Skip to main content

Bedah Buku Detik Demi Detik di Radio Dakta Bekasi

Hari Sabtu 9 Juni 2012 saya, Kak Wylfera Windayana dan Mbak Nagiga Nur Ayati berkunjung ke radio Dakta 107 FM Bekasi.  Pukul 10.00 pagi itu kami akan mengadakan acara bedah buku on air di radio tersebut. Setengah jam sebelumnya kami sudah samapai di tempat tujuan.
Mbak Nagiga sampai lebih awal. Beberapa menit kemudian saya pun bersama beliau di ruang meeting radi Dakta. Kami terlibat percakapan seru sambil menunggu waktu on air dan menunggu Kak Wiwik.
        "Mobilku ditabrak tadi," ucap Mbak Na dengan wajah masih shock. Saya yang baru pertama kali bertemu dengan Mbak Na, ikut kaget mendengarnya. "Ya Allah... tapi Mbak Na gak apa-apa kan?" hanya itu yang bisa saya ucapkan.
        "Alhamdulillah gak apa-apa, hanya saja bagian belakang mobilku bonyok. Penegemudi di belakangku tidak memperlambat laju kendaraannya ketika semua mobil di depannya sudah menguranginya. Ketika kami berhenti dan minta pertanggung jawaban, mobil tersebut keburu kabur. Akhirnya aku dan suami mengikhlaskan saja." jelas Mbak Na dengan suaranya yang lembut. Ah suara Mbak Na begitu merdu terdengar. Benar-benar suara seorang ibu yang sabar saya rasa. Karena sebelumnya saya tidak pernah berbicara dengan Mbak Na, baik melalui telepon atau bertemu langsung seperti sekarang ini. Keakraban kami hanya terjalin melalui sosial media seperti FB Twitter dan BB.
         Tapi , baru beberapa menit mengobrol, saya minta ijin ke toilet dulu. Karena sedari datang tadi saya menahan keinginan untuk buang air kecil. (Maaf ya Mbak Na hehehe...)
Untunglah ketika saya ke toilet itu, Kak wiwik datang dan menemani Mbak Nagiga. Sekembalinya saya dari toilet, kami pun mulai breafing, membahas apa yang akan kami lakukan nanti saat on air.
Tepat pukul 10.00 WIB mas Miko, penyiar yang bertugas pagi itu meminta kami masuk ke studio.   
         Sebelumnya Mas Miko bertanya beberapa hal pada kami bertiga. setelah itu acara bedah buku pun dimulai. Saya akui, saya sedikit nervous di dalam ruangan itu. Karena hal ini adalah pengalaman baru bagi saya. Melihat sebuah ruangan siaran radio beserta perlengkapannya membuat saya tak percaya diri. Untunglah Kak Wiwik , Mbak Nagiga dan Mas Miko sangat friendy, sehingga kegugupan saya berkurang, hingga hilang sama sekali.


          Sesi pertama pun dimulai. Mas Miko bertanya pada Mbak Nagiga terlebih dahulu sebagi editor buku ini. Selanjutnya pertanyaan untuk kak wiwik sebagai salah satu penulis dalam buku ini. terakhir saatnya saya yang ditanya tentang kisah yang saya tulis. Alhamdulillah saat mas Miko bertanya, saya bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar. Kisah yang saya ungkapkan dalam buku Deti Demi Detik adalah tentang tante saya. Ceritanya berjudul Kisah Sebelah Mata.
         Setelah sesi pertama selesai, masuk sesi kedua yaitu sesi tanya jawab dengan pendengar melalui telepon. Ada 3 telepon yang masuk bertanya dan mendoakan kesuksesan buku ini. Dan ada beberapa SMS yang beisi hal serupa. Salah satu penelpon malah menangis ketika bertanya di mana buku ini di dapat. Si Ibu teringat anaknya yang telah tiada. menurutnya ia ingin membeli buku ini agar ia merasa tidak sendiri menghadapi ujian dari Allah ini.
        Penelepon lain, seorang bapak malah berharap ada kisah yang terdapat dalam buku ini yang diangkat ke layar kaca atau layar lebar. Kami sangat berterima kasih terhadap apresiasi dari semua pendengar acara ini. 
       Harapan kami semoga para pembaca buku ini tetap kuat dan ikhlas serta sabar dalam menhadapi ujian berupa sakit atau kematian yang diberikan Allah kepada keluarga mereka. Dan bagi yang tidak mengalami ujian ini, kami berharap terus bersyukur dan meningkatkan ibadah untuk menghadapNya kelak.
        Tak terasa jam sudah menunjukkan angka 11.00, saatnya acara ini berakhir. kami pun membagikan 3 buku ini kepada pendengar yang sudah menelepon dan mengirim sms. Sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama, sebagai kenang-kenangan.
         Dari lubuk hati yang paling dalam saya , Kak Wiwik dan Mbak Nagiga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Mas Miko, Mas Firman dan radio Dakta Bekasi.
Semoga suatu hari nanti saya bisa kembali berkunjung ke radio dakta dengan membawa karya yang berbeda. aamiin... :)


Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.