Skip to main content

Mendapatkan Keberuntungan Ganda Di Bandung


         Liburan saya dan keluarga kecil saya di Bandung, bisa dipastikan semuanya berkesan. Dari mulai tempat wisata yang kami kunjungi, kuliner, hingga hotel tempat kami menginap, semuanya Alhamdulillah mengesankan. Mungkin karena itulah kami jadi sering berlibur ke Bandung.
        Tapi ada satu liburan yang paling berkesan untuk kami sekeluarga. Berkesan di sini bukan karena tempat wisatanya atau kulinernya, tapi karena saat liburan itu kami menemukan beberapa keberuntungan berlibur bagi jasmani dan rohani kami.



       Ceritanya jum'at pagi (  kalo gak salah 17 April 2015) sekitar pukul 8.00 kami berangkat dari Bekasi menuju Bandung. Kami sampai di Bandung sesuai dengan perkiraan yaitu setelah tiga jam berkendara. Tepat pukul 11.00 kami sampai di Bandung. Tempat pertama yang kami tuju adalah Masjid Agung Bandung yang konon pelatarannya sudah diubah sedemikian rupa oleh wali kota Bandung menjadi tempat yang asyik untuk melepas lelah bersama anak-anak.
       Dengan demikian, saya berpikir jika kami mengunjungi masjid Agung dulu, pasti suami dan anak lelaki saya bisa juga melaksanakan shalat jumat di sana. Jadi selama mereka shalat jumat, kami bisa menunggu mereka di pelataran Masjid Agung.
       Benar saja, begitu kami sampai di Masjid Agung, kami langsung memarkirkan mobil di bawah pelataran masjid yang juga ternyata berfungsi sebagai tempat wisata kuliner. Saya berpikir kami akan makan siang nanti di sini setelah shalat jumat. Lalu kami pun berjalan menuju masjid. Betapa senangnya kami sekeluarga ketika mata kami langsung disuguhkan pemandangan indah di depan mata. Warna hijau rumput sintetis yang berpadu dengan kemegahan masjid. Ditambah lagi ada taman indah di sekitarnya. Waaah... keren sekali!
      Anak-anak saya langsung berlarian di rumput tanpa mengenakan alas kaki. Saya rasa begitulah peraturannya jika ingin bermain di reprumputan itu. Untungnya anak-anak saya secara otomatis melepas sandal mereka. Mereka berlarian dan kejar-kejaran seperti anak yang belum pernah melihat padang rumput. *Halah lebay* Saya dan suami ikut-ikutan mengejar anak-anak. Kami juga bermain bola yang kami beli setelah parkir tadi.
       Tak berapa lama kami menikmati rerumputan pelataran Masjid Agung, azan Jumat pun berkumandang. Suami saya dan Hikmal anak kedua kami bergegas menuju masjid. Saya, Syifa (sulung) dan Hauzan (bungsu) menunggu mereka di teras Masjid yang ternyata juga dipenuhi para wanita yang menunggu suami dan anak mereka melaksanakan shalat jumat.
      Saat menunggu itulah saya melihat sebuah pemandangan yang membuat hati merenung. Seorang bapak tua yang saya pikir sedang sakit, (karena saya lihat dia diantar seseorang untuk duduk di sana dengan dipapah). Bapak itu berusaha untuk shalat jumat dengan posisi duduk walau duduknya pun tidak bisa tegak. Beliau terlihat memaksakan diri untuk melaksanakan shalat jumat. 
     Ya Allah... saya merasa Allah mengirimkan sebuah pengingat bagi saya. Orang yang sepuh seperti beliau, dalam kondisi sakit dan lemah saja masih bersemangat melaksanakan shalat di masjid. Bagaimana dengan saya? Saat itu saya berdoa pada Allah agar saya diberi kekuatan untuk selalu beribadah padaNya dalam kondisi apa pun seperti yang dilakukan bapak itu. Saya juga mengingatkan hal itu pada Syifa yang juga duduk di sebelah saya.
      Setelah suami selesai shalat jumat, saya pun melaksanakan shalat zuhur bersama Syifa. Wah... rasa nyaman dengan hawa yang sangat sejuk langsung menerpa tubuh saya ketika berada dalam masjid ini. Sepertinya saya ingin berlama-lama di dalam masjid. Sayangnya selesai shalat, bungsu saya sudah memanggil dan mengajak main lagi di rerumputan.
      Kami pun kembali menuju pelataran masjid dan mulai mengambil beberapa foto. Ketika sedang asyik berfoto-foto itu, tiba-tiba saya melihat kerumunan orang sedang melihat ke atas sebuah bangunan yang sedang direnovasi. Saya pun ingin tahu apa yang sedang mereka lihat.
      Ternyata ada Pak Aher dan Pak Ridwan Kamil yang berada di atas bangunan yang sedang direnovasi itu. Kontan saya meminta suami saya memotret mereka. Karena momen ini sangat langka. Pertama, baru kali ini saya melihat mereka berdua. Mereka adalah orang-orang yang saya kagumi sebagai pemimpin di negeri ini.
Kedua, jarang-jarang juga mereka berdua bersamaan seperti ini. 
       Dengan bersemangat, suami saya mengabadikan momen keren dua pemimpin yang sedang berdiskusi tentang kemajuan negeri ini (sepertinya begitulah yang sedang mereka diskusikan). Cukup banyak foto yang berhasil diabadikan suami saya. Ternyata bukan saya dan suami saja yang ngefans sama duo pemimpin ini. Syifa dan Hikmal ternyata juga sangat antusias untuk sekadar berfoto dengan mereka. 
      Akhirnya kami menunggu duo pemimpin ini menyelesaikan diskusinya. Kami sampai tidak konsentrasi untuk bermain bola karena kuatir mereka tiba-tiba sudah turun dan pergi. Sekitar lima belas menit kami menunggu, akhirnya mereka turun juga. Banyak masyarakat yang mengikuti mereka. Sayangnya mereka berpencar. Kang Emil terlihat sangat terburu-buru, jadi kami memutuskan untuk meminta berfoto dengan Kang Aher. 
       Ternyata tak semudah itu berfoto dengan orang sibuk seperti beliau. Beberapa kali Syifa dan Hikmal gagal karena berdesakan dengan anak-anak lain. Saya merasa takjub, ternyata anak-anak juga banyak mengidolakan beliau. Saya rasa di zaman serba "ngartis" begini, melihat anak-anak mengidolakan pemimpin yang baik itu jadi seperti berkah tersendiri. Akhirnya Syifa berhasil juga berfoto "didekat" sang gubernur.
       Selanjutnya karena kelelahan, kami pun makan siang di parkiran Masjid Agung. Banyak pilihan menu di sana. Mulai dari bakso, masakan Padang, sate, soto, nasi goreng, mie goreng, makanan khas Bandung dan lainnya.
        Selesai makan, kami segera mencari hotel. Kami berpikir mencari hotel yang dekat dari Alun-alun kota Bandung ini. Karena kami ingin menikmati malam di sini lagi nanti. Apalagi saat itu Bandung sedang berbenah karena akan diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika beberapa hari kemudian. 
        Keindahan Bandung makin bertambah dengan warna-warni bendera berbagai negara Asia Afrika yang berkibar  di beberapa tempat. Di tambah ada tugu nama negara peserta KAA di dekat alun-alun, pasti akan terlihat indah jika kami melihatnya di malam hari.
        Kami pun memutuskan untuk menginap di Grand Hotel Preanger. Hotel itu berjarak sekitar dua ratus meter dari alun-alun. Jadi kami pasti bisa menikmati malam hari berjalan-jalan di tengah kota Bandung.  Apalagi di sekitar hotel itu banyak gedung-gedung bersejarah yang pasti indah untuk dijadikan objek foto. 
        Sesuai rencana, malam harinya setelah chek in, di Grand Hotel Preanger, kami menikmati wisata malam dengan berjalan kaki. Kami menikmati keindahan kota yang sudah dipermak habis-habisan oleh Kang Emil. Banyak tempat duduk di sepanjang jalan menuju Alun-alun. Semua view di sana sangat asyik untuk dijadikan background foto. 
       Kami juga melihat sekelompok fotografer yang sedang mengabadikan kecantikan modelnya dengan latar jalan raya dan gedung tua. Banyak sekali keindahan malam yang bisa kami nikmati di sekitar Alun-alun ini. Hingga tak terasa kami lelah dan kembali ke hotel. Tentunya kami makan malam dulu di parkiran Masjid Agung. Karena ada beberapa menu yang sudah kami incar siang tadi dan belum sempat kami coba.
        Keesokan harinya, keberuntungan lain menyapa kami sekeluarga. Ketika sedang asyik menikmati sarapan di hotel, tiba-tiba mata saya menangkap wajah seseorang yang tak asing oleh saya. Bapak Anies Baswedan atau Mentri Pendidikan! Wah! Masyaallah... mimpi apa saya sampai dapat keberuntungan bertemu dengan orang-orang keren seperti kemarin dan hari ini! Saya menatap Pak Anies tak percaya. Beliau berjalan menuju meja di belakang saya. Spontan saya tersenyum menyapa beliau. Beliau membalas sapaan saya. 
       Rasanya ingin sekali meminta berfoto bersama dengan beliau, sekalian ingin mengenalkan diri bahwa saya seorang IRT yang suka menulis cerita anak. Tapi apa daya, saya merasa takut mengganggu beliau yang sedang sarapan. Saya putuskan untuk menunggu. Saya minta suami saya memotret beliau. Sayangnya suami saya sama gugupnya dengan saya. Dia tidak berani mengambil foto Pak Anies yang sedang makan bersama rekan-rekannya.
      Hasilnya hanya dua foto candid yang berhasil diambil suami saya. Salah satunya buram :( Tapi nggak apa-apa. Saya akan menunggu Pak Anies sampai beliau selesai sarapan. Setelah saya sarapan, saya main bersama Hauzan di lobi sekitar tempat kami sarapan tadi. Dengan harapan bisa mencegat Pak Anies setelah beliau sarapan.
       Ternyata keinginan saya tak sejalan dengan keinginan Hauzan. Bungsu saya itu tiba-tiba sakit perut dan ingin BAB. Yah... gagal deh foto bareng Pak Anies. Nggak apa-apalah. Yang penting saya sudah mendapatkan foto candid beliau meski nggak terlalu jelas. :P
      Begitulah cerita liburan yang paling mengesankan bagi keluarga kami di Bandung. Semoga liburan sahabat semua juga mengesankan ya. Sampai jumpa di kisah liburan mengesankan lainnya. ^_^

*1287 kata

"Tulisan ini diikutkan dalam niaharyanto1stgiveaway : The Unforgettable Bandung"


@nelfisyafrina
Seorang kakek yang terlihat sakit masih bersemangat melaksanakan shalat Jumat



@nelfisyafrina
Pak Aher sedang berdiskusi dengan Kang Emil



@nelfisyafrina
Rebutan salaman dan foto bareng Pak Aher.

@nelfisyafrina
Welfie. Caranya kamera di letakkan di atas tumpukan ransel, atur timer kamera. Lalu klik. :P

@nelfisyafrina
Menikmati jalan sore di Bandung (tak jauh dari hotel)

@nelfisyafrina
Lukisan dinding di Grand Hotel Preanger


@nelfisyafrina
Indahnya tugu negara peserta KAA di malam hari.
@nelfisyafrina
Spanduk Menyambut KAA


@nelfisyafrina
Bendera negara peserta KAA

@nelfisyafrina
Kakek yang berkeliling dengan sapu lidinya. Pernah diwawancara sebuah stasiun TV.

@nelfisyafrina
Pak Anes Baswedan sedang sarapan. Pake baju putih.  (Candid yang tidak berhasil :P)



Comments

  1. Waaah seru, bisa ligature Kang Aher sama Kang Emil dari deket. Aku aja orang Bandung belom pernah. Hehehehe...
    Makasih sudah berpartisipasi. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hadeuh.. auto spelling. Maksudnya lihat :)

      Delete
    2. Iya Mbak Nia. Ini nyeritainnya aja masih berasa deg-degan gitu. *halah. :P

      Delete
  2. kemarin ke sana juga tapi sebentar, sampaai Alvin nangis krn gak mau pulang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. anak-anak juga suka males klo liburannya selesai Mbak Lidya. :)

      Delete
  3. Pengen ikut lomba ini jugaaa... unforgattbel Bandung, tapi belom pernha.. takutnya kalo nulis feelnya jadi gak dapet

    ReplyDelete
    Replies
    1. ikutan aja Mbak Yuni. Kan yang dibutuhkan hanya keinginan Mbak Yuni jika suatu saat berkesempatan pergi ke Bandung. Jadi tulis saja itu. Mayan hadiahnya banyak. ^_^

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. ^_^

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.