Skip to main content

Menjaga Rasa Syukur

Ahad 10 April kemarin, saya mengikuti seminar parenting dalam rangka milad TPA Masjid Al Falah Perumahan Pesona Anggrek, Bekasi. Pembicaranya adalah ustadzah Tri Handayani, S.Pd.I, MA. Beliau seorang survivor kanker dan juga penulis.
       Teori parenting yang beliau sampaikan tentunya sangat menarik dan alhamdulillah bisa menjadi pencerahan bagi saya. Tapi bukan itu yang ingin saya tulis saat ini.
     Ada satu hal yang membuat saya begitu kagum dengan sosok beliau. Yaitu ketegaran, kesabaran dan keikhlasan beliau menghadapi ujian penyakit kanker yang diamanahkan Allah pada beliau.

      Saya lupa menanyakan usia beliau. Tapi di awal pembicaraan beliau mengenai parenting, beliau membuka sedikit tentang kanker yang beliau idap.
     Sepanjang usia beliau, ustadzah Tri yang biasa dipanggil Ummi ini sudah menjalani 7 kali operasi. Saya lupa urutan operasinya. Yang saya ingat beliau pernah menjalani operasi tumor otak, nasofaring, kista di rahim, tumor ovarium kanan, usus buntu, kanker kolon, dan saya lupa satu lagi.
     Beliau juga menjalani kemoterapi, radiasi, disuntik imunoglobulin sebanyak 2200 kali dan terapi nuklir (kalau gak salah begitu namanya) dan fisioterapi. Saya lupa mencatat berapa kali persisnya beliau menjalani semua itu. Bahkan beliau pernah diberitahu dokter bahwa beliau akan tutup usia pada tahun 1997. Tapi beliau tak mau kalah dengan penyakit beliau.
     Sungguh beliau membuat saya kagum. Sebagai seorang yang jauh lebih sehat dari beliau, saya merasa sangat malu. Beliau masih berdakwah dan menjadi motivator bagi penderita kanker lainnya hingga ke pelosok negeri. Beliau masih bersemangat melakukan semua kegiatan itu walau saat ini beliau masih mengidap kanker payudara dan sedang menjalani kemoterapi.
      Beliau masih bersemangat menyebarkan ilmu beliau. Memberi semangat untuk semua orang. Mengajak orangtua untuk menjadi orang tua shalih dan shalihah bagi anak-anak mereka. Mengajak penderita kanker untuk tetap semangat menjalani kehidupan. Beliau masih menulis novel motivasi yang berjudul Mengejar Pelangi.
      Walau kadang beliau muntah darah ketika sedang melakukan kegiatan itu, tapi semangat beliau tak pernah padam. Beliau bahkan mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengasuh sendiri dua anak beliau tanpa bantuan asisten RT. Maa SyaAllah... Sungguh saya tak bisa berucap apa pun tentang kekaguman saya pada beliau.
      Dari semua itu, yang paling membuat saya tak habis pikir adalah keikhlasan beliau mengizinkan suami beliau untuk berpoligami. Karena beliau menyadari bahwa kondisi beliau yang sering sakit itu tak memungkinkan beliau untuk menunaikan salah satu kewajiban beliau sebagai istri.
     Sungguh Ummi ini memiliki hati seluas samudera. Saya hanya ingin belajar lebih banyak lagi tentang kesabaran dan semangat beliau. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan memberikan kekuatan lebih kepada Ummi Tri.
      Semoga saya selalu bersyukur atas nikmat sehat yang diberikan Allah. Tidak mengeluh ketika mengalami sakit. Karena sakit yang saya alami tentulah tidak seberat sakit Ummi Tri. Semoga saya bisa menularkan rasa syukur itu kepada keluarga dan sahabat semua.
      Cara bersyukur ketika sakit adalah dengan melihat orang yang mengalami sakit lebih parah dari penyakit kita.
     Cara bersyukur ketika sehat adalah menjalani aktivitas dan ibadah dengan maksimal dan sebaik-baiknya.
     Cara bersyukur ketika kita hanya memiliki sedikit harta adalah dengan melihat orang yang bahkan tidak punya harta sama sekali.
      Bersyukur kita bisa beribadah dengan aman dan tenang. Sementara di bagian bumi lain, saudara muslim kita tak bisa khusu' beribadah.
     Bersyukur kita masih bisa merasakan nikmatnya makan, karena di tempat lain, masih banyak saudara kita yang tidak punya makanan sama sekali.
      Dan masih banyak cara bersyukur lainnya agar kita selalu berada di jalan-Nya.

Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.