Skip to main content

Persiapan Pra Operasi Batu Empedu

       Postingan ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya. Bisa dibaca di sini. Dalam postingan ini saya akan menceritakan proses pra operasi. Oke, kita mulai ya... 😊
      Sehari sebelum operasi, saya sudah masuk ruang perawatan untuk beberapa pemeriksaan pra operasi. Bersyukur Allah memberikan ketenangan di hati saya. Alhamdulillah support dari sahabat-sahabat saya banyak membantu sehingga saya lebih tenang sebelum menjalankan operasi.
       Tanggal 13 Februari 2018 saya mendaftar di rawat inap RS Hermina Bekasi. Selanjutnya saya ke laboratorium untuk pemeriksaan darah pra operasi. Lalu melakukan rontgen paru-paru, sebagai salah satu syarat sebelum melakukan operasi di RS ini. Setelah itu saya diajak ke ruang perawatan. Sampai di ruang perawatan saya melakukan pemeriksaan EKG. Sekali lagi ini persyaratan bagi setiap pasien yang akan dilakukan operasi. 
      Beberapa menit selesai EKG, dokter internist, dokter yang pertama mendiagnosa penyakit saya, datang memeriksa saya sebagai konsulen. Tak lama setelah itu dokter bedah digestive, dokter yang akan melakukan lapascopy besok, juga datang memeriksa. Setelah itu saya diperiksa oleh dokter jantung yang juga sebagai konsulen dan terakhir dokter anastesi. Mereka datang tidak dalam waktu berbarengan ya. Jarak 1-2 jam gitulah kurang lebih. Bersyukur saya tidak stres dengan kehadiran 4 dokter tersebut. Secara, banyak banget dokter yang memeriksa saya. 😅
      Setelah kunjungan para dokter, saya pun bisa istirahat sambil baca buku. Allah ngasih saya izin tidak shalat karena haid. Bersyukur ini sudah di hari-hari akhir haid, jadi saya tidak takut nanti saya meninggalkan shalat ketika saya dioperasi. Malam ini saya diminta puasa pukul 23.00. Karena makan malam di RS ini pukul 18.00, jadi saya mulai puasa setelah makan malam saja. Minum air putih dan teh masih dibolehkan sampai pukul 4.00 dinihari karena jadwal operasi saya pada pukul 7.30. 
       Setelah subuh, perawat memasang infus di lengan kiri saya. Lalu membersihkan perut saya dengan cairan (saya pikir ini cairan antiseptik). Setelah itu perut saya ditutup menggunakan kain khusus (seperti dibedong). Lalu perawat melakukan skintest antibiotik di kulit lengan saya. Hasilnya saya tidak alergi antibiotik yang sedang di-skintest karena tidak ada ruam merah di bekas suntikannya.
       Pukul 6.00 saya sudah diajak ke ruang operasi. Karena perawat di ruang operasi akan melakukan serangkaian proses jelang operasi. Salah satunya memberikan obat antibiotik melalui selang infus ke tubuh saya. Ketika sampai di ruang operasi, kecemasan kembali melanda. Mungkin karena saya teringat ketika saya sesar dulu. Apalagi ruangan ini begitu dingin, saya tidak terbiasa dengan suhu di bawah 25 derajat. 
     Saya memperbanyak zikir untuk mengurangi kecemasan. Perawat memberikan antibiotik melalui selang infus pada saya. Mereka juga  meminta saya mengganti pakaian dengan pakaian khusus. Setelah mengganti pakaian, saya makin cemas. Suami waktu itu masih di rumah karena Hauzan belum bangun. Mungkin kalau ada yang dilakukan, rasa cemas bisa sedikit berkurang. Tapi ini tidak ada. Apalagi ruang operasi ini cukup luas. Perawat jaga malam masih sibuk dengan pekerjaan mereka. 
     Saya tidak tahu mau ngapain, mau membaca, saya nggak bawa buku. Di samping kiri dan kanan saya ada 2 ibu yang sedang menunggu jadwal operasi. Akhirnya saya berbincang dengan salah satu ibu. Kami saling berbagi cerita tentang operasi yang akan kami jalani. Mengobrol ini sedikit membuat kecemasan saya berkurang. Terima kasih untuk ibu yang saya tidak tahu namanya itu. Terima kasih sudah bersedia saya ajak ngobrol. 
      Setelah beberapa waktu antibiotik masuk ke tubuh saya, tiba-tiba saya merasakan gatal di pipi kiri. Saya tidak tahu apakah saya alergi antibiotik atau alergi dingin karena suhu ruangan yang memang sangat dingin. Saya rasa sekitar 20 derajat. Wajah saya bentol dan merah-merah. Kekhawatiran kembali melanda saya. Saya perbanyak zikir dan istighfar agar lebih tenang. Saya beritahu perawat kalau saya alergi sesuatu, karena tidak tahu apa karena dingin atau antibiotik. Perawat segera menghentikan tetesan anibiotik yang memang sudah hampir habis. Dia lalu memberikan obat anti alergi setelah berkonsultasi dengan dokter.
     Ibu yang tadi saya ajak ngobrol sudah diajak ke meja operasi. Saya hanya bisa memperbanyak mengingat Allah agar saya tenang. Pukul 7.30 saya diajak ke meja operasi. Saya tidak melihat dokter bedah saya. Mungkin beliau sedang mencuci tangan atau mengenakan pakaian sterilnya, entahlah. Padahal waktu itu saya ingin sekali beliau melihat kondisi saya sebelum saya dioperasi karena muka saya yang bentol ini. Tapi ya sudahlah, saya hanya memperbanyak doa dan zikir karena rasa khawatir mulai menyerang lagi. 😓
     Sampai di meja operasi, dokter anastesi dan beberapa perawat menyapa saya. Mereka langsung memasang elektroda EKG ke dada saya. Dokter anastesi menanyakan apa saya punya penyakit asma, mungkin untuk menyesuaikan obat anastesinya. Setelah itu mereka mengajak saya berdoa karena mereka akan menyuntikkan obat anastesi melalui infus saya. Ohya, sebelumnya saya sudah memberi tahu para dokter yang mempersiapkan operasi saya kalau saya menggigil pasca sesar dulu. Jadi saat ini saya berharap mereka mengingat perkataan saya pada mereka, sehari sebelumnya. 
     Lalu dokter menyuntikkan obat anastesi ketika saya sedang membaca doa dan berzikir. Beberapa detik kemudian, saya sudah tak sadar. Saya baru mulai setengah sadar ketika perawat memanggil saya dan meminta saya mengangkat kepala. Mereka akan memindahkan saya dari meja operasi ke bed ruang perawatan. Lalu mereka melepas NGT yang sepertinya dipasang ketika saya sudah tidak sadar tadi.
     Alhamdulillah operasi berjalan lancar begitu kata mereka. Jam 11 saya sudah kembali ke ruang perawatan. Meski saya masih belum benar benar sadar. Karena rasanya mata saya masih berat untuk dibuka. Apalagi saya merasakan tenggorokan saya sangat sakit. Mungkin karena bekas NGT (selang yang dimasukkan lewat hidung ke dalam lambung) tadi. Saya rasa, sakit dan kering di tenggorokan saya ini disebabkan iritasi ringan dari pemasangam NGT tersebut. Karena saya melihat ada sedikit darah di selang yang baru saja dilepas tadi.
    Baru sore setelah asar saya rasa saya benar-benar sudah tidak dalam pengaruh obat bius. Saya bisa mengobrol dengan anak, suami dan adik saya. Alhamdulillah. Ketika mengobrol itu rasa kering dan sakit ditenggorokan makin terasa, ingin sekali rasanya saya minum segelas air, apa daya saya masih belum bisa melakukannya karena perawat mengatakan saya harus menunggu sampai saya buang angin. Alhamdulillah saya sabar menunggu. Saya menunggu sampai pukul 22.00 malam baru angin itu keluar. 😅 Alhamdulillah... saya bisa minum dan makan tentunya. Insyaallah saya lanjutkan di postingan berikutnya ya. Semoga bermanfaat bagi sahabat yang akan melakukan operasi laparascopy kantung empedu atau operasi lain. Aamiin... 😊

Comments

  1. Untuk pantangan dan makanan apa saja yg boleh setelah operasi pengangkatan batu empedu mba,,soal nya tgl 28 Juli 2018 ini saya akan menjalani operasi pengangkatan batu empedu

    ReplyDelete
  2. Saya op batu empedu.. Tgl 20 april 2018.. Sama keluhaanya.tp saya pakai bedah konvesional..karena batu lengket..1.5 cm...tp ya pasca op..perut gak enakk....

    ReplyDelete
  3. Ass.wr.wb..salam kenal ibu.saya bu anis usia 42 th boleh tau sekilas postingan ibu sblmnya kr sy jg menderita batu empedu 1.2 cm dam 0.5 cm saya bingu g kr sdah periksa ke 4 dokter 2 me gatak tdk operasi dan 2 disarankan operasi.jk berkenan kondisi batu emledu ibu sblmnya bagaimana..

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. ^_^

Popular posts from this blog

Pengaruh Membaca dan Mendengarkan Al Quran Terhadap Kecerdasan & Perkembangan Janin, Bayi dan Balita

Ketika hamil Hauzan (6 tahun) putera ke tiga saya, saya cukup lemah dan sering sakit. Saya lebih banyak bedrest. Pertama karena saya hampir tiap hari morning sicknes. Kedua karena sakit maag saya kumat sejak minggu ke 16 kehamilan hingga melahirkan, sehingga makanan sangat susah masuk. Akibatnya saya lemas dan kurang gizi.



      Karena hal tersebut, saya pun jadi lebih banyak khawatir. Khawatir apakah nanti janin saya baik-baik saja. Bagaimana nanti jika dia kurang gizi? Apakah janin saya akan sehat-sehat saja? Dan puluhan pertanyaan penuh kekhawatiran lainnya yang bertebaran dalam pikiran saya. Apalagi saat hamil anak ke tiga ini, usia saya sudah 35 tahun. Menurut dokter usia yang cukup riskan untuk hamil. Ditambah jarak kehamilan kedua dan ketiga ini cukup jauh. Sekitar 7 tahun.

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…