Skip to main content

Novel Islami Simfoni Cahaya

       

       Kira-kira 4 tahun lalu, saya mengikuti lomba menulis novel islami Young Adult yang diselenggarakan oleh penerbit Bentang Pustaka. Alhamdulillah saat itu, naskah saya mendapatkan juara ke tiga. Saya mendapatkan hadiah uang dan tablet Lenovo pada saat itu.
           Seperti yang dijanjikan Penerbit Bentang Pustaka, bahwa setiap naskah yang menang akan diterbitkan. Tentunya saya sangat menunggu dan mengharapkan naskah saya ini terbit. Penantian panjang itu insyaallah akan segera berakhir. Naskah saya yang awalnya berjudul Splash Of Aureolin, insyaallah terbit bulan ini. Tapi dengan judul yang lebih Indonesia yaitu Simfoni Cahaya. 

         Terima kasih tak terhingga pada Allah SWT yang sudah mewujudkan salah satu cita-cita saya. Yaitu menulis novel islami dewasa. Semoga Allah menambahkan ilmu saya dalam menulis ini serta selalu mengalirkan ide-ide cemerlang untuk menulis novel islami.
        Naskah ini saya tulis berdasarkan kisah pribadi ketika praktik sebagai perawat di sebuah puskesmas. Sebagian fiksi yang tentunya berdasarkan riset dan wawancara bersama sahabat saya yang berprofesi sebagai bidan desa. 
         Seting tempat dalam novel ini sengaja saya ambil di sebuah dusun yang sangat asri di daerah Sumatera Barat. Tapi ceritanya hanya fiksi ya. Tidak benar terjadi di sana. Jadi jika ada kesamaan nama dalam novel ini, itu tidak saya sengaja. 
        Kenapa saya memilih tema bidan desa? Pertama karena tema dari lomba adalah tentang wanita bekerja. Lalu saya berpikir hal yang paling mudah saya eksplore adalah pekerjaan yang dulu pernah saya kerjakan yaitu perawat (Saya jadi perawat di puskesmas Mandiangin Koto Salayan, Bukittinggi selama setahun dan di RS Mitra Keluarga Bekasi 4 tahun).
        Dan alasan yang lain adalah karena kisah bidan desa dan perjuangan mereka di bekerja di sebuah desa terpencil sangat jarang diketahui orang lain. Padahal tanggung jawab mereka cukup besar. Semoga dengan adanya novel ini, rekan saya bidan desa di mana pun mereka berada, bisa sedikit mendapat perhatian dari berbagai pihak. 
       Semoga novel ini bermanfaat untuk pembaca dan untuk saya yang menulis. Aamiin YRA.

       Berikut sinopsis dari novel Simfoni Cahaya. 
                                    
Erina Kamila, seorang bidan desa berusia 23 tahun. Dia ditugaskan di sebuah dusun terpencil di Kabupaten Solok. Erina memulai tugasnya mendata kesehatan warga bersama salah satu kader posyandu yang bernama Leni. Sesekali Erina ditemani oleh Devi, gadis kecil berusia 8 tahun yang sudah yatim piatu. Devi tinggal bersama neneknya yang sakit-sakitan.
            Awal tugas Erina ternyata tidak begitu lancar. Hendri, seorang pria berbadan besar anak dari seorang dukun yang sering dipanggil Angku Itam, beberapa kali memperlihatkan rasa taksuka pada Erina.
Tapi Erina takgentar. Dia meneruskan tugasnya walau dia sudah diminta pergi dari dusun itu oleh Hendri. Menurut Hendri, Erina akan celaka kalau tetap berada di dusun itu. Erina sampai terpaksa melompat ke ladang bawang merah dari atas jalan setinggi satu meter untuk menghindari Hendri yang dia pikir akan mencelakainya. Kaki Erina jadi terkilir karena itu.
Erina menghadapi fitnah dari Angku Itam, karena pasien yang diantarnya ke rumah sakit ternyata meninggal. Erina dituduh memberikan obat kadaluarsa pada pasien itu. Angku Itam melaporkannya ke Polsek Alahan Panjang.  Erina ditangkap dan diperiksa. Di kantor polisi, Erina diperiksa oleh seorang polisi bernama Rizky. 
Tentu saja Erina tidak terima dengan fitnahan itu. Dia membela diri dengan berbagai cara. Walau rasanya mustahil untuk membela diri karena angku itam memberikan bukti kepada polisi bahwa Erina sengaja memberikan obat kedaluarsa kepada pasiennya yang meninggal itu.
Bagaimana cara Erina lepas dari fitnahan ini? Siapa yang membantu Erina keluar dari tahanan? Kisah selanjutnya bisa dibaca di novel Simfoni Cahaya yang insyaallah terbit bulan ini. Saya tunggu komentar sahabat tentang novel ini ya.
Terima kasih dan selamat membaca. ^_^



Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.