Angkot Oh Angkot

     Beberapa hari lalu saya naik angkot menuju sekolah anak saya. Sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah. Saya bisa mengendarai motor. Hanya saja, tangan saya sedikit sakit, jadi saya memilih naik angkot karena nggak berani membonceng Hikmal yang badannya besar melebihi badan saya. 
     Cukup lama kami menunggu angkot menuju sekolah Hikmal. Mungkin karena sebagian siswa sudah libur, jadi angkot-angkot pun memilih untuk libur juga. Bersyukur sepuluh menit menunggu, angkot yang kami tunggu pun tiba. Sambil membaca basmalah, saya dan Hikmal pun masuk dan duduk di dalam angkot. Seorang penumpang lain, ikut bergabung dan duduk di samping sopir.

      Angkot pun mulai berjalan. Ternyata sopir angkot yang kami tumpangi sangat tempramental. Sepanjang jalan, dia ngebut dan ugal-ugalan. Beberapa kali pengendara motor kena sumpah serapahnya. Mulai dari karena nggak menyalakan lampu sign ketika berbelok, hingga waktu mobil di depan kami harus berjalan pelan karena macet.
       Sopir itu nggak mau tahu. Dia terus saja menyumpah dan memaki orang yang menghalangi jalannya. Beberapa kali dia nyaris menyerempet kendaraan lain di depan dan di samping angkotnya. Sehingga saya dan Hikmal jadi tidak tenang berada di dalam angkot. Saat itu hanya saya, Hikmal dan satu penumpang lain yang ada dalam angkot.
      Dalam hati saya berpikir, apa saya berhenti sebelum tujuan saja? Tapi saya lihat di belakang belum ada angkot lain. Saya jadi ragu untuk turun. Saya memandang Hikmal. Hikmal kelihatannya juga khawatir. Saya pun memutuskan untuk berhenti walau saya belum sampai di depan sekolah Hikmal jika sopir itu masih mengucapkan sumpah serapah.
       Sepanjang jalan saya beristighfar dan mohon ampun pada Allah. Saya mohon agar Allah menjaga kami dari sikap ugal-ugalan sang sopir. Bersyukur Allah mendengar doa saya. Sopir itu tidak mengucapkan kata-kata sumpah serapah lagi. Hanya saja, dia masih ngebut dan ugal-ugalan. Akhirnya saya putuskan untuk turun saja dari angkot itu. Walau pun kami harus berjalan sekitar seratus meter lagi menuju sekolah Hikmal. 
      Setelah turun, saya dan Hikmal pun langsung membahas sikap aneh sopir angkot tadi. 
      "Sebenarnya dah dari tadi aku pengen ngajak ibu turun," ujar Hikmal. 
      "Iya. Ibu pikir tadi juga begitu. Tapi syukur sekarang kita sudah tuirun," jawab saya lega.
      "Kalau dia begitu terus, bisa-bisa dia nabrak itu ya, Bu. Dia nggak mikirin keselamatan penumpangnya ya? Kalau dia sendiri yang luka sih, nggak apa-apa," celetuk Hikmal.
       "Ibu rasa, kalau sopir tadi seorang muslim, pasti Allah menjaga dia dari kecelakaan. Karena ibu lihat tadi dia ngasih uang ke pak ogah," ujar saya pada Hikmal.
        Benar, begitulah yang terpikir saat si sopir nyaris menabrak motor dan menyerempet mobil di sampingnya tadi. Entah berapa kali Allah menyelamatkannya dari kecelakaan. Padahal saya naik angkotnya itu hanya lima belas menit saja.
       Pikiran saya melayang. Bagaimana jika isi angkotnya orang yang sedang sakit jantung atau sakit lain yang membuat orang itu stres dan penyakitnya tambah parah? Bagaimana jika di dalam angkotnya ada anak-anak dan mereka mendengar sumpah serapah sopir itu ke pengguna jalan lain? Ini hanya lima belas menit sudah begini? Bagaimana jika satu jam, dua jam dan seterusnya? Bagaimana jika begitu dan begini. Masih banyak bagaimana-bagaimana lainnya yang berkecamuk dalam pikiran saya. Andai saja sopir itu lebih kalem. Andai saja sopir itu seperti sopir normal lainnya. Ah entahlah. Tidak bisa berandai-andai.
      Maha Benar Allah. Jangan berharap pada manusia. Hanya berharap padaNya. Saya hanya bisa mendoakan agar sopir tadi bertaubat dan mulai menjadi sopir 'normal'. 
      Lain lagi kisah ketika pulang dari mengambil rapor. Bersyukur sopirnya baik-baik saja. Tapi kali ini penumpangnya yang agak sedikit tidak normal. Dua orang ibu-ibu, mungkin lebih tua dari saya. Salah satu dari mereka membuka aib rumah tangganya. Menceritakan tentang suaminya yang begini begitu. Menyumpahi suaminya dan anaknya yang menurutnya durhaka. Padahal dia bersama anaknya yang masih balita. 
       Ingin rasanya menyela dan menghentikan pembicaraan mereka. Agar mereka berhenti membicarakan aib keluarganya sendiri. Apalagi ini di depan umum. Tapi saya tidak seberani itu menginterupsi si ibu. Bersyukur saya tidak perlu mendengar terlalu lama sumpah serapahnya terhadap suami dan anaknya. Karena dia sudah sampai di tujuannya. 
      Ada pelajaran yang saya petik ketika naik angkot kali ini. Ketika mendengar kisah tentang keluarga orang lain, saya makin bersyukur bahwa keluarga saya tidak seperti keluarga mereka. Bahwa ternyata banyak hal yang terjadi di keluarga lain yang mungkin saja tidak pernah saya bayangkan hal itu terjadi dalam sebuah keluarga. Semoga Allah mengampuni saya karena terpaksa mendengar gosip itu. Semoga Allah memberikan rahmat bagi keluarga ibu itu. Agar dia tak membicarakan aibnya di depan umum.


Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kejadian Aneh di Asrama

Summarecon Bekasi, Dekat di Hati