Skip to main content

Kisah Tiga Butir Permen


           Saya menyebut permen ini sebagai permen support. Tadi, sewaktu memeriksa isi tas, saya menemukan permen ini. Ingatan saya melayang ke beberapa pekan lalu. Saat saya menjadi keluarga pasien di ruang tunggu ICU RS Mitra Keluarga Bekasi. Salah satu keluarga pasien lain memberi permen ini pada saya. Saat itu kami Saling memberi support bahwa semuanya akan baik-baik saja. Padahal sebelumnya kami tak saling kenal. Kami dipertemukanNya melalui sebuah keadaan, sakitnya salah satu anggota kelurga kami.

         Saat itu, ketika tidak ada teman atau kerabat yang bersama saya, maka mereka inilah yang menjadi kerabat dan keluarga terdekat saya. Salah satunya encik2 yang usianya sekitar belasan tahun lebih tua dari saya. Dia memberikan permen ini ketika saya terlihat sangat bingung, khawatir dan letih. Bukan beliau saja, ada juga seorang ibu yang usianya kurang lebih seusia papa saya, beliau pun menawarkan makanan ringan pada saya sebagai tanda empatinya. 
         Padahal saya tahu, mereka juga sama sedihnya seperti saya. Mereka juga dalam kekhawatiran yang luar biasa ketika menunggui anak dan keponakan mereka. Saya pikir mungkin karena mereka "lebih dulu" menjadi "penghuni" ruang tunggu ini, sehingga mereka terlihat sudah lebih tenang.
         Awalnya saya menolak dengan halus. Tapi beliau bersikeras agar saya menerima permen itu. Saya pun menerimanya. Walau saya benar-benar sudah lama tidak makan permen karena masalah di kerongkongan saya.
        Tapi begitulah, hal itu juga membuat kami lebih dekat dan mulai saling membuka diri tentang keadaan keluarga kami di ruang ICU sana. Kami jadi saling memberi semangat dan bahkan mulai bercerita tentang permen yang hanya saya jumpai di masa saya masih SD. Saat itu kami sejenak bisa melupakan kekhawatiran kami tentang keadaan keluarga kami di ruang ICU. Hingga suara dering telepon dari perawat ICU membuat kekhawatiran kami kembali membuncah. 

        Dering telepon itu seolah mengabarkan keadaan buruk yang menimpa keluarga kami. Saat itu semua jantung kami para keluarga pasien di ruang tunggu ICU, akan berdebar sangat kencang. Kira-kira siapa dari kami yang dipanggil ke ruang perawatan. Apakah berita yang akan disampaikan perawat adalah berita baik atau berita buruk? Apakah keluarga kami yang sedang dirawat di sana bertambah kritis atau sudah lebih baik? Begitulah yang kami rasakan ketika bel dari perawat berdering.
         Bahkan sebagian dari keluarga pasien di ruang tunggu ini menjadi takut untuk mengangkat telepon yang berdering itu. Demikian juga dengan saya. Saya merasakan debaran yang sama ketika telepon itu berdering. Tapi kami harus mengangkat telepon itu. Karena pasti ada hal penting yang akan kami dengar dari perawat di ruang ICU. Masih ada kisah lain tentang kenapa saya menjadi keluarga pasien di ruang ICU RS Mitra Keluarga Bekasi. InsyaAllah akan saya tulis dalam postingan berbeda. Bisa dibaca di sini
       Semoga sahabat semua tidak pernah mengalami sebagai keluarga pasien maupun sebagai pasien di ICU di RS mana pun. Ohya, permen ini masih belum saya makan. Saya akan menyimpannya sebagai pengingat kalau banyak orang baik di luar sana yang masih mau memberi semangat kepada kita walau kita tak saling kenal. semoga saya juga bisa memberikan semangat kepada orang lain seperti mereka memberi semangat kepada saya. 
       Semoga keluarga mereka yang mensupport saya ini cepat pulih ya. Terima kasih untuk support ibu pada saya. ❤️😇😇😇

Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.