Serasa Berada Di Negerti Di Atas Awan

        Awal Mei lalu, saya dan keluarga refreshing sejenak ke Lawang Park. Sudah lama suami saya ingin mengajak kami sekeluarga untuk jalan-jalan ke sini. Pertama karena tempat wisata ini adalah milik salah satu temannya. Ke dua, kami belum pernah mengunjungi Nagari Lawang dan sekitarnya ini sebagai tujuan wisata kami.
      Anak-anak tentunya sangat antusias ketika bapaknya memperlihatkan website tempat wisata ini. Melihat foto-foto di web ini aja sudah membuat kami serasa berada di tempat itu. Makanya saat ingin berangkat, anak-anak yang biasanya agak susah diajak mandi kalau lagi libur, langsung rapi dan sudah siap di depan rumah.

     Kami pun berangkat menuju Nagari Lawang, Kabupaten Agam. Jaraknya kurang lebih tiga puluh hingga empat puluh menit mengendarai mobil dengan kecepatan 60-70 KM/jam, dari arah kota Bukittinggi.
      Perjalanan kami pun dimulai. Tentunya kami membawa bekal minuman dan makanan secukupnya untuk kami makan nanti jika sampai di tempat tujuan.
      Tak henti kami memuji ciptaanNya ketika kami melewati jalanan yang di samping kanan dan kirinya masih dipenuhi sawah dan perbukitan. Jalanan yang berkelok dan berliku menjadi sebuah adventure tersendiri bagi saya dan anak-anak yang baru pertama kali melewati jalan itu.
       Ukuran jalannya termasuk kecil menurut saya yang terbiasa melihat jalan lebar di Jakarta dan sekitarnya. Tentu saja kecil, karena ini hanya jalan desa di kabupaten, begitulah batin saya menepis pikiran sebelumnya. Karena jalan ini hanya bisa dilewati dua mobil dari arah berbeda, tapi kudu pelan-pelan jika berpapasan. Kuatir akan menggores mobil lain jika mengemudi dengan kecepatan 60-70 KM tadi. Beruntungnya saat itu lalu lintas ke arah Nagari Lawang cukup sepi. Jadi suami saya dengan leluasa menyetir tanpa ada rintangan yang berarti.
      Jadi bisa bayangkan sendiri ukuran jalannya ya... Tapi walau pun begitu, mata kita akan dimanjakan oleh deretan perbukitan, tebing dan sawah di kanan kiri jalan. Hanya sesekali kita menemukan perumahan warga di pinggir jalan. 
      Karena ini perjalanan kami pertama kalinya menuju Lawang Park, maka kehebohan sedikit terjadi di dalam mobil kami. Kehebohan ketika mobil berkelok dengan lekukan tajam, menjadi kenikmatan tersendiri bagi keluarga kami. Apalagi ketika ada turunan yang tiba-tiba saat mobil dalam kecepatan 70 KM. Serasa perut bergolak menahan entah geli atau apa. Saya rasa pasti sahabat semua pernah merasakan ini. Saat itu, anak-anak berteriak waaaaa... dengan kompaknya. Setelahnya mereka tertawa. 
      Keseruan di jalan makin berkesan ketika kami menemukan kebun tebu di kanan dan kiri jalan ketika memasuki Nagari Lawang. Aroma air tebu yang dimasak dan akan dibuat menjadi gula aren pun menyapa hidung kami. Kami sengaja membuka jendela mobil dan tidak menyalakan AC. Karena hawa sejuk perjalanan di Bukittinggi ini tak terkalahkan oleh dinginnya AC mobil. 
     Setengah jam yang sangat seru pun akhirnya berakhir dengan pemandangan indah yang lebih indah lagi. Pemandangan indah lainnya kami temukan setelah perkebunan tebu. Ada banyak pohon pinus berderet di bebukitan Nagari Lawang. Maa Syaa Allah... Tadi Allah sudah menyuguhkan kami dengan negeri yang hijau menawan. Ternyata masih ada lagi yang lebih menawan dari yang kami lihat di sepanjang jalan tadi.
        Ketika memasuki kawasan Lawang Park, kabut tipis mulai terlihat. Saat inilah saya berpikir bahwa kami sedang berada di negeri di atas awan. Karena jika saat ini seseorang memandang dari kota Bukittinggi ke arah tempat ini, pastilah hanya awan tipis yang bisa mereka lihat.
      Anak-anak tak sabar turun dari mobil ketika kami sampai di tujuan kami. Mereka langsung berhamburan mencari spot untuk berfoto dan berselfie. Beruntung tidak begitu banyak pengunjung saat kami ke sana. Jadi kami bisa menikmati keindahan alam ciptaanNya dengan leluasa dari berbagai arah. 
      Saya tidak tahu persis berapa luas area wisata ini. Tapi yang saya tahu, tempat ini juga menyediakan wisata outbond, paralayang, tempat menginap atau bungalow dan lainnya, khususnya bagi instansi yang ingin karyawan mereka melakukan gathering atau outbond di sini.



      Selanjutnya, tentu saja saya dan keluarga mengabadikan kebersamaan kami di tempat yang indah ini. Entah berapa banyak foto yang kami ambil dari berbagai view. Sungguh indahnya ciptaan Allah ini.
      Salah satu spot favorit pengunjung adalah view yang di bawahnya terdapat Danau Maninjau. Kami pun tak membuang kesempatan berfoto di view tersebut. 
      Setelah asyik berfoto di sana sini. Hauzan yang belum genap enam tahun terlihat asyik melihat anak-anak bermain perosotan di atas rerumputan yang seperti gundukan bukit kecil. Lalu dia pun langsung berlari naik ke atas bukit itu dan mulai merosot seperti yang dilakukan anak-anak yang dilihatnya. 

      Awalnya saya agak khawatir ketika dia berlari memanjat bukit kecil yang menurut saya cukup terjal untuk anak seusia Hauzan. Tapi saya biarkan sambil mengingatkannya untuk berhati-hati. Hasilnya dia pun turun naik perosotan alam itu hingga berkali-kali. Tak peduli celana dan bajunya yang kotor oleh tanah. Ah senangnya melihat Hauzan begitu riang menikmati alam ciptaanNya.

       Lain Hauzan, lain lagi dengan Syifa. Sulung saya yang hampir sweet seventen ini malah asyik berselfi ria di berbagai tempat yang menurutnya keren untuk di foto. Begitu juga dengan si tengah Hikmal. Mereka asyik sendiri-sendiri menikmati keindahan alam ini.

      Tak susah untuk mengajak mereka berkumpul di meja makan yang disediakan para pemilik warung makanan di area ini. Cukup dengan menanyakan pada mereka apakah mereka ingin makan sesuatu, maka mereka pun segera menghampiri saya dan bapaknya. Hahaha... itu jurus jitu memanggil anak-anak saya.
       Kami pun lalu membuka bekal yang kami bawa. Lalu memesan jus tebu yang biasa disebut di sini dengan Aia Tabu. Harga jus tebunya cukup ringan di kantong, seharga Rp5000,- saja satu gelas.
     Jus tebu yang segar mengalir di kerongkongan kami. Alhamdulillah... Nikmat Allah mana lagi yang kami dustakan. Cuaca yang tidak begitu panas, awan indah di langit, pemandangan indah di sekitar kami, udara sejuk dan segar yang kami hirup, makanan yang nikmat yang kami bawa serta segelas jus tebu yang segar. Rasanya nikmat Allah benar-benar luar biasa untuk keluarga kami.
                                       
      Warung-warung di area wisata ini juga menyediakan aneka makanan lain. Ada pisang goreng dan aneka gorengan lainnya. Ada bakso tusuk, mie bakso dan lain-lain. Para pedagang pun tersebar di beberapa tempat. Sehingga kita tidak perlu takut kelaparan di sini.
       Setelah menikmati makanan ringan yang kami bawa, azan zuhur pun berkumandang. Ada musala di area ini. Kami pun melaksanakan rukun islam ini sebagai rasa syukur kami pada Allah.   Lalu kami melanjutkan bermain di sekitar tempat wisata ini. Hauzan main pedang-pedangan dengan menggunakan ranting pohon kering bersama Hikmal, saya dan Syifa. Mereka menggunakan daun kering juga sebagai senjatanya. Ah tak ternilai rasanya keriangan anak-anak saat bermain bersama.
      Setelah kami rasa cukup menikmati keindahan Lawang Park, kami pun melanjutkan wisata kami ke Danau Maninjau. Keseruan menuju Danau Maninjau insyaallah saya ceritakan di postingan berikutnya ya. ^_^
     Ohya ada beberapa tip dari saya jika sahabat ingin berkunjung ke tempat wisata ini. 
1. Cek kondisi mobil atau kendaraan yang akan sahabat gunakan menuju daerah Lawang. Karena jalanan yang berkelok dan menanjak pasti membutuhkan kondisi kendaraan yang prima.
2. Pastikan bahan bakar kendaraan sudah penuh terisi. Karena tidak ada tempat mengisi bahan bakar di jalanan sekitar Nagari Lawang. Tapi ada yang jual bensin eceran di pinggir jalan. Hanya saja cuma satu dua tempat.
3. Pastikan drivernya yang sudah ahli mengendarai di jalan berkelok dan menanjak. Karena kuatir kagok kalau ketemu kendaraan lain dari arah yang berbeda saat tikungan tajam yang menanjak atau menurun. Secara hanya ada beberapa tikungan saja yang memiliki spion besar yang untuk jalan itu (Apa sih namanya itu ya? ^_^)
4. Jangan kaget atau bingung ketika melihat tumpukan ampas tebu terhampar di sepanjang jalan. Hehehe... sepertinya penduduk di sana sengaja menjemur ampas tebu itu di sepanjang jalan untuk digunakan sebagai bahan bakar pembuat gula aren. Injak aja, gak apa-apa kok. 
5. Buka kaca jendela mobil dan nikmatilah udara segar dan sejuk di sepanjang perjalanan dan pemandangan yang indah. Selamat menikmati keindahan alam di Nagari Lawang. ^_^
    Postingan tentang jalan-jalan ke danau Maninjau bisa dibaca di sini.



Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kejadian Aneh di Asrama

Summarecon Bekasi, Dekat di Hati