Thursday, October 15, 2020

Belajar Dari Muridku

Aku sedang mengisi absensi siswa ketika beberapa murid mulai masuk ke kelas. Mereka berebutan untuk mendapatkan computer. Umumnya mereka terengah-engah karena berlari dari kelas mereka menuju ruang computer ini.

            “Hhh… capek!” ujar Karina sambil menyalamiku.

            “Karina lari ke sini?” tanyaku.

            “Iya Bu. Biar kebagian computer,” jawabnya sambil mengatur napas.

            “Insyaallah kebagian kok. Lain kali, jalan aja ya,” saranku. 

            Aku paham, awal kelas menulis ini dibuka dulu, banyak sekali murid yang ingin mengikutinya. Sehingga hanya sebagian murid yang bisa menggunakan computer untuk menulis cerita. Sebagian lainnya terpasksa menulis langsung di buku mereka.

            “Nanti kalau nggak kebagian gimana Bu?” tanyanya setelah mengisi absen kehadiran.

            “Insyaallah kebagian sayang. Kan yang ikut menulis sudah mulai berkurang. Hanya kalian yang masih bersemangat yang terus berada di kelas ini,” jawabku meyakinkannya. Karina tersenyum mendengar jawabanku. Tak lama setelah itu, beberapa murid pun datang dengan cara yang sama. mereka terengah-engah karena berlari dari kelas mereka menuju lab computer.

            Aku hanya bisa tersenyum menyaksikan tingkah mereka yang tetap bersemangat menyalamiku walau napas mereka terengah. Satu persatu mereka mulai mengisi absen kehadiran. 

            “Hhhh… lemes banget bu!” ucap seorang murid yang baru datang dengan senyum di wajahnya. Sama dengan teman-temannya, dia juga datang dengan napas yang memburu karena berlari menuju kelas.

            “Bawa minum nggak, Nak? Kalau ada, minum dulu aja biar nggak lemes,” saranku.

            Saat itu Lita sudah selesai mengisi absennya. Dia menjawabku dengan santai, “Nggak mau ah bu. Aku insyaallah puasa.” 

            Deg! Hatiku terasa ditampar. Murid yang ada di depanku ini masih kelas lima SD. Dan dia sedang puasa sunnah! Bagaimana denganku? Aku selalu berpikir hanya melakukan shaum sunnah di hari senin saja, karena hari senin jadwalku tidak sepadat hari kamis. Tapi dia? Tiap hari jadwal sekolahnya kan padat dari pagi hingga sore. Hari kamis seperti ini ada jadwal eskul juga. Dia masih melaksanakan shaum sunnah! Padahal dia masih SD dan belum balig! Ya Allah… aku menahan gerimis di wajahku. 

            “Hmmm… gitu ya? Tapi Lita kuat kan?” pertanyaan paling konyol meluncur dari mulutku.

            “Insyaallah kuat bu.”

            “Alhamdulillah… jadi tadi Lita lari dari lantai 2 ke sini?” 

            “Dari lantai satu Bu.”

            “Ya Allah… lain kali jalan aja ya.”

            “Kan takut nggak kebagian computer.”

            “Ntar ibu deh yang ngetag in computer untuk Lita.”

            “Beneran nih bu?” matanya membola menatapku.

            Aku mengangguk sambil tersenyum meyakinkan Lita. 

            “Oke. Makasih ya bu.” Dia pun mulai menyalakan komputernya. Sambil menunggu beberapa murid lagi, aku bertanya padanya. “Lita kalau hari senin juga shaum?”

            “Nggak Bu. Hari senin aku olah raga. Nggak kuat shaum.”

            Aku mengangguk setuju. Dia benar. Lebih baik shaum saat kelas menulis daripada saat jam olahraga. 

            “Nggak ngiler lihat yang lain ngemil?” aku menunjuk teman-temannya yang makan cemilan mereka sebelum kelas dimulai.

            “Alhamdulillah nggak bu. Kalau hari biasa kan aku juga bisa ngemil.”

            Aku tersenyum. Kumulai kelas menulis sore ini dengan membaca basmalah dan menjelaskan beberapa Teknik menulis kepada murid-muridku. Selanjutnya mereka melakukan latihan menulis sesuai dengan arahanku. Sambil memeriksa pekerjaan mereka, aku bersyukur Allah mengingatkanku melalui Lita. Terima kasih Lita, semoga ibu juga bisa shaum di hari Kamis sama sepertimu. 

                                                            ***

 

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. ^_^