Cerita Tentang Naik Commuterline

      Hari Sabtu 9 Januari lalu saya harus mengambil rapor Syifa ke Smakbo. Biasanya setiap ngambil rapor Syifa, pasti dianter bapaknya Syifa ke sana. Tapi kali ini, kami terpaksa bagi tugas. Karena ada undangan wali murid juga dari sekolah Hikmal, adik Syifa. Sekolah Hikmal masih di Bekasi tak jauh dari rumah kami.
Setelah membuat kesepakatan, akhirnya saya yang ke sekolah Syifa dan suami ke sekolah Hikmal dengan mengajak Hauzan, bungsu kami.
    Jadilah pukul 8. 15 wib saya dan Syifa berangkat menuju Bogor dengan menggunakan angkutan umum. Naik angkot dari rumah dilanjutkan naik kereta commuterline dari stasiun Bekasi.

     Bagi saya yang sehari2 hanya melakukan pekerjaan di sekitar rumah saja, naik kereta menuju Bogor merupakan hal baru. Beberapa tahun lalu saya pernah naik kereta, tapi bersama suami dan anak2 menuju Jakarta, Kota. Kali ini saya hanya berdua dengan Syifa. Itu pun nanti kami harus transit dulu di stasiun Manggarai. Karena ini perdana bagi saya, saya agak sedikit nerveus.
    Secara saya cukup khawatir kalau kalau nanti penumpang ramai dan saya tidak kebagian tempat duduk. Untunglah ini bukanlah yang perdana bagi Syifa. Syifa sangat sering menggunakan kereta untuk pulang dan pergi Bekasi Bogor.
     Saya bangga pada Syifa ketika sampai di stasiun bekasi, dengan sigap dia mengantri di loket untuk membeli tiket. Lalu dia memegang lengan saya dan melanjutkan masuk ke dalam stasiun tempat menunggu kereta. Saat menempelkan kartu tiket di pintu masuk, saya yang ndeso di perkereta apian ini sedikit melakukan kesalahan. Kartu yang saya tempel di bagian kanan, ternyata harus masuk di pintu sebelahnya.
     Untung Syifa buru buru mengingatkan bahwa saya harus masuk di pintu sebelah saya karena lampu hijau setelah tiket ditempelkan, sudah menyala.
Maaf ya, Kak. Ibu jadi membuat kakak malu di depan penumpang lain.
     Selanjutnya kami berjalan menuju lajir tempat kereta menuju Jakarta, Kota berhenti. Syifa menyarankan agar kami memasuki gerbong terakhir saja. Karena gerbong pertama dan gerbong terakhir adalah gerbong khusus wanita. Saya setuju dengan Syifa. Kami pun menunggu di deretan paling ujung, dengan memperkirakan di sanalah nanti gerbong terakhir berada.
      Setelah menunggu lebih kurang lima menit, kereta pun datang. Ternyata penumpang cukup ramai Sabtu ini. Terbukti dengan berebutnya mereka untuk memasuki gerbong agar mendapat tempat duduk. Tak terkecuali saya fan Syifa. Kami buru buru masuk dan untunglah kebagian tempat duduk. Lima menit kemudian, kereta pun berangkat. Gerbong wanita yang kami tempati sudah terisi penuh. Sebagian penumpang ada yang berdiri.
      Kereta pun melaju dengan sesekali berhenti selama dua menit di beberapa stasiun. Semakin lama gerbong yang saya tumpangi makin penuh dengan penumpang yang berdiri. Saya yang masih awam berada di kereta, jadi memikirkan berbagai hal.
     Saya mulai dari memikirkan Syifa. Setidaknya satu atau dua minggu sekali dia menjalani kegiatan seperti ini. Berebut tempat duduk dengan orang lain. Bisa orang yang lebih tua darinya, atau yang lebih muda. Syifa sudah melakukan hal ini sejak dua tahun lalu. Dan itu dia memulainya dengan melakukan sendiri tanpa saya temani. Sampai di sini saya bertambah bangga dengan Syifa. Sulung saya yang saya pikir agak manja ini, ternyata bukanlah anak manja. Dia berhasil menaklukkan kerasnya berdesakan di kereta bersama penumpang lain yang bisa saja tak peduli dengannya.
     Syifa ternyata anak pemberani. Saya di usia yang harusnya sudah sangat matang ini, masih merasakan kekhawatiran berdempetan dan saling sikut di kereta yang cukup pengap ini. Apalagi ini adalah hari Sabtu, di mana sebagian pekerja libur. Bagaimana dengan hari kerja? Saya tidak bisa membayangkan diri saya berada di tengah kepadatan penumpang seperti itu. Mungkin karena saya belum terbiasa. Saya juga salut dengan para karyawan wanita yang melakukan hal ini setiap hari. Berdiri setidaknya selama satu jam di kereta dengan kondisi berhimpitan dengan penumpang lain.
     Cerita saya belum berhenti sampai di sini. Setelah sampai di stasiun Manggarai, kami pun turun dan pindah kereta menuju Bogor. Ternyata di kereta menuju Bogor, kami tidak bisa memilih gerbong wanita. Pertama kereta yang akan kami tumpangi hanya transit lima menit saja. Kedua kami nggak sempat lagi berjalan menuju gerbong wanita karena harus buru buru masuk.
     Di gerbong campuran ini keadaannya tidak lebih baik dari kereta sebelumnya. Tidak ada tempat duduk untuk kami. Penumpang lain juga sudah ada yang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Dan kami pun harus seperti itu. Kekhawatiran saya kembali muncul. Saya belum pernah berdiri ketika kereta melaju. Saya berdoa dalam hati agar Allah memberikan saya kekuatan untuk berdiri selama perjalanan ke Bogor nanti.
      Alhamdulillah... Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tidak saja memberikan yang saya minta, tapi memberi lebih dari yang saya minta. Tiba tiba seorang bapak berusia lima puluhan memberikan tempat duduknya pada saya.
Tentu saja saya berterima kasih sekali. Syifa bergegas menyuruh saya duduk agar penumpang lain tidak menduduki tempat itu. Sulung saya itu berdiri di depan saya seolah menjaga saya dari penumpang laki laki yang lain.
      Bangga saya pada Syifa makin bertambah. Pasti dia sering berdiri di kereta seperti itu. Karena dia terlihat biasa saja ketika kereta melaju dengan kencang. Tak ada raut khawatir jatuh di wajahnya. Ah mungkin saya emak yang sangat lebay. Tak mengapa kalau sahabat berpikir begitu pada saya. Karena sekali lagi, ini perjalanan perdana saya menggunakan kereta yang penumpangnya penuh dan berjubel seperti ini. Apalagi di usia saya yang sudah tidak muda lagi, kekhawatiran setiap hari menggoda saya.
     Saya berdoa dan berharap semoga PT KAI menambah gerbong kereta lebih banyak lagi. Atau kedatangam kereta lebih dipercepat setiap lima menit misalnya. Sehingg tidak ada penumpukan penumpang. Dengan begitu semua penumpang pasti mendapatkan tempat duduk. Dengan begitu lagi, pasti banyak penumpang bertambah. Bisa saja yang tadinya menggunakan kendaraan pribadi, jadi beralih ke kereta. Karena nyamannya berkendara menggunakan kereta.
     Kalau gerbong atau keberangkatan keretanya ditambah, tentunya harapan saya loket penjualan tiket pun ditambah. Agar antrian tidak terlalu lama dan panjang. Ohya, ini hanya harapan dan doa seorang yang baru pertama kali naik kereta saja kok. Mungkin ada yang berpendapat lain dengan saya, silakan saja ya.
     Saya juga melihat beberapa penumpang yang mengenakan masker. Walau awalnya saya pikir mereka sedang flu, tapi ketika saya melihat yang mengenakan masker cukup banyak, saya berkesimpulan bahwa bisa saja mereka memang sedang flu. Atau bisa juga mereka sengaja mengenakan masker agar tak tertular penyakit. Atau agar tak menghirup berbagai aroma yang bercampur di antara para penumpang, mungkin juga karena alasan lain yang saya tidak tahu. 

     
     

Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kejadian Aneh di Asrama

Summarecon Bekasi, Dekat di Hati