Thursday, October 8, 2020

Selamat Datang Ummi

 

            “Ibu mengajar di kelas Saad bin Abi Waqqash ya. Karena kelas itu muridnya banyak sementara hanya ada satu guru yang mengajar di sana.” Demikian instruksi dari kepala sekolah TPA tempat ku mengajar. 

            Sore itu aku baru saja dites sebagai tenaga pengajar di TPA ini. Tentu saja aku sangat gugup. Dulu, aku juga pernah mengajar di TPA ini, tapi aku resign ketika hamil putera ke tiga. Setelah usia puteraku tujuh tahun, aku disarankan oleh ustadzah yang mengajariku Tahsin untuk mengajar di TPA kembali.

            Jadilah sore ini aku di sini. Melewati serangkaian tes seperti wawancara kerja pada umumnya. Aku gugup karena sudah lama tidak mengajar. Apalagi kali ini muridnya tambah banyak dan kelasnya juga bertambah. Waktu ternyata cepat berlalu. 

            Selesai tes, aku langsung diajak Bu Kepsek ke kelas Saad bin Abi Waqash. Aku memperkenalkan diriku dan selanjutnya belajar mengajar pun dimulai. Kelas yang menjadi tanggung jawabku kali ini adalah kelas lanjut. Anak-anak di kelas ini umumnya sudah hapal tiga perempat Juz Amma. Mereka juga sudah membaca Al Quran, bukan Iqro’.

            Setelah berkenalan dengan rekanku dan semua murid, pelajaranpun berlanjut. Sebagian anak mulai mengantri membaca Al Quran di depanku untuk aku simak bacaan mereka. Mereka sudah selesai mengerjakan tugas menulis hadist di buku tulis. Bagi anak yang sudah membaca dan menulis di buku, boleh bermain di halaman masjid. Mereka bermain hingga aku dan rekanku menyelesaikan menyimak bacaan Al Quran semua murid. 

            Waktu pulang pun tiba. Semua murid sudah selesai membaca Al Quran. Aku memperhatikan rekanku menutup kelas sore itu. Kuharap besok aku sudah memahami cara memulai kelas dan menutup kelas.

                                                ***

            Hari ini kelas dimulai. Rekanku ternyata belum datang, sementara jam pelajaran sudah harus dimulai. Aku pun membuka kelas dengan mengajak semua murid membaca doa seperti yang mereka lalukan kemarin. Kelas pun dimulai dengan menjelaskan sebuah hadist kepada semua siswa. Aku menulis sebuah hadist pendek tentang berbuat baik kepada orangtua di papan tulis. Kuminta semua siswa untuk menyalin di buku tulis mereka sebanyak 10 kali. 

            Sebagian anak mulai menulis, sedangkan sebagian lagi mulai mengantri di depanku. Aku mulai menyimak bacaan Al Quran mereka satu persatu. Hingga tak terasa waktu pulang pun tiba. Beberapa anak perempuan tiba-tiba menghampiriku sebelum kami mulai melantunkan doa penutup.

            Mereka menyodorkan sebuah buket bunga yang cantik kepadaku. “Ini buat Ummi sebagai ucapan selamat datang dari kami. Semoga Ummi betah mengajar kami ya.”

            Ya Allah… air mata haru merebak di pelupuk mataku. Aku tersenyum haru menerika buket bunga itu. buket bunga bougenville berwarna ungu, merah dan putih diletakkan di sebuah gelas air mineral bekas. Buket itu sangat cantik secantik anak-anak yang memberikannya padaku.

            “Terima kasih sayang. Insyaallah Ummi akan selalu bersama kalian di sini. Semoga kalian nggak bosan ya.” 

            Selanjutnya aku pun mengajak mereka membaca doa penutup majelis pada sore hari ini. Subhanakallahumma, wabihamdika, asyhadu anla ila ha illa anta, astaghfiruka atubu ilaik…


             

 

 

 

Tuesday, October 6, 2020

Untuk Seorang Sahabat Yang Kini Telah Tiada

Meri demikian nama yang diberikan orangtuaku padaku. Aku lahir 39 tahun silam.             

Aku bukanlah dari keluarga mampu. Bapakku seorang buruh kasar penganggut barang belanjaan di pasar. Sedangkan ibuku seorang pembantu rumah tangga. Aku anak ke 4 dari 6 bersaudara. Meskipun hidup kami pas-pasan, tapi kedua orangtuaku mewajibkan kami untuk sekolah. Alhamdulillah 5 orang saudaraku berhasil menyelesaikan SMA mereka. Saat ini mereka semua sudah mapan dan hidup bahagia bersama keluarga mereka masing-masing.

              Lain halnya denganku. Aku tidak seberuntung saudara-saudaraku. Aku tidak berhasil menamatkan Sekolah menengah Pertamaku. Bukan karena aku bodoh atu karena orang tuaku tidak mampu membiayai sekolahku. Tapi lebih karena ada sebuah ujian dari Allah yang menimpaku sewaktu aku berusia remaja. Ujian ini membuatku minder dan malu untuk melanjutkan sekolahku.

Mendapat Ujian Kehidupan

Ketika SMP, aku mendapat ujian dari Allah. Benjolan sebesar kelereng tumbuh di kakiku. Jika dipegang, benjolan itu tidak sakit. Tapi jumlahnya bertambah, yang tadinya hanya kutemukan di kaki kananku, sekarang muncul lagi di kaki kiriku. Setahun kemudian benjolan itu juga muncul di lengan kiri dan kananku serta di leherku. Benjolan yang tadinya sebesar kelereng itu lama-lama bertambah besar hingga sebesar bola pingpong. Karena semakin banyaknya benjolan ini bermunculan, sehingga membuatku merasa rendah diri. Apalagi ketika benjolan itu terlihat oleh teman-temanku. Mereka akan mengolokku dengan sebutan ‘manusia seribu telur’. Sejak itu aku memutuskan untuk berhenti sekolah. Aku malu dengan keadaanku
           Orangtuaku tidak diam saja. Mereka berusaha mengobatiku. Berbagai pengobatan telah kucoba. Mulai dari obat puskesmas, hingga obat kampung atau yang lebih dikenal dengan alternatif.  Dokter puskesmas merujukku ke rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan, kesimpulan dokter aku menderita tumor jinak yang mereka sebut dengan Lipoma. Karena tumor itu cukup banyak dan mulai menggangguku maka mereka menyarankan operasi. Orangtuaku bingung harus mencari biaya dari mana.
            "Tak usah dioperasi juga tak apa Mak," ujarku pada ibu waktu itu. Aku tidak tega melihat wajah tuanya terlihat binggung memikirkan penyakitku. Apalagi bapak juga sakit-sakitan. Beliau sering sekali batuk. Belakangan ini batuknya semakin parah. Aku tidak tega melihat kondisi bapak. Dengan kondisi seperti ini, bapak kadang berangkat ke pasar untuk menjadi buruh angkut. Kadang tidak.

          ”Tak ada yang nak pakai tenaga saya,” ujarnya sedih. Mungkin orang-orang itu enggan menyuruh bapak karena beliau sakit-sakitan. Jika sudah begini maka secara tidak langsung keuangan keluarga kami juga berkurang. 

              Aku memutuskan untuk membantu ibu bekerja. Tak kuhiraukan penyakitku ini. Aku ingin membantu mengurangi beban orangtuaku. Aku bertekad menambah keuangan keluargaku untuk kesembuhan bapak dan menambah biaya sekolah adikku. Ketika hal itu kuutarakan pada ibu, beliau termenung.

           "Mak, penyakit saya tak usah Mak pikirkan. Saya ikhlas kerja untuk bantu Mak,"  ujarku meyakinkan ibu. Ijin dari ibu baru ku dapat setelah dua hari kemudian. Beliau mengajakku untuk menjadi pembantu di rumah majikan beliau. Untunglah majikan ibu berbaik hati menerimaku bekerja pada mereka. Majikan ibu memintaku untuk bekerja di rumah anaknya di Jakarta. 

         Walau berat, ibu dan bapak ikhlas melepasku untuk bekerja di Jakarta. Pada hari yang telah ditentukan, aku  berangkat ke Jakarta bersama majikan ibu. 

Operasi Tumor Jinak

         Dua tahun aku di Jakarta. Tapi benjolan di badanku semakin bertambah. Hampir setiap jengkal badanku dihiasi benjolan kenyal itu. Benjolan itu juga tumbuh di perut dan punggungku. Kadang jika aku kecapaian rasa nyeri muncul dari benjolan yang pertama. Karena bertambah banyak benjolan tumbuh di badan membuatku semakin minder dan  malu untuk bertemu orang lain. Hari-hari di Jakarta kulalui dengan berdiam di dalam rumah. Hanya untuk keperluan membeli sayuran saja aku keluar rumah. Aku menolak ketika majikanku mengajakku ke mall atau ke tempat wisata lainnya. Aku tidak mau mereka merasa malu ketika semua orang memandangku dengan tatapan aneh.

        Ketika ada seorang laki-laki yang ingin berkenalan denganku, aku sudah mundur teratur. Padahal belum tentu juga dia ingin menjadikanku teman spesialnya. Tapi rasa minder itu benar-benar telah membuatku terpuruk. Apalagi aku juga tidak mau bergaul dengan sesama pembantu lainnya di komplek perumahan majikanku itu. Aku malu jika mereka tahu penyakitku.  Dan aku takut mereka akanmengolokku seperti teman-temanku di SMP dulu.

           Suatu kali majikanku bertanya tentang penyakitku ini. Majikanku kasihan melihat keadaanku yang kadang mengeluh nyeri ketika kecapaian setelah bekerja. Beliau memintaku untuk berobat kembali. Beliau berjanji membantu biaya operasiku.

         "Tak usah pikirkan biaya, saya nak bayar semua," ujar beliau waktu itu. Tak terbayangkan senangnya aku waktu itu. Aku bersujud kepada Allah, karena sudah memberi majikan yang baik padaku. Untuk memulai pengobatanku, aku diijinkan kembali ke kampung halamanku. Sampai di kampung aku langsung berkonsultasi dengan dokter. Pada hari yang telah ditentukan, operasi pengangkatan tumor itupun dilakukan.

           Dokter memutuskan mengangkat 3 benjolan besar satu di kakiku. Satu di punggung dan satu lagi di tangan. Untuk sementara benjolan kecil dibiarkan dulu. Dokter berharap setelah benjolan itu diperiksa di laboratorium patologi, mereka bisa memberikan obat yang sesuai agar benjolan lain bisa hilang tanpa harus operasi. 

         Seminggu kemudian aku menerima hasil patologi dari tumor yang diangkat itu. Hasilnya mengatakan itu bahwa aku mengidap tumor jinak yang berisi lemak. Aku lega mendengarnya. Setelah merasa kesehatanku pulih, aku kembali ke Jakarta.

Musibah Lain Datang
            Ternyata doaku belum dikabulkan Allah. Beberapa bulan kemudian, benjolan yang sudah dioperasi itu, tumbuh kembali. Sementara itu benjolan lain juga muncul hingga hampir memenuhi tangan dan kakiku. Untunglah di mukaku tidak ada benjolan itu.  Aku semakin malu. Aku pasrah, obat dari dokter pun sudah tidak berhasil mengurangi benjolan itu. Walau begitu aku masih terus berharap keajaiban itu datang.

          Suatu hari kabar mengejutkan kuterima ketika sedang bekerja di Jakarta. Ibu memintaku pulang ke kampung. Ayahandaku tercinta meninggal dunia. Bagai dihantam gelombang badai rasanya mendengar kabar itu. Aku tak kuasa menahan tangisku. Aku begitu dekat dengan bapak. Aku menyesali kepergianku setelah dioperasi ini. Karena waktu itu bapak melarangku kembali ke Jakarta.

        “Kerja dekat rumah kita sahajalah . Abah ingin kita berkumpul tidak terpisah macam ni,” ujarnya waktu itu. Hal ini menjadi penyesalan bagiku hingga beberapa bulan. Untunglah ada sahabatku yang menenangkan hatiku. Dia memintaku bersabar. Semua itu terjadi atas kehendak Allah. Jadi takpatut untuk disesali. Aku terpekur mendengar ucapan sahabatku itu. Sahabat satu-satunya yang  mengerti dengan keadaanku. Hanya padanya aku mau berbagi semua  kesedihan dan kebahagiaan. Sahabat yang menerima keadaanku di saat senang maupun sedih.

        Setiap hari sahabatku menyemangatiku. Dia membawakanku buku-buku agama untuk mengurangi kesedihanku. Sejak saat itu aku lebih banyak membaca bukuku yang dibawakan sahabatku itu. Apalagi sahabatku itu sering datang ke rumah menyemangatiku. Dia bahkan memberikan pakaian muslimah padaku. Dia memintaku untuk mengenakan pakaian itu agar aku semakin sempurna sebagai seorang muslimah. Aku mengikuti saran sahabatku itu. Sejak saat itu akau mengenakan pakaian muslimah. Aku berharap aku bisa semakin dekat denganNya dan selalu ikhlas menerima ketetapanNya sesuai saran sahabatku itu.

         Akupun memilih bekerja di kampung halaman saja. Aku ingin menemani ibuku. Aku menggantikan beliau bekerja di rumah majikan beliau yang lama. Tak tega rasanya melihat wanita yang melahirkanki itu masih bekerja keras di usia tuanya.

          “Mak, saya sahaja yang kerja ya, emak di rumah sahaja.” Saranku waktu itu pada ibu. Beliau setuju. Apalagi hanya satu orang adikku yang masih butuh biaya untuk sekolah. Adikku yang satu lagi sudah  bekerja. Setidaknya dia bisa membantu uang sekolah adikku yang bungsu.   Alhamdulillah 3 kakakku sudah menikah. Mereka sudah mandiri dengan kehidupan mereka masing-masing. Aku memilih tetap menjadi pembantu di rumah majikan ibu. Karena jasa beliau teramat banyak bagiku dan keluarga kami.

           Selang setahun dari kepergian bapak, ibupun akhirnya menyusul beliau menghadap Allah pemilik alam semesta ini. Aku benar-benar terpukul mendapati kedua orang tuaku kini telah tiada. Kepada siapa aku harus berbagi kegembiraan dan kesedihanku. Biasanya ibu selalu mendengarkan keluh kesahku, tapi kini beliaupun seolah tidak pedulu terhadapku lagi. 

           “Ya Allah kuatkan hamba menerima ketetapanMu ini,”  doaku di setiap sujudku. Hanya Allah-lah satu-satunya tempatku mencurahkan semua rasaku. Sahabatku yang baik itu pun sudah jauh dariku. Dia sudah menikah dan diajak suaminya merantau ke Jakarta. Hanya sesekali kami bertukar kabar. Aku juga tidak bisa sering-sering menelponnya. Dia bekerja, aku tidak ingin mengaganggu pekerjaannya dengan keluhan dan masalahku. 

 

Adikku Ingin Menikah

 Suatu hari adikku minta ijin untuk menikah kepadaku. Sebagaimana kebiasaan di kampung kami, jika kakak perempuan belum menikah maka adik harus memberikan pelangkah pada kakak perempuan itu. Adikku memintaku untuk segera menikah, atau dia akanmemberi pelangkah untukku agar dia bisa menikah lebih dulu.  Waktu itu sudah 28 tahun usiaku. Walau dalam hati aku sangat ingin menikah, apa daya aku tidak punya calon. Apalagi aku yakin tidak ada laki-laki yang mau menerima keadaanku yang penyakitan seperti ini.

          “Kau beli sahaja alat sembahyang untukku, aku ikhlas kau menikah lebih dulu,” hanya itu jawabn yang bisa kuberikan pada adikku. Adikku setuju. Akhirnya pernikahannyapun terlaksana. Kini hanya aku dan adik bungsuku di rumah. Aku juga sudah berhenti bekerja di rumah majikanku. Karena beliau meninggal, rumahnya sudah dijual kepada orang lain. Sementara anak-anaknya sudah di Jakarta semua.

Seseorang Ingin Menjodohkanku.

“Meri, saya rasa umur kau sudah tidak muda lagi, sebaiknya kau menikah,” ujar seorang tetua kampung dekat rumahku. Aku ingat ibuku pernah menitipkanku pada bapak itu. Beliau ternyata masih mengingatnya. Beliau mencarikan calon suami untukku. Aku terkejut mendengar permintaan bapak itu. 
         “Pakcik, bukannya saya menolak, tapi saya taknak menikah. Saya tak mau, tiba-tiba nanti orang itu pergi meninggalkan saya ketika tahu keadaan saya.” Jawabku waktu itu. Aku masih trauma dengan kejadian yang pernah kualami beberapa kali. 

        Waktu itu aku sudah mengenakan pakaian muslimah, secara tidak langsung semua benjolan di badanku tertutupi. Hingga suatu kali ada seorang laki-laki yang berusaha mendekatiku dan  ingin menikah denganku, aku berbaik sangka dengan keinginan laki-laki itu. Aku pikir laki-laki itu pasti tahu tentang penyakitku ini. Aku  menerima lamarannya. Suatu kali dia mengajakku jalan-jalan. Ketika kami duduk di taman , dia melihat tanganku, dia terkejut dan bertanya “Kenapa tanganmu dek?” Aku jelaskan tentang penyakitku. Setelah itu laki-laki itu mundur dan tidak pernah berkunjung lagi ke rumahku. 

            “Belum jodoh itu kak, bersabarlah,” ujar adikku menenangkan. Aku ikhlas dan bersabar. Tapi kejadian serupa terulang lagi beberapa bulan setelah itu. Aku sangat terpukul. Sejak saat itu aku jadi bertambah yakin, mungkin Allah tidak menghadirkan jodohku di dunia ini. Aku ikhlas, semoga Allah memberikan jodoh terbaik untukku di akhirat nanti.  

             “Cubalah dulu kau bertemu bujang tu, nanti kalau dia tak mau, baru kau cakap itu bukan jodoh kau,” saran bapak itu. Tapi rasa rendah diriku melebihi segalanya. Aku yakin orang itu akan mundur jika dia tahu keadaanku. Maka sebelum dia mundur, lebih baik aku tidak menemuinya sama sekali. Aku menggeleng dan menolak saran beliau untuk bertemu laki-laki itu. Aku pasrah, mungkin tidak menikah adalah jalan terbaik untukku. 

              Dalam sebuah buku yang dibelikan sahabatku, aku pernah membaca bahwa seorang laki-laki berhak menolak perempuan yang penya penyakit. Dan jika aku memposisikan laki-laki itu adalah aku, maka pasti aku juga menolak perempuan yang berpenyakitan. Walau aku juga pernah membaca sebuah hadist Rasullullah SAW yang intinya  bahwa memilih perempuan untuk dinikahi itu dari keturunannya,  agamanya, kecantikannya, hartanya. Dan pilihlah wanita yang baik agamanya karena itu akan membuat laki-laki bahagia. Tapi aku berpikir tidak ada laki-laki yang mau denganku walau agamaku baik karena aku mempunyai penyakit. 

               Hingga saat ini aku memutuskan untuk tidak menikah, entahlah jika suatu hari nanti Allah menginginkan aku menikah. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku untuk beribadah pada-Nya. Saat ini aku memilih untuk berjualan di depan rumahku. Aku  menjual ketupat sayur setiap pagi. Lumayan penghasilan yang kudapat dari berjualan itu. Sore harinya aku  menerima upah menjahit jilbab yang kuambil dari tetanggaku seorang pengusaha konfeksi.

             Dari keuntungan berjualan dan upah menjahit jilbab itu aku memenuhi kebutuhanku sehari-hari. Aku juga masih bisa menabungnya untuk biaya pengobatanku. Karena aku masih mengusahakan kesembuhanku. Aku masih mencari pengobatan alternatif agar suatu saat kelak aku bisa sembuh. Aku yakin Allah akan memberikan kesembuhan padaku. Karena Allah terlah berjanji bahwa setiap penyakit itu pasti ada obatnya. Hanya saja untuk saat ini mungkin aku belum menemukan obat untuk penyakitku. Semoga saja Allah segera mempertemukanku dengan obat itu, agar aku bisa lebih membuka diri pada seorang laki-laki. 

                                                            ***


catatan: Tulisan ini sudah saya tulis tahun 2011 lalu. Saat ini sahabat saya yang ada dalam cerita ini sudah kembali ke hadiarat Allah Subhanahu wataala beberapa tahun setelah saya menulis kisah ini. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa sahabat saya itu dan melapangkan kuburnya. Semoga Allah menempatkan dia di tempat terbaik di sisi Nya. Aamiin...

Monday, October 5, 2020

Terapi Alergi Dengan Alat Biomagnetik Resonansi

Beberapa bulan lalu saya menemani putri saya ke klinik alergi RS Bella Bekasi Timur. Keluhan Syifa putri saya adalah muncul biduran di beberapa bagian tubuhnya sejak awal Juli lalu.

Syifa sudah berobat ke dokter dan minum obat alergi. Tapi ketika obat habis, alerginya kambuh lagi. Demikian yang terjadi selama hampir sebulan.

Nah di RS Bella ini kami berkonsultasi dengan dokter alergi.  Dokter pun menanyakan keluhan Syifa. Selanjutnya beliau melakukan tes alergi untuk Syifa. Uniknya metode yang digunakan untuk tes alergi bukan metode yang pernah dilakukan syifa ketika dia SMP dulu.

Kalau dulu tes alerginya dengan cara meneteskan alergen di kulit syifa. Tapi tes yang ini dengan metode biomagnetik resonansi.

Sebuah pendulum didekatkan ke tubuh Syifa bersama alergen yang terdapat dalam ampul kaca. Alergen itu terdiri dari sekitar 60 benda seperti debu, tepung, beras, salmon, kacang kedele dll.

Jika alergen yang didekatkan ke tubuh syifa membuat pendulum bergoyang ke kiri dan kanan, artinya syifa alergi terhadap alergen itu. Tapi jika gerakan pendulum ke depan dan belakang artinya syifa tidak ada masalah dengan alergen tersebut.

Selanjutnya dokter berhasil mendapatkan 44 alergen yang membuat tubuh syifa biduran. Beliau menyarankan syifa melakukan terapi biomagnetik resonansi selama 16 kali pertemuan dengan jarak satu pertemuan ke pertemuan  berikutnya 4 hari atau sepekan sekali.

                                                                                 Video ketika Syifa tes alergi menggunakan alat biomagnetik resonansi 

Di hari yang dijadwalkan, syifa pun mulai melaksanakan terapi biomagnetik selama kurang lebih 20 menit. Karena ini masih awal, dokter ingin mendetoksifikasi tubuh syifa dulu. Jadi belum masuk ke terapi yang seharusnya.

Caranya:

Pertama suster meminta syifa memberikan sampel ludahnya ke sebuah tisu. Selanjutnya alat biomagmetik dihubungkan ke tisu yang ada air liur tadi. Sebuah kabel dengan pendulum bulat di ujungnya diberikan kepada syifa untuk digenggam. Dan proses detox pun dimulai. Ini berlangsung selama 5-7 menit. Setelah itu ada kabel dan alat biomagnetik berupa batangan besi diletakkan ke kedua kaki syifa. Alat ini juga tersambung ke alat biomagnetik. Tangan syifa masih menggenggam pendulum berbentuk bola yang tadi. Sesi ini selama 10 menit. Dan terakhir ada sebuah alat juga yang diletakkan ke pusar syifa. Ini kurang lebih 5-7 menit. Setelah itu terapi sesi detox pun selesai. 

Menurut dokter Luhani Kristanto, dokter yang merawat Syifa, alat ini adalah teknologi Jerman. Di RS Bella sendiri ini sudah ada sejak th 2007. Di ruangan terapi ini saya melihat lisensi dari biomagmetik resonansi jerman untuk alat dan untuk keahlian dokter Luhani. Dokter Luhani merupakan dokter umum yang mengambil lisensi untuk keahlian ini ke pusat teknologi ini ditemukan di Jerman. 

                                      Lisensi Dokter Luhani Kristanto dari Jerman

Jujur ini baru pertama kali saya melihat alat dan terapi ini. Namun untuk ikhtiar kesembuhan tak ada salahnya mencoba kan? Selama tidak bertentangan dengan agama saya. Apalagi dokter Luhani mengatakan bahwa terapi ini berhubungan erat dengan ilmu fisika. 

Sebagaimana yang kita ketahui alam semesta dan isinya Allah ciptakan tak jauh dari ilmu fisika dan sain. Jadi kenapa tidak saya coba saja dulu pengobatan ini. Karena kuatir juga kalau syifa harus minum obat tiap hari. 

Insyaallah syifa akan kembali diterapi pertamanya hingga 16 kali. Semoga alergi syifa bisa hilang ya. Karena kasihan juga melihat dia menahan gatal dan badannya bentol bentol gitu. Mohon doanya ya sahabat.

Monday, September 21, 2020

Semangat Hijrah Di Era Pandemi

           

Bismillahirrahmanirrahim


Artikel di bawah ini adalah catatan saya ketika mengikuti kajian via zoom meeting yang dibawakan ustadzah Erna Sulistiyowati di Bekasi Utara dan sekitarnya. Semoga bermanfaat



Proses hijrah bukan hal mudah. Butuh kesabaran agar mampu melakukannya dengan baik.

Makna hijrah ada 3

1.     Secara Bahasa hijrah adalah memutuskan

2.     Secara istilah  adalah berpindahnya Rasulullah SAW dan sahabat dari Mekah ke Madinah

3.     Secara maknawi hijrah adalah proses seseorang menjalani semua perintah Allah melalui Al Quran. Meninggalkan yang tidak beriman menjadi beriman, dari kebiasaan berperilaku buruk kepada kebiasaan berperilaku baik, dari kebiasaan melakukan hal haram menjadi melakukan hal halal.

 

Buah yang didapat dari proses hijrah ada dalam Al Quran:

 

Al Quran surah Annisa ayat 100

·      Allah menjanjikan bagi orang yang berhijrah mendapatkan rizki yang banyak, pahala dan kelapangan


·      Allah mengampuni dosa-dosa orang yang berhijrah

 

Al Quran surah At Taubah ayat 20-22

·      Allah akan meninggikan derajat orang yang berhijrah

·      Orang yang berhijrah mendapatkan kemenangan

·      Orang yang berhijrah akan disayang Allah

·      Mendapat keridhaan Allah

·      Mendapatkan surga yang penuh kenikmatan

 

Sikap orang yang berhijrah di era pandemi

 

·      Salah satu sikap umat islam adalah mengimani takdir dan hari kiamat yang pasti datang.

            Pandemi adalah salah satu takdir Allah. Sehingga kita lebih mengimani rukun iman yang ke 6 percaya kepada qodha dan qodar Allah. Apalagi Rasulullah juga bersabda bahwa salah satu tanda kiamat sughra adalah terjadinya wabah. Wabah thoun ini juga pernah terjadi di masa pemerintahan Umar bin Khattab RA. 25 ribu umat islam wafat saat itu. 



·      Menguatkan dan mengokohkan kecintaan kita pada Allah SWT dengan berbagai cara. Contohnya  memperbaiki shalat, menambah shalat sunnah dll

·      Semakin mesra dengan Al Quran. Menambah tilawah dari kebiasaan. Mentadabburi Al Quran, menghapal Al Quran dll. QS Al Ahzab ayat 33, QS 28 ayat 23.

Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang suci : Al Baqarah : 222. 

·      Senantiasa menghadirkan kedekatan dan kelekatan dengan anggota keluarga

·      Senantiasa menghadirkan sikap husnuzhon pada Allah SWT. QS 49: 12. Positif thinking menghadirkan positif feeling sehingga akan meningkatkan imunitas tubuh.

·      Menumbuhkan sikap sabar dan syukur terhadap semua ketentuan Allah. Bahwa semua yang kita lakukan adalah ibadah. Ibadah mahdah adalah ibadah yang ditetapkan Allah bilangan, waktu  dan tempat mengerjakannya. Sedangkan ibadah ghairu mahdah adalah ibadah selain itu. misalnya silaturrahim, menuntut ilmu, menjaga dan merawat anak dan keluarga dll.


 

 

Thursday, September 17, 2020

Hujan Badai

 

            Hari ini langit terlihat sangat cerah. Mentari bersinar terik. Kiara dan teman-temannya sedang belajar di kelas. Sekolah mereka tidak seperti sekolah anak-anak di kota. Sekolah mereka terbuat dari kayu yang sudah mulai lapuk. Sekolah itu adalah satu-satunya sekolah di desa mereka.

            Tapi Kiara dan teman-temannya sangat suka belajar. Sehingga mereka tidak keberatan belajar di kelas yang hampir rubuh. Ketika asyik belajar, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh bunyi suara angin yang menderu. Tapi mereka tak menghiraukannya. Mereka tetap belajar.

            “Ini tugas saya Kak,” ucap Kiara sambil menyerahkan tugasnya kepada Kak Imah, guru mereka. Kak Imah menerima buku yang diberikan Kiara sambil tersenyum. Kak Imah sebenarnya adalah seorang gadis berusia 19 tahun yang baru tamat SMA. Dia menggantikan sementara Bu Yuli karena sakit. 

            Kiara kembali ke bangkunya. Sekilas dia melihat keluar jendela kelas. Langit yang tadi cerah ternyata sudah berubah warna menjadi kelabu. Angin menderu makin kencang. Sepertinya badai akan segera datang. 

            “Ayo adik-adik, segera selesaikan tugas kalian. Kita akhiri kelas hari ini,” kata Kak Imah. 

            “Betul Kak, sepertinya akan turun hujan,” ujar Kiara. Baru saja Kiara menyelesaikan ucapannya, hujan pun terdengar menetes di atap kelas mereka. Hujan datang begitu deras. Angina bertiup sangat kencang. Semua anak mulai panik. Kak Imah menenangkan seisi kelas. Ada 15 anak yang hadir saat itu.

            “Ayo berkumpul di sebelah sini adik-adik. Semoga badai segera berakhir,” perintah Kak Imah. Kiara mengajak teman-temannya menuju sudut ruangan yang disarankan gurunya tadi. Kak Imah sengaja memilih tempat itu agar murid-muridnya terhindar dari tempiasan air hujan yang masuk ke dalam kelas. 

            Semakin lama badai makin besar. Suara badai menderu membuat anak-anak ketakutan. Beberapa teman Kiara sudah mulai menangis. Apalagi ketika salah satu atap kelas mereka sudah diterbangkan angin, makin kencang tangisan anak-anak itu. 

            “Apa yang harus kita lakukan Kak?” tanya Kiara dengan wajah pucat.

            Kak Imah melihat sekitarnya. Dia berlari ke lemari di sudut belakang kelas. Lalu dia mencari sesuatu di sana. 

            “Syukurlah ada tali di sini!” ucapnya senang. Kak Imah mengingatkan tali itu ke badan semua anak. Terakhir dia mengikatkan tali ke badannya. 

            “Adik-adik, kita harus keluar dari kelas ini sebelum kelas roboh dihantam badai. Kakak harap kalian harus berani dan kuat berjalan ke rumah yang di depan sana ya. Jangan panik, tetap tenang. Semoga Pak Hardi pemilik rumah itu bersedia menerima kita berteduh sementara di sana.”

            Semua murid mengangguk mengerti.  “Ayo kita berjalan sambil beriringan. Semua berada dalam satu barisan ya,” perintah Kak Imah. Kiara membantu Kak Imah mengajak teman-temannya berbaris. Posisi mereka sudah terikat tali satu sama lain. Mereka pun mulai berjalan beriringan menembus badai. 

            Sambil berjalan Kak Imah menyemangati murid-muridnya dengan melapalkan doa-doa. Rumah yang akan mereka tuju terletak sekitar dua ratus meter dari sekolah. Mereka pun mulai berjalan dengan terseok menghadapi badai.

            Lima belas menit kemudian mereka sampai di rumah Pak Hardi. Bersyukur Pak Hardi bersedia membantu Kiara dan teman-temannya. Bu Hardi memberikan teh hangat dan handuk kepada mereka semua. Bu Hardi juga memberi selimut agar mereka tidak kedinginan. 

            Beberapa jam kemudian badai pun berakhir. Orang tua murid terlihat mencari anak-anak mereka. Mereka berterima kepada Kak Imah dan keluarga Pak Hardi yang sudah menyelamatkan anak-anak mereka.

            

                                                            ***

Tips Mengenali Teman Yang Mengenakan Masker

        Saat ini kita semua wajib pakai masker demi menjaga kesehatan. Nah salah satu akibat memakai masker ini adalah kita jadi tidak mengenali orang lain. Padahal bisa jadi orang tersebut adalah saudara kita, teman, guru ato dokter yang pernah merawat kita. 

Padahal biasanya jika bertemu mereka kita pasti memberi salam atau tersenyum menyapa sambil menanyakan kabar. Lalu bagaimana jika kita tidak mengenali mereka?

Mungkinkah seseorang bisa mengenali orang lain ketika orang tersebut mengenakan masker? Misalnya ketika kita bertemu teman ato kolega di luar rumah ato luar kantor.

Jawabannya insyaallah kita bisa mengenali mereka. Begini alasannya.

Pertama jika orang itu adalah orang yang kita sayangi, orang terdekat kita seperti anak, suami, istri, ibu, kakak, adik tentunya kita sudah hapal dengan gestur tubuh, postur tubuh, dan tatapan mereka. Jadi kenali melalui tatapan mata dan gestur tubuh mereka ya.

Cara lain dengan mengenali kebiasaan mereka berpakaian. Biasanya teman, tetangga, guru ato kolegamu pasti punya keunikan tersendiri dalam hal berpakaian.
Jadi coba ingat kebiasaan pakaian mereka.

Selanjutnya kalian juga akan mengenal mereka ketika mereka bersuara memanggilmu. Karena kalian sudah familiar dengan suara mereka. Jadi tidak ada alasan untuk tidak mengenali seseorang kan? Jangan lupa sapa mereka jika kalian mengenali mereka ya. Agar silaturrahim tetap terjaga.

Ada yang mau menambahkan?

Ohya, apa kalian mengenali saya jika kita  bertemu di luar ketika kita masing-masing mengenakan masker?

Saya harap jangan salah paham kalo saya tidak mengenali kalian ya. Bisa jadi mata saya yang sedang tidak berkacamata membuatmu tidak terlihat jelas di depan saya. Tetap jaga jarak, pakai masker dan cuci tangan ya sahabat. 😀

Sunday, July 5, 2020

Raibnya Tape Recoreder (2)

Keesokan paginya saya teringat lagi dengan lintasan pikiran saya semalam, saya menceritakannya kepada Ni Ira. 

“Kalau begitu kita harus memperhatikan gerak-gerik Eno,” saran Ni Ira.

“Kita perhatikan kegiatannya tapi jangan terlalu mencolok,” tambah Ni Ira lagi. Saya mengiyakan saran Ni Ira. Untuk memulai misi ini, saya pun mulai berakrab-akrab dengan Eno dengan tidak melupakan terus berdoa dengan ikhlas kepada Allah. 

Dalam doa saya kali ini, saya mohon kepada Allah, jika memang yang mengambil mini tape itu Eno, tolong bantu saya agar saya bisa mengungkapnya, dan Eno mau mengembalikannya. Namun jika bukan Eno yang mengambilnya, maka ampuni saya yang telah berprasangka kepada Eno.

  Allah mengabulkan doa saya. Setelah saya mulai akrab, Eno pun bercerita kepada saya tentang seorang cowok yang sedang di taksirnya. Cowok itu sekarang sedang PKL (Praktek Kerja Lapangan) di sebuah hotel yang tidak begitu jauh dari asrama kami. 

“Kami lagi pedekate,” demikian ceritanya. “Nelfi bantuin dong gimana caranya biar saya jadi pacaran sama dia,” dia minta saran saya. 

Saya sebenarnya risih mendengarkan hal ini. Di samping saya belum mengenal cowok, saya juga tidak mengerti apa yang harus dilakukan untuk mendekati cowok. Bagi saya sangatlah tabu jika cewek yang harus mengejar-ngejar cowok. Tapi mengingat misi itu, akhirnya dengan ngasal saya sarankan untuk memberi cowok yang ditaksirnya itu sebuah hadiah. 

“Udah Nel.., saya baru saja memberinya hadiah. Dia senang dapet hadiah dari saya.” 

Tanpa diduga Eno mengatakan sesuatu yang membuat saya terkejut. Entah mengapa ketika Eno menyatakan hal itu, jantung saya berdebar-debar. Pikiran saya langsung kepada mini tape itu. Saya berusaha menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh. Saya tidak mau misi saya berantakan sia-sia, hanya karena kecerobohan saya.

Satu ide muncul dari pikiran saya. Saya harus mencari tahu cowok yang dimaksud Eno. Kebetulan dia tadi menyebutkan nama dan hotel di mana cowok itu PKL. Saya kembali bersyukur kepada Allah atas jalan yang sudah sedikit terang ini. 

Saya sebenarnya tidak enak hati dengan Siti yang entah berapa kali  menanyakan mini tapenya. Saya hanya bisa minta maaf dan berharap dia bersabar. Kemarin saya sempat mencari toko tempat menjual mini tape. Untuk menanyakan harganya. Teryata harganya tiga ratus ribu rupiah. 

Uang sebanyak itu jika disamakan dengan nilai rupiah sekarang mungkin sekitar tiga juga rupiah atau lebih. Tak mungkin saya dapatkan dalam waktu dua hari ini. Batas waktu yang diberikan Siti. Saya berpikir untuk menahan uang sekolah sebanyak seratus lima puluh ribu yang diberikan bapak kemarin. Saya berpikir uang itu bisa saya gunakan untuk mengganti mini tape jika dalam beberapa hari mini tape tidak saya temukan. Tapi saya harus segera mencari tambahannya. 

Saya memohon kepada Allah agar memudahkan jalan saya menyelidiki cowok itu. Alhamdulillah.., Allah kembali memperlihatkan kepada saya sebuah jalan yang semakin terang. Hari ini saya berencana minta ijin untuk keluar asrama. 

Izin keluar asrama sangat sulit didapat di hari sekolah. Kami hanya diizinkan keluar asrama di hari minggu, itupun pada jam yang telah ditentukan. Kalaupun terpaksa minta ijin di hari biasa, maka kami harus punya alasan yang sangat kuat, dan bisa dipertanggungjawabkan. Saya belum tahu akan memberikan alasan apa. 

Ketika pelajaran usai, saya bercerita tentang keinginan saya untuk minta izin keluar asrama, kepada sahabat saya yang biasa saya sapa dengan sebutan Kak Atik. Kami sekelas, walaupun tidak satu kamar, tapi saya cukup dekat dengannya. Sebelumnya saya juga menceritakan masalah saya ini kepadanya. Makanya kali ini saya juga ingin minta pendapatnya.  

“Mau kemana sih?” tanya Kak Atik.

“Ke Hotel Denai. Katanya cowok yang ditaksirnya itu PKL di sana. Eno pernah memberikan hadiah kepada cowok itu. Saya yakin hadiah yang diberikannya adalah mini tape yang saya cari. Saya ingin bertemu cowok itu, dan menanyakan tentang hadiah itu.”

“Kalau begitu kamu nggak usah ke sana. Saya punya sepupu yang kerja di sana. Kita telpon saja sepupu saya itu dan minta tolong untuk mencari tahu. Kalau kamu bertemu dia, kan belum tentu hadiah yang diberikan itu adalah mini tape. Jadi kamu akan mempermalukan dirimu sendiri,” saran Kak Atik.

Alhamdulillah.., ternyata Kak Atik punya saudara yang kerja di hotel itu. Saya tidak perlu mempermalukan diri bertemu dengan seseorang yang tidak saya kenal, ditambah lagi saya tidak perlu mencari alasan untuk ijin keluar asrama. Kami pun segera menuju telpon umum yang ada di lingkungan sekolahku. Untuk yang satu ini, kami tidak perlu minta ijin. 

Setelah Kak Atik berbicara dan bercerita tentang masalah saya kepada sepupunya yang kebetulan seorang chef di hotel itu, sang sepupu bersedia membantu kami. Saya menyebutkan merk dan warna serta ciri khusus dari mini tape yang saya cari itu. Serta yang tak kalah pentingnya kaset mungil di dalam mini tape itu berisi rekaman doa sewaktu malam penutupan orientasi siswa di sekolah kami.

Dia berjanji akan menanyakan benda yang saya cari itu kepada cowok yang namanya tadi sudah saya sebutkan. Ternyata cowok itu memang sedang PKL di hotel. Sebelumnya kami berpesan, agar saudara sepupu Kak Atik, tidak menceritakan kejadian ini kepada cowok yang kami maksud. Kami akan menelpon kembali keesokan harinya guna mengetahui hasil ‘investigasi’ sang sepupu.

Alhamdulillah, Allah benar-benar telah mempermudah jalan saya. Setelah keesokan harinya, aku menelpon kembali sepupu Kak Atik. Ternyata benda itu memang ada di tangan cowok itu. 

Sepupu Kak Atik seorang cowok, maka tak sulit baginya untuk bermain ke kos-kosan cowok yang ditaksir Eno. Setelah berbasa-basi seperlunya dia melihat mini tape itu di atas meja belajar kos-kosan. Akhirnya dia bertanya benda itu dibeli di mana dan harganya berapa. Dengan spontan si cowok menjawab bahwa benda itu di berikan sebagai hadiah oleh Eno, temannya yang bersekolah di SPK. 

Yakinlah saya ternyata benda itu memang diambil oleh teman saya sendiri. Sampai di sini saya bingung harus bagaimana selanjutnya. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada sepupu Kak Atik ini. 

“Kalau gitu kita bicarakan hal ini nanti malam! Uni akan meminta Eno untuk datang.” Uni Ira meminta saya dan Eno untuk menemuinya di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, setelah saya ceritakan hal ini kepada Uni Ira.

“Uni Ira punya rencana untuk menjebak Eno agar mengakui perbuatannya,” tambah Uni Ira. Tempat yang dimaksud adalah atap asrama. Sebenarnya tempat itu sebuah atap cor-coran yang biasa kami gunakan untuk menjemur pakaian. Di tempat itu disediakan jemuran, untuk mencapainya kami harus naik tangga putar.

Malam pun tiba. Dengan berdebar-debar saya ke sana. Beberapa saat kemudian Eno pun tiba. Saya tak henti-hentinya berdoa dalam hati memohon kekuatan kepada Allah, agar saya tidak sampai emosi ketika bertemu dengan teman yang telah membohongi saya ini dan membuat uang SPP saya hampir melayang.

Sepertinya Eno tidak tahu bahwa dia diminta Uni Ira untuk menemuinya sehubungan dengan masalah saya. Dia santai berjalan menuju kami. Sepertinya dia tidak memperhatikan ada saya juga di tempat itu. Namun ketika dia melihat ada saya di tempat itu, dia mulai terlihat gugup. 

Pembicaraan pun dimulai Uni Ira dari sejak pertama kali saya kehilangan mini tape itu. Eno tidak mengakui perbuatannya. Saya geregetan. Berusaha menahan diri dengan istighfar dalam hati. Saya ceritakan temuan dan penyelidikan saya beberapa hari yang lalu kepadanya.

“Ya, saya yang mengambil mini tape itu Ni Ira..,” akhirnya selama kurang lebih dua jam kami di atas atap itu, barulah dia mengakui perbuatannya. 

Alhamdulillah ya Allah... saya sangat lega dengan pengakuan ini. Hampir saja saya kehilangan kesabaran. Waktu itu sudah terlontar dari mulut saya untuk membawa masalah ini kepada pengawas asrama. Bagi kami penghuni asrama, pastilah tidak mau berhubungan dengan ibu asrama yang super killer itu. 

 “Nelfi.., Alhamdulillah mini tape itu sudah ketemu. Sekarang Nelfi ke kamar duluan ya.., Uni mau bicara sama Eno mengenai cara mengambil kembali mini tape itu.”