Skip to main content

Kisah Celengan ABG

     "Kalau ada uang, ingin rasanya berangkat umrah ya, Pak," ujar seorang istri pada suaminya. Suaminya menggangguk dan mengaminkan ucapan sang istri. Saat itu mereka sedang duduk di teras rumah mereka yang sangat sederhana.
    Suami istri itu lalu tenggelam dalam pikiran mereka masing masing. Sang suami berpikir rasanya entah berapa tahun lagi keinginan istrinya bisa terwujud. Penghasilan mereka hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari hari.
     Apalagi bungsu mereka masih sekolah dan butuh biaya besar jika nanti dia ingin kuliah.
     "Ohya, kapan rencana Ibu dan Bapak berangkat umrah?" tiba tiba bungsu mereka sudah berada bersama mereka. Tadi anak laki-laki itu pamit telat pulang karena membersihkan kantin sekolahnya dulu sebelum pulang.

     "Se dikasih Allah ajalah," jawab sang ibu tersenyum. Sang anak beranjak dari duduknya. Dia masuk ke kamar dan mengambil celengannya. Celengan berbentuk ayam jago berukuran besar dan sangat berat itu dipangkunya. Lalu dia menggendong dan membawa celengan itu ke hadapan orangtuanya.
     "Coba kita lihat, mungkin isi celengan ini cukup buat mendaftarkan ibu dan bapak berangkat umrah." ujarnya.
Kedua orangtuanya menatap anak itu dengan wajah bingung dan penasaran. Sang anak lalu memecahkan celengan besar yang sudah diisinya sejak dia masih SD.
     "Prang!" isi celengan berhamburan di lantai rumah mereka. Mata kedua orangtua sang anak terbelalak tak percaya. Entah berapa ribu koin seratusan dua ratusan lima ratusan dan seribuan yang bertebaran di sana.
    "Ayo kita hitung, Pak. Kalau uangnya cukup, insyaallah bapak dan ibu bisa berangkat umrah tahun ini."
    Mereka bertiga mulai menghitung uang dari celengan sang anak. Sepertinya butuh waktu selama 3 jam bagi mereka untuk menghitung semua uang. Setelah mengelompokkan masing masing uang lalu menghitung total uang yang ada, didapati sebanyak 50 juta lebih.
      "Alhamdulillah... Uangnya cukup untuk bapak dan ibu pergi umrah," ujar si anak lega.
      Air mata kedua orangtuanya tak terbendung lagi. Mereka memeluk anak bungsunya itu. Anak yang sangat rajin dan patuh kepada mereka. Anak yang suka bekerja paruh waktu di kantin sekolahnya. Anak yang bahkan jarang meminta uang jajan pada orangtuanya.
     Jangan berpikir ini sebuah adegan dalam novel atau sinetron. Ini kejadian nyata di dekat rumah saya. Walau saya nggak mengenal keluarga mereka, tapi kisah mereka tersebar seperti virus hanya dalam beberapa jam saja.
     Pasti orangtuanya sangat bangga dengan anak shaleh seperti ini. Saya yakin mereka tidak pernah membayangkan akan mendapat kejutan sebesar itu dari bungsu mereka. Saya sebagai salah satu pendengar berita ini aja sampai merinding mendengarnya.
    Anak ABG? Hari gini? Laki laki pulak. Siapa yang menyangka masih ada anak seperti itu di zaman seperti ini? Tapi kenyataannya Allah masih masih mengizinkan kita mendengar dan melihat bahwa ada anak yang shalih seperti itu. Harapan dan doa saya, semoga anak anak saya bisa mencontoh bakti anak ABG itu pada orangtuanya.
      Saya tidak berharap anak anak saya menyimpan uang mereka untuk suatu saat memberikannya pada saya. Saya hanya berdoa agar anak anak saya menjadi anak shalih yang selalu mendoakan kami orangtuanya. Menjadi kebanggaan kami di dunia dan akhirat sesuai dengan kemampuan mereka masing masing.
     Saya doakan agar ABG shalih itu menjadi pemimpin yang shalih kelak. Semoga dia makin shalih dan memberi manfaat lebih banyak lagi kepada orangtua dan lingkungannya. Aamiin...

Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.