Skip to main content

Dokumen Pribadi Elektronik

         Sesuai judul postingan ini, yaitu Dokumen Pribadi Elektronik, maka saya akan sedikit curhat tentang kejadian mendebarkan beberapa waktu lalu. Saat itu saya dan keluarga hendak berangkat ke kampung halaman kami di Bukittinggi. Kami sudah rapi dan dalam perjalanan menuju bandara Halim Perdana Kusuma sore itu.
         Entah kenapa dalam taksi saya memikirkan sesuatu, rasanya ada yang ketinggalan di rumah. Tapi saya nggak ingat apa yang tertinggal itu. Taksi pun melaju hingga kami hampir sampai di Bandara. Ketika memasuki gerbang Bandara Halim itulah, saya ingat bahwa KTP saya tertinggal di tas yang biasa saya gunakan sehari-hari. 

       Saat itu saya panik. Tapi saya tidak memperlihatkannya kepada suami dan anak-anak. Saya hanya bergumam kecil kalau KTP saya tertinggal. Suami saya tentu saja kesal mendengar gumaman saya. Tapi sebelum bergumam, otak saya reflek mencari solusi. Nggak mungkin harus kembali ke Bekasi untuk mengambil KTP kan? Karena kalau itu saya lakukan, bisa-bisa kamu ketinggalan pesawat.
      Saya ingat, saya pernah menyimpan scanan KTP saya di HP. Saya buru-buru mencari scan-an KTP saya. Alhamdulillah ada. Hati saya tak henti mengucapkan kalimat tahmid tersebut. Maa Syaallah... Tak ada yang kebetulan bagi Allah. Allah bahkan segera menuntun saya untuk langsung berpikir tentang Scan KTP saya itu.
       Saya bersyukur masih menyimpan scan KTP itu. Karena biasanya saya akan menghapus semua foto yang ada di hp jika saya sudah menyimpannya di hard disk. Tapi sepertinya saya menyisakan scan KTP itu. 
       Ke depan saya harus lebih berhati-hati, saya harus meng-copy KTP ini beberapa lembar dan menyimpannya di beberapa tempat. Misalnya di rumah, di tas untuk mengaji, di tas untuk mengantar sekolah dan di tas untuk saya pergi jalan-jalan. Agar saya tidak mengalami kejadian seperti ini lagi nanti. 
      Ternyata scan KTP yang ada pada HP saya itu memang sangat dibutuhkan ketika mengambil boarding pass. Bisa juga menggunakan paspor atau SIM. Sayangnya saya nggak membawa paspor dan nggak punya SIM. Jadi scan KTP di hp sangat membantu ketika petugas keamanan bandara meminta kartu tanda pengenal saya.
        Hal yang sama juga terjadi ketika kami kembali ke Jakarta. Pemeriksaannya lebih banyak dari sebelumnya. Petugas chek-in Pesawat Garuda Bandara Minang Kabau meminta semua kartu pengenal diperlihatkan. Termasuk kartu pengenal anak-anak kami. Tentu saja saya panik, biasanya hanya kartu tanda pengenal orangtuanya saja yang diminta. Tapi kali ini juga kartu tanda pengenal anak-anak juga.
        Sayangnya anak-anak tak seorang pun yang membawa kartu pelajar mereka. Syukurlah petugas boarding pass pesawat Garuda itu berkenan menerima kartu asuransi atas nama anak-anak saya. Alhamdulillah kepanikan pun mereda. Saya harap teman-teman semua jangan sampai ketinggalan kartu tanda pengenal saat chek-in di Bandara, ya... 
       Setelah kejadian ini saya berpikiran alangkah baiknya jika kita mempunyai dokumen pribadi elektronik. Ketika kita melakukan berbagai hal, kita cukup men-scan sidik jari kita lalu semua dokumen kita bisa dilihat di sana. Nggak perlu memperlihatkan KTP atau SIM. Kita bisa melakukan boarding pass dengan menempelkan salah satu jari sesuai dengan saat kita membuat E-KTP dulu. Kira-kira kapan ya di Indonesia bisa seperti itu? Hehehe....
      Atau untuk saat ini mungkin lebih baik KTP dan SIM itu di-copy beberapa lembar dan disimpan di berbagai tas aja kali ya. Jadi biar nggak rempong jika KTP aslinya ketinggalan. ^_^ 
Have a nice trip.... ^_^

Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.