Skip to main content

Hilangnya Gairah Memilih di Pilkada Bekasi 2012



                                                                                      

            Pagi ini, pukul 9.00 WIB saya dan suami berangkat menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS) RW 21 Pesona Anggrek, Harapan Jaya, Bekasi Utara. Sebagaimana kita ketahui hari Minggu ini adalah hari yang paling menentukan bagi kehidupan berdemokrasi di Bekasi tempat saya tinggal.
            Sengaja saya memilih berangkat agak sedikit siang, agar tidak mengantri terlalu lama. Benar saja, ketika saya sampai di TPS, hanya ada sepasang suami istri tetangga saya yang menunggu giliran untuk menentukan hak pilihnya. Sementara puluhan kursi yang disiapkan panitia untuk mengantri terlihat kosong.
            Setelah bertegur sapa sebentar, saya pun memberikan kartu tanda pemilih pada petugas pendaftaran. Sambil menunggu, saya dan tetangga saya tadi berbincang ringan, mulai dari sepinya TPS ini hingga tentang calon pemimpin yang akan kami pilih.
Menurutnya tidak banyak yang dia harapkan dari pemimpin kota ini. Sebagai warga dia hanya ingin tempat tinggal kami lebih aman. Jalan-jalan diperbaiki. Untungnya semua itu sedang dilaksanakan pembangunannya. Hanya saja sebuah pertanyaan kemudian muncul. Kenapa baru sekarang jalan-jalan diperbaiki? Padahal sudah dari beberapa tahun lalu wacana perbaikan jalan ini dikemukakan.
Satu lagi yang diinginkannya, semoga pemerintahaan yang  baru benar-benar menepati janji mereka saat berkampanye. Pendidikan gratis untuk sekolah anak-anak hingga SMA.
Selanjutnya sepasang suami istri itu pun dipanggil untukmemberikan hak pilih mereka. Berikutnya saya dan suami juga memberikan hak suara. Tak sampai lima menit, kami sudah memilih calon pemimpin kota tercinta ini.
            Jujur saja agak sedikit sulit bagi saya menentukan pilihan. Karena kurangnya informasi yang saya dengar menyangkut para calon walikota tersebut. Entah karena saya yang lebih banyak di rumah, atau memang mereka tidak begitu aktif memperkenalkan diri mereka pada masyarakat.
            Saya mendambakan pemimpin negeri ini khususnya Bekasi adalah seseorang yang benar-benar jujur, amanah dan mengerti serta mau melayani masyarakat. Mungkin sudah bukan rahasia lagi bagi warga Bekasi bahwa kepemimpinan yang lalu  bermasalah dengan hukum menyangkut kinerjanya. Semoga hal itu tidak terjadi lagi setelah ini. 
            Saya membayangkan ke depannya Bekasi benar-benar menjadi kota Ikhsan seperti slogannya selama ini. Sepanjang pengetahuan saya Ikhsan sendiri artinya adalah baik. Kota yang benar-benar baik dari segala tatanan. Baik dalam pemerintahan, penataan kota,  perekonomian masyarakat , pendidikan dan kesehatan.
            Setelah selesai memilih, saya dan suami pun kembali ke rumah. Sekitar dua puluh meter menuju rumah, saya berpapasan dengan salah seorang tetangga. Iseng saya bertanya.
            “Udah nyoblos Bu?”
            “Nanti saja Bu, agak sianga dikit. Males ngantri,” sahutnya. Saya jelaskan bahwa saat itu tidak banyak yang mengantri di TPS. Setelah itu saya langsung berjalan ke rumah. Saya jadi berpikir, jangan-jangan ibu itu hanya beralasan untuk tidak memberikan hak pilihnya pada hari itu.
            Setelah shalat zuhur, saya mengahadiri undangan Khitanan. Acaranya tidak jauh dari TPS tempat saya memilih. Saat saya lewat, saya perhatikan TPS masih kosong. Iseng saya bertanya pada panitia Pilkada.
            “Udah selesai ya Pak? Sepi banget?”
            “Iya nih Bu, yang datang nggak sampai setengahnya,” sahut Pak Junaodi salah satu Panitia. Sungguh miris mendengar kata-kata itu. Saya ingin tahu berapa jumlah pemilih seharusnya di TPS ini. Ternyata berjumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) di TPS saya berjumlah 408 orang. Sementara yang hadir dan menggunakan hak pilih mereka hanya 174 orang saja.
            Sungguh angka yang sangat menyedihkan. Saya bertanya dalam hati kenapa para pemilih tidak menggunakan hak pilih mereka? Apakah mereka sudah pesimis dengan calon pemimpin yang ada? Apa karena mereka tidak peduli dengan pemilihan pemimpin ini? Atau karena alasan lain? Entahlah.
            Ketika saya mencoba bertanya pada tetangga yang tidak menggunakan hak pilihnya. Jawabnnya ternyata tambah bikin hati saya miris. “Males Bu, buat apa. Toh kita tetap begini-begini aja.”
            Saya benar-benar miris mendengarnya. Sudahlah, toh pilkada hari ini sudah selesai. Jadi tak ada gunanya juga saya meminta mereka menggunakan hak pilihnya. Semoga saja pilkada berikutnya para pemilih ini mau menggunakan hak pilih mereka.
            Saya berharap agar pemimpin yang terpilih, benar-benar sesuai dengan aspirasi masyarakat Bekasi. Saya ucapkan selamat bagi calom walikota terpilih. Amanah Allah di tangan Anda. Semoga Anda tidak menyia-nyiakan amanah ini. [NS] *

Nelfi Syafrina
Bloger Bekasi. Tinggal di Bekasi Utara.
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Amprokan Bloger 2012 Goes to Plkada Kota Bekasi

Comments

  1. Balik lagi, yang diperlukan perbaikan. :)

    ReplyDelete
  2. masyarakat pada akhirnya antipati terhadap Pilkada karena terkadang perubahan yang dibawa oleh mereka yg terpilih tidak terasa ya? Mereka akhirnya berpikir, siapa pun yang terpilih toh sama saja :D

    Semoga Bekasi mengalami banyak perubahan baik lewat Pilkada kali ini :)

    ReplyDelete
  3. Aku juga ikut memilih kemarin, selain berharap perbaikan di segala bidang, ssstt... diam-diam aku juga menyimpan satu keinginan supaya jalan depan rumah kami (Perum Bumi Bekasi Baru) segera ditinggikan agar banjir enggak bolak-balik bikin resah.:)

    ReplyDelete
  4. @ Uni Erna : bener banget! :)
    @ Mas Iwok :betul mas Iwok. aamiin untuk doanya :)
    @ kak wiek : aamiin.. mudah-mudahan didengar oleh pemimpin terpilih ya :)
    BTW ikutan yuk kak Wiek, biar rame :D

    ReplyDelete
  5. Jadi pada pesimis gitu yak? Siapapun yang terpilih semoga membawa kebaikan. Aamiin :)

    ReplyDelete
  6. Selamat kepada wali kota yang terpilih. Semoga janji-janji yang dilontarkan bisa diwujudkan. :)

    ReplyDelete
  7. Atau mungkin dari segi track record, calonnya kurang menjanjikan?

    ReplyDelete
  8. @ Mbak Fita : begitulah :(
    @ Umi Haya. Aamiin
    @ Mbak Dee : Mungkin juga :D

    ReplyDelete
  9. Lhoooo? Aku baru tahu kalau Pilkada di Bekasi tidak seriuh di Jakarta. Sepi banget ya, Mbak. Tapi memang di TV beritanya juga nggak banyak ya. Pantas, warga nggak terlalu banyak tahu tentang calon pemimpinnya.

    ReplyDelete
  10. @ mbak Nunik : kayaknya memang tidak terdengar gaungnya di TV :(. ada sesekali muncul di running teks.

    @ Mbak Ichen : ternyata sama ya :(

    ReplyDelete
  11. Di tempat lain, katanya malah ada pemilihan yang dimenangkan oleh kotak kosong.
    Yang rame kalau calonnya memang sesuai aspirasi masyarakat.

    Salam sehati

    ReplyDelete
    Replies
    1. begitulah mas eko. terima kasih sudah berkunjung ya. ^_^

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. ^_^

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.