Friday, March 20, 2020

Masa Orientasi Siswa Sekolah Perawat Kesehatan

                                                
 “Huhuhu....,” suara tangisan itu membuatku terbangun. Suara itu begitu jelas terdengar. Sepertinya seorang anak, atau mungkin temanku sedang menangis di ruangan ini. 
Aku memiringkan tubuhku ke arah kanan, kulihat Rita masih tertidur pulas di sampingku. Kutajamkan pendengaran, suara tangisan itu masih ada, tapi kali ini tedengar menjauh. 
“Ah, mungkin ada yang ingin buang air kecil, tapi nggak berani ke kamar mandi,” gumamku. Aku berusaha untuk tidur kembali. Sebelumnya kulirik jam di pergelangan tanganku. Masih pukul 1.00 dini hari. 
Ingin juga rasanya keluar ruangan ini untuk berwudhu. Tapi rasa kantuk yang membandel kembali menyerangku. Sudah beberapa hari ini aku dan 39 orang temanku melakukan kegiatan seharian penuh, sehingga membuat tubuh kami sangat kelelahan di malam hari.

Jadi wajar saja, aku yang masih duduk di bangku awal sekolah menengah ini, menginginkan tidur kembali. Agar besok pagi, aku bangun dengan tubuh yang fresh. Sayangnya ketika aku berusaha memejamkan mataku kembali, suara tangisan itu masih saja terdengar. Sehingga membuatku penasaran, ingin mengetahui apa yang terjadi.
Aku bangun dari tidurku. Duduk di atas kasur yang di tata berjejer dua baris dalam ruangan ini. Kuperhatikan sekitarku, barangkali ada salah satu temanku yang butuh bantuan. Karena tidak tahu harus bicara dengan siapa, akhirnya dia menangis. Karena kami sama-sama siswa baru di sekolah perawat kesehatan ini. Jadi wajar saja kami belum begitu saling mengenal.
 Terdapat 20 orang dalam ruangan ini, termasuk aku. Dua puluh orang sisanya ada di ruangan lain. Karena kondisi asrama yang sudah penuh, untuk sementara, kami ditempatkan di ruangan ini sampai masa orientasi siswa berakhir.
Kupikir, ini pastilah salah satu ruang kelas ketika pertama kali aku masuk ke ruangan ini. Karena ada beberapa poster anatomi tubuh manusia di dinding ruangan ini. Ukuran ruangan ini juga seukuran ruangan kelas. Sekitar 7X7  meter. 
Setelah kuamati satu persatu teman-temanku, ternyata tidak ada di antara mereka yang menangis. Mereka semua terbuai dalam mimpi mereka masing-masing. Malah beberapa dengkuran halus dari mereka menghampiri telingaku. 
“Huhuhu...” suara itu kembali terdengar. Entah kenapa tiba-tiba bulu halus di tangan dan kudukku mulai merinding. Kutepis pikiran yang melintas di kepalaku. Aku segera berbaring kembali.
“Mungkin dari ruang sebelah,” gumamku meyakinkan diri. Aku menarik selimutku sampai menutupi kepala, berharap bisa meredam suara tangisan itu. Walau agak susah, untunglah aku berhasil tidur kembali.
                                    ***
“Bangun Rani, sudah jam setengah lima nih, nanti kamu telat.” Kudengar seseorang membangunkanku. Aku segera meloncat duduk. Ternyata itu suara Rita. Sahabat baruku yang kasurnya berdampingan dengan kasurku. Kami harus merapikan kasur ini lalu mandi dan segera melakukan shalat subuh di masjid. 
“Makasih sudah dibangunkan ya Rita,” ucapku sambil buru-buru melipat selimut. Kulihat Rita sudah rapi. Aroma sabun mandinya yang khas menyentuh hidungku. Sangat segar. Aku merapikan kasurku dan meletakkan selimut yang sudah dilipat, di ujung kasur. Kami harus merapikan kasur ini dan melipat selimutnya sesuai dengan yang sudah diajarkan kakak kelas kami kemarin. 
“Sebagai seorang calon perawat, kalian harus membiasakan hidup disiplin dan rapi. Mulailah dari merapikan selimut dan tempat tidur kalian setelah bangun tidur,” begitu kata-kata yang kuingat, ketika kakak kelas kami mengajarkan kami cara melipat selimut membentuk lipatan bunga tulip. 
Setelah itu aku mengambil perlengkapan mandi dan pakaian ganti di koperku. Koper itu terletak di sudut ruangan. berdempetan dengan tas dan koper temanku yang lain. Dengan tergesa, aku bergegas ke kamar mandi, semoga saja, aku masih kebagian air untuk mandi. Kalau tidak, terpaksa aku tidak mandi, dan menahan rasa gatal di badanku seharian ini.
“Ayo, buruan mandinya. Jam segini baru bangun!” bentak seorang kakak kelas padaku. Aku terlonjak ketakutan. Ini baru pukul empat lewat lima belas menit, masih begitu pagi di sini. Azan subuh pun baru akan berkumandang pada pukul lima lewat nanti. 
“Iya Kak,” sahutku pelan. Aku buru-buru berjalan ke kamar mandi. Hanya ada dua kamar mandi di sini. Letaknya di bawah tangga menuju ruang kelas di lantai dua. Kedua kamar mandi itu masih diisi oleh temanku. Aku berharap temanku itu segera menyelesaikan mandinya.
Doaku ternyata dikabulkan Allah. Setelah menunggu 3 menit, aku akhirnya bisa masuk ke kamar mandi. Aku bergegas mandi. Menurut kakak kelasku, sebagai seorang perawat, kita harus bergegas dalam melakukan apa pun. Mandi tidak boleh lama, cukup 5 menit saja. Alasan mereka, ketika merawat pasien, perawat wajib bersegera menolong mereka.
Hari ini, jadwal kami kurang lebih sama dengan kemarin. Mandi, shalat, senam, sarapan, apel pagi, lalu mengikuti serangkaian kegiatan orientasi pelajaran dan sekolah. Hanya saja sebagai tambahan, malam ini kami akan diperkenalkan kondisi dan situasi rumah sakit. Salah satunya kami harus memasuki kamar mayat. Hiy... membayangkannya saja sudah membuatku bergidik ngeri.
“Kadang ada yang meninggal dalam kondisi mengenaskan karena kecelakaan. Sebagai perawat dan sebagai manusia, kita harus membersihkan dan memandikan jenazah itu. Kita harus tahan ketika melihat dan mencium bau darah.” Perkataan salah satu guru kami terngiang di kepalaku.  
“Hei! Ngelamun aja!” Rita mengejutkanku saat aku mengenakan jilbab di kamar.
“Ah, enggak. Aku hanya kurang tidur, masih ngantuk nih,” alasanku. 
“Ya udah, ayo kita shalat ke masjid. Yang lain sudah berangkat tuh,” ajak Rita. aku mengangguk. Setelah mengenakan jilbab, aku mengenakan mukena. Sengaja kukenakan jilbab dari sekarang, agar aku tidak repot lagi mengenakan jilbab ketika selesai shalat nanti. Bersambung di sini

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. ^_^