Masa Kecil Tokoh Terkenal Indonesia, Bapak Jusuf Kalla


                                                
            “Jangan lupa bawa sajadahya Nak. Kita shalat asar di sana saja nanti,” ujar ayah ketika kami bersiap menonton pertandingan bola di stadion Mattoangin, Makasar.
            “Iya Pak,” sahutku. Aku buru-buru mengambil dua sajadah di ruang shalat rumah kami. Lalu aku dan ayah pun berangkat menuju stadion Mattoangin. Aku dan ayahku sangat sering menonton pertandingan sepak bola  PSM (Persatuan Sepak Bola Makasar) di stadion Mattoangin.  Biasanya kami berangkat setelah shalat zuhur. Tentunya setelah aku pulang sekolah.
            Ayahku sangat menggemari sepak bola. Hobi ayah yang satu itu menular padaku. Aku jadi sering bermain bola bersama teman-temanku jika tidak ada pertandingan bola PSM. Kami kadang bermain di halaman rumahku. Kadang di pekarangan rumah sakit. Bagi kami, main bola terasa sangat mengasyikkan. Kami bisa sampai lupa waktu jika sudah bermain bola.

            “Ayo kita main bola di lapangan rumah sakit,” ajak teman-temanku suatu sore.
            “Ayo!” sahutku dan beberapa temanku yang lain. Kami membawa bola karet yang sudah sangat lusuh.  Kami pun beramai-ramai jalan menuju pekarangan Rumah Sakit Stella Maris, Makasar.
            Sampai di lapangan, kami pun berbagi tugas. Ada yang menjadi bek kanan, penyerang dan penjaga gawang. Seperti biasa, aku bertugas sebagai penjaga gawang. Mungkin karena badanku kecil, atau entah karena alasan apa, teman-temanku memintaku menjadi penjaga gawang. Tapi aku tidak menolak. Apa pun tugasku dalam sepak bola ini, aku menerima saja. Karena aku sangat menyukai sepak bola.
            Aku pun bersiap menjaga gawang timku. Kulihat tim lawan sedang menggiring bola ke arahku. Aku memasang kuda-kuda untuk menangkap bola. Kuharap aku bisa menangkap bola yang sedang digiring menuju gawangku.
            Bola semakin mendekat ke arahku. Dari jarak cukup jauh, salah satu lawanku menendang bola dengan kencang. Bola itu melesat tinggi. Kupikir pasti bola itu tidak akan masuk ke gawangku. Tapi aku melompat untuk menangkapnya. Hanya untuk antisipasi agar bola benar-benar tidak masuk ke gawangku.
            “Prang!” terdengar bunyi kaca pecah. Aku segera menoleh ke belakangku. Ternyata bola yang ditendang temanku tadi sudah menghancurkan kaca jendela salah satu ruangan di rumah sakit. Seketika kami terdiam dengan hati diliputi rasa takut.
            “Habislah kita. Ini salahmu! Kenapa kamu menendang bola terlalu kencang ke arah jendela rumah sakit!” ucap temanky saling menyalahkan.
            Tak lama berselang, seorang petugas rumah sakit keluar ruangan sambil  membawa bola kami. “Kalian jangan main bola di sini! Ini rumah sakit! Coba kalian lihat ulah kalian, kaca jendela jadi pecah! Ayo ganti kaca itu!” bentaknya pada kami.
            Aku dan teman-temanku pun ketakutan. Sebagian dari kami melarikan diri. Temanku yang melarikan diri, merasa mereka tidak melakukan kesalahan. Apalagi mereka tidk akan bisa mengganti kaca jendela yang pecah. Tapi sebagian temanku yang lain, termasuk aku, minta maaf pada petugas itu.
            “Maafkan kami Pak. Kami tak sengaja menendang bola ke arah jendela,” ucapku sambil menunduk minta maaf.
            “Ya sudah, lain kali jangan main di sini lagi ya. lagi pula, ini kan rumah sakit, banyak orang sakit yang butuh istirahat. Kasihan mereka jadi terganggu dengan ulah kalian,” ujar petugas itu menasihati.
            “Baik, Pak, Kami tidak akan main bola di sini lagi,” ucap kami serentak.
            Setelah itu kami buru-buru pulang. “Untung kita nggak disuruh mengganti kaca jendela ya,” ujar salah satu temanku.
            “Iya. Itu pasti karena kita minta maaf dan berjanji tidak main di sana lagi,” selaku.
            “Betul itu. kalau kita tidak minta maaf, pasti petugas rumah sakit itu mengadukan kita pada orangtua kita. Dan setelah itu kita tidak akan diizinkan main bola selamanya,” sahut temanku yang lain.
            “Ayolah kita pulang,” ajakku. Kami pun pulang ke rumah masing-masing.
            Ayahku Haji Kalla, memang sudah menanamkan sifat sopan santun dan akhlak yang baik padaku sejak aku lahir. Ayahku terlahir dari keluarga yang sangat menerapkan ajaran islam. Sehingga beliau juga menerapkan ajaran islam dalam keluarga kami. Bahkan aku dan adik-adikku juga bersekolah di sekolah islam. Ayah ingin aku menjadi seorang ustad kelak. Beliau ingin suatu hari nanti aku bersekolah di Al Azhar Kairo, Mesir.
            Ayahku adalah seorang pengusaha. Ibu juga berjualan kain sutra bugis. Awalnya kami tinggal di Watampone, Bone. Aku juga lahir di sana tanggal 15 Mei 1942. Beliau memberi namaku dengan Muhammad Jusuf Kalla. Ketika usiaku 10 tahun, kami terpaksa pindah ke Makasar. Karena suasana di Bone yang sedang tidak kondusif dan sangat kacau. Terjadi kerusuhan di sana. Rumah dan toko dibakar oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.
            Untuk menyelamatkan keluarga kami, ayahku memilih pindah ke Makasar. Ayah memulai usaha beliau lagi di Makasar. Beliau membeli sebuah ruko di Makasar. Di ruko itulah kami tinggal. Alhamdulillah, usaha beliau berkembang dengan pesat.
            “Kamu bersekolah di sekolah islam saja ya, Nak,” saran ayahku ketika aku akan masuk SMP. Aku menurut. Karena aku tahu, ayahku sangat ingin aku menjadi seorang ustad. Walau sebenarnya nilai pelajaranku tentang agama tidak sebagus nilai pelajaran umum, tapi aku tetap menghormati pilihan ayah. Aku ingin membahagiakan orangtuaku.
            Lagi pula, bersekolah di sekolah yang pelajaran agamanya sebanyak 70% tidaklah buruk. Aku jadi lebih banyak tahu tentang isi Al Quran dan hadist.
            “Kalian harus menjadi orang yang taat beragama. Pekerja keras, jujur dan menghormati orang lain. Salah satu dari sikap jujur itu adalah menjadi orang yang tidak melupakan janji atau mencederai janji,” demikian ucapan yang sering diingatkan ayah pada aku dan adik-adikku.
            Sama dengan ayahku, ibuku, Ibu Hj Athirah, juga mengajarkan kami disiplin dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Aku juga membantu ayah dan ibuku di rumah. Bahkan aku juga membantu beliau berdagang sepulang sekolah. Jika tidak ada ada kegiatan lain, aku suka menghabiskan waktuku dengan membaca buku.
            Ayahku mengharapkanku menjadi panutan bagi adik-adikku. Aku bahkan pernah mengantar ibuku ke bidan saat akan melahirkan adik bungsuku. Karena saat itu ayah sedang tidak di rumah. Semua tanggung jawab ayah, seolah sudah berpindah ke pundakku. Demikianlah orangtuaku mengajarkan kami.
            Rumah kami terletak bersebelahan dengan masjid. Ayahku adalah salah satu pengurus masjid. Beliau menjabat sebagai bendahara masjid. Di dalam naungan masjid juga aku tumbuh dan berkembang. Aku bermain dan belajar di sekitar masjid.
            “Masjid ini tempat pendidikanmu yang pertama. Saat ini bapak ingin mengajarmu untuk mengurus keuangan masjid. Catatlah semua pemasukan dan pengeluaran dari infak dan sadakah jamaah masjid,” pinta ayahku suatu hari. Aku pun setuju. Aku menjadi pelaksana bendahara masjid setelah ayah memintaku mengelola keuangan masjid.
            Rasanya tidak begitu susah mengelola keuangan masjid. Mungkin karena saat itu aku melakukannya dengan senang hati. Apalagi keuangan yang masuk dan keluar saat itu tidak begitu banyak. Jadi terasa amat mudah melaksanakan tugasku yang satu itu.
            Dari menjadi pelaksana bendahara masjid ini aku belajar mengelola uang. Kelak hal ini pasti akan sangat membantuku dalam mewujudkan cita-citaku menjadi pengusaha.
                                                ***






Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kejadian Aneh di Asrama

Summarecon Bekasi, Dekat di Hati