Tugas #1 Kelas Ajaib Online



             Malam ini hujan sangat deras. Aku masih dalam perjalanan menuju ke rumah. Mobil yang kukendarai masih tersendat di tol. Sepertinya kemacetan kota ini takkan pernah terselesaikan. Aku melirik kembali jam di tanganku. Sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Itu artinya sudah satu jam aku berada dalam tol ini. Aku tak ingin ketika sampai di rumah nanti, Kannaku sudah tidur.
 “Huffhh...” aku menghembuskan napas kesal. Aku meninggalkan Kanna, putriku di rumah bersama pengasuhnya. Meski pun suamiku mengijinkanku untuk bekerja, namun rasa khawatir seorang ibu sering menghampiriku. Hanya sedikit tawaran sinetron yang kuambil setelah aku memiliki Kanna. Seharian tadi aku berada di lokasi sinetron Para Pencari Tuhan di daerah Bekasi. Aku ingin segera sampai di rumah dan memeluk erat putri kecilku itu.

                Demi menghilangkan bosan dan kesal, aku menyalakan radio. Terdengar alunan merdu Insya Allah dari Maher Zain. Alunan nadanya membuat kekesalanku sedikit berkurang. “Insya Allah... Insya Allah... Insya Allah, ada jalan...”
                Aku kembali menginjak pedal gas. Kuberharap kemacetan sudah terurai. Baru beberapa meter mobil melaju denga kecepatan 40 km/jam, tiba-tiba kemacetan terjadi lagi. Ah entah apa yang terjadi di depan sana. Aku membuka kaca jendela, kulihat ada seorang petugas tol berdiri tak jauh dari mobilku. Beberapa meter ke depan mobilku akan memasuki pintu tol. Kucoba bertanya padanya.
                “Ada seorang pengemis tertabrak mobil di luar tol sana Bu,” sahutnya ketika kutanya penyebab kemacetan itu. Aku terperangah,”Innalillahi... Apa sudah dibawa ke rumah sakit?”
                “Sudah Bu.” Petugas itu pun berlalu dari hadapanku.
 Kasihan sekali pengemis itu. Siapa yang akan membiayainya di rumah sakit? Sungguh dunia ini memang takbersahabat bagi kaum jelata. Andai kutahu di mana pengemis itu dirawat, aku akan berusaha membantu semampuku.
Kulihat mobil di depanku sudah kembali berjalan. Lima menit kemudian aku sudah berada di jalan utama ke rumahku. Sepanjang jalan aku membayangkan bagaimana nasib pengemis yang tertabrak itu? Bagaimana dengan anak dan keluarganya? Ketika aku asyik dengan pikiranku, tiba-tiba seseorang mengetuk kaca jendela mobilku. Saat ini aku sedang berhenti lagi di lampu merah.
Aku menoleh ke jendela. Seorang perempuan menangis menunjuk anak yang ada dalam pangkuannya. Aku bingung, ada apa dengan perempuan ini. Sepertinya dia juga seorang pengemis. Tapi kenapa dia menangis sambil menunjuk anaknya? Walau bingung dan curiga, aku membuka sedikit jendela mobil sambil tetap waspada.
“Maafkan saya Bu. Saya minta tolong pada Ibu, tolong jaga anak saya. Saya tahu Ibu orang baik. Ibu mengenakan hijab yang berarti ibu mengerti agama. Saya akan mengambil anak saya setelah suami saya sembuh. Saat ini suami saya dirawat di RSCM. Tadi dia mengalami kecelakaan di depan tol.” Ujarnya takberhenti menangis.
 Aku antara iba dan curiga. Perempuan itu masih menunggu jawabanku. Sepertinya dia sangat menunggu keputusanku. Aku memperhatikannya sambil berdoa dalam hati. Kulihat anak perempuan yang ada dalam pangkuannya. Anak itu sepertinya berusia 2 tahun, seusia Kanna. Aku harus mengambil keputusan.
“Baiklah, Ibu masuk ke mobil saya. Saya akan mengantar ibu ke RSCM.” Putusku. Ibu itu terkejut. Mungkin dia takmeyangka aku akan menyetujui permintaannya. Dia gelagapan.
“Saya hanya ingin anak saya aja yang Ibu bawa. Saya bisa pergi sendiri.”
“Kalau Ibu mau, saya akan mengantar Ibu. Tapi kalau tidak ya sudah, saya harus segera pergi.” Aku menginjak pedal gas karena lampu hijau sudah menyala.

Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kejadian Aneh di Asrama

Summarecon Bekasi, Dekat di Hati