Profil Mbak Dewi 'Ichen' Cendika di Harian Analisa Medan 13 Januari 2013



  Dewi Cendika Meningkatkan Semangat  Kerja dengan Menulis 
          Kali ini kita berkenalan dengan pemilik nama lengkap Dewi Cendika. Seorang penulis yang cukup banyak menghasilkan karya. Beliau lahir di Palembang dan  bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Departemen Kehutanan RI di Jakarta. Keluarga kecilnya saat ini menetap di Tangerang.
Selain bekerja sebagai PNS, beliau sangat hobi menulis. Saat ini sudah lebih dari 45 judul buku yang sudah lahir dari tangannya. Sebagian dari buku-buku tersebut adalah buku anak dan buku parenting. Ada juga beberapa antologi bersama teman penulis lainnya.  Cerpen anak karyanya juga sering dimuat di beberapa media anak, seperti Majalah Bobo, dan Bravo.
        Ibu dari
Saskia Dahayu Cennyta (6,5 tahun) dan Sayudha Lucky Dezniag (1,5 tahun) ini sebenarnya sejak kecil sudah suka menulis. Ichen, demikian biasa beliau disapa, sering meminjam mesin tik milik bapaknya ketika ia kecil. Ketika itu karyanya sering dimuat di Majalah Dinding di sekolahnya. Waktu SD Ichen kecil juga sering menulis cerita di buku tulis. Cerita yang sudah ditulisnya itu lalu dikasih kepada teman-teman dan saudaranya. Ichen meminta mereka membaca cerita yang sudah ditulisnya. “Sungguh pengalaman yang tak terlupakan,” kenangnya.
          Hal ini terjadi mungkin karena setiap hari orangtuanya memberikan buku bacaan bermutu karya penulis luar negeri kepada Ichen kecil. Dari kecil Ichen sudah suka membaca karya Enid Blyton, HC Andersen, Alfred Hitchock, Bung Smas dan buku lainnya.
          Ketika ditanya alasannya memilih menjadi penulis di tengah kesibukan menjadi PNS, beginilah jawabannya. “Menulis membuat saya seolah berkelana. Saya merasa sangat bergairah dan bersemangat.  Saya bisa larut dalam tulisan saya.  Bisa sedih kalau tokoh cerita saya sedang sedih, bisa sangat hepi seperti apa yang dirasakan oleh tokoh cerita yang sedang hepi.  Benar-benar menyenangkan dan mengasyikkan.”
         Penggemar traveling ini awalnya belajar menulis secara otodidak. Dengan banyak membaca dan mempelajari tulisan pengarang favorit nya, dia mencoba menulis.  Namun tidak berhenti samapai di situ. Dia masih terus belajar menulis dengan para guru menulis dan ikut pelatihan-pelatihan menulis, diskusi dengan teman-teman penulis lainnya.
         Sesekali penyuka Pempek dan eskrim ini memberikan pelatihan menulis bagi penulis pemula. Beliau tergabung bersama trainer penulis lainnya di Galeri Kelas Ajaib, pimpinan Benny Rhamdani.
         Suaminya yang bernama Benny Oktaviano juga penulis cerita anak.  Mereka saling support, khususnya dalam bidang tulis menulis. Seringkali mereka berdiskusi tentang ide cerita dan hal lain yang menyangkut bidang penulisan. Ichen juga sering bertukar pendapat dengan editor sebuah penerbitan untuk membuat konsep tulisan. Kadang penerbit yang memberi konsep itu padanya. Ichen sangat bersyukur dengan kepercayaan yang diberikan penerbit itu. Makanya dia menulis dengan sebaik mungkin sesuai kepercayaan yangdiberikan penerbit padanya.
             Saat ini Ichen lebih memilih bergelut dalam tulisan untuk anak. Terutama yang bertema petualangan/misteri/detektif.  “Rasanya asyik saja memberikan teka-teki dan menceritakan tentang petualangan,” ucapnya.
             Ketika ditanya dukungan keluarga terhadap profesinya yang satu ini, Ichen menjawabnya dengan penuh rasa syukur. “Alhamdulillah keluarga besar saya mendukung kegiatan saya sebagai penulis ini,” jelasnya tersenyum.
          Ibu muda yang sangat cantik ini biasanya menulis pada malam hari setelah mendongeng untuk anak-anaknya. Atau ketika hari libur setelah bermain bersama keluarga kecilnya. Ketika ditanya tentang hambatan yang dialaminya ketika menulis, beginilah jawabannya.
         “Hambatan yang paling besar dan sesungguhnya tidak boleh ada pada seorang penulis adalah dari dirinya sendiri. Mood menulis yang tiba-tiba hilang itu yang harus disingkirkan jauh-jauh.  Seorang penulis harus disiplin menulis, tidak boleh malas dan mudah menyerah,“ ucapnya diplomatis.
          “Saya pun pernah merasakan ini, terutama saat ada saja hal-hal lain yang harus saya pikirkan dan prioritaskan.  Di situlah pandai-pandainya saya menata waktu dan pikiran saya.   Bila  saya sedang ada dead line, lalu ada rasa jenuh, Saya pun menyegarkan kembali pikiran dan badan saya dengan berjalan-jalan bersama keluarga, menonton film, olahraga atau kegiatan lainnya,” demikian tips dari Ichen.
              Pesannya kepada penulis pemula, “Jika ingin menjadi penulis, harus rajin membaca dan terus berlatih, tidak mudah puas dan tidak lekas putus asa.”
              Kita bisa mengenalnya lebih jauh dengan menjadi temannya di akun Facebook Dewi Ichen Cendika. Atau menjadi followernya di @ichenzr.  [NS]

Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kejadian Aneh di Asrama

Summarecon Bekasi, Dekat di Hati