Skip to main content

Tugas #4 Kelas Ajaib Online


BAb 1 :                                       Ayo Kita Kerja!
Nava bergegas menempelkan jempolnya di mesin absensi Rumah Sakit Bintang Keluarga.
          "Hampir saja telat," gumam Nava sambil merapikan jilbab hijaunya yang senada dengan seragamnya. Dia harus menuju lift agar sampai lebih cepat menuju nurse station. Sambil menunggu pintu lift terbuka, Nava melempar senyum kepada gadis di balik meja informasi yang mirip artis Zaskia Mecca .
            “Telat lagi?” tanya Marisa itu dari balik mejanya.
“Nyaris!” sahut Nava terbahak. Hampir seminggu ini dia nyaris telat. Alasannya karena jalanan macet. Seperti biasa, jika musim liburan seperti ini, pasti jalan utama kota Bukittinggi akan macet. Padahal dia sudah berusaha berangkat lebih awal. Sebenarnya hanya butuh setengah jam jika dia berjalan kaki menuju rumah sakit ini.
  Nava malas berjalan karena teriknya mentari musim kemarau, membuatnya tidak nyaman. Dia memilih naik angkot agar pakaiannya tetap kering dan tidak dipenuhi keringat setelah sampai di tempat kerja. Tapi, kenyataannya dalam seminggu ini, dia nyaris terlambat dan pakaiannya basah oleh keringat karena terlalu lama dalam angkot.
            “Yuk ah, masuk  dulu!” teriaknya sambil melambaikan tangan pada Marisa. Marisa mengangguk sambil membalas lambaian tangan Nava. Nava bergegas masuk lift dan memencet angka 3 untuk menuju ruangannya. Satu menit kemudian lift itu pun berhenti. Gadis berkulit sawo matang itu segera keluar lift. Segarnya aroma lisol menghampiri hidung Nava ketika pintu lift terbuka. Aroma yang membuatnya betah di tempat kerjanya ini. Nava berlari kecil menuju ruangannya.
            Nurse station tempat para perawat melakukan kegiatan utama berada sekitar 20 meter di samping kiri lift. Lorong panjang menuju nurse station  ini terlihat sangat sepi. Cat dinding berwarna hijau muda mendominasi semua ruangan. Semilir angin dari penjuru ruangan, lumayan mendinginkan badan Nava yang dipenuhi keringat.
            “Maaf saya telat Bu,” ujar Nava ketika melihat koordinator ruangan dan beberapa temannya sudah duduk berderet di bangku nurse station. Dia segera menghempaskan tubuhnya di salah satu kursi yang kosong. Nava mengambil buku catatan dalam tas hitam yang dibawanya. Setelah itu dia mengipasi badannya yang gerah menggunakan buku tipis itu.
            “Kita mulai operan dinas siang ini ya,” ujar Hani, penanggung jawab dinas pagi ruangan Kenanga. Nava buru-buru mengeluarkan buku catatannya. Buku itu berisi catatan yang akan dikerjakannya. Operan dinas ini semacam briefing yang selalu mereka lakukan setiap kali pergantian dinas.
            Selanjutnya Hani membacakan kegiatan yang sudah mereka lalukan terhadap semua pasien di ruangan itu sejak pagi hingga siang ini. Ada beberapa catatan yang harus diperhatikan teman-temannya yang dinas siang. Nava sudah mencatat semuanya. Setelah operan dinas selesai, Nava mengikuti langkah Hani  ke kamar-kamar pasien untuk memeriksa keadaan mereka. kegiatan rutin yang selalu dilakukan perawat di ruangan Kenanga setiap pergantian jam dinas.
            Ada 20 kamar di ruangan Kenanga. Delapan Kamar Istimewa di sisi kiri nurse station.  Delapan kamar VIP di sisi kanan nurse station dan empat Super VIP di depan nurse station. Siang ini ada 12 pasien yang dirawat di ruangan itu.
            Baru saja mereka selesai melihat keadaan semua pasien, tiba-tiba telepon di nurse station berdering. Nava segera mengangkat telepon itu.
            “Pasien atas nama Pak Jamal sudah bisa dijemput di OK ya!” ujar suara di seberang telepon.
            “Baiklah, saya ak jemput,” sahut Nava, telepon itu dari perawat kamar operasi.
            “ Nava, Lisa dan Hanum, selamat bertugas ya. Kami pulang dulu,” ujar teman-teman Nava yang baru saja menyelesaikan tugas mereka. Nava melambaikan tangannya sambil tersenyum.
            “Yuk Hanum, kita jemput pasien dulu. Lisa saya titip nurse station ya,” pinta Nava sambil membagi tugas. Siang ini Nava bertugas menjadi penanggung jawab ruangan Kenanga itu. Gadis bertubuh mungil dengan alis tebal itu meletakkan catatannya ke dalam kantong celananya.
            “Ibu aja yang menjaga nurse station, Lisa langsung mengerjakan tugasnya aja. Ibu belum pulang kok, masih harus mengerjakan beberapa tugas,” sela Ibu Dina, koordinator ruangan mereka. Wanita dengan wajah yang masih terlihat muda, meskipun usianya sudah hampir 50 tahun.
(Gunting)
           

Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.