Skip to main content

Tip "Menyapih" Anak Dari Gadget

        Ini cerita saya ketika "menyapih" Hauzan dari gadget. Usianya sekarang 6 tahun. Awal kenal gadget (HP & Tablet) ketika usia 3 tahun. 

       Awalnya saya berpikir hanya ingin memperkenalkan warna, bentuk, angka, huruf hijaiyyah, huruf latin aneka binatang dan tumbuhan, doa2 dan nyanyi anak2 lewat puzzle dan beberapa games. Itu pun sekitar setengah jam sampai satu jam.

           Namun ternyata anak ini tidak puas setelah mengenal semua yang saya ingin kenalkan. Dia belajar sendiri mencari games yg disukainya lewat app store. Dan dia pun berhasil menemukan games lego yang biasanya dia lihat secara nyata. Kali ini dia berkreasi dengan games itu. 

         Pada akhirnya waktu yang dibutuhkannya bermain games sudah melewati kesepakatan. Walau sudah diingatkan, tapi nggak mempan. Dia lebih pintar beragumen dengan jurus memelas yang membuat ibunya luluh. Saya tahu, saya salah karena tidak tegas. Ketidak tegasan itu harus saya akhiri. Awalnya tablet yang biasa digunakannya untuk bermain game minecraft, saya simpan. 

       Caranya memang sangat ekstrim. Karena tabletnya sering dipakai, jadi baterainya rusak. Sehingga kudu sering dicharge. Dan terpaksa sedikit waktu untuk bermain. Jadi saat itulah kesempatan saya mengatakan bahwa tablet sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Anak ini mengerti. Tapi keinginannya untuk main games minecraft masih menggebu. 

       Dia mendapatkan ide dengan memakai HP saya. Dia instal sendiri gamesnya. Saya masih bisa mengendalikan anak ini karena HP kadang saya gunakan. Kami main bola & lainnya. Tapi lama-lama anak ini malah memaksa saya untuk menyudahi ngobrol di HP ketika seseorang sedang menelepon saya.

        Saya pikir ini sudah gawat. Saya terpaksa pakai jurus terakhir. HP saya simpan & matikan. Saya mengalihkan perhatiannya dari HP degan lebih banyak lagi main bersamanya. Biasanya saya menulis ketika dia sekolah dan sesekali ketika dia main games. Tapi kali ini saya full main sama dia ketika dia pulang sekolah.

       Kami mewarnai dan menggambar, main sepatu roda, main bola, masang lego, membaca, membuat origami, melakukan DIY lainnya. Alhamdulillah anak ini lupa dengan HPnya. Cukup 2 hari menyapih #hauzan dari gadget. Sekarang dia lupa & tidak bertanya lagi. Maafkan ibu ya nak.

       Semoga cara yang saya lakukan ini bisa menginspirasi bunda lain untuk menyapih anaknya dari HP ato gadget lainnya. Kuncinya kita harus tegas dan bersedia main bersama anak kita. 🤗😘❤👩‍👦

Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.