Friday, April 8, 2022

Kekuatan Doa Berjamaah

 Bismillahirrahmanirrahim.

Sudah setengah tahun Kakak Sulung Nay menyelesaikan kuliahnya. Alhamdulillah Kak Sasha sudah menjadi seorang sarjana kimia sekarang. Tiap hari dia mengirim CV dan lamaran kerjanya melalui email ke beberapa perusahaan. Kak Sasha sebenarnya sudah merasa bosan di rumah tanpa kegiatan yang berarti. 

Sehari-hari dia hanya bermain game bersama Nay. Apalagi Nay juga masih belajar online. sehari offline dan sehari online. sehingga mereka puas bermain sepanjang hari. Tapi hal ini tidak membuat kak Sasha gembira. karena dia biasanya aktif di BEM semasa kuliah. Bermain game sepanjang hari membuatnya lama-lama bosan. 

Kak Sasha juga sering mengikuti webinar berbagai macam materi. Dari mulai materi yang sesuai dengan kuliahnya dulu sampai materi yang sama sekali bukan bidangnya. Dia juga ikut webinar yang ada hadiahnya berupa uang. Alasannya biar dia dapat hadiah jika bisa menjawab pertanyaan di akhir webinar. Ada-ada saja kak Sasha. 

Beberapa panggilan kerja untuk Kak Sasha sebenarnya sudah berdatangan. Ada yang interview online ada juga yang online. Tapi qadarullah belum satu pun dari interview itu yang berhasil meloloskan kak Sasha untuk bekerja.

Suatu hari Bunda Nay mengajak semua keluarganya untuk shalat berjamaah maghrib di rumah. Alhamdulillah hari ini semua sedang berkumpul. Kak Sasha, Bang Haikal juga sudah di rumah. Bunda Nay mengatakan bahwa Bunda Nay akan mengkhatamkan Al Quran malam ini.

"Kata ustadz, sebaiknya jika akan khatam quran, ajaklah semua anggota keluarga untuk khatam bersama. agar semua keluarga mendapatkan berkah Al Quran. Makanya Bunda ajak kalian sekarang untuk Khatam Quran setelah isya."

Semua setuju. Mereka pun melaksanakan shalat maghrib berjamaah dengan bang Haikal sebagai imamnya. Kemudian mereka mengkhatamkan Al Quran setengah juz yang disisakan Bunda Nay. Mereka menutupnya dengan doa khatmul quran. 

"Alhamdulillah kita sudah selesai khatmul qurannya. Sekarang ayo kita berdoa bersama untuk kebaikan kita sekeluarga. Khususnya untuk Kak Sasha yang akan melaksanakan interview kerja besok. Semoga Kak Sasha diterima bekerja di perusahaan yang sudah Allah pilihkan untuk Kak Sasha," ajak Bunda Nay. 

Bang Haikal pun mulai memimpin doa. Semua keluarga mengaminkan doa bang Haikal. Bunda Nay juga meminta Bang Haikal memimpin doa untuk kesembuhan Nenek Nay yang sedang sakit di kampung. Setelah beberapa doa melangit, semua dengan khusu' mengaminkannya. 

"Semoga doa tulus ikhlas kita hari ini, Allah ijabah semua doa, aamiin..." tutup Bunda Nay. Shalat jamaah pun berakhir.


Bersambung ... 

Thursday, April 7, 2022

Lagging

Bismillahirrahmanirrahim

Malam ini Qadarullah hujan, jadi kami memutuskan shalat tarawih di rumah. Hauzan yang menjadi imamnya. Bersyukur pada Allah, karena Hauzan percaya diri menjadi imam untuk shalat tarawih bersama ibunya. Karena biasanya dia hanya menjadi imam shalat fardu saja. Kami pun shalat dengan khusu'. Setiap akan melanjutkan dua rakaat baru, Hauzan memeriksa mushaf dulu untuk meyakinkan bahwa dia seratus persen hapal surah yang akan dibacanya nanti.

Alhamdulillah shalat tarawih berjalan lancar hingga rakaat terakhir. Hanya saja saat rakaat ke ke dua shalat witir, Hauzan tiba-tiba terdiam setelah membaca surah Al Fatihah. Sepertinya dia bingung mau membaca surah apa. Padahal tadi sebelum shalat witir dia sudah yakin akan membaca salah satu surah dalam juz Amma. Saya menahan diri untuk tidak mengingatkannya. 

Alhamdulillah kurang lebih 20 detik Hauzan ingat awal surah yang akan dibacanya. Saat membaca surah pendek di rakaat ke dua itu, suara Hauzan sempat terdengar nyaris menahan tangis. Mungkin dia panik karena lupa itu. Selanjutnya dia mengimami shalat witir hingga selesai. 

Selesai shalat, saya memberi semangat pada Hauzan. "Ibu sangat senang dan bersyukur Alhamdulillah Hauzan sudah bersedia menjadi imam shalat tarawih. Tidak masalah lupa membaca surah pendek, tidak perlu panik. Karena hampir semua imam juga pernah lupa. Bahkan setingkat Syaikh Sudais Imam Masjidil Haram saja juga punya seorang jamaah di shaf pertama untuk mengingatkan beliau jika beliau lupa kelanjutan ayat yang dibacanya."

Mendengar kata penyemangat dari saya, Hauzan kembali tersenyum. Dia berkata," Aku juga bingung bu, kenapa tadi aku sempat lagging?"

Saya nyaris terbahak mendengar kalimatnya. Kalimat anak milenial yang sering mendengar istilah IT. 

"Semoga nanti-nanti nggak lagging lagi ya Nak. Insyaallah kalau sering murajaah, pasti nggak akan lagging." 

Bekasi 5 April 2022



Wednesday, April 6, 2022

Ibu Yang Mencintai Anaknya Sampai Akhir

 Bismillahirrahmanirrahim.

Saya tak begitu mengenal sifat, watak dan wajah ibu kandung saya. Karena Qadarullah beliau sudah berada di sisi Allah sejak saya berusia 5 tahun. Saya hanya mengenal cerita tentang beliau dari ayah yang biasa saya sapa dengan Apa Allahuyarham. Yang saya tahu Apa selalu menceritakan tentang kebaikan Ama Allahuyarham. 

Antara lain Ama sangat pintar mengaji (membaca Quran dan mengajarkannya). Beliau juga sangat gesit, gigih, sabar dan semua sifat baik lainnya. Sepertinya Apa takkan pernah melupakan cinta pertamanya itu. Karena tak pernah saya mendengar keburukan Ama dari mulut Apa.

Demikian juga orang-orang sekitar Ama mengatakan bahwa Ama adalah orang yang sangat baik. Saya mendengar kisah Ama dari beberapa sahabat beliau. Saya juga mendengar kisah kebaikan dan semua sifat Ama yang tak ada satu pun kekurangannyan melalui kerabat beliau. 

Sungguh saat masih kecil, saya bercita-cita ingin menjadi seperti Ama. Karena saya mendengar bahwa Ama adalah guru mengaji, saya sepertinya mengingat suara beliau saat beliau mengajar mengaji di surau dekat rumah kami ketika saya kecil dulu. Rasanya hanya suara Ama itu saja yang saya ingat dan menjadi penghubung kenangan saya dengan beliau.

Karena itu jugalah saya ingin menjadi guru seperti beliau. Tamat SD, saya memutuskan masuk pondok agar saya kelak bisa mengajarkan ilmu agama kepada orang lain. Qadarullah, belum selesai dari pondok Apa meminta saya untuk mengubah cita-cita saya. Saat itu penyakit asma Apa sering kambuh, jadi Apa meminta saya untuk menjadi perawat, agar kelak bisa merawat beliau jika asma beliau kambuh.

Saya mematuhi saran Apa itu. Saya masuk sekolah perawat yang waktu itu setingkat SMK. Saat acara Proses Pengenalan Siswa pun, saya mengatakan bahwa hobi saya membaca Al Quran. Alhamdulillah saat itu saya hapal beberapa ayat Al Quran, sehingga ketika saya diminta membaca Al Quran tanpa mushaf, saya bisa melakukannya.

Tak sedikit uang sekolah yang saya butuhkan saat itu. Bersyukur Ama meninggalkan warisan berupa perhiasan emas. Perhiasan Ama itulah yang digunakan untuk membayar uang sekolah saya. Tentunya perhiasan itu tidak cukup. Saat itu adik Ama, yaitu Mamak saya membantu juga membayar uang sekolah saya. Terima kasih tak terhingga kepada beliau.

Hingga Alhamdulillah saya berhasil menjadi perawat dan bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Bekasi. Sebagai anak sulung, tentu saya tak lupa kalau saya sudah menggunakan semua perhiasan Ama untuk biaya sekolah. Saya bertekad untuk menggantinya dengan cara membiayai sekolah adik-adik saya karena sudah bekerja. Alhamdulillah walau sedikit, saya bisa membantu Apa menyekolahkan adik-adik.

Setelah lebih empat puluh tahun berlalu, saya baru mendengar cerita bahwa ternyata Ama tetap memikirkan kami anak-anaknya sampai akhir hayat beliau. Sesaat sebelum beliau pergi menghadap Allah, ternyata beliau pernah berpesan kepada adiknya agar adiknya membantu menyekolahkan anak-anaknya hingga kami mencapai cita-cita kami. 

Saya baru mendengar hal ini beberapa hari lalu. Sungguh air mata berlinang mendengarnya. Hampir tiap hari ketika mengingat hal itu, air mata saya selalu tumpah. Saya merasa berdosa karena rasanya saya kurang berbakti kepada beliau. Yang saya bisa hanya berdoa pada Allah untuk memberi tempat terbaik di sisi Nya untuk beliau. 

Ama sayang, terima kasih sudah mencintai dan mengingat kami sampai akhir hayat Ama. Sebagaimana Ama mencintai kami sampai akhir hayat Ama, insyaallah Epi akan mencontoh Ama. Alhamdulillah saat ini Epi juga mengajarkan membaca Al Quran di dekat rumah. Semoga Ama dan Apa bahagia di sisi Allah melihat kami di sini.

Ya Allah... saya mohon ampuni semua dosa Ama dan Apa, sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi saya di waktu saya masih kecil. Ya Allah... haramkan api neraka untuk Ama dan Apa saya. Ya Allah, jika saya berbuat baik dan Engkau anggap itu ada pahalanya, maka mohon alirkan pahala tersebut untuk Ama dan Apa.  

Ya Allah sejak tahun 2006 saya menulis cerita anak dan mengajarkan Al Quran. Jika Engkau anggap itu memberi manfaat kepada pembacanya dan anak-anak yang saya ajar, dan Engkau berikan pahala jariyah untuk saya, saya mohon alirkan pahala itu untuk orangtua saya ya Allah. Perkenankanlah doa saya ya Allah, Zat Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. 

Bekasi 6 April 2022

Wednesday, November 17, 2021

Hati-hati Dengan Suara dan Tubuhmu Wahai Wanita

  Bismillahirrahmanirrahim 


      Terpesona dengan suara itu ternyata sangat nyata. kali ini terpesona lagi dengan suara penyanyi nasyid ini. Maa Sya Allah… sebelumnya pernah juga terpesona dengan suara penyanyi nasyid lain. Padahal itu suara laki-laki. 


      Bagaimana jika yang menyanyikan itu seorang wanita? sungguh tak terbayangkan suara merdu seorang wanita akan membuat semua orang terpesona. Pantas saja Allah mengharamkan wanita menyanyi di depan umum selain suaminya. Pantas saja Allah dan RasulNya mengatakan bahwa suara wanita itu adalah aurat. Subhanallah… betapa Allah sangat menyayangi dan menghormati wanita.


        Berbahagialah wahai para wanita. Kalian dianugerahi banyak kelebihan yang bisa membawa kalian ke surga. Tapi kalian juga harus waspada, kelebihan kalian itu juga bisa menyeret kalian ke neraka.


        Kelebihan kalian berupa wajah yang cantik, suara bahkan tubuh kalian itu hanya bisa kalian perlihatkan kepada suami kalian. Berhentilah meliuk-liuk di depan kamera untuk postingan yang akan menyeret kalian ke neraka. 


        Berhentilah mengeluarkan suara mendayu-dayu di hadapan orang selain suami kalian. Saat kalian menerima telepon atau menelpon seseorang yang bukan mahram. Naudzubillah… semoga Allah selalu menjaga kita dan keluarga kita dari semua keburukan perbuatan dan perilaku. aamiin…


#self reminder

Tuesday, October 26, 2021

Lika Liku Mendapatkan Vaksin Covid19


Saat ini vaksin covid19 sudah menjadi kewajiban bagi semua penduduk Indonesia, khususnya usia 12 tahun ke atas.
Tentu keluarga saya juga masuk ke daftar wajib vaksin tersebut. Dimulai dari suami yang diwajibkan vaksin di kantornya. Lalu si sulung Syifa juga wajib vaksin sebagai syarat naik KA menuju Bekasi. Sebelumnya Syifa di Malang menyelesaikan kuliahnya.
Selanjutnya Hikmal juga vaksin karena harus kuliah offline. Sementara saya belum begitu wajib menurut saya.

Saya bukan tak mau divaksin. Tapi jujur saya takut untuk divaksin covid ini. Karena begitu banyak testimoni yang tidak menyenangkan terkait kipi vaksin covid19. Di awal ini saya memilih melihat dulu perkembangan orang-orang yang sudah divaksin.
Hingga akhirnya saya putuskan untuk ikut vaksin tapi dengan beberapa syarat yang saya tentukan sendiri. Salah satunya vaksin itu harus halal. Saya berdoa pada Allah agar dimudahkan untuk vaksin jika itu yang terbaik untuk saya.

Qadarullah salah satu geraham saya patah di tengah kasus covid19 yang sangat tinggi. Geraham patah itu berlubang dan ngilu jika masuk makanan. Karena saya pikir kalau saya divaksin harus vit, maka saya melakukan perawatan gigi berlubang dulu. Selama sebulan setiap pekan bolak balik ke dokter gigi di RS Hermina Bekasi.

Setelah perawatan gigi selesai, saya mencari tahu vaksin halal. Pilihan saya jatuh pada vaksin sinovac.
Selanjutnya saya daftar di puskesmas dekat rumah. Ternyata hari H nya saya migren. Saya pun batal vaksin.
Lalu ke dua kali saya daftar lagi. Ternyata saat screning di tempat vaksin, kata petugasnya saya gak bisa divaksin hari itu. Jika saya mau vaksin, saya harus melakukannya di puskesmas. Alasannya karena saya pernah alergi antibiotik injeksi dulu waktu saya dirawat.

Kali yg ketiga dapat info dari tetangga yg kerja di puskesmas ada vaksin pfezer. Walau sebenarnya saya inginnya vaksin sinovac. Tapi Bismillah minta petunjuk Allah lagi. Karena kali ini saya dan keluarga berencana akan keluar kota bulan depan. Apalagi saya sudah mulai mengajar TPA tatap muka. Semoga Ikhtiar kali ini diridhoi Allah.

Sampai di tempat vaksin, ternyata salah alamat. Harusnya ke puskesmas, saya malah masuk ke aula kelurahan. Di sana juga sedang diselenggarakan vaksin. Tapi vaksin sinovac. Setelah saya tanya petugas tentang kondisi saya, mereka mengatakan tak masalah saya ikut vaksin sinovac di sana.

Bismillahirrahmanirrahim saya vaksin sinovac. Semoga Allah menjaga kesehatan saya, keluarga dan kita semua aamiin.
Demikianlah liku2 perjalanan saya mendapatkan vaksin. Semoga pandemi ini segera berlalu. Aamiin...  

Thursday, August 5, 2021

Semangat Untuk Para Ibu

Bismillahirrahmanirrahim 

Maret 2019 virus ini hadir di sini. Sejak itu suasana rumah, sekolah, lingkungan, pasar, dan lainnya berubah. Kemana-mana harus mengenakan masker. Cuci tangan lebih sering dari sebelumnya. 

Belajar dan bekerja dari rumah.  Sebulan pertama mungkin masih bisa menerima keadaan ini. Tapi bulan berikutnya sampai sekarang,  sudah banyak yang tidak tahan dengan keadaan ini. 

Belajar daring sangat tidak leluasa. Apalagi di rumah ada 3 anak dan satu bapak yang belajar dan bekerja di rumah. Masing-masing membutuhkan tempat untuk belajar dan bekerja. Masing-masing juga butuh gadget untuk kegiatan mereka. 

Saat itu mulai muncul konflik antara anak dan anak lainnya. Antara ayah dan anak, antara ibu dan anak dan seterusnya. Beban kerja ibu di rumah jadi bertambah. 

Biasanya mencuci, memasak, membersihkan rumah, bertambah dengan mengajari anak. Apalagi ketika anak tidak paham dengan penjelasan guru yang tak begitu jelas saat sinyal internet lemah. Tak jarang ibu makin lelah dan bertambah lelah ketika suaminya ikut mengomel karena pekerjaan lewat daring tak berjalan lancar. 

Maa syaAllah... sungguh luar biasa dampak psikologis dan sosial yang terjadi dalam satu keluarga. Saat ini kesabaran dan keridhaan para ibu sangat diuji hingga berlipat. 

Wahai ibu, kalian hebat! Kalian kuat! Kalian pasti bisa mengatasi masalah ini. Tarik napas, buang perlahan. Lafazkan istighfar di setiap helaan napas kalian. Buang semua beban perlahan. Nikmati sekitar! Bunga, awan, pohon, mentari, semua menyenangkan bukan?

Ingatlah kalian sedang beribadah kepada Rabb kalian. Kalian harus lebih kuat dari semua anggota keluarga di rumah. Karena kalian tiangnya. Jika kalian rapuh, maka rumah dan seisinya rubuh. Mohon selalu kepada Rabb kalian agar kalian tetap kuat dan ridha menghadapi ujian ini. Ingatlah, ini insyaallah segera berlalu. Kelak ini akan menjadi kenangan tak terlupakan yang akan membuat kalian selalu bersyukur dan tersenyum. 

Wahai ibu, mulailah harimu dengan Bismillaah, lebarkan senyummu, yakinkan dirimu, bahwa Allah bersamamu. Selamat beraktivitas untuk semua ibu dimanapun berada. ❤❤❤🌄🪴🌺
#WritingForHealingId1
#notetomyself

Wednesday, August 4, 2021

Kecewa Secukupnya

Bismillahirrahmanirrahim
Kecewa pada seseorang pasti pernah dialami semua orang. Namun tidak semua orang bisa menghadapi rasa kecewanya terhadap sesuatu atau seseorang.

Sebagian orang memilih untuk memelihara dendam ketika kecewa. Sebagian lagi membiarkannya begitu saja. Sebagian lagi mencari hikmah dari rasa kecewanya.

Lalu bagaimana caranya agar rasa kecewa kepada orang yang membuat kecewa itu tidak menyakitkan kita? Tidak membuat kita sedih dan sakit hati.

Lebih baik memilih saran dari beberapa ustadz dari kajian kajian mereka. Atau bisa juga memilih saran dari buku-buku yang ditulis para ulama.

Contohnya begini, suatu kali kita kecewa dengan tingkah laku anak yang belum sesuai dengan keinginan kita dan keinginan Allah. Segera instropeksi diri, pasti ada hikmahnya.

Allah sedang mengajari kita untuk terus mengajarkan kebaikan pada anak-anak kita. Hilangkan rasa kecewa dengan kalimat bahwa tak semua anak mudah menerima ajaran kebaikan.

Sama seperti anak nabi Nuh AS yg membangkang pada Allah dan ayahnya yang seorang nabi. Kita bisa lebih sedikit berlapang dada karena anak kita tidak seperti anak nabi Nuh AS. Anak Nabi Nuh  membangkang dan menolak Allah dan Rasul Nya. Sedangkan anak kita hanya membangkang dalam masalah kecil saja.

Insyaallah anak kita masih bisa terus kita ajak kepada kebaikan dan terus kita doakan kepada Allah, agar Allah memberikan hidayah kepadanya.

Atau suami/istri kita masih jauh dari ajaran Allah dan Rasul Nya. Ingatlah, bahwa Allah juga menguji sayyidah Asiah dengan suaminya Firaun yang menolak mengesakan Allah.

Ingat juga istri Nabi Nuh dan Nabi Luth yang membangkang pada Allah dan Rasul Nya.

Alhamdulillah suami/istri kita tidak sampai seperti firaun dan tidak seperti istri Nabi Nuh dan Nabi Luth.

Dengan demikian kekecewaan kita bisa sedikit mereda. Bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini. Bahwa kita harus memperbanyak doa kepada Allah. Bahwa kita harus makin mendekatkan diri pada Allah agar Allah mengabulkan doa-doa kita. 

Kecewa tak mengapa. Tapi kecewa itu hanya secukupnya. Tidak berharap pada manusia. Hanya berharap pada Allah. Agar semua terasa lapang.  Semoga Allah pertemukan kita dan keluarga kita kelak di surgaNya. Aamiin