Skip to main content

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.

   Jadilah dengan pedenya saya berangkat ke kantor Imigrasi Bekasi pada hari dan tanggal yang sudah ditentukan. Sebelumnya saya juga sudah bertanya pada teman, kira-kira apa saja yang saya butuhkan di sana. Menurut mbak Nunik, teman saya, hanya membawa materi 6000 untuk ditempelkan dan dibubuhi tandatangan pada formulir yang sudah kita buat.

    Dengan rasa pede tingkat tinggi, saya pun bergegas ke bank BNI untuk membayar biaya paspor sesuai dengan yang dianjurkan dalam berkas yang saya terima. Saya membawa serta anak-anak saya, karena berpikir selesai membayar di bank, kami harus wawancara dan berfoto untuk paspor.
    Tapi alangkah terkejutnya saya begitu sampai di depan teller bank. Mbak cantik itu mengatakan bahwa berkas saya sudah kadaluarsa alias gak bisa digunakan lagi. Tentu saja saya bingung, jelas sekali di berkas itu saya diminta datang tanggal 30 April. Dan hari ini adalah tanggal yang dimaksud. Kenapa bisa kadaluarsa? Di berkas kan dituliskan bahwa saya datang ke imigrasi tanggal dan hari ini, tapi bayar dulu di bank sebelum ke imigrasi. Apanya yang salah?

      Mbak cantik teller bank menjelaskan pada saya, bahwa saya harusnya membayar biaya membuat paspor itu pada hari yang sama dengan saat saya memasukkan data via online. Ya ampuuun... kenapa kantor imigrasi tidak membuat dan menulis persyaratan itu di berkas? Kalau tahu begitu, pasti akan saya bayar saat itu juga. Saya sudah memasukkan data dan menunggu selama dua minggu untuk ke imigrasi, ternyata persiapan saya yang saya pikir sempurna itu, malah tidak ada gunanya. :(
     Mbak teller bank akhirnya menyarankan saya datang langsung ke imigrasi. Dengan pasrah, saya pun menenteng kedua putra saya ke imigrasi Bekasi. 
    Sampai di sana saya bertemu salah satu pegawai imigrasi (Saya lupa namanya). Saya mengatakan padanya tentang berkas yang sudah kadaluarsa. Dia membenarkan kalau berkas itu harus dibayarkan pada hari yang sama. Lalu dia menyarankan saya untuk membuat paspor secara manual saja. 
    Ternyata membuat paspor manual cukup lama prosesnya. Pertama saya harus mengambil nomor antrian dulu. Karena sudah Pukul 8.30, nomor antrian ternyata sudah habis. Mereka membatasi hingga nomor antrian ke 120. Si ibu yang bertemu saya tadi, akhirnya meminta saya mengisi formulir pembuatan paspor tanpa harus mengantri, karena saya sudah daftar via online sebelumnya.
     Selanjutnya saya mengisi kembali semua form yang sudah saya isi secara online itu. Berikut membubuhi materai dan tanda tangan. Hal yang membedakannya dengan daftar online adalah, saya harus menyiapkan foto kopi semua berkas asli. Seperti KTP, KK, surat nikah, akte kelahiran anak dan KTP suami (utk bikin paspor anak)
     Saya pun memfotokopi semua surat-surat itu. Lalu menambah lagi membeli materai karena masih kurang. Untuk saya perlu 3 materai. Untuk anak-anak, masing-masing dua materai. Kalau ingin membuat paspor untuk umrah, maka masing-masing perlu ditambahkan 1 materai lagi. Jadi begitulah. Sayangnya saya tidak Membawa KTP suami. Saya terpaksa pulang dulu untuk mengambil scanan KTP suami dan memfotokopinya.
    Setelah semua berkas lengkap, saya baru bisa menyerahkan kembali berkas itu pada petugas pembuatan paspor. Saya akhirnya meminta anak saya untuk tinggal di rumah saat saya mengambil salinan KTP suami, karena yg pasti hari ini kami gagal wawancara dan foto utnuk membuat paspor.
    Saya kembali ke imigrasi dan menyerahkan semua berkas. Lalu mereka memberikan berkas untuk pembayaran ke bank BNI (hanya boleh bayar di bank BNI secara langsung, tidak bisa transfer). Selesai sudah perjalanan saya hari itu, setelah membayarnya di bank BNI. Kami harus kembali hari senin 5 mei 2014 untuk wawancara dan foto.
    Saran saya bagi Anda yang ingin membuat paspor, ada baiknya secara online, tapi pastikan setelah mendapatkan berkas untuk pembayaran via email, langsung bayar ke BNI pada hari yang sama. Jangan lupa beli materai yang cukup kalau perlu lebih (satu paspor butuh 3 materai). Karena beli materai 6000 di fotokopian dekat imigrasi harganya lumayan mahal. Satu materai seharga 8000, bayangkan kalau kita membuat 4 paspor. :P
       Kalau perlu fotokopi juga semua berkas yang sudah diinput di daftar online, untuk antisipasi kejadian seperti yang saya alami. Karena sekali lagi, harga fotokopi perlembarnya lebih mahal jika kita memfotokopi berkas di dekat kantor imigrasi. *emak2 hemat*
     Oke sip, begitu dulu laporan tentang membuat paspor dari saya. Semoga bermanfaat. Ohya, uang yang dikeluarkan saat membuat paspor sebesar Rp255.000,-  plus biaya adm bank Rp5000,-.
     Kalau ingin membuat paspor secara manual, datanglah lebih awal, katanya sudah dibuka antrian dari jam 5.30 (di Bekasi) tapi kudu sabar nunggu antrian ya. Selain itu harus bolak balik ke sana. Karena wawancara dan foto bisa dipastikan tidak di hari yang sama. Selamat membuat paspor. :)

Comments

  1. Replies
    1. Kembali kasih mbak Lidya. Moga bermanfaat. :)

      Delete
  2. karena satu wilayah di bekasi juga...saya mau tanya nih rencana mau ngurus paspor ortu buat umroh,,,namun untuk akte kehlahirannya ga ada itu bagaimana ya aa bisa di ganti dengan surat nikah, karena orangtua jaman dulu kan ga semuanya memiliki akte kelahiran...trus kira2 untuk prosesnya berapa lama...bisa di share infonya dong

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa kok. Ijazah terakhir juga boleh. Makasih udah mampir ya. 😊

      Delete
  3. Assalamualaikum Mba, maaf saya mau tanya, apabila daftar online untuk paspor umroh, bagaimana dengan nama yg hanya ada 2 suku kata? apakah saya langsung tambahkan nama ayah saat input data online?
    Terimakasih mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. langsung tambahkan aja nama ayah di belakang nama Mbak Sylvia. Nanti di sana disuruh ngisi formulir tambahan untuk nama tiga suku kata. Bawa juga satu materai tambahan untuk ditempel di formulir itu. Moga membantu ya Mbak. ^_^

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. ^_^

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…