Masa Kecil Tokoh Indonesia, Bapak Anies Baswedan


            Pagi itu, aku bersama beberapa temanku sedang sibuk membuat sebuah rakit. Kami akan melakukan ekspedisi Kali Urang menuju Prambanan. Hal ini sudah lama kami rencanakan. Kami juga sudah mempersiapkan semua kebutuhan kami dari beberapa hari yang lalu.
            Sebelum berencana melakukan ekspedisi ini, aku dan teman-temanku berdiskusi terlebih dahulu. Kami berembuk untuk menentukan peralatan yang akan kami gunakan dalam melakukan ekspedisi ini. Seperti yang kami lihat, beberapa orang pernah menggunakan rakit untuk melewati Kali Urang.

            Jadi kami berkesimpulan, bahwa ekspedisi kami kali ini juga menggunakan rakit yang akan kami buat sendiri. Aku dan Ikun, sahabatku, menata semua batang pisang yang sudah kamu siapkan. Sedangkan temanku yang lain mengingat batang pisang itu dengan sangat kuat.
            “Ikatannya dikencangin ya. Jangan sampai terlepas nanti,” saranku.
            “Siap kapten!” sahut teman-temanku. Entah kenapa, teman-temanku seolah menobatkanku sebagai pemimpin mereka. Padahal waktu itu aku masih kelas lima SD. Sedangkan beberapa temanku ada yag sudah SMP.
             Tanpa banyak bicara, kami membuat rakit dengan bersemangat. Kuperhatikan setiap detil rakit yang kami buat. Aku tidak mau nanti kami tenggelam, karena rakit buatan kami tidak kuat.
            “Ayo! Dikit lagi mau selesai nih!” teriakku memberikan semangat. Teman-temanku pun makin bersemangat menyelesaikan rakit yang kami buat. Mereka seolah terbakar oleh semangat yang kuteriakkan.
            Selain membuat rakit seperti hari ini, aku juga mengumpulkan teman-temanku untuk membuat sebuah kelompok olah raga sepak bola di kampungku. Aku menamakan kelompok sepak bola itu dengan Kelabang. Singkatan dari Kelompok Anak Berkembang. Kami sering melakukan kegiatan sepak bola bersama. Bahkan kami sering melakukan berbgai hal bersama termasuk seperti yang akan kami lakukan saat ini.
            “Oke! Rakit kita sudah selesai. Ayo kita mulai ekspedisi kita,” ajakku ketika melihat rakit kami sudah berdiri dengan kokoh. Teman-temanku bertepuk tangan dan saling adu telapak tangan mereka di udara. Rasanya lega sekali melihat hasil kerja kami.
            Petualangan seru sudah terbentang di depan mata. Perbekalan pun sudah kami bawa dari rumah. Jadi tidak perlu menunggu lagi untuk memulai petualangan ini. Kami pun bersama-sama mendorong rakit itu ke Kali Urang dengan bersemangat. Lalu kami menaikinya dan mulai mengarungi Kali Urang  untuk perjalanan ekspedisi kami. Arus deras kali Urang berhasil menghanyutkan kami menuju Parambanan.
            “Yuhuuu!” teriak kami bersemangat. Kami mengarungi Kali Urang bagai petualang sejati. Teman-temanku memang percaya padaku. Mereka selalu mengikuti semua yang kusarankan. Mungkin karena badanku lebih besar dari badan mereka. atau mungkin juga karena hal lain.
            Apalagi aku juga cukup sering berkelahi dengan hampir semua anak laki-laki. Mereka menjulukiku pegulat handal. Karena setiap berkelahi, aku hampir selalu memenangkannya. Jujur saja, aku berkelahi bukan karena keinginanku untuk selalu berkelahi. Aku hanya meladeni anak lain yang mulai menyerangku lebih dulu.
            Aku selalu ingat pesan ayah, “ jika aorang meyerangmu lebih dulu, maka kamu wajib membela diri. Ayah akan selalu membelamu!”
            Pesan ayahku itulah yang selalu kuingat. Sehingga aku selalu berani menghadapi semua orang yang sengaja mengajakku berkelahi. Mungkin karena keberanianku juga, semua temanku menjadikanku sebagai pimpinan mereka. Sehingga semua saran dan ajakanku pasti mereka ikuti.
            Rakit yang kami tumpangi meluncur dengan mulus di kali Urang. Drasnya arus Kali Urang membuat perjalanan kami terasa makin seru. Sejauh ini kami sudah berlayar cukup jauh. Kukira mungkin kami sudah menempuh jarak sepanjang sepuluh kilo meter. Karena sebentar lagi kami akan sampai di sisi candi Prambanan.
            Kami menikmati perjalanan dengan sikap waspada. Walau demikian, sesekali kami bercanda dan menikmati petualangan kami. Pepohonan di sepanjang bantaran kali seolah ikut memberikan semangat pada kami. Sekilas, aku merasa mereka berkejar-kejaran satu sama lain untuk menyusul kami. Ah, mungkin itu perasaanku saja. Tapi sungguh, aku merasa sangat bersemangat saat ini.
            “Ayo siap-siap menepi. Sebentar lagi kita akan sampai di Prambanan,” ajakku ketika di kejauhan kulihat candi prambanan menjulang tinggi. Sebentar lagi, ekspedisi kami akan berakhir. Dan itu artinya, kami berhasil menaklukkan petualangan kami kali ini. Kami pun bersiap mengayuh rakit untuk menepi ke pinggir sungai. Dadaku bergemuruh ketika rakit yang kami tumpangi mulai menepi.Tak lama, rakit pun berhenti. Dan kami pun melompat turun.
            “Horeee! Berhasil!” teriak kami serentak sambil tertawa lepas.
            “Ekspedisi kita berhasil. Kita bisa bertualang hingga ke Prambanan hanya dengan menggunakan rakit!” teriakku gembira.
            “Iya, ayo kita tos,” ajak Ikun. Kami pun mengadu telapak tangan kami di udara. Rasa senang tdan bahagia memancar dari suara tangan kami yang saling beradu.
            “Kita istirahat dan makan bekal dulu di sini,” ajakku sambil menunjuk sebuah lapangan yang tak begitu jauh dari tempat kami merapatkan rakit.  Lalu kami mengeluarkan bekal masing-masing.
            Selanjutnya bisa ditebak, perjalanan yang menguras energi dan pikiran ini berhasil membuat kami kelapara. Kami pun melahap bekal kami sampai tandas. Saat makan, kami benar-benar tanpa suara. Terlihat betul rasa lapar yang sudah menguasai kami semua. Selesai makan, tak lupa kami mencuci tangan dan merapikn tempat kami makan tadi. lalu kami pun memutuskan untuk istirahat beberapa menit lagi.
            “Eh, kok aku jadi kepikiran ya. Bagaimana cara kita kembali ke rumah kita ya Nies?” tiba-tiba sebuah pertanyaan meluncur dari salah satu temanku. Aku terdiam. Untungnya kami semua sudah selesai makan. Jadi pertanyaan itu tidak membuat kami tersedak saat makan.
            “Iya, ya. kita kan nggak mungkin menggunakan rakit lagi untuk kembali. Itu sama saja melawan arus. Kita tidak akan kuat mendayung rakit ini,” gumamku lirih.
            “Ya ampun! Lalu bagaimana ini?” sahut temanku yang lain. Mereka mulai panik.
            “Ya, kita terpaksa jalan kaki,” ucapku datar. Hanya satu itu pilihan kami. Kami tidak punya pilihan lain. Kami tidak mempunyai uang untuk ongkos kembali ke rumah. Karena ketika kami berangkat tadi, kami tidak berpikir kalau rakit kami tidak mungkin membawa kami kembali ke rumah.
            “Ya sudahlah. Kita jalan kaki.” Teman-temanku terpaksa menyetujui saranku. Kami pun pulang dengan langkah gontai. Tapi untuk menghilangkan rasa kesal, kami bercanda di sepanjang perjalanan pulang. Sehingga berjalan sejauh kurang lebih dua belas kilometer, tidak membuat kami merasa kecapean.
            Kami sampai di rumah ketika malam menjelang. Tapi hal ini menjadi pelajaran berharga selama hidup kami. Berpikirlah dulu sebelum melakukan apa pun.
            Ayahku bapak Rasyid Baswedan dan ibuku ibu Aliyah, hanya tertawa mendengar ceritaku, begitu aku sampai di rumah.
             “Mama sebenarnya sangat khawatir, karena Anies belum pulang. Tapi, Mama bersyukur, Anies sudah di rumah sekarang,” ucap Ibu sambil membelai kepalaku. Aku hanya tersenyum sambil menunduk.
            Kedua orangtuaku adalah orang tua terbaik di dunia. Mereka membebaskanku melakukan apa pun selama aku bertanggung jawab dalam melakukannya. Rasa khawatir mereka bisa mereka redam ketika melihatku berhasil menyelesaikan masalahku. Kuakui, aku sering membuat mereka khawatir dengan seringnya aku terlibat perkelahian dengan anak lain.
            Untungnya, mereka selalu berusaha menahan diri untuk ikut campur melerai kami. Mereka ingin melihatku mengatasi masalahku sendiri tanpa campur tangan orangtua. Kurasa, karena kepercayaan yang mereka berikan itulah, aku menjadi berani dan percaya diri seperti sekarang ini.
            Waktu usiaku masih sekitar 7 tahun, saat itu salah satu saudaraku berulang tahun. Seorang mahasiswa ibuku datang ke rumah kami. Mahasiswa itu membawa sebuah kamera dan memotret momen bahagia kami sekeluarga.
            “Bagus betul kameranya ya Ma,” ucapku ketika melihat mahasiswa itu memotret kami. Rasanya aku juga ingin bisa seperti dia.
            “Anies mau kamera seperti itu?” tanya ayahku. Aku mengguk cepat.
            “Insyaallah Anies bisa membelinya, kalau tabungan Anies sudah cukup,” sela Ibu. Aku terdiam. Aku berjanji dalam hati akan mengumpulkan uang jajanku. Ternyata Allah mengabulkan doaku. Setelah aku disunat, aku mendapat banyak uang dari saudara dan kerabatku. Akhirnya aku bisa membeli kamera yang kuinginkan.
            Orangtuaku selalu mengajarkan kami untuk menabung dulu jika menginginkan suatu benda. Namaku Anies Rasyid Baswedan, aku lahir di kuningan, Jawa Barat, 7 Mei 1969. Begitulah kisah masa kecilku. Semoga kalian bisa mengambil contoh yang baik dariku. Tinggalkan contoh yang tidak baik ya.

                                                            ***

Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kejadian Aneh di Asrama

Summarecon Bekasi, Dekat di Hati