Sunday, February 23, 2020

Nurse Station Bougenville

                                           
            “Hai!” sapaku pada temanku yang terlihat sibuk menyelesaikan laporan. 
“Hai,” sahut Sarah masih terus asyik menulis laporannya. 
“Sudah jam berapa sih?” gumamnya melanjutkan menulis laporan dengan terburu-buru. 
“Tenang aja, masih jam setengah sembilan kok,” sahutku tersenyum. Malam ini aku bertugas jaga malam di sebuah rumah sakit tempatku bekerja. Rumah sakit swasta yang cukup terkenal di Bekasi.
Walau pun malam sudah kelam di luar sana, tapi di dalam nurse station ini selalu terang benderang. Bahkan kami tidak bisa membedakan malam atau siang ketika berada di sini. Kecuali ketika kami masuk ke kamar pasien, begitu melihat ke arah jendela, baru kami bisa memastikan keadaan di luar sana. Siang atau malam.

Aku mengeluarkan notes kecil dari dalam kantong celanaku. Lalu duduk di samping Sarah. Sebentar lagi Sarah pasti memintaku untuk mendengarkan laporannya. Setelah itu, aku akan sangat disibukkan oleh pekerjaanku malam ini. Aku membaca catatanku tentang pasien kemarin malam. Terdapat 20 pasien semalam. Kondisi mereka semua baik-bak saja. Semoga hari ini juga demikian, doaku dalam hati.
“Malam Kak,” sapa Ine dengan cengirannya yang khas. Di belakang Ine berdiri Sofi sambil tersenyum. Malam ini kami bertiga menjadi tim untuk menjaga dan merawat pasien-pasien kami.
“Malam Say,” sahutku tersenyum. Begitulah panggilan sayangku untuk mereka. Lalu aku kembali menekuni catatanku. Sebagai penanggung jawab ruangan malam ini, aku harus memperhatikan setiap detil catatan tentang pasienku, agar aku bisa merawat mereka dengan maksimal.
“Ayo kita mulai,” ajak Sarah begitu dia menyelesaikan laporannya. Ine dan Sofi duduk di sebelahku dan Sarah. Sarah pun mulai membacakan laporan keadaan pasien kami malam ini. Jumlah pasien 22 orang. Kondisi mereka umumnya stabil. Ada yang baru selesai operasi usus buntu, operasi hernia dan lainnya.
Suasana terasa hening malam ini. Hanya suara Sarah yang terdengar membacakan laporan. Entah kemana rekan kami yang lain. Mungkin sedang makan malam atau sedang shalat. Setelah laporan Sarah selesai, kami pun mendatangi kamar pasien. Kami memeriksa keadaan mereka. Hal ini rutin kami lakukan setiap pergantian jam kerja.
“Oke, selesai! Selamat bertugas ya,” lambai Sarah dan teman-teman jaga siang. Mereka bersemangat sekali menunggu lift untuk mengantar mereka ke lantai satu. Ruang tempatku bertugas terletak di lantai 5. Persis di depan nurse station, terdapat 2 lift.  Kami bisa melihat dengan jelas siapa pun yang keluar masuk lift itu, jika mata kami menatap lift.
“Ayo kita mulai dengan basmalah,” saranku pada timku. Kami pun langsung mengerjakan tugas masing-masing. Ine mengurus obat-obatan yang akan diberikannya pada pasien malam ini dan besok pagi. Sedangkan Sofi mengurusi seorang pasien yang baru saja meminta bantuan.
Aku mengambil tensi meter, dan mengukur tekanan darah semua pasien dan suhu tubuh mereka. Rutinitas dan SOP setiap pergantian jam kerja. Setelah mengukur vital sign semua pasienku, aku pun langsung mencatatnya di medical record mereka masing-masing. 
Kulirik jam tanganku, pukul 11.00 malam. Masih sore, pekerjaanku tidak terlalu banyak malam ini. Sebentar lagi pasti pekerjaanku beres. Hanya sesekali nanti aku akan mengecek pasien ke kamar mereka. 
Aku masih memasukkan data vital sign pasien tadi ke medical record mereka. Suasana begitu hening, biasanya jam sebelas ini, para pengunjung masih banyak keluar masuk lift. Entah mengapa malam ini terasa begitu sunyi, sepi. Aku bergidik membayangkan kesunyian yang lumayan mencekam. Bulu kudukku berdiri. Aku segera menepis pikiran sunyi tadi dengan bersenandung kecil.
“Tumben nyanyi malam-malam,” tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki di depanku. Aku terlonjak dan berusaha menenangkan diri. Kulihat sosok yang menyapaku tadi.
“Ya Allah! Dokter Tomy?! Bikin kaget saja!” jeritku tertahan.
“Kamu kaget? Maaf ya,” ucap dokter berwajah oriental itu padaku. 
“Nggak apa-apa Dok. Aku hanya lagi asyik bekerja aja, jadi nggak melihat dokter datang. Habis visite di Kenanga ya Dok?” tanyaku sambil terus menyalin catatanku.
“Iya. Kamu sendirian Lis?” tanya dokter Tomi sambil memperhatikan pintu lift. Dokter berpostur tinggi besar itu memang sedang menunggu lift. Kami kadang jadi cukup dekat dengan para dokter karena mereka sering berhenti di depan nurse station ketika menunggu lift. Biasanya untuk mengisi waktu, kami sering mengobrol ringan seperti ini.
“Nggak Dok, berdua sama dokter kan?” sahutku kalem. Kupastikan dokter Tomy tersenyum mendengar jawabanku. Kami memang sering bercanda. Dia seusia ayahku. Aku bahkan mengangapnya seperti ayahku sendiri. Rasanya tidak ada jarak antara dokter dan perawat bagiku ketika bersama dokter Tomy.
“Ayo Lis, saya pulang dulu ya,” pamitnya ketika pintu lift terbuka.
“Oke Dok, hati-hati ya,” sahutku. Aku kembali melanjutkan pekerjaan. Suasana kembali sunyi ketika dokter Tomy sudah hilang dari pandanganku. Sepertinya semua pasienku sudah masuk ke dunia mimpi mereka masing-masing. Tidak ada yang berniat menonton pertandingan bola antara Persib dan Semen Padang yang sedang berlangsung di salah satu stasiun TV swasta. 
Bahkan tak ada kunjungan keluarga pasien dan dering telepon sedikit pun. Benar-benar sunyi. Selesai menyalin catatan vital sign pasienku, aku mengecek hasil laboratorium beberapa pasien di komputer. Pemeriksaan yang dilakukan sore tadi, biasanya hasilnya sudah bisa dilihat jam segini. Setelah itu aku mencetak hasil laboratorium tersebut. Bunyi printer jadul yang cukup berisik membuat suasana sedikit gaduh di ruang nurse station.
“Semuanya normal,” gumamku ketika membaca hasil pemeriksaan darah pasienku. Aku lalu memasukkannya ke dalam medical record milik pasien tersebut. Kulirik lagi jam di pergelangan tanganku. Pukul 12.30 WIB. Tinggal satu lagi pekerjaanku. Menyiapkan formulir pemeriksaan laboratorium untuk Pasien Tn. Gunawan. Pasien diabetes yang setiap hari wajib mengecek gula darahnya.
Ketika menulis formulir laboratorium itu, tiba-tiba aku mendengar suara anak-anak tertawa dan bercanda di lorong sebelah kanan kamar pasienku. Kupikir pasti salah satu keluarga pasien yang sedang bermain di sana. Lumayan membuat kesunyian berkurang. 
“Ada yang mau dibantu Kak?” tanya Sofi yang tiba-tiba sudah berada di sampingku. Aku kembali terlonjak. Ya ampun... ada apa denganku? Dari tadi kenapa semua orang tiba-tiba datang dan mengejutkanku?
“Nggak ada Say, sudah beres semua kok. Gimana dengan infus pasien? Sudah dicek lagi?” sahutku balik bertanya dengan  nada senormal mungkin.
“Sudah kak,” sahut Sofi tersenyum. Lalu dia menulis catatan perawat di medical record pasien yang baru saja diperiksanya. Ketika Sofi menulis, suara bercanda anak-anak itu masih saja terdengar. Sepertinya lebih dari dua orang anak. Aku berpikir harus menghentikan anak-anak itu. Ini sudah malam, semua pasien harus beristirahat. Aku tidak mau pasienku terganggu dan kurang istirahat karena mendengar suara tawa mereka di kesunyian malam ini.
Aku segera berdiri dan berjalan ke lorong sebelah kanan. Kuperhatikan sepanjang lorong, tidak ada anak-anak di sana. Aku terdiam sesaat. Tadi sepertinya anak-anak itu bermain dan bercanda sangat dekat. Tapi ke mana mereka? bulu-bulu halus di tanganku berdiri.
bersambung .... 

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. ^_^