Skip to main content

Haruskah Saya Berhenti Menjadi Penulis?

      Pertanyaan di atas pasti akan muncul suatu hari, walau entah kapan. Kenapa pertanyaan seperti itu bisa muncul? Ayo kita cari tahu penyebabnya. Ketika pertama berkeinginan menjadi penulis, banyak sekali hal muluk yang terbayang dalam pikiran kita. Misalnya buku atau tulisan kita dipajang di rak buku. Nama kita sebagi penulisnya tertera dengan indahnya di buku itu. Atau nama kita tertera sebagai penulis di naskah yang dimuat di media cetak.
      Atau keinginan menjadi penulis karena tergiur oleh royalti yang besar. Atau tergiur oleh fee yang akan kita peroleh dari media yang memuat tulisan kita. Untuk alasan yang disebutkan tadi, kita berusaha untuk mulai menulis. Bahkan kita mengikuti berbagai kelas menulis. Baik yang online mau pun yang offline. Baik yang gratis mau pun berbayar.

      Kita pun berusaha sekuat tenaga agar tulisan kita menjaid bagus dan menjadi lebih baik dengan mempelajari tekhnik menulis yang keren. Kita juga belajar tentang penggunaan EYD yang benar. Untuk menambah perbendaharaan kata, kita membeli kamus Bahasa Indonesia. dan buku-buku sebgai bahan referensi.Sehingga kita makin bersemangat menulis.
      Alhamdulillah setelah semua semangat yang kita kobarkan. Dengan menulis setiap hari, Dengan ilmu yang kita dapatkan dari mengikuti kelas menulis, akhirnya kita berhasil menerbitkan buku. Tulisan kita juga muncul di berbagai media. rasanya saat itu sebuah cita-cita tercapai sudah. Lalu kita pun membuat target baru, tahun ini, aku harus menerbitkan sekian buah buku. Tahun ini naskahku harus dimuat di media ini. Tahun ini naskahku harus terbit di penerbit yang itu. Sederet target mulai bermunculan.
      Karena semangat menulis yang kita pupuk itu masih membara, maka semua target pun tercapai di tahun yang kita inginkan. Rasanya Tuhan benar-benar memudahkan segala urusan kita. Entah kita bersyukur karena kemudahan itu entah tidak, yang pasti kita sangat berbahagia. Nama kita mulai dikenal sebagai penulis di penerbit terkenal. Bahkan di media ternama.
     Selanjutnya masalah muncul. Ternyata penjualan buku kita tidak sesuai dengan target marketing. Buku kita diturunkan dari rak di toko buku hanya dalam waktu tiga bulan penjualan pertama. Selanjutnya bisa ditebak, kita tidak akan kebagian royalti. kalau pun kebagian royalti, pastilah sangat sedikit.
      Masalah lain pun muncul satu persatu, naskah kita tulis dan dimuat di media, ternyata fee-nya tidak dibayarkan oleh media tersebut. Waktu kita tanya ke bagian keuangan, menurut mereka sebaiknya nunggu sampai beberapa naskah dimuat, baru fee akan ditransfer. Atau fee disuruh mengambil sendiri ke kantor. Endingnya, fee dari naskah kita, batal masuk rekening.
      Sampai di sini, kita mungkin masih semangat menulis. Dalam hati, kita masih berbaik sangka. Ah, biarlah toh rezeki Allah yang mengatur. Nanti akan dapat rezeki lain melalui naskah lain. Kita masih mengirim naskah kita ke media dan penerbit. Naskah kita mash dimuat dan masih diterbitkan oleh penerbit. Untuk mengantisipasi kejadian yang lalu tidak terulang lagi, kita pindah ke penerbit lain. Atau kita mengirim naskah ke media lain. Penerbit yang baru itu bersedia menerbitkan naskah kita dengan catatan naskah dijual putus. Tentunya bagi seorang penulis, tidak ada masalah dengan naskah yang dijual putus alias Flat Fee.
       Sayangnya, ending yang menyedihkan terulang kembali. Naskah jual putus pun ternyata tak dibayarkan oleh penerbit. Naskah yang dikirim ke media pun ternyata ditolak. Sampai di sini, putus asa mulai menyapa sebagian penulis.
      Tapi bagi sebagian yang lain, mereka masih semangat. Mereka berusaha mempromosikan buku mereke baik secara online mau pun offline. Kadang mereka tak segan-segan menawarkan buku mereka ketika mereka sedang berada di toko buku. Dengan imbalan tanda tangan mereka jika ada pembeli yang bersedia membeli buku mereka.
     Sampai di sana, sebagian yang masih bersemangat ini, pasti masih terus menulis. Hingga di suatu hari, ketika fee naskah jual putus masih belum juga dibayarkan. Beberapa tulisan yang dikirim ke penerbit dan media mulai tidak dilirik. Laporan royalti yang tidak pernah sampai. Pertanyaan di atas mulai muncul. Haruskah saya berhenti menjadi penulis?
      Bukan karena kita tidak mau menulis. Tapi karena kecewa dengan semua keadaan. Semangat yang membara yang sudah diiringi dengan usaha maksimal dan doa yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, ternyata tidak menghasilkan suatu hal yang diinginkan.
      Jika pertanyaan seperti itu menghampiri pikiran kita, ada baiknya kita mulai memikir ulang apa motivasi kita ketika ingin menjadi penulis. Apakah kita menulis untuk mencari uang, mencari ketenaran? atau mencari ketenangan. Jawabannya ada di hati kita masing-masing.
     Saya sudah sampai pada titik yang saya ceritakan di atas. Dan saya pun sudah merenung untuk apa saya menulis. Saya pastikan, Insyaallah saya tidak akan berhenti menjadi penulis. Saya akan terus menulis. Karena motivasi menulis saya adalah keluarga saya, anak, suami, saudara dan orangtua saya. Dan inti dari motivasi saya menulis adalah saya ingin bermanfaat bagi semua orang melalui tulisan-tulisan saya. Bukankah yang paling baik di antara kita adalah yang paling banyak memberi manfaat pada orang lain? Semoga demikianlah yang Allah catat tentang motivasi saya. Ketika semua masalah itu muncul, saya berusaha mengabaikannya. Saya kembalikan semua ketentuan kepada sang pemilik diri. Allah yang menetapkan semuanya untuk kita. Kita hanya diminta menjalani dengan sebaik-baiknya. Jika sudah memilih menjadi penulis, maka jadilah penulis terbaik, di hadapan Allah.
      Selamat menulis. ^_^

Comments

  1. jangan berhenti mbak. kalau aku malah belum pernah menulis buku :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mbak lidya. Insyaallah saya nggak akan berhenti menulis. Ayo menulis buku Mbak Lidya. :)

      Delete
  2. Motivasi saya menulis ingin menyebarkan pesan kebaikan, Mba. Mudah-mudahan tetap istiqomah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin... semoga selalu istiqamah ya mbak dewi. :)

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. ^_^

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.