Skip to main content

Tugas #2 Kelas Ajaib Online



Nava merapatkan jaketnya. Hawa dingin menerpa wajahnya. Udara dingin di kota kelahirannya ini tak berbeda dengan beberapa tahun lalu. Sudah sejam dia duduk di sini. Di belakang sebuah meriam tua peninggalan Belanda. Ketika kecil, dia betah berlama-lama duduk di atas meriam itu. Saat itu usianya masih 10 tahun. Ayahnya hampir tiap Minggu mengajaknya ke tempat itu. Ia dan adiknya bermain perang-perangan di tempat itu. Nava dan masyarakat Bukittinggi menyebut tempat itu dengan Benteng.
Benteng itu merupakan sebuah tempat yang sangat cocok untuk tempat bersembunyi atau berlindung dari serangan musuh. Kontur tanahnya yang berbukit dan dikelilingi puluhan pohon pinus membuat siapa pun susah terlihat. Wajar saja pasukan Belanda menjadikan tempat itu sebagai benteng pertahanan dan sebagai markas mereka.
Beberapa meriam kuno masih berdiri kokoh di empat penjuru benteng. Sebuah menara pengintai berdiri megah di puncak benteng ini. Yang membuatnya berbeda dari lima belas tahun yang lalu adalah, saat ini ada beberapa kandang burung berbagai jenis yang menjadi penghuni benteng ini. Pemda setempat menjadikan tempat ini sebagai salah satu objek wisata.
           Nava berdiri dan berjalan ke sisi kanan menara pengintai. Dari situ ia bisa melihat jembatan Limpapeh yang menjadi penghubung antara Benteng dan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Jembatan ini berdiri di atas jalan Ahmad Yani Bukittinggi. Nava lalu menelusuri jalan menurun menuju jembatan. Di samping kiri dan kanannya ada kandang burung Kakak Tua. Nava berhenti sejenak memperhatikan tingkah sepasang Kakak Tua di kandang sebelah kanan.
                “Andai dia ada di sini saat ini, mungkin kami bisa bercanda sepertimu,” gumam Nava. Ia kembali berdiri dan melanjutkan jalannya menuju jembatan limpapeh. Sebelum mencapai jembatan, ada sebuah persimpangan jalan kecil. Ke arah kiri menuju jembatan, dan ke arah kanan menuju kandang burung lain yang lebih besar. Nava berdiri di persimpangan itu. Matanya menatap ke depan. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat sebagian besar kota kelahirannya Bukittinggi.
                Dari kejauhan gonjong Jam Gadang terlihat megah seolah membelah Gunung Singgalang dan Gunung Marapi. Sungguh pemandangan yang takkan pernah dilupakannya. Nava mengambil kamera sakunya. Ia ingin megabadikan keadaan kota Bukittinggi saat ini.  Dulu lima belas tahun yang lalu, ia dan seseorang yang selalu ada di hatinya pernah berfoto di tempat itu. Waktu itu mereka berjanji akan bertemu lima belas tahun lagi di sini. Tepat pada tanggal dan jam yang sama. Sayangnya sudah sejam Nava menunggu, seseorang itu masih belum muncul di hadapannya.
                “Nava!” sebuah suara membuyarkan lamunan Nava. Ia menoleh ke kanan. Dini sahabatnya berdiri sambil merentangkan tangannya. Wajah sahabatnya itu taktampak berubah. Hanya terlihat lebih dewasa dengan kerudung lebarnya.
                “Dini! Apa kabar?” Nava tersenyum senang. Mereka berpelukan. Mereka pun bercerita tentang kegiatan masing-masing. Dini sekarang di Malaysia. Sedangkan Nava di Jakarta. Hanya jejaring sosial yang menghubungkan mereka beberapa waktu terakhir ini.
                “Ayo kita berfoto di sana lagi,” ajak Dini sambil menunjuk tempat yang dipotret Nava tadi.
                Dini sahabat karib Nava waktu SMP. Ketika SMA dia harus pindah ke Malaysia mengikuti orang tuanya. Sejak itu mereka takpernah bertemu lagi. Tapi mereka ingat sebuah janji. Akan bertemu lagi di tempat ini. Sehari sebelum keberangkatan Dini ke Malaysia. Persahabatan mereka akan sekokoh Gunung Singgalang dan Gunung Marapi yang menjadi latar foto mereka.

Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.