Skip to main content

Operasi Batu Kantung Empedu

   Hampir sebulan lalu saya melakukan operasi kantung empedu, tepatnya tanggal 14 Februari 2018. Beberapa sahabat bertanya, "kayaknya kamu baik-baik saja, kok tiba-tiba ada batu di kantung empedumu?" Hal ini juga yang saya tanyakan pada dokter ketika saya diberitahu tentang adanya batu di kantung empedu saya.
    "Ini bukan tiba-tiba ada Bu. Tapi sudah ada sejak beberapa tahun lalu, mungkin ibu tidak begitu merasakan gejalanya." Demikian dokter memberi jawaban. Jangan tanya bagaimana perasaan saya ketika dokter mengatakan saya harus dioperasi. Khawatir, takut, bingung dan berbagai perasaan negatif lainnya mulai menghantui saya.
Yang bisa saya lakukan hanya menangis di hadapan dokter. Saya seperti tak peduli kalau saya dibilang cengeng.

     "Jangan menangis Bu. Ini hanya operasi biasa kok. Banyak pasien yang sudah melakukan operasi ini. Alhamdulillah mereka semua sembuh dan baik-baik saja sekarang." Dokter berusaha menenangkan saya. Saya segera istighfar untuk menenangkan diri. Baiklah, untuk saat itu saya dengarkan dulu saja pendapat dokter. Selanjutnya saya bertanya apa yang akan terjadi jika kantung empedu saya diangkat?
     "Mungkin awalnya perlu penyesuaian diri Bu. Kantung empedu itu sebenarnya adalah tempat untuk menyimpan sisa cairan empedu yang dibuat di hati. Cairan empedu berguna untuk mencerna lemak, jika cairan itu bersisa, maka disimpan sebagai cadangan di kantung empedu. Nanti akan digunakan lagi saat ibu memakan banyak lemak. Nah, jika kantung empedu ibu diangkat, maka cairan empedu yang dihasilkan hati akan langsung mengalir ke usus. Tidak punya cadangan lagi. Nanti tubuh akan menyesuaikan diri dengan kondisi ini. Awalnya mungkin ketika ibu memakan makanan berlemak, ibu akan mengalami diare dan mual. Tapi insyaallah nanti akan normal seperti biasa lagi."
    Dokter lalu menjelaskan pada saya proses operasi yang nanti akan saya jalani. Beliau menyarankan saya melakukan operasi yang minim perdarahan yang biasa mereka sebut dengan Laparascopy Cholesistectomy. Karena saya mengatakan pada beliau kalau saya trauma dengan operasi dan pembiusan. Karena saat melahirkan Hauzan dulu saya melahirkan dengan cara sesar. Saya mengalami beberapa hal yang mengerikan saat itu. (kisahnya ada di postingan beberapa tahun lalu)
     Setelah mendengar penjelasan dokter, suami pun membujuk saya untuk melakukan operasi tersebut. Awalnya saya masih belum siap. Sampai di rumah saya mencari tahu obat untuk menghancurkan batu empedu. Di gugel saya menemukan banyak sekali herbal yang katanya bisa menghancurkan batu empedu. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa makan apel sekian hari bisa meluruhkan batu empedu.
     Namun hati saya belum puas dengan semua testimoni di gugel itu. Karena melihat hasil USG saya, batu empedu yang bersarang di kantung empedu saya ukurannya cukup besar yaitu 2.5 cm. Secara logika rasanya nggak mungkin single stone itu hancur atau luruh hanya dengan menggunakan obat-obat tersebut. Saya pun pasrah, saya mohon pada Allah tolong berikan pilihan terbaik untuk saya. Jika saya harus operasi, tolong tenangkan hati saya dan mudahkan saya untuk memutuskannya. Tapi kalau saya bisa sembuh dengan obat herbal, tolong bantu saya mencari obat itu.
     Beberapa hari saya berdoa dan mencari lebih banyak lagi informasi tentang operasi kantung empedu ini. Saya juga mencari tahu kepada teman-teman yang keluarga atau mereka sendiri yang pernah melakukan operasi kantung empedu. Saya juga mencari tahu apa yang akan terjadi jika saya tidak melakukan operasi tersebut. Menurut dokter, kemungkinannya yang pasti saya akan sering merasa kesakitan di perut kanan seperti yang saya alami beberapa waktu sebelum saya didiagnosa cholelitiasis.
     Saya juga tentunya akan merasakan mual, perut kembung, nyeri ulu hati, dan sering buang angin seperti yang selama ini saya keluhkan. Rasa sakit hingga ke pinggang dan pundak kanan juga bisa saja setiap hari saya rasakan. Karena setelah saya makan, maka kantung empedu pasti akan berkontaksi mengeluarkan cairan empedu, sehingga batu yang ada di dalamnya membuat rasa sakit muncul. Itulah hal yang membedakan antara sakit maag biasa dengan sakit batu empedu. Kalau sakit maag mungkin rasa sakit di ulu hati sebelum kita makan, tapi kalau sakit batu empedu rasa sakitnya juga masih terasa setelah makan bahkan hingga 2 jam setelah makan.
     Setelah memohon pada Allah untuk keputusan terbaik, saya pun memutuskan untuk melakukan operasi tersebut. Alhamdulillah operasi berjalan lancar sekitar 1.5 jam. Insyaallah akan saya ceritakan bagaimana proses penyembuhan saya pasca operasi di postingan berikutnya ya. Semoga postingan ini bermanfaat.
    Ohya, menurut dokter penyebab dari adanya batu di kantung empedu ada beberapa hal.
 1. Karena makanan yang kita konsumsi mengandung lemak berlebih.
2. Karena faktor usia dan genre, biasanya perempuan usia 40 ke atas lebih banyak mengalami penyakit ini.
3. Karena beberapa infeksi yang pernah kita alami sepanjang usia kita.
4. Karena obesitas dan faktor internal seperti anatomi kantung empedu dan gen dari orangtua/keluarga.
5. Karena kurang olahraga dan lainnya.

Kisah proses sebelum masuk ruangan operasi bisa dibaca di sini.
     
    


Comments

  1. Saya op..april 20. 2018..kadang2 masih..kembung..081217254770

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. ^_^

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Pengaruh Membaca dan Mendengarkan Al Quran Terhadap Kecerdasan & Perkembangan Janin, Bayi dan Balita

Ketika hamil Hauzan (6 tahun) putera ke tiga saya, saya cukup lemah dan sering sakit. Saya lebih banyak bedrest. Pertama karena saya hampir tiap hari morning sicknes. Kedua karena sakit maag saya kumat sejak minggu ke 16 kehamilan hingga melahirkan, sehingga makanan sangat susah masuk. Akibatnya saya lemas dan kurang gizi.



      Karena hal tersebut, saya pun jadi lebih banyak khawatir. Khawatir apakah nanti janin saya baik-baik saja. Bagaimana nanti jika dia kurang gizi? Apakah janin saya akan sehat-sehat saja? Dan puluhan pertanyaan penuh kekhawatiran lainnya yang bertebaran dalam pikiran saya. Apalagi saat hamil anak ke tiga ini, usia saya sudah 35 tahun. Menurut dokter usia yang cukup riskan untuk hamil. Ditambah jarak kehamilan kedua dan ketiga ini cukup jauh. Sekitar 7 tahun.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…