Batik Ibuku Sebagai Warisan Silaturrahmi.

Kalau berbicara tentang Batik Indonesia, aku selalu teringat dengan almarhumah ibu. Beliau meninggalkan kami ketika aku masih  berusia lima tahun. Ibu adalah seorang wanita Indonesia sejati menurutku. Setelah beliau meninggal, semua pakaian beliau disimpan bapak dalam sebuah lemari. Lemari itu terletak di rumah tempat kelahiran ibu, tepatnya di kampung halamanku. Sebuah desa yang sangat indah di kaki gunung Marapi Sumatera Barat. Desa Salo kecamatan Baso. Rumah itu merupakan sebuah rumah tradisional, atau Rumah Gadang kita biasa menyebutnya.
       Kebetulan kami tidak menetap di rumah itu, bapak bekerja di Bukittinggi dan aku beserta adik-adik otomatis ikut bapak. Tempat tinggal kami sekitar 15 Km dari kampungku. Praktis tidak ada yang mengurusi Rumah Gadang kami. Karena Omku, adik ibu, juga tinggal bersama kami. Namun sesekali aku, adik-adikku dan bapak mampir ke kampung untuk membersihkan dan merawat rumah tersebut.
        Suatu kali ketika usiaku remaja, aku mulai suka mencari kira-kira apa yang bisa kugunakan dengan barang-barang peninggalan ibu. Aku melihat isi lemari, ternyata sangat banyak koleksi batik ibuku. Dari yang hanya berbentuk kain panjang, sarung, hingga baju dari bahan batik. Motifnya , warna dan coraknya pun. Bahannya juga beragam, dari yang lembut hingga yang bertekstur kasar ( waktu itu aku belum mengenal jenis bahan kain batik ). Aku buka satu persatu koleksi ibu itu. Karena tubuh  ibuku kecil ( menurut cerita bapak) ternyata pakaian ibu cocok dengan ukuran tubuhku yang saat itu masih remaja. Akhirnya beberapa pakaian ibu itu aku bawa dan kukenakan sebagai pakaianku sehari-hari. Kain panjang dan sarung batik masih kubiarkan terlipat rapi di lemari.
         Ada hal unik ketika aku mengenakan baju ibu itu. Suatu kali aku berjalan di pasar dengan mengenakan pakaian batik milik ibu. Tak disangka aku bersemu dengan salah seorang teman ibu. Beliau memanggilku dengan panggilan nama ibu. Aku tidak menghiraukannya waktu itu karena kupikir, dia tidak memanggilku, mungkin ada orang yang dipanggilnya mirip dengan nama ibuku. Aku meneruskan jalanku. Tapi ibu itu mengejarku dan menghentikan langkahku. Aku menoleh, walau agak kaget, aku usahana tersenyum.
          Ibu itu lalu memandangiku dengan tatapan tak percaya sekaligus bingung.
"Maaf bu, ada apa?" tanyaku waktu itu. Beliau gugup, lalu beberapa saat kemudian beliau memelukku dan meminta maaf. Menurutnya aku sudah mengingatkannya pada sahabatnya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Beliau menyebutkan nama ibuku. Akupun tersenyum, dan mengatakan kalau aku adalah anak sahabatnya itu. Beliau mengusap kepalaku sambil menahan air mata. Setelah kejadian itu aku sering berkunjung ke rumah beliau.
         Ternyata batik tidak saja menjadi warisan budaya, tapi juga menjadi warisan silaturrahmi bagiku dan bagi keluarga sahabat ibuku.*
 *‘Disertakan pada lomba Blog Entry bertema Batik Indonesia, kerja sama Blogfam dan www.BatikIndonesia.com

Comments

  1. semoga menang mbak, mampir juga :)
    saya juga baru belajar nulis :D
    http://gores-penaku.blogspot.com/

    ReplyDelete
  2. wah keren nih mba semoga menang yah ,,,

    kunjungi juga blog kita di rumahbajudiskon.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. Hari ini bertambah satu lagi ilmu
    wah keren nih mbka semoga menang yah

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. ^_^

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kejadian Aneh di Asrama

Summarecon Bekasi, Dekat di Hati