Skip to main content

Kenapa Tidak Boleh Jajan Sembarangan

      
       Kejadian ini terjadi ketika Hikmal masih kelas 1 SD. Seperti biasanya setiap pagi saya mengantar anak-anak ke sekolah. Pagi itu Hikmal meminta uang untuk membeli makan yang dijual pedagang di depan sekolahnya. Jajanan itu berupa sosis goreng. Padahal pihak sekolah melarang anak-anak untuk jajan. Mereka harus membawa bekal dari rumah. Entah mengapa pedagang keliling masih saja berdiri di sekitar area sekolah. Saya menolak memberikan uang kepada Hikmal dengan alasan sosis yang dijual abang-abang itu tidak sehat dan tidak bersih.
       Hikmal tidak bisa menerimanya. “Teman-temanku pada beli nggak apa-apa tuh, kenapa aku nggak boleh?” ujarnya ketus. Dia ngotot meminta uang untuk membeli sosis itu. Saya tetap tegas tidak mau memberi uang, akhirnya dia ngambek. Saya berusaha membujuk Himal, “nanti di rumah ibu bikinin sosis untuk Hikmal.”
       Hikmal bergeming. Dia tetap tidak mau masuk kelas sebelum dibelikan jajanan itu. Saya hampir kehilangan kesabaran. Pertama karena bel sekolah sudah berbunyi. Jika Hikmal tidak segera masuk kelas, dia pasti akan disuruh untuk menulis istighfar dua halaman. Saya sudah  berusaha mengingatkan Hikmal tentang hal itu. Tapi Hikmal sepertinya tidak peduli. Dia masih saja duduk di jok motor dengan mulut manyun.
        Beberapa orang temannya sudah berlarian masuk gerbang sekolah. Mereka memanggil Hikmal, sayangnya Hikmal masih bergeming. “Hikmal masih ingat nggak waktu Hikmal sesak napas dulu?” akhirnya jurus pamungkas terpaksa saya keluarkan. Hikmal terdiam, dia seperti berpikir dan mengingat kejadian itu.
        Hikmal memang menderita asma. Dia pernah terserang asma yang lumayan berat. Kejadiannya ketika Hikmal masih di TK. Dia makan snack yang banyak dijual di warung. Sepertinya kandungan Msg snack itu membuat alerginya kumat, sehingga malamnya tiba-tiba Hikmal batuk-batuk dan muntah. Beberapa menit kemudian napasnya sesak. Bibir dan kukunya membiru. Wajahnya pucat. Saya dan suami sangat panik melihat kondisi Hikmal.  Sungguh tidak tega melihatnya seperti itu.
        Saya biasanya selalu membuat snack untuk anak-anak. Seandainya saya tidak sempat membuatnya, maka kami akan membeli makanan yang benar-benar jelas kandungan gizi dan kehalalannya. Mungkin Hikmal ingin mencoba jajanan di abang-abang itu karena melihat teman-temannya memakan makanan itu.
       “Ya udah, tapi ntar tungguin aku ya. Aku mau bikin sendiri.” Akhirnya Hikmal mengalah. Dia segera turun dari motor, lalu mencium tangan saya kemudian segera berlari ke kelasnya. Saya tersenyum dan segera pulang.
      Ketika pulang sekolah, Hikmal menagih janji saya untuk membuat sosis bersamanya. Saya pun mencari resep membuat sosis di internet. Untung ketemu. Di rumah kebetulan ada ayam giling, jadi kami membuat sosis ayam saja. Tidak perlu ditambah Msg. Syifa, Hikmal dan saya asyik bereksperimen di rumah. Setelah semua bahan dicampur, kami  memasukkannya ke dalam cetakan. Tidak seperti sosis biasa, yang dikukus menggunakan plastik. Cetakan ini kebetulan bergambar beruang dan hewan lainnya. Jadi hasilnya lebih lucu dibanding sosis biasa. Mungkin namanya bukan sosis lagi, tapi Hikmal dan Syifa suka.
       Sejak saat itu Syifa dan Hikmal selalu mengajak kami membuat sendiri makanan yang dijual pedagang di sekolah mereka. Kadang kami membuat telur dadar kecil yang dimasak menggunakan penggorengan seperti milik para pedagang itu. Saya dan suami membelinya di pasar tradisional. Anak-anak juga bisa membuat sendiri. Saya hanya membantu menyalakan kompor.
        Lain waktu kami membuat puding buah. Karena Hikmal melihat ada abang-abang menjual puding warna-warni. Dia memintaku mengajarkannya membuat puding. Fla-nya cukup dari susu kental manis. Anak-anak senang bisa memasaknya sendiri di rumah. Walau dapur jadi berantakan, tapi tak mengapa, kesehatan mereka lebih utama.
         Sekarang Hikmal tidak pernah lagi minta jajanan yang tidak diketahui kebersihannya itu. Semoga seterusnya seperti itu.*


*artikel ini dimuat di harian Republika, 21 Februari 2012 

Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.