Thursday, December 27, 2012

Olala… itu Gigi Abang Dek!



                                       
 Cerita tentang Hauzan saat berumur 8 bulan semoga bermanfaat untuk teman-teman semua. ^_^

        “Jangan lepaskan pengawasan Anda dari batita.” Ini kutipan artikel parenting yang kubaca beberapa hari lalu. Aku mengangguk-angguk membenarkan tips itu. Karena kejadian yang lumayan “heboh” pernah kualami bersama Hauzan, batitaku yang berusia 20 bulan.
         Sebagaimana umumnya batita yang sudah bisa berjalan, Hauzan senang meng-eksplore seisi rumah. Dia berjalan, ke kamar, ke dapur, ke teras, balik lagi ke ruang keluarga.  Sepertinya batitaku itu tidak kehabisan energi untuk melakukan aktifitasnya.
         Hingga suatu kali aku melihat dia memasukkan “sesuatu” ke dalam mulutnya. Aku bergegas membuka mulut Hauzan dan mengambil benda yang dimasukkannya itu. Olala! Ternyata dia memakan remah nasi yang sudah mengering.
      Di lain hari putra bungsuku ini asyik memperhatikan laba-laba kecil yang melintas di depannya. Karena rasa ingin tahunya dia menyentuh laba-laba itu menggunakan jari telunjuknya yang mungil. Sedetik kemudian, laba-laba malang itu sudah berada di mulutnya. Duh Hauzan! Aku segera mengeluarkan laba-laba itu dari mulutnya, dan mencuci mulut dan tangannya. 
       Lain waktu ketika sedang asyik main di kamar, Hauzan membongkar isi rak bedak dan perlengkapan mandinya. Aku masih mengawasinya, selama benda-benda itu tidak dimasukkan ke mulutnya, aku biarkan dia memenuhi rasa ingintahunya.
Ternyata aku lupa, ada sebuah bungkusan yang diletakkan kakaknya di rak itu. Bungkusan berisi gigi geraham si kakak yang lepas. Putra ke duaku yang berusia 9 tahun itu meletakkannya di dalam sebuah kotak kecil. Menurutnya peri gigi akan memberikan hadiah di dalam kotak itu ketika melihat giginya di sana.
      Hauzan membuka bungkusan itu. Ketika ia menemukan benda putih kecil itu dia segera memasukkan benda itu ke dalam mulutnya. Sekali lagi aku kecolongan dengan tingkah putra kecilku ini. Aku buru-buru mengeluarkan gigi kakaknya itu dari mulut Hauzan.
     Bayi lucu itu tidak begitu saja merelakan hasil “temuannya” kuambil. Dia berusaha mengatupkan rapat-rapat mulutnya, agar aku tidak bisa mengeluarkan benda itu dari mulutnya. Tapi akhirnya benda itu berhasil kukeluarkan dengan diiringi tangisan Hauzan. Sejak itu aku mulai waspada. Tak kubiarkan Hauzan lepas dari pandanganku.
      Aku tidak bisa membayangkan benda apa lagi yang akan dimasukkannya ke mulutnya, jika aku tidak memperhatikannya. Pernah juga ketika aku menitipkan Hauzan kepada kakaknya, karena aku ingin ke kamar mandi, ternyata dia sudah memakan kertas tisu.
        Aku jadi berpikir, memang seharusnya kita tidak melepaskan pengawasan kita terhadap batita dan balita. Rasa ingin tahu mereka yang sangat besar itu benar-benar bisa membahayakan diri mereka. Seperti yang terjadi dengan anak salah satu tetanggaku.
        Namanya Alvin, umurnya 4 tahun. Suatu kali dia mengeluh kepada mamanya bahwa telinga kanannya sakit. Mamanya melihat sekilas telinga tu, tapi tidak ada terlihat apapu di sana.
        Sejak hari itu Alvin jadi rewel dan sering menangis, mengeluh telinganya sakit. Badannyappun jadi panas. Ketika mamanya membawa Alvin ke dokter, dan dokter memeriksa telinga kanan Alvin.
        “Ya Ampun Bu! Ada kacang di dalamnya?” seru dokter itu. Bukan kepalang terkejutnya mama Alvin. Dia tidak tahu kapan anaknya “memasukkan” kacang itu ke dalam telinganya.
        “Untung kacangnya nggak numbuh di telinganya,” gurau dokter. Hal itu juga yang terpikir oleh kami para tetangganya. “ Sepertinya sudah sekitar seminggu kacang itu berada di telinganya, karena kacangnya sudah mulai membusuk,” sahut Dokter ketika mama Alvin bertanya mengenai hal itu.
        Alhamdulillah, sekarang Alvin baik-baik saja. Aku berharap jangan sampai ada kejadian serupa menimpa anakku dan anak-anak lainnya. Tak terbayangkan bagaimana susahnya anak sekecil itu menahan rasa sakit yang cukup lama.
         Bahkan mungkin kita sering mendengar dan menonton di televisi, seorang anak yang tersedak ketika memakan bakso, hingga anak itu tidak tertolong karena tidak bisa bernapas.
          Tugas kita sebagai orangtua memang cukup berat, walau tidak mudah harus memperhatikan anak-anak setiap saat. Tapi yakinlah kita pasti bisa. Karena Allah menganugerahkan kemampuan itu untuk kita orang tuanya.

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. ^_^