Skip to main content

Bedah Buku Detik Demi Detik di Radio DFM Jakarta


Selasa 3 Juli 2012 kemarin, saya bersama Kak Wylvera, Mbak Santi, Mbak Haya, Mbak Elsyifa  berkesempatan untuk membagi pengalaman kami seputar penulisan buku Detik Demi Detik di radio DFM Jakarta. Perjalanan seru menuju tempat acara berawal dari saya yang harus mengajak semua krucil. Karena mereka sedang liburan, jadi tidak mungkin meninggalkan mereka di rumah tanpa ada orang dewasa yang menemani. Saya pun memutuskan mengajak mereka. Tepat pukul 10.00 WIB saya berangkat dari rumah, karena saya berjanji akan berangkat dan menumpang di mobilnya Kak Wiwiek.
Saya berpikir naik taksi saja agar bisa secepatnya bertemu Kak Wiwiek. Ternyata taksi yang akan saya tumpangi tak kunjung terlihat. setelah menunggu 15 menit, akhirnya saya pun naik angkot bersama anak-anak menuju terminal. Kak Wiwiek sudah memandu saya untuk bertemu di depan gedung BSI Bekasi. Saya harus naik angkot lagi ke tempat itu. Ternyata harapan sangat berbeda dengan kenyataan. Angkot yang saya tumpangi ngetem terlalu lama di terminal. Saya berpikir untuk pindah angkot, tapi segera saya batalkan karena belum tentu juga angkot yang akan saya tumpangi itu langsung jalan. Hasilnya, saya pasrah menunggu. Jam sudah menunjukkan angka 11.00 WIB. Untunglah setelah angkot itu terisi beberapa penumpang, sang sopir segera  memacu angkotnya dengan kecepatan tinggi. Saya pun sampai di tujuan dalam waktu 15 menit.
Selanjutnya saya dan anak-anak turun dari angkot dan berjalan menuju mobil Kak Wiwek yang sudah menyongsong kami.Perjalanan menuju DFM pun dimulai. Mobil yang dikendarai Kak Wiwiek melaju dengan kecepatan sedang. Ujian kesabaran kembali menghadang. Ketika memasuki tol, ternyata kemacetan menghadang. Mobil merayap bagai kura-kura. Bahkan ketika di sebuah pintu tol mobil benar-benar tidak bergerak, entah apa yang terjadi.
Saya dan Kak Wiwiek sudah gelisah. Satu jam lagi menuju acara, sementara kami masih terjebak macet yang menggila di tol ini. Kak Wiwiek meminta saya menghubungi teman-teman lain yang mungkin sudah di perjalanan atau sudah sampai.
Saya menghubungi Mbak Haya, Mbak Santi dan Mbak ElSyifa. Mbak Santi sudah sampai di tujuan, sementara Mbak Haya dan Mbak Elsyifa masih dalam perjalanan. Dengan dipandu Kak Wiwiek yang sedang menyetir, saya meminta teman-teman yang sudah sampai untuk mengikuti sesi bedah buku sesuai dengan yang pernah kami lakukan di radio Dakta tempo hari. Untunglah Mbak Santi, Mbak Haya dan Mbak ElSyifa bersedia.
Alhamdulillah, akhirnya pukul 13.25 WIB kami berhasil keluar dari kemacetan itu dan sampai di DFM dengan selamat. Walaupun siaran sudah berlangsung selama setengah jam, saya bersyukur masih diijinkan untuk bergabung dalam siaran itu. Mas Vicky penyiar DFM siang itu berhasil membuat saya dan kak Wiwiek merasa nyaman karena terlambat setengah jam. Beliau mulai bertanya tentang tulisan kami di buku Detik Demi Detik. Sesi terakhir bedah buku ini diisi dengan menjawab beberapa pertanyaan pemirsa melalui SMS. Tiga orang yang beruntung mendapatkan buku Detik demi Detik yang sudah kami tanda tangani. Kami berharap semoga tulisan kami di buku itu bisa menjadi penyemangat bagi pembaca yang sedang mendapat ujian sakit atau yang sedang merawat keluarga atau saudara yang sakit.
Setengah jam kemudian, selesai sudah acara bedah buku ini. Sesuai dengan temanya yaitu perjuangan dan kesabaran dalam menghadapi penyakit dan merawat orang sakit. Hari ini kami juga sudah berjuang melawan kemacetan dengan segenap kesabaran dan keikhlasan hingga berbuah manis bertemu dengan penyiar dan teman-teman di radio DFM Jakarta.


Tak lupa kami mengabadikan kebersamaan ini dalam sebuah foto kenangan. 
Dari lubuk hati yang paling dalam saya ucapkan ribuan terima kasih kepada Mas Vicky, Mbak Lia dan  kru DFM atas kesempatan bedah buku ini. Mohon maaf atas keterlambatan yang di luar kemampuan kami. Terima kasih juga kepada Kak Wiwiek yang bersedia menunggu dan memberi tumpangan untukku. Terima kasih juga untuk Mbak Haya, Mbak Santi dan Mbak ElSyifa. Senang bertemu kalian lagi. Khusus untuk Mbak ElSyifa yang baru pertama kali bertemu langsung memberi kenang-kenangan berupa buku karyanya pada kami. Insyaallah ketemu lagi di acara lain ya temans. luv you all. ^_^

Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.