Skip to main content

Kok Bisa Menjadi Penulis?

         Begitulah pertanyaan yang sering saya dengar dari teman-teman saya yang bukan penulis. Kamu yang mengarang buku ini? Atau hanya mengetiknya saja? Begitu bunyi pertanyaan lain. Saya tentunya menjelaskan bahwa saya sendiri yang menulis dan mengarang buku-buku saya itu.
        Masa sih? Kok Bisa? Kayaknya kan susah tuh mengarang seperti itu. Jangankan mengarang sampai menjadi buku begitu, mengarang untuk diari aja susah. Aku nggak kepikiran bisa menulis sebanyak itu. Keren ya?!

        Sebenarnya nggak susah kok. Sama seperti teman-teman yang hobi memasak, menjahit, melukis, menggambar, mengutak-atik komputer, membuat craft dan lainnya. Jika sudah suka, pasti tidak ada kata susah di sana. Begitu juga dengan menulis. Alhamdulillah saya sangat suka membaca dan saya juga sangat suka menulis. 
      Jadi ketika saya ingin menulis sesuatu, pasti saya bersemangat melakukannya. Sama halnya jika sahabat suka memasak, pasti juga akan bersemangat melakukannya kan? Menulis pun berawal dari suka. Karena suka, tak akan ada kata susah jika terbentur masalah. Pasti kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan hal yang kita sukai itu walau badai menerjang. *Halah
       Saya juga sering membayangkan betapa kerennya orang yang punya hobi memasak. Mereka bisa memasak apa saja yang menurut saya sangat susah dilakukan. Saya pernah mencoba memasak pizza, dan hasilnya anak-anak saya hanya mencicipi sekadarnya saja. Saya terpaksa menghabiskan sendiri pizza bikinan saya. 
       Saya sudah berpikir, practice make perfect. Latihan, latihan, dan latihan itulah kunci utamanya. Jika sudah suka, diiringi dengan latihan yang sungguh-sungguh, pasti hasilnya akan sempurna. Nah saya mencoba menerapkannya dalam memasak. Saya berusaha latihan, agar anak-anak saya bisa mencicipi berbagai makanan masakan ibunya. Tapi endingnya, saya sering gagal. Pada akhirnya saya berkesimpulan, kata kunci latihan harus selalu bersanding dengan menyukai sesuatu itu terlebih dahulu. 
        Mungkin karena saya sudah menanamkan di pikiran bawah sadar saya, bahwa saya tidak suka memasak, maka akhirnya saya mengalami kesulitan dengan hal yang satu ini.
        Jika hanya suka tapi tidak sering latihan, maka hasilnya tentu tidak bagus. Demikian juga sebaliknya, jika hanya latihan saja tanpa ada rasa suka melakukannya, hasilnya juga tidak maksimal. Jadi begitu juga dengan menulis, jika ingin menjadi penulis, hal pertama yang harus ada adalah suka menulis, lalu pupuk niat dan suka itu dengan sering latihan. Setiap hari, setidaknya satu halaman sehari. Insyaallah lama-lama kita akan menjadi terbiasa dan tulisan kita akan menjadi bagus dengan sendirinya. 
      Tentunya diiringi dengan memperluas wawasan seperti sering membaca buku, baik buku agama, umum, fiksi atau non fiksi,  menonton berita, film, kartun dan lainnya.
     Mencoba mengirim tulisan ke media cetak, juga bagian dari latihan untuk memantapkan tulisan kita. Dulu sekali, saya cukup sering mengirim naskah ke media. Walau sering ditolak, tapi saya terus mengirimnya hingga akhirnya beberapa cerpen anak yang saya tulis berhasil dimuat di media cetak. 
      Bersyukur di beberapa media cetak lain yang saya kirimkan artikel jalan-jalan dan artikel biografi, langsung memuat naskah saya. Tapi ada juga beberapa naskah yang tidak pernah lolos di satu media cetak. Jadi pasti akan ada dinamika seperti ini di dunia menulis. Tidak perlu berputus asa.
      Tapi mungkin untuk saat ini saya lebih memilih fokus untuk menulis cerita anak dan dikirim ke penerbit. Pilihan saya ini sudah saya renungkan berkali-kali. Karena saya kembali ke niat awal saya. Menulis buku yang akan dibaca anak-anak saya.
     Jangan berpikir naskah saya tidak pernah ditolak. Ada sekitar 5 atau 6 naskah yang menganggur di file karena ditolak. Tapi saya berniat untuk membuat naskah itu lebih bagus dengan tambahan ide-ide lain. Insyaallah saya akan mengirimkan naskah itu lagi ke penerbit yang berbeda.
             Saya juga berpikir dengan tulisan saya menjadi buku, maka banyak anak-anak yang bisa membacanya, mungkin hingga bertahun-tahun setelah buku itu terbit. Sesederhana itu pemikiran saya untuk fokus mengirim tulisan ke penerbit.
      Jadi, kembali ke masalah menulis. Jika ingin berlatih lebih sering, menulis di blog, adalah latihan terbaik. Saya pernah punya blog jadul yang saya tulis tahun 2009 lalu. Jika saya bandingkan tulisan saya waktu itu dengan saat ini, maka saya menyadari, ternyata beginilah hasil dari latihan. 
       Selalu berlatih dan tetap menjaga rasa suka kita terhadap menulis, insyaallah ide akan selalu berdatangan. Jadi sahabat, tunggu apa lagi? Mulailah menulis dan cintai dunia menulis lalu teruslah latihan. Insyaallah sahabat akan memetik hasilnya dalam beberapa waktu mendatang. 
      Postingan ini spesial untuk teman saya yang ingin mulai membuat jurnalnya sendiri di blog. Semangat ya dear... ^_^
      Ohya, salah satu buku saya yang baru terbit berjudul Princess Juara. Buku ini terdapat 9 cerita tentang princess yang ahli dalam olahraga tertentu. Dalam buku ini ada tip dari atlet olahraga yang sedang dibahas. 
       Ternyata tak jauh berbeda dengan menulis, para atlet ini pun bisa berprestasi luar biasa seperti saat ini karena mereka mencintai olahraga itu dan selalu latihan tanpa kenal lelah. Ada atlet panahan Ika Yuliana Rochmawati, Atlet Wushu, Juwita Niza Wasni. Atlet renang, Raina Saumi Grahana, atlet softball Pruistin Aisha, atlet catur, Nyimas Shieta, atlet berkuda, Larasati Gading, atlet badminton Anggia Shita, atlet taekwondo Stella dan atlet lari Trianingsih.
       So, nggak ada kata susah jika kita menyukai sesuatu kan? Jadi bagi yang menyukai menulis, ayo tetap semangat! ^_^


Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.