Skip to main content

Mengaji Bersama Kakek



                                 
                               Hanif, Fathan dan Kakek (Foto : dokpri)
Sebelum shalat tarawih, pasti selalu ada kultum di masjid dekat rumah Hanif. Biasanya sebelum kultum dimulai, Hanif dan teman-temannya bergiliran membaca AlQuran. Malam ini, giliran Hanif yang tampil ke depan untuk membaca AlQuran. Hanif sudah mempersiapkan diri sejak sebelum Ramadhan. Dia ingin bacaan AlQurannya lancar saat tampil nanti.
Iqra’ bismirabbikalladzi khalaq,” Hanif mulai membaca Al Quran, Syaamil Quran yang ada di depannya. Semua jamaah khusu’ mendengarkan bacaan Hanif. Ada kakek yang ikut mendengarkan bacaan Hanif saat itu. Kakek mengangguk-angguk sambil sesekali mengusap matanya. Kakek menangis!
Shadaqallahul adziim,” Hanif mengakhiri bacaannya. Dia kembali ke tempat duduknya di samping kakek.

“Hebat cucu kakek!” kakek memeluk Hanif erat, ketika Hanif duduk di sampingnya.
“Kan Hanif mengajinya tiap hari, Kek. Alhamdulillah bacaan Hanif jadi lancar,” sahut Hanif bersemangat. Kakek masih saja memeluk pundak Hanif sambil sesekali menghapus air matanya. Hanif memperhatikan hal itu.
“Kakek kenapa menangis?” tanya Hanif bingung.
“Nggak kok, kakek nggak menangis. Ayo kita dengar kultum dari ustad,” sahut Kakek sambil menunjuk ustad yang sudah mulai membaca salam.
Hanif menurut. Sesekali diliriknya kakek yang masih saja menghapus air matanya. Hanif tidak berani bertanya. Bukan karena takut dimarahi kakek. Tapi Hanif nggak enak karena ustad sedang menyampaikan kultum.
Rasa penasaran Hanif semakin bertambah ketika kakek permisi ke kamar kecil. Hanif yakin, kakek pasti bukan ingin buang air kecil atau berwudhu. Hanif pun mengikuti kakek keluar masjid. Lebih baik dia menemani kakek. Hanif khawatir, kakek tiba-tiba jatuh karena sepertinya sangat sedih.
“Kakek kenapa?” tanya Hanif ketika melihat Kakek membasuh muka beliau di tempat wudhu.
“Kan kakek wudhu, sayang,” ucap Kakek. Beliau berusaha untuk tersenyum.
“Tapi Hanif lihat kakek seperti orang yang sedang menangis,” tebak Hanif.
Kakek menghampiri Hanif. Lalu memeluk Hanif dengan erat. “Benar, Nak. Kakek memang menangis. Kakek ingat nenek yang sudah meninggal. Suaramu mengaji, mirip sekali dengan suara nenek. Beliau juga hafal Al Quran. Dulu, setiap hari beliau mengajak kakek membaca AlQuran.” Kakek kembali menghapus air matanya.
Hanif terdiam. Dia belum pernah bertemu nenek. Nenek meninggal ketika ayahnya masih kecil.
“Kalau begitu, kakek mengaji bareng Hanif saja tiap hari. Biar nenek senang,” ajak Hanif.
“Iya sayang. Terima kasih ya. Kakek akan mengaji tiap hari bersama Hanif. Nanti, kalau bacaan kakek kurang lancar, Hanif ajari kakek ya.”
“Oke deh Kakek. Deal ya, mulai besok kita ngaji tiap hari,” Hanif memberikan kelingkingnya pada kakek. Kakek tersenyum dan menautkan kelingkingnya di jari Hanif. Mereka lalu masuk kembali ke masjid.[NS]  * FF 395 kata

http://syaamilquran.com/wp-content/uploads/BROSUR-ANTH-REVISI.jpg 

Comments

  1. ayo ngaji tiap hari, tiada hari tanpa lantunan al quran ya mbak

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. ^_^

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.