Monday, March 23, 2020

Masa Orientasi Siswa Sekolah Perawat Kesehatan

Hari ini berjalan seperti  kemarin. Selesai shalat isya, acara pengenalan ruang mayat pun digelar. Kami berbaris menuju ruangan itu. malam ini angin bertiup kencang, membuat dingin malam semakin menusuk tulang. Sebelum sampai di ruangan yang dimaksud, kami diminta mengenakan selendang kecil untuk menutupi mata kami. Lalu satu persatu kami digiring berjalan menuju ruangan mayat.
Dadaku berdebar menunggu giliran. Kutarik napas dan meniupkannya untuk menenangkan hati. Tapi rasanya itu tidak membantu. 
“Aku kebelet pipis nih. Aku minta izin dulu aja ya,” ujar salah satu temanku di belakang. Kurasa dia pasti takut, sehingga membuatnya ingin buang air kecil. 

“Kamu berani ke kamar mandi? Kita kan sudah jauh dari kelas,” sela temanku yang lainnya. Setelah itu, aku tak mendengar percakapan mereka lagi. Karena saat ini tiba giliranku. Seorang kakak kelas menggiringku ke sebuah tempat. Aku berusaha berjalan tegap dan menghilangkan rasa takutku.
“Ini hanya orientasi. Jadi jika ingin berhasil melewati masa orientasi ini, kamu harus tetap tenang dan tidak cengeng. Kalau kamu cengeng, maka kakak-kakak itu pasti akan makin senang menggodamu,” begitu pesan guruku yang lainnya saat penyampaian materi orientasi pelajaran. Aku akan menerapkan saran beliau, agar aku bisa selamat dari godaan yang kurasa sangat menyeramkan ini.
Perlahan aku dituntun berjalan ke sebuah tempat. Sayup-sayup kudengar suara tangisan yang sama dengan suara  yang kudengar semalam. Buu kudukku merinding. Aku melantunkan zikir dalam hati untuk menenangkan diri. Suara tangis itu diiring dengan suara burung hantu sekarang. 
Mataku tak bisa melihat, tapi suara-suara itu benar-benar membuatku hampir lari. Aku kembali mengingat pesan guruku tadi. Aku harus tenang dan tidak cengeng. Kutarik langkahku semantap mungkin menuju ruangan itu. 
“Saya mengantarmu sampai di sini ya. Sekarang silakan buka penutup matamu, lalu masuklah ke ruangan ini. Jangan lupa bawa keluar sebuah kertas yang kami selipkan di sekitar mayat itu,” ujar kakak kelas yang menuntunku tadi.  
Hah! Harus mencari sebuah kertas di sekitar mayat? Ya Allah... rasanya aku tidak sanggup meneruskan perjalanan ini. tadinya aku berpikir, hanya diminta melihat mayat dan segera keluar dari ruangan itu.  
Aku membuka penutup mataku. Kutahan sekuat mungkin rasa takutku. Lalu aku masuk ke dalam ruangan yang mereka maksud. Ruangan ini sangat temaram. Ukurannya tidak begitu besar, sekitar 3X3 meter. Ada 3 tempat tidur berjejer di sana. Di atasnya kupastikan ada mayat yang sedang disemayamkan. 
Bulu halus di lengan dan tengkukku kembali berdiri. Aku makin memperbanyak zikir dalam hatiku yang sesekali keluar dari mulutku. Aku tidak boleh memperlihatkan rasa takut. Kuhampiri tempat tidur yang paling dekat denganku. Sebelum sampai ke tempat tidur itu, aku melihatsesuatu bergerak di sudut ruangan. Reflek, aku menoleh ke arah gerakan itu. 
“Hua!” pekikku tertahan. Sesuatu yang bergerak itu ternyata sebuah kerangka tubuh manusia. Segera kuatasi rasa takutku. Ini sekolah perawat Rani, kerangka manusia itu pasti salah satu alat peraga ketika belajar nanti. Pikirku dalam hati. Pasti ada seseorang di dalam ruangan ini yang sengaja menakut-nakutiku.
Apalagi kudengar suara tangisan seperti semalam makin terdengar jelas di ruangan ini. Setelah berhasil menenangkan diri, aku pun membuka kain penutup salah satu jenazah itu. 
Dalam keremangan, kulihat wajahnya sangat pucat. Seorang wanita dengan rambut tergerai dan darah masih berceceran di wajah dan hampir semua tubuhnya. “Ya Allah!” pekikku sambil menahan rasa takut. Karena tiba-tiba matanya terbuka dan melotot padaku. Ingin rasanya lari dari tempat ini. 
Tapi aku masih ingat yang harus kulakukan. Jangan sampai aku keluar ruangan ini tidak membawa kertas yang diminta. Aku bisa-bisa kena hukuman berat jika tidak membawa kertas itu. Aku buru-buru mencari kertas di sekitar tempat tidur. Kulihat sebuah lipatan kertas di atas kepalanya.
 “Maafkan saya ya, saya minta izin mengambil kertas ini,” ujarku. Kupikir aku mulai tidak waras ketika berbicara dengan orang yang sudah meninggal. Aku bergegas mengambil kertas itu diiringi dengan pelototan matanya yang seolah akan keluar. Walau rasa takut dan jantungku serasa akan copot, aku masih bisa meraih kertas itu dan menggenggamnya dengan erat.  
Segera kutinggalkan tempat tidur itu dan mencari pintu keluar. Baru saja aku melangkah, tiba-tiba sesuatu jatuh dari atas meja yang terletak di sudut ruangan sebelah kanan. 
“Krompyang!”
“Huaaa... ya Allah... ya Allah...,” gumamku ketakutan. Aku tidak bisa melihat di mana pintu keluar berada. Sabar Rani, sebentar lagi akan berakhir, batinku menguatkan diri. Kukitari pandangan ke seluruh ruangan. Kutemukan pintu keuar  tak jauh dari meja. Berlari, aku menuju pintu. Kubuka pintu dengan tergesa. 
“Alhamdulillah...” ujarku begitu keluar dari ruangan menyeramkan itu. Lega rasanya bisa menyelesaikan tantangan terberat melawan rasa takutku ini. Pikiranku kembali jernih ketika melihat seorang kakak kelas menghampiriku. Dia menunjuk jalan menuju tempat berkumpulnya teman-temanku. Wajahnya tersenyum lembut, seolah bersimpati dengan penderitaanku.
“Terima kasih Kak,” ucapku sambil menyerahkan kertas yang kubawa tadi. Aku lalu berjalan ke tempat teman-temanku yang berhasil melewati tantangan ini. 
“Mana kertasnya?” sembur seorang kakak kelas ketika melihatku menghampiri teman-temanku. 
“Tadi sudah saya kasih sama Kakak yang berdiri di depan pintu keluar, Kak,” sahutku. 
“Kakak siapa? Hanya saya yang bisa menerima kertas yang kalian bawa. Apa kamu tadi tidak dikasih tahu pada siapa kamu harus memberikan kertas ini?” tanyanya gusar.
“Maaf Kak, saya tidak dikasih tahu,” sahutku pelan. Aku kembali lemas menghadapi kemungkinan akan terkena hukuman. Sia-sia rasanya tadi aku memaksa diri mengambil kertas itu. 
“Ayo balik lagi, minta kertas itu. Lalu berikan pada saya,” putusnya. Dengan langkah limbung, aku membalikkan badan dan berjalan ke arah pintu keluar. 
Sampai di depan pintu keluar, aku tidak melihat kakak yang tersenyum simpati tadi. Kemana dia? Apa dia masuk ke dalam ruangan itu? Kalau benar, apa yang harus kulakukan? Apa aku juga harus masuk kembali ke ruangan yang menyeramkan itu dan meminta kertasku? Aku terdiam di depan pintu. Bingung untuk mengambil keputusan. Untuk masuk ke dalam ruangan ini lagi, aku harus kembali mengumpulkan semua keberanian. 
“Loh kok masih di sini?” tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku. Aku menoleh mencari suara itu. Kulihat kakak yang tersenyum manis tadi berdiri di depanku. Lega rasanya melihat sosok itu berada di dekatku.
“Maaf kak, saya disuruh meminta kertas tadi pada kakak,” ucapku nyaris berbisik.
“Bilang saja sama Kakak itu, bahwa kertas yang kamu kasih sudah disimpan oleh Donita,” pintanya. Aku mengangguk. Dan segera kembali ke lapangan tempat teman-temanku berkumpul.
“Mana kertasnya?” tanya Kak Dina. Kulirik sekilas name tag-nya tadi. 
“Sudah disimpan Kak Donita, Kak,” sahutku. 
“Hah! Kak Donita?” tanya Kak Dina terkejut. Wajahnya pias. Dia tidak bicara apa-apa lagi setelah itu. Dia berjalan menemui teman-temannya dengan setengah berlari. Aku berkumpul bersama temanku yang lain.
“Tadi siapa yang memberikan kertas pada Kak Donita?!” kudengar suara seorang kakak cowok menghampiri kami. 
“Ya Allah... ada apa lagi ini?” gumamku. Perlahan aku berjalan menuju kakak cowok itu. “Saya Kak,” ujarku takut-takut.
“Kamu yakin memberikan kertas itu pada Kak Donita?” tanyanya meragukanku.
“Yakin kak. Kak Donita sendiri yang meminta saya menyampaikan pada Kak Dina, bahwa kertas itu sudah disimpan beliau.”
“Kamu kenal Kak Donita sebelumnya?” tanya kakak cowok itu lagi penasaran.
“Nggak kak.”
“Ya sudah. Kumpulkan semua temanmu. Kalian semua masuk ke dalam kelas ya,” perintahnya. Aku menggangguk. Aku meminta semua temanku berkumpul dan kembali ke kelas.
“Ada apa sih?” tanya beberapa temanku bingung. 
“Nggak ngerti,” sahutku. Kami pun berjalan menuju kelas. Hanya ada 14 orang yang berkumpul di lapangan ini. Kursa sisa temanku yang lain, masih menahan rasa takut mereka di dalam ruangan itu.
“Kenapa kakak cowok itu tadi ngomong sama kamu Ran?” tanya Rita penasaran sambil mengimbangi langkahku. Aku lalu menceritakan pada Rita tentang kertas yang kuberikan pada Kak Donita. 
“Kamu yakin namanya Kak Donita?” tanya Rita bingung.
“Yakin. Dia sendiri yang mengatakannya,” sahutku.
“Ya Allah Rani... untung kamu kuat ya. Setahuku, dulu, angkatan kakakku, ada yang bernama Donita. Tapi beliau meninggal ketika masa orientasi siswa. Beliau terkena serangan jantung,” jelas Rita.
“Hah!” aku terperanjat mendengar penjelasan Rita. Aku tak percaya yang kutemui tadi bukan manusia. Pantas saja tadi Kak Dina pucat begitu mendengar namanya kusebut. Wajar juga Kakak cowok itu menanyakannya kembali padaku. Karena, mereka pasti tidak percaya dengan perkataanku, sebelum memastikannya sendiri. Walau rasa takut kembali menderaku, aku bersyukur Kak Donita itu baik padaku. Kuharap, setelah ini tidak ada lagi masa orientasi siswa yang membuat siswanya mendapat serangan jantung seperti itu.
                                                            ***


0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. ^_^