Wednesday, April 6, 2022

Ibu Yang Mencintai Anaknya Sampai Akhir

 Bismillahirrahmanirrahim.

Saya tak begitu mengenal sifat, watak dan wajah ibu kandung saya. Karena Qadarullah beliau sudah berada di sisi Allah sejak saya berusia 5 tahun. Saya hanya mengenal cerita tentang beliau dari ayah yang biasa saya sapa dengan Apa Allahuyarham. Yang saya tahu Apa selalu menceritakan tentang kebaikan Ama Allahuyarham. 

Antara lain Ama sangat pintar mengaji (membaca Quran dan mengajarkannya). Beliau juga sangat gesit, gigih, sabar dan semua sifat baik lainnya. Sepertinya Apa takkan pernah melupakan cinta pertamanya itu. Karena tak pernah saya mendengar keburukan Ama dari mulut Apa.

Demikian juga orang-orang sekitar Ama mengatakan bahwa Ama adalah orang yang sangat baik. Saya mendengar kisah Ama dari beberapa sahabat beliau. Saya juga mendengar kisah kebaikan dan semua sifat Ama yang tak ada satu pun kekurangannyan melalui kerabat beliau. 

Sungguh saat masih kecil, saya bercita-cita ingin menjadi seperti Ama. Karena saya mendengar bahwa Ama adalah guru mengaji, saya sepertinya mengingat suara beliau saat beliau mengajar mengaji di surau dekat rumah kami ketika saya kecil dulu. Rasanya hanya suara Ama itu saja yang saya ingat dan menjadi penghubung kenangan saya dengan beliau.

Karena itu jugalah saya ingin menjadi guru seperti beliau. Tamat SD, saya memutuskan masuk pondok agar saya kelak bisa mengajarkan ilmu agama kepada orang lain. Qadarullah, belum selesai dari pondok Apa meminta saya untuk mengubah cita-cita saya. Saat itu penyakit asma Apa sering kambuh, jadi Apa meminta saya untuk menjadi perawat, agar kelak bisa merawat beliau jika asma beliau kambuh.

Saya mematuhi saran Apa itu. Saya masuk sekolah perawat yang waktu itu setingkat SMK. Saat acara Proses Pengenalan Siswa pun, saya mengatakan bahwa hobi saya membaca Al Quran. Alhamdulillah saat itu saya hapal beberapa ayat Al Quran, sehingga ketika saya diminta membaca Al Quran tanpa mushaf, saya bisa melakukannya.

Tak sedikit uang sekolah yang saya butuhkan saat itu. Bersyukur Ama meninggalkan warisan berupa perhiasan emas. Perhiasan Ama itulah yang digunakan untuk membayar uang sekolah saya. Tentunya perhiasan itu tidak cukup. Saat itu adik Ama, yaitu Mamak saya membantu juga membayar uang sekolah saya. Terima kasih tak terhingga kepada beliau.

Hingga Alhamdulillah saya berhasil menjadi perawat dan bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Bekasi. Sebagai anak sulung, tentu saya tak lupa kalau saya sudah menggunakan semua perhiasan Ama untuk biaya sekolah. Saya bertekad untuk menggantinya dengan cara membiayai sekolah adik-adik saya karena sudah bekerja. Alhamdulillah walau sedikit, saya bisa membantu Apa menyekolahkan adik-adik.

Setelah lebih empat puluh tahun berlalu, saya baru mendengar cerita bahwa ternyata Ama tetap memikirkan kami anak-anaknya sampai akhir hayat beliau. Sesaat sebelum beliau pergi menghadap Allah, ternyata beliau pernah berpesan kepada adiknya agar adiknya membantu menyekolahkan anak-anaknya hingga kami mencapai cita-cita kami. 

Saya baru mendengar hal ini beberapa hari lalu. Sungguh air mata berlinang mendengarnya. Hampir tiap hari ketika mengingat hal itu, air mata saya selalu tumpah. Saya merasa berdosa karena rasanya saya kurang berbakti kepada beliau. Yang saya bisa hanya berdoa pada Allah untuk memberi tempat terbaik di sisi Nya untuk beliau. 

Ama sayang, terima kasih sudah mencintai dan mengingat kami sampai akhir hayat Ama. Sebagaimana Ama mencintai kami sampai akhir hayat Ama, insyaallah Epi akan mencontoh Ama. Alhamdulillah saat ini Epi juga mengajarkan membaca Al Quran di dekat rumah. Semoga Ama dan Apa bahagia di sisi Allah melihat kami di sini.

Ya Allah... saya mohon ampuni semua dosa Ama dan Apa, sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi saya di waktu saya masih kecil. Ya Allah... haramkan api neraka untuk Ama dan Apa saya. Ya Allah, jika saya berbuat baik dan Engkau anggap itu ada pahalanya, maka mohon alirkan pahala tersebut untuk Ama dan Apa.  

Ya Allah sejak tahun 2006 saya menulis cerita anak dan mengajarkan Al Quran. Jika Engkau anggap itu memberi manfaat kepada pembacanya dan anak-anak yang saya ajar, dan Engkau berikan pahala jariyah untuk saya, saya mohon alirkan pahala itu untuk orangtua saya ya Allah. Perkenankanlah doa saya ya Allah, Zat Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. 

Bekasi 6 April 2022

Wednesday, November 17, 2021

Hati-hati Dengan Suara dan Tubuhmu Wahai Wanita

  Bismillahirrahmanirrahim 


      Terpesona dengan suara itu ternyata sangat nyata. kali ini terpesona lagi dengan suara penyanyi nasyid ini. Maa Sya Allah… sebelumnya pernah juga terpesona dengan suara penyanyi nasyid lain. Padahal itu suara laki-laki. 


      Bagaimana jika yang menyanyikan itu seorang wanita? sungguh tak terbayangkan suara merdu seorang wanita akan membuat semua orang terpesona. Pantas saja Allah mengharamkan wanita menyanyi di depan umum selain suaminya. Pantas saja Allah dan RasulNya mengatakan bahwa suara wanita itu adalah aurat. Subhanallah… betapa Allah sangat menyayangi dan menghormati wanita.


        Berbahagialah wahai para wanita. Kalian dianugerahi banyak kelebihan yang bisa membawa kalian ke surga. Tapi kalian juga harus waspada, kelebihan kalian itu juga bisa menyeret kalian ke neraka.


        Kelebihan kalian berupa wajah yang cantik, suara bahkan tubuh kalian itu hanya bisa kalian perlihatkan kepada suami kalian. Berhentilah meliuk-liuk di depan kamera untuk postingan yang akan menyeret kalian ke neraka. 


        Berhentilah mengeluarkan suara mendayu-dayu di hadapan orang selain suami kalian. Saat kalian menerima telepon atau menelpon seseorang yang bukan mahram. Naudzubillah… semoga Allah selalu menjaga kita dan keluarga kita dari semua keburukan perbuatan dan perilaku. aamiin…


#self reminder

Tuesday, October 26, 2021

Lika Liku Mendapatkan Vaksin Covid19


Saat ini vaksin covid19 sudah menjadi kewajiban bagi semua penduduk Indonesia, khususnya usia 12 tahun ke atas.
Tentu keluarga saya juga masuk ke daftar wajib vaksin tersebut. Dimulai dari suami yang diwajibkan vaksin di kantornya. Lalu si sulung Syifa juga wajib vaksin sebagai syarat naik KA menuju Bekasi. Sebelumnya Syifa di Malang menyelesaikan kuliahnya.
Selanjutnya Hikmal juga vaksin karena harus kuliah offline. Sementara saya belum begitu wajib menurut saya.

Saya bukan tak mau divaksin. Tapi jujur saya takut untuk divaksin covid ini. Karena begitu banyak testimoni yang tidak menyenangkan terkait kipi vaksin covid19. Di awal ini saya memilih melihat dulu perkembangan orang-orang yang sudah divaksin.
Hingga akhirnya saya putuskan untuk ikut vaksin tapi dengan beberapa syarat yang saya tentukan sendiri. Salah satunya vaksin itu harus halal. Saya berdoa pada Allah agar dimudahkan untuk vaksin jika itu yang terbaik untuk saya.

Qadarullah salah satu geraham saya patah di tengah kasus covid19 yang sangat tinggi. Geraham patah itu berlubang dan ngilu jika masuk makanan. Karena saya pikir kalau saya divaksin harus vit, maka saya melakukan perawatan gigi berlubang dulu. Selama sebulan setiap pekan bolak balik ke dokter gigi di RS Hermina Bekasi.

Setelah perawatan gigi selesai, saya mencari tahu vaksin halal. Pilihan saya jatuh pada vaksin sinovac.
Selanjutnya saya daftar di puskesmas dekat rumah. Ternyata hari H nya saya migren. Saya pun batal vaksin.
Lalu ke dua kali saya daftar lagi. Ternyata saat screning di tempat vaksin, kata petugasnya saya gak bisa divaksin hari itu. Jika saya mau vaksin, saya harus melakukannya di puskesmas. Alasannya karena saya pernah alergi antibiotik injeksi dulu waktu saya dirawat.

Kali yg ketiga dapat info dari tetangga yg kerja di puskesmas ada vaksin pfezer. Walau sebenarnya saya inginnya vaksin sinovac. Tapi Bismillah minta petunjuk Allah lagi. Karena kali ini saya dan keluarga berencana akan keluar kota bulan depan. Apalagi saya sudah mulai mengajar TPA tatap muka. Semoga Ikhtiar kali ini diridhoi Allah.

Sampai di tempat vaksin, ternyata salah alamat. Harusnya ke puskesmas, saya malah masuk ke aula kelurahan. Di sana juga sedang diselenggarakan vaksin. Tapi vaksin sinovac. Setelah saya tanya petugas tentang kondisi saya, mereka mengatakan tak masalah saya ikut vaksin sinovac di sana.

Bismillahirrahmanirrahim saya vaksin sinovac. Semoga Allah menjaga kesehatan saya, keluarga dan kita semua aamiin.
Demikianlah liku2 perjalanan saya mendapatkan vaksin. Semoga pandemi ini segera berlalu. Aamiin...  

Thursday, August 5, 2021

Semangat Untuk Para Ibu

Bismillahirrahmanirrahim 

Maret 2019 virus ini hadir di sini. Sejak itu suasana rumah, sekolah, lingkungan, pasar, dan lainnya berubah. Kemana-mana harus mengenakan masker. Cuci tangan lebih sering dari sebelumnya. 

Belajar dan bekerja dari rumah.  Sebulan pertama mungkin masih bisa menerima keadaan ini. Tapi bulan berikutnya sampai sekarang,  sudah banyak yang tidak tahan dengan keadaan ini. 

Belajar daring sangat tidak leluasa. Apalagi di rumah ada 3 anak dan satu bapak yang belajar dan bekerja di rumah. Masing-masing membutuhkan tempat untuk belajar dan bekerja. Masing-masing juga butuh gadget untuk kegiatan mereka. 

Saat itu mulai muncul konflik antara anak dan anak lainnya. Antara ayah dan anak, antara ibu dan anak dan seterusnya. Beban kerja ibu di rumah jadi bertambah. 

Biasanya mencuci, memasak, membersihkan rumah, bertambah dengan mengajari anak. Apalagi ketika anak tidak paham dengan penjelasan guru yang tak begitu jelas saat sinyal internet lemah. Tak jarang ibu makin lelah dan bertambah lelah ketika suaminya ikut mengomel karena pekerjaan lewat daring tak berjalan lancar. 

Maa syaAllah... sungguh luar biasa dampak psikologis dan sosial yang terjadi dalam satu keluarga. Saat ini kesabaran dan keridhaan para ibu sangat diuji hingga berlipat. 

Wahai ibu, kalian hebat! Kalian kuat! Kalian pasti bisa mengatasi masalah ini. Tarik napas, buang perlahan. Lafazkan istighfar di setiap helaan napas kalian. Buang semua beban perlahan. Nikmati sekitar! Bunga, awan, pohon, mentari, semua menyenangkan bukan?

Ingatlah kalian sedang beribadah kepada Rabb kalian. Kalian harus lebih kuat dari semua anggota keluarga di rumah. Karena kalian tiangnya. Jika kalian rapuh, maka rumah dan seisinya rubuh. Mohon selalu kepada Rabb kalian agar kalian tetap kuat dan ridha menghadapi ujian ini. Ingatlah, ini insyaallah segera berlalu. Kelak ini akan menjadi kenangan tak terlupakan yang akan membuat kalian selalu bersyukur dan tersenyum. 

Wahai ibu, mulailah harimu dengan Bismillaah, lebarkan senyummu, yakinkan dirimu, bahwa Allah bersamamu. Selamat beraktivitas untuk semua ibu dimanapun berada. ❤❤❤🌄🪴🌺
#WritingForHealingId1
#notetomyself

Wednesday, August 4, 2021

Kecewa Secukupnya

Bismillahirrahmanirrahim
Kecewa pada seseorang pasti pernah dialami semua orang. Namun tidak semua orang bisa menghadapi rasa kecewanya terhadap sesuatu atau seseorang.

Sebagian orang memilih untuk memelihara dendam ketika kecewa. Sebagian lagi membiarkannya begitu saja. Sebagian lagi mencari hikmah dari rasa kecewanya.

Lalu bagaimana caranya agar rasa kecewa kepada orang yang membuat kecewa itu tidak menyakitkan kita? Tidak membuat kita sedih dan sakit hati.

Lebih baik memilih saran dari beberapa ustadz dari kajian kajian mereka. Atau bisa juga memilih saran dari buku-buku yang ditulis para ulama.

Contohnya begini, suatu kali kita kecewa dengan tingkah laku anak yang belum sesuai dengan keinginan kita dan keinginan Allah. Segera instropeksi diri, pasti ada hikmahnya.

Allah sedang mengajari kita untuk terus mengajarkan kebaikan pada anak-anak kita. Hilangkan rasa kecewa dengan kalimat bahwa tak semua anak mudah menerima ajaran kebaikan.

Sama seperti anak nabi Nuh AS yg membangkang pada Allah dan ayahnya yang seorang nabi. Kita bisa lebih sedikit berlapang dada karena anak kita tidak seperti anak nabi Nuh AS. Anak Nabi Nuh  membangkang dan menolak Allah dan Rasul Nya. Sedangkan anak kita hanya membangkang dalam masalah kecil saja.

Insyaallah anak kita masih bisa terus kita ajak kepada kebaikan dan terus kita doakan kepada Allah, agar Allah memberikan hidayah kepadanya.

Atau suami/istri kita masih jauh dari ajaran Allah dan Rasul Nya. Ingatlah, bahwa Allah juga menguji sayyidah Asiah dengan suaminya Firaun yang menolak mengesakan Allah.

Ingat juga istri Nabi Nuh dan Nabi Luth yang membangkang pada Allah dan Rasul Nya.

Alhamdulillah suami/istri kita tidak sampai seperti firaun dan tidak seperti istri Nabi Nuh dan Nabi Luth.

Dengan demikian kekecewaan kita bisa sedikit mereda. Bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini. Bahwa kita harus memperbanyak doa kepada Allah. Bahwa kita harus makin mendekatkan diri pada Allah agar Allah mengabulkan doa-doa kita. 

Kecewa tak mengapa. Tapi kecewa itu hanya secukupnya. Tidak berharap pada manusia. Hanya berharap pada Allah. Agar semua terasa lapang.  Semoga Allah pertemukan kita dan keluarga kita kelak di surgaNya. Aamiin

Wednesday, July 14, 2021

Baju Aneh

             “Ini baju untuk kalian. Ayo pakai!” tante memberikan sebuah kaos tanpa lengan dan celana pendek padaku dan Aini sepupuku.  Apakah ini harus kukenakan? Ini kan bukan baju, tapi kaos dalam? Seperti itu yang terlintas dipikiranku.

            Kulihat Aini menerima baju yang diberikan tante dan segera ke kamar menggantinya. Sedangkan aku, hanya bisa termangu memandangi satu stel pakaian yang kuyakini tak pantas kupakai. Karena aku seorang anak perempuan. Usiaku sepuluh tahun. Aku malu jika mengenakan pakaian yang baru diberikan tante padaku.

            Beberapa saat kemudian, Aini keluar dari kamar dengan baju barunya. Kaos lengan pendek dan celana pendek di atas paha. Ya Allah… ini sungguh membuatku geli. Aku makin tak mau mengenakan pakaian itu.

            “Ayo Nay, ganti pakaianmu. Kenakan ini!” perinta tante. Wajahnya mulai terlihat garang. Matanya melotot sebagaimana jika dia marah padaku. Tante Peni adalah adik Papa. Aku dan sepupuku Aini tinggal Bersama nenek dan juga tante Peni. Kami harus selalu mengikuti perintah tante Peni jika tak ingin cubitannya menancap di kulit lengan kami. 

            Kurasa aku yang paling sering mendapatkan cubitan itu. Awalnya kupikir karena aku sering tidak segera melakukan perintahnya seperti mencuci piring, menyapu rumah dan lainnya. Tapi semakin lama kuperhatikan, bukan karena faktor itu saja. Sepertinya dia memang lebih menyayangi sepupuku Aini daripada aku.

            Karena kulihat Aini juga sering mengabaikan perintah Tante Peni, tapi Aini jarang mendapatkan cubitan di lengan. Yah mungkin ini hanya perasaanku saja. Semoga memang begitu ya.

            “Tapi ini kan kaos dalam tante,” ujarku menolak secara halus. “Apalagi ini celananya bukan untuk anak perempuan, tapi untuk anak laki-laki.”

            “Siapa bilang ini kaos dalam dan celana anak laki-laki! Kamu nggak lihat ini motifnya boneka beruang begini? Warnanya juga kuning dan pink. Celana ini juga begitu, ada gambar beruang di kantong belakangnya!” Tante Peni menunjuk ke kaos dan celana yang kupegang.

            Benar juga yang dikatakan Tante Peni, ada gambar beruang di kaos tak berlengan itu. Tapi aku risih jika harus mengenakan model pakaian yang tak pernah kukenakan sama sekali.

            “Udah pakai aja Nay, cakep kok.” Aini membujukku. Kuperhatikan Aini dengan pakaian yang dikenakannya. Aini memang tomboy. Jadi dia sepertinya nyaman mengenakan pakaian itu. Kuperhatikan lengan Aini dengan kulit kuning langsatnya. Celana yang di atas pahanya juga memperlihatkan warna paha Aini. Aku bergidik membayangkan jika aku mengenakan pakaian itu.

            “Aku nggak mau Tante,” kuserahkan pakaian itu kepada Tante Peni.

            “PAKAI!” bentaknya. Aku terlonjak kaget. Jantungku berdegup kencang. Jika sudah berteriak seperti ini, biasanya cubitan atau pukulan pasti akan mendarat di tubuhku jika aku tidak menurutinya.

            Padahal baru kemarin aku mendapatkan cubitan di lengan. Tanda biru bekas cubitan itu bahkan belum hilang. Jika aku mengenakan pakaian yang diberikan Tante ini, pasti akan terlihat lebam karena cubitan tersebut. Ya Allah… ampuni aku karena terpaksa mengenakan pakaian ini. 

            Aku ke kamar untuk berganti pakaian. Rasanya aku tak kuat menahan cubitan lagi hari ini. Sedari tadi aku belum makan. Jadi kurasa bisa saja aku pingsan karena menahan cubitan dan rasa lapar. 

            Setelah selesai berganti pakaian, aku keluar kamar. “Nah kan bagus ini. Warna pink cocok dengan kulit sawo matang kamu,” ucapan Tante Peni seperti sedang mengolokku. Mana ada warna pink cocok dikenakan oleh anak berkulit sawo matang. 

            Sungguh tak nyaman mengenakan pakaian tak berlengan dan tak berkaki ini. Seperti angin yang membalut semua badanku. Dingin dan geli menjadi satu. 

            “Sekarang kalian berdua pergi ke rumah papa kamu ya Nay. Kasih tahu papa kamu bahwa tante sudah membelikan kalian baju,” perintah Tante Peni.

            “Hah! Pergi dengan pakaian seperti ini Tante?” tanyaku tak percaya.

            “Iyalah. Kan mau kasih tahu papa kamu tentang baju ini!”

            Aku tak percaya. Bagaimana mungkin aku harus keluar rumah dengan pakaian seperti ini? Aku bisa jadi olok-olokan teman-temanku nanti. Apalagi ada bekas cubitan di lengan kananku.

            “Udah, sana pergi!” Tante membuyarkan lamunanku.

            “Ayo Nay!” Aini menarik lenganku. Dia sepertinya menikmati pakaian barunya. Aku terpaksa melangkah mengikuti Aini. Rumah papaku berjarak seratus meter dari rumah nenek. Begitu keluar dari rumah, teriknya sinar mentari langsung menghujam kulitku. Hawa panas menerpa seluruh lengan dan kakiku. 

            Pakaian ini sama sekali tidak melindungiku dari udara dingin dan sengatan matahari. Aini berlari kecil sambil bernyanyi. Dia terlihat sangat senang. Berbeda denganku yang terlihat sangat tertekan. Sepanjang jalan menuju rumah papa, aku hanya menunduk menghindari tatapan orang. Kupikir semua orang memandangiku dengan tatapan aneh.

            Sampai di rumah papa, Aini langsung masuk sembari mengucapkan salam. Tapi tak ada yang menjawab salam kami. Kupikir papa pasti masih di kantor. Karena ini belum terlalu sore. Papa biasanya pulang dari kantornya sekitar pukul empat.

            Semenjak mama meninggal tiga tahun lalu, papa memintaku tinggal di rumah nenek. Karena beliau tidak bisa sepenuhnya merawatku. Beliau sibuk di kantornya dan tidak punya banyak waktu memasak makanan untuk kami. Papa makan malam ke rumah nenek. Sarapan dan makan siang biasanya di kantor. 

            Aku lega papa tidak ada di rumah. Aku tak mau melihat wajah papa bingung melihatku dengan pakaian seperti ini. Papa paham sekali bahwa aku sangat mengidolakan mama. Mamaku seorang ustadzah, beliau mengajar mengaji di TPA dekat rumah kami. Pakaian beliau selalu tertutup. Beliau membiasakan aku juga dengan pakaian menutup aurat. Setidaknya beliau membelikanku rok sebatas betis dan baju dengan lengan se-siku.

            “Anak-anak tidak apa-apa mengenakan pakaian seperti ini. Tapi Nay harus membiasakan mengenakan pakaian gamis seperti Mama ya. Agar terbiasa kelak hingga dewasa,” demikian pesan beliau padaku. Hal ini tak kan pernah kulupakan.

            “Nay tak kan pernah mengenakan pakaian ini lagi, Ma. Maafkan Nay ya Ma. Sampai di rumah nanti Nay akan mengganti pakaian ini dengan pakaian yang lebih menutup aurat.” Aku mengajak Aini kembali ke rumah nenek. Aku akan menguatkan diri jika Tante mencubitku bahkan jika dia memukulku sekali pun. Aku berjanji tak akan pernah mengenakan pakaian ini selamanya.

                                                                        ***

 

Thursday, July 1, 2021

Terpeleset

 Akhir-akhir ini virus covid19 makin menyebar dengan masiv. Keluarga Bunda Nay makin berhati-hati untuk keluar rumah. Padahal Bunda Nay baru merasa bisa menghilangkan rasa parnonya terhadap penularan virus ini. Tapi kenyataannya, kekhawatirannya muncul lagi. 

Pasrahkan semuanya pada Allah, karena hanya padaNya tempat kita bersandar. Yang penting kita tetap menjaga kesehatan, menggunakan masker jika keluar rumah, menjaga jarak dengan orang-orang, menghindari kerumunan, mencuci tangan sesering mungkin. Kalau tidak penting banget, jangan keluar rumah. Hal ini yang selalu diterapkan Bunda Nay ke anak dan suami dan adik-adiknya di kampung.

Segala sesuatunya di dunia ini terjadi pasti karena Allah mengizinkannya terjadi. Semuanya bergerak atas izin Allah. Jadi kita sebagai hambaNya harus bersyukur dan bersabar ketika mendapat nikmat, bersabar, ikhlas dan ridho ketika mendapatkan ujian. Dengan demikian kita bisa menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Demikian prinsip Bunda Nay. Hal tersebut yang berusaha dilakukannya setiap hari. 

Seperti kejadian beberapa hari lalu, Bunda Nay pergi ke pasar komplek. Setelah belanja, Bunda Nay kembali ke rumah. Di jalan menuju rumah, Bunda Nay melihat 3 orang bapak-bapak sedang berjalan. Sepertinya mereka adalah Pak RT bendahara dan humas RT yang sedang meminta iuran RT. Mereka terlihat mengenakan masker dan berjalan saling berjarak.

"Kenapa bapak-bapak itu berjalan memenuhi jalan? Ini bagaimana cara lewatnya?" demikian batin Bunda Nay.

Bunda Nay terpaksa melewati depan pagar  rumah salah satu tetangganya. Itu bukan jalan sebenarnya. Tapi semacam jembatan kecil penghubung antara rumah dan jalan. Karena ada got di bawah jembatan kecil itu. Entah kenapa saat berjalan di sana, tiba-tiba Bunda Nay sudah terduduk tak berdaya di jalanan. "Allahu akbar!" serunya kaget.

Bapak-bapak yang persis berada di sampingnya, mencoba membantu Bunda Nay. 

"Ibu nggak apa-apa Bu?"

"Saya nggak apa-apa Pak. Terima kasih." Bunda Nay mencoba untuk berdiri. Tangannya kirinya terasa sakit. sepertinya tumbuhan berupa pohon kecil di taman pemilik rumah itu menggores tangan Bunda Nay. Bersyukur Bunda Nay mengenakan gamis dan jilbab lebar. Hanya rasa sakit yang dia rasakan.

Setelah berdiri, Bunda Nay memperhatikan ke lantai yang menyebab dia jatuh. Ternyata lantai yang dia injak adalah lantai dari keramik. Pantas saja Bunda Nay jatuh karena terpeleset. Saat itu gerimis, jadi lantainya pasti basah. Apalagi Bunda Nay mengenakan sendal jepit yang dari karet itu. "

Bunda Nay pun melanjutkan langkahnya menuju rumah. Bersyukur kantong belanjaan tidak terlepas dari tangannya. Jadi dia tidak perlu memungut belanjaan sayur yang berceceran. Bunda Nay berjalan dengan langkah biasa. Dia berusaha menahan rasa sakit di kaki kiri dan tangan kirinya. Rasanya malu membuat Bunda Nay berjalan seperti biasanya. 

Dalam hatinya Bunda Nay ingin menyalahkan bapak-bapak yang berjalan berjejer memenuhi jalan. Tapi segera dia beristighfar. Kejadian pagi ini pasti terjadi karena kelalaiannya. Allah mengizinkan hal itu terjadi agar dia mencari hikmahnya. Bunda Nay segera memperbanyak istighfar. Alhamdulillah ala kulli hal. 

Bersyukur kakinya tidak keseleo. Hanya ada memar saja di tangan kirinya saat bunda Nay memeriksa tangannya sesampai di rumah. Innamaal usri yusra. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. 

Tetap semangat untuk semua sahabat yang sakit. Semoga segera pulih dan Allah ampuni dosa-dosa kita. aamiin.[NS]