Skip to main content

Sharing Suka Duka Menjadi Penulis di Stand PBA Jakarta Book Fair 27 Juni 2012

        Bergabung di komunitas Penulis Bacaan Anak (PBA) membuat semangat menulis saya setiap hari semakin bertambah. Saya mengenal komunitas ini melalui Facebook. Kala itu saya sedang down karena beberapa tulisan saya ditolak penerbit dan media. Sempat saya merasa malas untuk menulis. Kejadian itu berlangsung sekitar tahun 2008 hingga 2010.
        Untunglah saya mengenal komunitas yang digagas penulis bacaan anak yang sangat berdedikasi dalam bidang ini yaitu  Mas Ali Muakhir dan Mas Benny Rhamdani, serta penulis bacaan anak lainnya. Masih sangat jelas dalam ingatan saya bahwa saya masuk grup facebook itu setelah saya melahirkan putra ke 3 saya. Waktu itu saya hanya ingin mencari nama Mas Ali Muakhir , karena beliau adalah guru menulis pertama bagi saya. Saya pernah mengikuti pelatihan menulis bersama beliau yang diselenggarakan Majalah Ummi. Ketika saya search di google, nama Mas Ale, demikian saya menyapa beliau, saya berhasil menemukan nama beliau dalam grup facebook tersebut. Saya minta bergabung dengan grup PBA, dan Alhamdulillah langsung diterima oleh Mas Ale sendiri. Tak terkira senangnya saya.
        Setelah bergabung, saya berkenalan dengan penulis hebat lainnya di grup ini. Saya belajar banyak dari mereka. Di grup ini juga saya mendapat kesempatan untuk mengikuti workshop menulis, salah satunya workhop menulis First Novel yang diselenggarakan penerbit Tga Serangkai. Selanjutnya guna melatih kembali insting menulis saya yang lumayan lama tertidur, saya pun mengikuti workshop menulis novel anak di Kelas Ajaib bersama Mas Benny Rhamdani. Saya juga mengikuti workshop menulis Picbook bersama Mas Ali Muakhir dengan Winner Classnya secara online. Banyak sudah ilmu yang saya dapat dari grup ini.
       Alhamdulillah setelah mengikuti beberapa workshop tersebut, saya semakin bergairah menulis. Setiap hari di grup PBA adalah hari yang menakjubkan. Bagaimana tidak, para Tim 13 (sebutan bagi admin grup) mempersilakan masing-masing anggota grup untuk mengisi grup denga karya mereka sesuai jadwal yang ditentukan. Senin untuk resensi buku anak. Selasa untuk bacaan anak remaja, Rabu untuk pamer kaver buku yang baru terbit. Kamis untuk berbagi hadiah buku melalui kuis. Jumat untuk membedah beberapa cerpen yang diposting anggota. Sabtu untuk pameran ilustrasi yang sangat memanjakan mata dengan keindahan ilustrasi tersebut.
         Lengkap sudah manfaat dari grup istimewa ini. Jadi tak salah kiranya Jakarta Book Fair memberikan penghargaan pada PBA, khususnya kepada Mas Ale yang berhasil membawa dan mengembangkan grup ini sampai sebesar ini. Penghargaan itu diterima langsung oleh Mas Ale pada acara pembukaan Jakarta Book Fair di Senayan Jakarta pada tanggal 23 Juni 2012 lalu. Sebuah award berbentuk monas itu diterima Mas Ale dengan suka cita. Beliau berterima kasih kepada semua anggota PBA yang sudah bersungguh-sungguh membesarkan grup tercinta ini. Pada kesempatan itu juga panitia JBF memberikan sebuah stand untuk PBA secara cuma-cuma

                                                    
         Saya tentunya ikut merasa bangga sebagai bagian dari komunitas ini. Apalagi kami para anggota dipersilakan mengisi dan memanfaatkan stand itu semaksimal mungkin. Saya, Kak Wylvera Windayana, Mbak Chitra Savitri dan Mbak Indah IP memilih tanggal 27 Juni 2012 sebagai "penjaga" stand. Alhamdulillah pada hari itu kami bertemu Mas Sakti Wibowo dan Mbak Nurbaiti dari FLP Pusat. Kebetulan stand itu kami manfaatkan bersama dengan komunitas FLP Pusat. Kami mengadakan bincang-bincang ringan seputar dunia penulisan cerita anak.
        Mbak Nurbaiti memandu acara ini dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB dengan sangat keren. Sehingga membuat bincang-bincang ini menjadi meriah. Beliau bertanya tentang suka duka menjadi penulis bacaan anak. Mas Sakti Wibowo juga membuat suasana bincang-bincang menjadi lebih hidup dengan pertanyaan dan banyolan yang membuat kami tak kuasa menahan tawa.

          
          "Biasanya untuk menjadi penulis yang punya 'nama' kita harus 'menabung nama'di berbagai media. Dari situ penerbit bisa dan mau menerbitkan naskah kita. Apakah ibu-ibu juga mersakan hal itu? Perasaan tercabik hingga berdarah-darah ketika naskah Anda ditolak media atau penerbit?" demikian salah satu pertanyaan Mas Sakti. Kami menjawabnya dengan pengalaman kami masing-masing. Saya sendiri memang mengalami hal itu. Awal menulis tahun 2005, naskah saya dimuat di majalah Ummi tahun 2006. Alhamdulilllah tahun yang sama terbit novel anak karya saya yang pertama yang berjudul Laptop Ajaib. Tapi saya juga mengalami penolakan dari media. Naskah cerpen yang saya kirim banyak sekali yang dikembalika. Pernah juga naskah novel anak yang saya tulis digantung dan akhirnya tidak terbit selama 2 tahun.  Jadi saya rasa mungkin semua penulis merasakan hal itu.
          Tak terasa perbincangan ini berakhir. Meskipun hanya beberapa orang yang benar-benar menyimak perbincangan kami, tapi setidaknya stand PBA ini cukup ramai dan buku-buku yang dijual di sini lumayan laris. Buku-buku itu sebagian diterbitkan penerbit FLP.  Ada juga buku-buku karya kami di sana hari itu. Ah sungguh hari yang sangat indah dan takkan pernah saya lupakan.
          Terima kasih tak terhingga saya ucapkan kepada Mas Ale dan tim 13 yang sudah menerima saya menjadi bagian grup PBA. Semoga grup ini semakin besar dan semakin menginspirasi. Semakin banyak juga lahir penulis bacaan anak berkualitas dari grup ini. Aamiin. ^_^

Comments

  1. Sukses ya, Bu. Jadi kangen sama Mas Sakti dan Nurbaiti ^_^

    ReplyDelete
  2. Aamiin ... Makasih Bang Aswi. Mas Sakti sekarang sudah di Minahasa. Kalo gak salah, pas kita ketemu di stand PBA itu adalah hari terakhir beliau di Jakarta. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. ^_^

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.