengaji.

            Melihat mereka mengendarai motor listrik, aku jadi khawatir. Karena malam hari agak riskan bermain dengan motor mini itu. aku khawatir mereka ditabrak mobil atau motor yang lewat  di jalan depan rumah. apalagi motor mini mereka tidak dilengkapi lampu untuk penerangan. Bersyukur mereka mengerti keberatanku. Mereka akhirnya menggunakan sepeda untuk berangkat mengaji.

                                                                        ***

            Pukul 20.35 HP ku berdering. Kulihat nomor yang masuk adalah Ibunya Farhan. Kuterima telepon itu.

            “Ummi, anak-anak sudah selesai kan mengajinya?”

            “Sudah bun. Tadi waktu azan isya. Mereka langsung ke masjid katanya.”

            “Oh gitu ya Ummi. Tapi kenapa sampai sekarang Farhan belum di rumah ya?”

            Aku agak terkejut mendengar pertanyaan itu. Apakah anak-anak masih di masjid? Tapi ini sudah hampir pukul Sembilan. Shalat isya sudah selesai dari tadi. 

            “Mungkin mereka main dulu waktu pulang dari masjid tadi Bun. Moga sebentar lagi mereka sampai di rumah ya, Bun.” Begitu kalimat yang bisa kukatakan pada Bunda Farhan. Suara Ibu tiri itu Farhan itu terdengar sangat cemas.

            “Mungkin ya Ummi. Moga sebentar lagi mereka sampai di rumah. makasih ya Ummi,” wanita muda berusia sekitar 30 tahun itu pun menutup teleponnya. Aku berdoa dalam hati semoga Farhan segera sampai di rumah agar bundanya lega. 

            Sepuluh menit kemudian, aku menanyakan kabar Farhan melalui pesan WA. Ternyata dia sudah di rumah sekitar lima menit lalu. Aku bersyukur karena tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.

                                                            ***

Thursday, October 15, 2020

Belajar Dari Muridku

Aku sedang mengisi absensi siswa ketika beberapa murid mulai masuk ke kelas. Mereka berebutan untuk mendapatkan computer. Umumnya mereka terengah-engah karena berlari dari kelas mereka menuju ruang computer ini.

            “Hhh… capek!” ujar Karina sambil menyalamiku.

            “Karina lari ke sini?” tanyaku.

            “Iya Bu. Biar kebagian computer,” jawabnya sambil mengatur napas.

            “Insyaallah kebagian kok. Lain kali, jalan aja ya,” saranku. 

            Aku paham, awal kelas menulis ini dibuka dulu, banyak sekali murid yang ingin mengikutinya. Sehingga hanya sebagian murid yang bisa menggunakan computer untuk menulis cerita. Sebagian lainnya terpasksa menulis langsung di buku mereka.

            “Nanti kalau nggak kebagian gimana Bu?” tanyanya setelah mengisi absen kehadiran.

            “Insyaallah kebagian sayang. Kan yang ikut menulis sudah mulai berkurang. Hanya kalian yang masih bersemangat yang terus berada di kelas ini,” jawabku meyakinkannya. Karina tersenyum mendengar jawabanku. Tak lama setelah itu, beberapa murid pun datang dengan cara yang sama. mereka terengah-engah karena berlari dari kelas mereka menuju lab computer.

            Aku hanya bisa tersenyum menyaksikan tingkah mereka yang tetap bersemangat menyalamiku walau napas mereka terengah. Satu persatu mereka mulai mengisi absen kehadiran. 

            “Hhhh… lemes banget bu!” ucap seorang murid yang baru datang dengan senyum di wajahnya. Sama dengan teman-temannya, dia juga datang dengan napas yang memburu karena berlari menuju kelas.

            “Bawa minum nggak, Nak? Kalau ada, minum dulu aja biar nggak lemes,” saranku.

            Saat itu Lita sudah selesai mengisi absennya. Dia menjawabku dengan santai, “Nggak mau ah bu. Aku insyaallah puasa.” 

            Deg! Hatiku terasa ditampar. Murid yang ada di depanku ini masih kelas lima SD. Dan dia sedang puasa sunnah! Bagaimana denganku? Aku selalu berpikir hanya melakukan shaum sunnah di hari senin saja, karena hari senin jadwalku tidak sepadat hari kamis. Tapi dia? Tiap hari jadwal sekolahnya kan padat dari pagi hingga sore. Hari kamis seperti ini ada jadwal eskul juga. Dia masih melaksanakan shaum sunnah! Padahal dia masih SD dan belum balig! Ya Allah… aku menahan gerimis di wajahku. 

            “Hmmm… gitu ya? Tapi Lita kuat kan?” pertanyaan paling konyol meluncur dari mulutku.

            “Insyaallah kuat bu.”

            “Alhamdulillah… jadi tadi Lita lari dari lantai 2 ke sini?” 

            “Dari lantai satu Bu.”

            “Ya Allah… lain kali jalan aja ya.”

            “Kan takut nggak kebagian computer.”

            “Ntar ibu deh yang ngetag in computer untuk Lita.”

            “Beneran nih bu?” matanya membola menatapku.

            Aku mengangguk sambil tersenyum meyakinkan Lita. 

            “Oke. Makasih ya bu.” Dia pun mulai menyalakan komputernya. Sambil menunggu beberapa murid lagi, aku bertanya padanya. “Lita kalau hari senin juga shaum?”

            “Nggak Bu. Hari senin aku olah raga. Nggak kuat shaum.”

            Aku mengangguk setuju. Dia benar. Lebih baik shaum saat kelas menulis daripada saat jam olahraga. 

            “Nggak ngiler lihat yang lain ngemil?” aku menunjuk teman-temannya yang makan cemilan mereka sebelum kelas dimulai.

            “Alhamdulillah nggak bu. Kalau hari biasa kan aku juga bisa ngemil.”

            Aku tersenyum. Kumulai kelas menulis sore ini dengan membaca basmalah dan menjelaskan beberapa Teknik menulis kepada murid-muridku. Selanjutnya mereka melakukan latihan menulis sesuai dengan arahanku. Sambil memeriksa pekerjaan mereka, aku bersyukur Allah mengingatkanku melalui Lita. Terima kasih Lita, semoga ibu juga bisa shaum di hari Kamis sama sepertimu. 

                                                            ***

 

Saturday, October 10, 2020

Doa Seorang Anak

Hari ini seorang murid datang ke rumah untuk belajar mengaji. Awalnya karena aku menerima pesan Watsapp dari walinya bahwa Putera tidak bisa ikut TPA lagi karena dia sekolah siang. Baru pulang sekolah sore pukul 17.15. Aku menyarankan agar Putera tetap masuk ke TPA pulang sekolah walau telat. 

            “Kasihan dia Ustadzah, karena sudah kecapean pulang sekolah,” demikian alasan walinya padaku. Aku sedih ketika mendengar ada anak yang berhenti mempelajari Al Quran. Aku pun menawarkan diri agar Putera belajar Iqra’ di rumahku pagi hari. Karena Alhamdulillah aku bisa meluangkan waktuku di pagi hari setelah anak dan suamiku berangkat sekolah dan bekerja.

            “Kalau malam bisa nggak Ustadzah?” tanya sang wali. Lama aku baru menjawab pesan watsapp itu. aku harus bertanya dulu pada suamiku apa beliau mengizinkan aku mengajar seorang murid di rumah. Aku putuskan akan memberikan jawabannya setelah aku menadapat persetujuan suami.

            Alhamdulillah suamiku memberi izin untuk mengajar Iqra’ di rumah. Aku segera mengabari wali-nya Putera. Selanjutnya dia pun mulai datang ke rumah malam ini. Putera bungsuku sangat senang melihat ada teman sebayanya belajar mengaji di rumah. dia pun makin bersemangat untuk melancarkan bacaan Iqra’nya.

            Aku membuka pelajaran sebagaimana di TPA. Kami mulai dengan doa , belajar membaca Iqra’ , menulis hadist pendek dan murajaah surah pendek. Malam itu, pelajaran berlangsung dengan lancar, Alhamdulillah…

            Malam berikutnya, saat menjelaskan tentang adab kepada orangtua, Putera bertanya padaku. 

            “Aku pernah berdoa untuk mama dan papaku. Tapi Allah nggak mengabulkan doaku,” mulut mungil itu tiba-tiba mengejutkanku dengan pernyataannya.

            “Memangnya Putera berdoa tentang apa?” tanyaku sambil menatap matanya.

            “Aku berdoa agar mama dan papa membelikanku mainan.”

            “Hhhmmm gitu ya. Ummi rasa, Allah belum mengabulkannya saat ini. Mungkin besok atau besoknya lagi.”

            “Tapi sampai kapan? Kan aku bosan kalau lama banget menunggu.”

            “Sayang, doa yang Putera panjatkan pada Allah, bisa saja dikabulkan Allah dalam bentuk lain. Misalnya Allah memberikan kesehatan pada papa dan mama Putera. Allah jaga keluarga putra agar tidak sakit. Putera senang nggak kalau papa dan mamanya sakit?”

            “Nggak lah. Aku Sukanya mama dan papaku sehat.”

            “Nah, bagus sekali itu. Jika mama dan papa sakit, putera jadi nggak bisa main sama mereka kan?” 

            “Iya.”

            “Jadi artinya Allah mengabulkan doa Putera dengan menjadikan papa dan mama sehat agar bisa main sama Putera. Gimana? Putera masih mau berdoa kepada Allah nggak?”

            “Ooo gitu ya Ummi.”

            “Iya sayang.”

            “Mau lah. Aku mau terus berdoa pada Allah.” 

            Pelajaran malam ini pun ditutup dengan rasa puas di wajah Putera. Alhamdulillah…

            

                                                                        ***

 

 

 

Friday, October 9, 2020

Tangisan Anak Baru

“Ummi, itu murid yang baru masuk dibuli sama si Raja.” Anisa berlari menghampiriku. Saat itu aku sudah mulai memperhatikan bacaan Iqro yang dibaca salah satu muridku. Aku segera menatap Anisa dengan tatapan bingung. Seingatku tidak ada murid baru masuk hari ini. Tapi Anisa meyakinkanku bahwa ada murid baru di kelasku yang sedang menangis karena dibuli oleh kakak kelasnya alias temannya Anisa.

            “Cepetan Mi, kasihan itu!” suara Anisa terdengar khawatir.

           Aku segera berdiri. “Sebentar ya sayang, Ummi lihat dulu siapa yang menangis.” Pamitku pada Aga, murid yang sedang membaca Iqro’. Aku bergegas keluar masjid. Kulihat seorang anak laki-laki mengenakan gamis hijau sedang terisak. Sepertinya dia menangis sudah cukup lama. Aku memeluk anak itu. 

            “Ada apa sayang. Kenapa menangis?”

            “A a a ku dddilemmmpppar sssammma ddia,” ujarnya terbata. Sepertinya anak yang aku belum kenal namanya ini sedikit gagap. Aku menenangkannya dan mengajaknya ke kelas. Anisa dan beberapa murid lain mengikutiku. Kurasa wali kelas mereka belum datang. Jadi mereka belum mulai belajar.

            “Raja tuh M. Aku lihat dia yang melempar adik ini beberapa kali. Padahal adik ini sudah menangis. Dia bukannya berhenti malah makin membuat adik ini menangis,” gerutu Anisa. Sejenak aku bingung, apa yang harus kulakukan? Raja adalah salah satu murid kelas Zaid bin Tabit yang cukup keras sifatnya. Dia hampir selalu menjawab nasehat yang diberikan kepadanya. Dia seolah merasa paling benar. Dia tidak peduli kalau gurunya sedang memberikan nasehat padanya.

            Tapi aku harus tetap menemui Raja. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena kulihat anak yang bergamis hijau itu seperti masih trauma dan tidak berhenti menangis. Apalagi dengan kondisinya yang gagap saat bicara, kurasa dia tidak bisa menjelaskan detil kejadian yang membuat dia menangis. 

            Aku berdiri dan mencari Raja di luar masjid. Dia terlihat sedang bermain sama teman-temannya. Aku menghampiri mereka. Aku mengajak mereka bicara mengenai kejadian itu.

            “Raja , boleh Ummi tahu ceritanya tentang adik yang menangis itu?”

            “Dia yang duluan Mi!” Raja langsung menyerangku dengan kalimatnya. Aku menarik napas Panjang. Setelah meniupkannya perlahan, aku bertanya lagi pada raja dan temannya yang juga membela Raja. Mereka masih ngotot kalau mereka tidak bersalah. Mereka tidak mau menceritakan kronologi kejadian itu.

            Aku tidak bisa membuang waktu, ada banyak murid yang sedang menungguku untuk membaca Iqro’. Aku akan sudahi saja percakapan dengan Raja ini. 

            “Baiklah sayang. Ummi sebenarnya hanya ingin tahu masalah awalnya di mana. Tapi karena kalian tidak menjawab sesuai pertanyaan Ummi. Ummi hanya ingin mengingatkan satu hal kepada kalian. Ummi tidak marah pada kalian. Hanya satu pesan ibu,” aku menarik napas dan mengembuskan dengan kencang. Rasanya dadaku sesak melihat tingkah Raja yang merasa tidak bersalah. 

            Aku berdoa dalam hati, Ya Allah… tolong bukakan pintu hati raja untuk menerima kesalahannya.

            “Raja sayang, raja tahu kan kalau adik yang menangis tadi usianya jauh lebih kecil dari Raja? Kayaknya masih TK deh. Setahu Ummi, anak TK itu belum mengerti menjahili orang terlebih dahulu. Tapi jika pun benar dia bersalah, apa Raja tidak bisa memaafkan dia? Bukankah Allah dan RasulNya mencintai orang yang suka memaafkan?”

            “Enak aja aku memaafkan dia!” Raja tidak terima dengan nasehatku.

            “Baiklah. Kalau Raja tidak mau memaafkan adik itu, Ummi tidak bisa berbuat apa-apa. Karena Raja sudah tahu akibatnya kalau kita menyimpan kebencian di hati kita. Ummi hanya berdoa, semoga kelak tidak ada orang yang melakukan hal yang sama pada Raja. Tidak ada yang akan membuli Raja sampai kapan pun. Demikian juga doa Ummi untuk adik tadi. Semoga tidak ada lagi yang jahat pada dia. Tapi Ummi akan bersyukur sekali jika Raja mau minta maaf pada adik itu.”

            Aku pun meninggalkan Raja kembali ke kelasku. Aku melihat anak bergamis hijau itu sudah lebih tenang meski dia masih terisak. Aku membisikkan sesuatu ke telinganya.

            “Insyaallah kamu anak kuat. Nanti kita baca Iqro’ ya. Menangisnya sudah dulu ya?” Dia mengangguk sambil mengeluarkan buku tulis dan buku Iqro’nya. Aku kembali duduk di depan Aga dan melanjutkan menyimak bacaan Iqro’nya. 

            Lima belas menit kemudian, kulihat Raja menghampiriku. Dia menyodorkan tangannya sebagai permintaan maaf pada anak bergamis hijau. Maa Syaa Allah… air mata haru mengembun di pelupuk mataku. Allah mengabulkan doaku. Aku meraih tangan Raja dan menyodorkannya ke adik bergamis hijau. Adik bergamis hijau sepertinya masih belum bisa memaafkan Raja. Aku pun menggenggam tangan Raja.  

            “Alhamdulillah… Ummi bangga padamu, sayang. Terima kasih ya.” Aku memberikan senyum haru padanya. 

            “Tapi dia tidak mau memaafkan aku, Mi,” gerutunya.

            “Insyaallah adik itu sudah memaafkan Raja. Mungkin dia masih takut untuk menerima jabat tangan Raja, sayang.” Aku membelai kepala Raja. Sepertinya anak itu mengerti dengan perkataanku. Dia pun pamit kembali ke kelasnya.

                                                            ***



Thursday, October 8, 2020

Selamat Datang Ummi

 

            “Ibu mengajar di kelas Saad bin Abi Waqqash ya. Karena kelas itu muridnya banyak sementara hanya ada satu guru yang mengajar di sana.” Demikian instruksi dari kepala sekolah TPA tempat ku mengajar. 

            Sore itu aku baru saja dites sebagai tenaga pengajar di TPA ini. Tentu saja aku sangat gugup. Dulu, aku juga pernah mengajar di TPA ini, tapi aku resign ketika hamil putera ke tiga. Setelah usia puteraku tujuh tahun, aku disarankan oleh ustadzah yang mengajariku Tahsin untuk mengajar di TPA kembali.

            Jadilah sore ini aku di sini. Melewati serangkaian tes seperti wawancara kerja pada umumnya. Aku gugup karena sudah lama tidak mengajar. Apalagi kali ini muridnya tambah banyak dan kelasnya juga bertambah. Waktu ternyata cepat berlalu. 

            Selesai tes, aku langsung diajak Bu Kepsek ke kelas Saad bin Abi Waqash. Aku memperkenalkan diriku dan selanjutnya belajar mengajar pun dimulai. Kelas yang menjadi tanggung jawabku kali ini adalah kelas lanjut. Anak-anak di kelas ini umumnya sudah hapal tiga perempat Juz Amma. Mereka juga sudah membaca Al Quran, bukan Iqro’.

            Setelah berkenalan dengan rekanku dan semua murid, pelajaranpun berlanjut. Sebagian anak mulai mengantri membaca Al Quran di depanku untuk aku simak bacaan mereka. Mereka sudah selesai mengerjakan tugas menulis hadist di buku tulis. Bagi anak yang sudah membaca dan menulis di buku, boleh bermain di halaman masjid. Mereka bermain hingga aku dan rekanku menyelesaikan menyimak bacaan Al Quran semua murid. 

            Waktu pulang pun tiba. Semua murid sudah selesai membaca Al Quran. Aku memperhatikan rekanku menutup kelas sore itu. Kuharap besok aku sudah memahami cara memulai kelas dan menutup kelas.

                                                ***

            Hari ini kelas dimulai. Rekanku ternyata belum datang, sementara jam pelajaran sudah harus dimulai. Aku pun membuka kelas dengan mengajak semua murid membaca doa seperti yang mereka lalukan kemarin. Kelas pun dimulai dengan menjelaskan sebuah hadist kepada semua siswa. Aku menulis sebuah hadist pendek tentang berbuat baik kepada orangtua di papan tulis. Kuminta semua siswa untuk menyalin di buku tulis mereka sebanyak 10 kali. 

            Sebagian anak mulai menulis, sedangkan sebagian lagi mulai mengantri di depanku. Aku mulai menyimak bacaan Al Quran mereka satu persatu. Hingga tak terasa waktu pulang pun tiba. Beberapa anak perempuan tiba-tiba menghampiriku sebelum kami mulai melantunkan doa penutup.

            Mereka menyodorkan sebuah buket bunga yang cantik kepadaku. “Ini buat Ummi sebagai ucapan selamat datang dari kami. Semoga Ummi betah mengajar kami ya.”

            Ya Allah… air mata haru merebak di pelupuk mataku. Aku tersenyum haru menerika buket bunga itu. buket bunga bougenville berwarna ungu, merah dan putih diletakkan di sebuah gelas air mineral bekas. Buket itu sangat cantik secantik anak-anak yang memberikannya padaku.

            “Terima kasih sayang. Insyaallah Ummi akan selalu bersama kalian di sini. Semoga kalian nggak bosan ya.” 

            Selanjutnya aku pun mengajak mereka membaca doa penutup majelis pada sore hari ini. Subhanakallahumma, wabihamdika, asyhadu anla ila ha illa anta, astaghfiruka atubu ilaik…


             

 

 

 

Tuesday, October 6, 2020

Untuk Seorang Sahabat Yang Kini Telah Tiada

Meri demikian nama yang diberikan orangtuaku padaku. Aku lahir 39 tahun silam.             

Aku bukanlah dari keluarga mampu. Bapakku seorang buruh kasar penganggut barang belanjaan di pasar. Sedangkan ibuku seorang pembantu rumah tangga. Aku anak ke 4 dari 6 bersaudara. Meskipun hidup kami pas-pasan, tapi kedua orangtuaku mewajibkan kami untuk sekolah. Alhamdulillah 5 orang saudaraku berhasil menyelesaikan SMA mereka. Saat ini mereka semua sudah mapan dan hidup bahagia bersama keluarga mereka masing-masing.

              Lain halnya denganku. Aku tidak seberuntung saudara-saudaraku. Aku tidak berhasil menamatkan Sekolah menengah Pertamaku. Bukan karena aku bodoh atu karena orang tuaku tidak mampu membiayai sekolahku. Tapi lebih karena ada sebuah ujian dari Allah yang menimpaku sewaktu aku berusia remaja. Ujian ini membuatku minder dan malu untuk melanjutkan sekolahku.

Mendapat Ujian Kehidupan

Ketika SMP, aku mendapat ujian dari Allah. Benjolan sebesar kelereng tumbuh di kakiku. Jika dipegang, benjolan itu tidak sakit. Tapi jumlahnya bertambah, yang tadinya hanya kutemukan di kaki kananku, sekarang muncul lagi di kaki kiriku. Setahun kemudian benjolan itu juga muncul di lengan kiri dan kananku serta di leherku. Benjolan yang tadinya sebesar kelereng itu lama-lama bertambah besar hingga sebesar bola pingpong. Karena semakin banyaknya benjolan ini bermunculan, sehingga membuatku merasa rendah diri. Apalagi ketika benjolan itu terlihat oleh teman-temanku. Mereka akan mengolokku dengan sebutan ‘manusia seribu telur’. Sejak itu aku memutuskan untuk berhenti sekolah. Aku malu dengan keadaanku
           Orangtuaku tidak diam saja. Mereka berusaha mengobatiku. Berbagai pengobatan telah kucoba. Mulai dari obat puskesmas, hingga obat kampung atau yang lebih dikenal dengan alternatif.  Dokter puskesmas merujukku ke rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan, kesimpulan dokter aku menderita tumor jinak yang mereka sebut dengan Lipoma. Karena tumor itu cukup banyak dan mulai menggangguku maka mereka menyarankan operasi. Orangtuaku bingung harus mencari biaya dari mana.
            "Tak usah dioperasi juga tak apa Mak," ujarku pada ibu waktu itu. Aku tidak tega melihat wajah tuanya terlihat binggung memikirkan penyakitku. Apalagi bapak juga sakit-sakitan. Beliau sering sekali batuk. Belakangan ini batuknya semakin parah. Aku tidak tega melihat kondisi bapak. Dengan kondisi seperti ini, bapak kadang berangkat ke pasar untuk menjadi buruh angkut. Kadang tidak.

          ”Tak ada yang nak pakai tenaga saya,” ujarnya sedih. Mungkin orang-orang itu enggan menyuruh bapak karena beliau sakit-sakitan. Jika sudah begini maka secara tidak langsung keuangan keluarga kami juga berkurang. 

              Aku memutuskan untuk membantu ibu bekerja. Tak kuhiraukan penyakitku ini. Aku ingin membantu mengurangi beban orangtuaku. Aku bertekad menambah keuangan keluargaku untuk kesembuhan bapak dan menambah biaya sekolah adikku. Ketika hal itu kuutarakan pada ibu, beliau termenung.

           "Mak, penyakit saya tak usah Mak pikirkan. Saya ikhlas kerja untuk bantu Mak,"  ujarku meyakinkan ibu. Ijin dari ibu baru ku dapat setelah dua hari kemudian. Beliau mengajakku untuk menjadi pembantu di rumah majikan beliau. Untunglah majikan ibu berbaik hati menerimaku bekerja pada mereka. Majikan ibu memintaku untuk bekerja di rumah anaknya di Jakarta. 

         Walau berat, ibu dan bapak ikhlas melepasku untuk bekerja di Jakarta. Pada hari yang telah ditentukan, aku  berangkat ke Jakarta bersama majikan ibu. 

Operasi Tumor Jinak

         Dua tahun aku di Jakarta. Tapi benjolan di badanku semakin bertambah. Hampir setiap jengkal badanku dihiasi benjolan kenyal itu. Benjolan itu juga tumbuh di perut dan punggungku. Kadang jika aku kecapaian rasa nyeri muncul dari benjolan yang pertama. Karena bertambah banyak benjolan tumbuh di badan membuatku semakin minder dan  malu untuk bertemu orang lain. Hari-hari di Jakarta kulalui dengan berdiam di dalam rumah. Hanya untuk keperluan membeli sayuran saja aku keluar rumah. Aku menolak ketika majikanku mengajakku ke mall atau ke tempat wisata lainnya. Aku tidak mau mereka merasa malu ketika semua orang memandangku dengan tatapan aneh.

        Ketika ada seorang laki-laki yang ingin berkenalan denganku, aku sudah mundur teratur. Padahal belum tentu juga dia ingin menjadikanku teman spesialnya. Tapi rasa minder itu benar-benar telah membuatku terpuruk. Apalagi aku juga tidak mau bergaul dengan sesama pembantu lainnya di komplek perumahan majikanku itu. Aku malu jika mereka tahu penyakitku.  Dan aku takut mereka akanmengolokku seperti teman-temanku di SMP dulu.

           Suatu kali majikanku bertanya tentang penyakitku ini. Majikanku kasihan melihat keadaanku yang kadang mengeluh nyeri ketika kecapaian setelah bekerja. Beliau memintaku untuk berobat kembali. Beliau berjanji membantu biaya operasiku.

         "Tak usah pikirkan biaya, saya nak bayar semua," ujar beliau waktu itu. Tak terbayangkan senangnya aku waktu itu. Aku bersujud kepada Allah, karena sudah memberi majikan yang baik padaku. Untuk memulai pengobatanku, aku diijinkan kembali ke kampung halamanku. Sampai di kampung aku langsung berkonsultasi dengan dokter. Pada hari yang telah ditentukan, operasi pengangkatan tumor itupun dilakukan.

           Dokter memutuskan mengangkat 3 benjolan besar satu di kakiku. Satu di punggung dan satu lagi di tangan. Untuk sementara benjolan kecil dibiarkan dulu. Dokter berharap setelah benjolan itu diperiksa di laboratorium patologi, mereka bisa memberikan obat yang sesuai agar benjolan lain bisa hilang tanpa harus operasi. 

         Seminggu kemudian aku menerima hasil patologi dari tumor yang diangkat itu. Hasilnya mengatakan itu bahwa aku mengidap tumor jinak yang berisi lemak. Aku lega mendengarnya. Setelah merasa kesehatanku pulih, aku kembali ke Jakarta.

Musibah Lain Datang
            Ternyata doaku belum dikabulkan Allah. Beberapa bulan kemudian, benjolan yang sudah dioperasi itu, tumbuh kembali. Sementara itu benjolan lain juga muncul hingga hampir memenuhi tangan dan kakiku. Untunglah di mukaku tidak ada benjolan itu.  Aku semakin malu. Aku pasrah, obat dari dokter pun sudah tidak berhasil mengurangi benjolan itu. Walau begitu aku masih terus berharap keajaiban itu datang.

          Suatu hari kabar mengejutkan kuterima ketika sedang bekerja di Jakarta. Ibu memintaku pulang ke kampung. Ayahandaku tercinta meninggal dunia. Bagai dihantam gelombang badai rasanya mendengar kabar itu. Aku tak kuasa menahan tangisku. Aku begitu dekat dengan bapak. Aku menyesali kepergianku setelah dioperasi ini. Karena waktu itu bapak melarangku kembali ke Jakarta.

        “Kerja dekat rumah kita sahajalah . Abah ingin kita berkumpul tidak terpisah macam ni,” ujarnya waktu itu. Hal ini menjadi penyesalan bagiku hingga beberapa bulan. Untunglah ada sahabatku yang menenangkan hatiku. Dia memintaku bersabar. Semua itu terjadi atas kehendak Allah. Jadi takpatut untuk disesali. Aku terpekur mendengar ucapan sahabatku itu. Sahabat satu-satunya yang  mengerti dengan keadaanku. Hanya padanya aku mau berbagi semua  kesedihan dan kebahagiaan. Sahabat yang menerima keadaanku di saat senang maupun sedih.

        Setiap hari sahabatku menyemangatiku. Dia membawakanku buku-buku agama untuk mengurangi kesedihanku. Sejak saat itu aku lebih banyak membaca bukuku yang dibawakan sahabatku itu. Apalagi sahabatku itu sering datang ke rumah menyemangatiku. Dia bahkan memberikan pakaian muslimah padaku. Dia memintaku untuk mengenakan pakaian itu agar aku semakin sempurna sebagai seorang muslimah. Aku mengikuti saran sahabatku itu. Sejak saat itu akau mengenakan pakaian muslimah. Aku berharap aku bisa semakin dekat denganNya dan selalu ikhlas menerima ketetapanNya sesuai saran sahabatku itu.

         Akupun memilih bekerja di kampung halaman saja. Aku ingin menemani ibuku. Aku menggantikan beliau bekerja di rumah majikan beliau yang lama. Tak tega rasanya melihat wanita yang melahirkanki itu masih bekerja keras di usia tuanya.

          “Mak, saya sahaja yang kerja ya, emak di rumah sahaja.” Saranku waktu itu pada ibu. Beliau setuju. Apalagi hanya satu orang adikku yang masih butuh biaya untuk sekolah. Adikku yang satu lagi sudah  bekerja. Setidaknya dia bisa membantu uang sekolah adikku yang bungsu.   Alhamdulillah 3 kakakku sudah menikah. Mereka sudah mandiri dengan kehidupan mereka masing-masing. Aku memilih tetap menjadi pembantu di rumah majikan ibu. Karena jasa beliau teramat banyak bagiku dan keluarga kami.

           Selang setahun dari kepergian bapak, ibupun akhirnya menyusul beliau menghadap Allah pemilik alam semesta ini. Aku benar-benar terpukul mendapati kedua orang tuaku kini telah tiada. Kepada siapa aku harus berbagi kegembiraan dan kesedihanku. Biasanya ibu selalu mendengarkan keluh kesahku, tapi kini beliaupun seolah tidak pedulu terhadapku lagi. 

           “Ya Allah kuatkan hamba menerima ketetapanMu ini,”  doaku di setiap sujudku. Hanya Allah-lah satu-satunya tempatku mencurahkan semua rasaku. Sahabatku yang baik itu pun sudah jauh dariku. Dia sudah menikah dan diajak suaminya merantau ke Jakarta. Hanya sesekali kami bertukar kabar. Aku juga tidak bisa sering-sering menelponnya. Dia bekerja, aku tidak ingin mengaganggu pekerjaannya dengan keluhan dan masalahku. 

 

Adikku Ingin Menikah

 Suatu hari adikku minta ijin untuk menikah kepadaku. Sebagaimana kebiasaan di kampung kami, jika kakak perempuan belum menikah maka adik harus memberikan pelangkah pada kakak perempuan itu. Adikku memintaku untuk segera menikah, atau dia akanmemberi pelangkah untukku agar dia bisa menikah lebih dulu.  Waktu itu sudah 28 tahun usiaku. Walau dalam hati aku sangat ingin menikah, apa daya aku tidak punya calon. Apalagi aku yakin tidak ada laki-laki yang mau menerima keadaanku yang penyakitan seperti ini.

          “Kau beli sahaja alat sembahyang untukku, aku ikhlas kau menikah lebih dulu,” hanya itu jawabn yang bisa kuberikan pada adikku. Adikku setuju. Akhirnya pernikahannyapun terlaksana. Kini hanya aku dan adik bungsuku di rumah. Aku juga sudah berhenti bekerja di rumah majikanku. Karena beliau meninggal, rumahnya sudah dijual kepada orang lain. Sementara anak-anaknya sudah di Jakarta semua.

Seseorang Ingin Menjodohkanku.

“Meri, saya rasa umur kau sudah tidak muda lagi, sebaiknya kau menikah,” ujar seorang tetua kampung dekat rumahku. Aku ingat ibuku pernah menitipkanku pada bapak itu. Beliau ternyata masih mengingatnya. Beliau mencarikan calon suami untukku. Aku terkejut mendengar permintaan bapak itu. 
         “Pakcik, bukannya saya menolak, tapi saya taknak menikah. Saya tak mau, tiba-tiba nanti orang itu pergi meninggalkan saya ketika tahu keadaan saya.” Jawabku waktu itu. Aku masih trauma dengan kejadian yang pernah kualami beberapa kali. 

        Waktu itu aku sudah mengenakan pakaian muslimah, secara tidak langsung semua benjolan di badanku tertutupi. Hingga suatu kali ada seorang laki-laki yang berusaha mendekatiku dan  ingin menikah denganku, aku berbaik sangka dengan keinginan laki-laki itu. Aku pikir laki-laki itu pasti tahu tentang penyakitku ini. Aku  menerima lamarannya. Suatu kali dia mengajakku jalan-jalan. Ketika kami duduk di taman , dia melihat tanganku, dia terkejut dan bertanya “Kenapa tanganmu dek?” Aku jelaskan tentang penyakitku. Setelah itu laki-laki itu mundur dan tidak pernah berkunjung lagi ke rumahku. 

            “Belum jodoh itu kak, bersabarlah,” ujar adikku menenangkan. Aku ikhlas dan bersabar. Tapi kejadian serupa terulang lagi beberapa bulan setelah itu. Aku sangat terpukul. Sejak saat itu aku jadi bertambah yakin, mungkin Allah tidak menghadirkan jodohku di dunia ini. Aku ikhlas, semoga Allah memberikan jodoh terbaik untukku di akhirat nanti.  

             “Cubalah dulu kau bertemu bujang tu, nanti kalau dia tak mau, baru kau cakap itu bukan jodoh kau,” saran bapak itu. Tapi rasa rendah diriku melebihi segalanya. Aku yakin orang itu akan mundur jika dia tahu keadaanku. Maka sebelum dia mundur, lebih baik aku tidak menemuinya sama sekali. Aku menggeleng dan menolak saran beliau untuk bertemu laki-laki itu. Aku pasrah, mungkin tidak menikah adalah jalan terbaik untukku. 

              Dalam sebuah buku yang dibelikan sahabatku, aku pernah membaca bahwa seorang laki-laki berhak menolak perempuan yang penya penyakit. Dan jika aku memposisikan laki-laki itu adalah aku, maka pasti aku juga menolak perempuan yang berpenyakitan. Walau aku juga pernah membaca sebuah hadist Rasullullah SAW yang intinya  bahwa memilih perempuan untuk dinikahi itu dari keturunannya,  agamanya, kecantikannya, hartanya. Dan pilihlah wanita yang baik agamanya karena itu akan membuat laki-laki bahagia. Tapi aku berpikir tidak ada laki-laki yang mau denganku walau agamaku baik karena aku mempunyai penyakit. 

               Hingga saat ini aku memutuskan untuk tidak menikah, entahlah jika suatu hari nanti Allah menginginkan aku menikah. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku untuk beribadah pada-Nya. Saat ini aku memilih untuk berjualan di depan rumahku. Aku  menjual ketupat sayur setiap pagi. Lumayan penghasilan yang kudapat dari berjualan itu. Sore harinya aku  menerima upah menjahit jilbab yang kuambil dari tetanggaku seorang pengusaha konfeksi.

             Dari keuntungan berjualan dan upah menjahit jilbab itu aku memenuhi kebutuhanku sehari-hari. Aku juga masih bisa menabungnya untuk biaya pengobatanku. Karena aku masih mengusahakan kesembuhanku. Aku masih mencari pengobatan alternatif agar suatu saat kelak aku bisa sembuh. Aku yakin Allah akan memberikan kesembuhan padaku. Karena Allah terlah berjanji bahwa setiap penyakit itu pasti ada obatnya. Hanya saja untuk saat ini mungkin aku belum menemukan obat untuk penyakitku. Semoga saja Allah segera mempertemukanku dengan obat itu, agar aku bisa lebih membuka diri pada seorang laki-laki. 

                                                            ***


catatan: Tulisan ini sudah saya tulis tahun 2011 lalu. Saat ini sahabat saya yang ada dalam cerita ini sudah kembali ke hadiarat Allah Subhanahu wataala beberapa tahun setelah saya menulis kisah ini. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa sahabat saya itu dan melapangkan kuburnya. Semoga Allah menempatkan dia di tempat terbaik di sisi Nya. Aamiin...