Skip to main content

Masalah Anakmu Adalah Masalahmu Juga

Sore tadi, tiba2 Hikmal putera ke dua saya menangis berlari ke rumah. Betapa paniknya saya melihat dia menangis sambik tersengal2 sehingga susah menjelaskan kepada saya apa yang sedang terjadi.
    Berbagai pikiran buruk berkecamuk dalam otak saya. Saya buru2 memeriksa semua anggota badannya. Apa ada yang terluka. Karena terakhir kali saya melihat dia menangis seperti itu ketika dia jatuh dari sepeda dan kepalanya mengeluarkan banyak darah.
    Saya perhatikan tidak ada satu pun luka di badannya.
     "Si Jaki bu. Tolong si jaki." Ujar Hikmal terbata2. Hingga dia terlihat kesulitan bernapas. Saya makin panik. Ada apa dengan temannya itu?
    "Hikmal tenang dulu. Coba jelaskan pada ibu apa yang terjadi?" Tanya saya dengan nada sangat panik. Karena saya khawatir melihat Hikmal menangis sampai kehabisan napas seperti itu.
     "Aku tadi mukul si jaki. Tapi dia duluan yang jahatin aku. Dia sekarang sakit. Bapaknya bilang ibu harus membawanya ke rumah sakit.." jelas hikmal tersengal. Air matanya masih terus mengalir. Rasa takut dan khawatir terlihat jelas di wajahnya.
     Hikmal sudah 11 tahun sekarang. Rasanya janggal kalau dia menangis karena berkelahi dengan temannya.
    Saya langsung lari menuju rumah Jaki. Rumahnya di depan rumah kami. Di depan rumah saya, bapak Jaki terlihat hendak membuka pintu. Karena sangat khawatir dengan keadaan Jaki, saya lupa menyapa bapaknya. Saya langsung masuk ke rumah Jaki.
    Di rumah jaki, saya lihat dia berbaring sambil menangis. Saya lihat ibunya sedang mengolesi obat nyeri otot ke dada anaknya.
     Saya lemas. Saya pegang tangan dan kaki Jaki. Rasanya basah dan dingin. Saya berpikir itu keringat dingin. Lalu saya minta maaf atas perbuatan anak saya. Saya minta maaf pada jaki dan ibunya.
     Sementara itu saya raba nadi di pergelangan tangannya. Saya ingin memastikan keadaan nadinya. Saya perhatikan napasnya. Dia menangis dan terisak. Jadi napasnya agak tersengal.
     Saya tanya bagian mana yang ditonjok Hikmal. Bagian mana yang sakit. Saya juga bertanya tentang keadaan napasnya. Apa dia kesulitan bernapas atau tidak.
    Jaki menunjuk dada sebelah kanan. Lalu dia bilang kalau napasnya agak sesak.
    Saya ajak dia ke rumah sakit. Tapi jaki menolaknya. Saya tanya lagi apa tadi jaki muntah atau batuk setelah ditonjok. Katanya tidak.
     Saya meminta ibunya untuk mengajak jaki ke rumah sakit. Karena dia mengeluh sakit di bagian ulu hatinya. Tapi orang tuanya mengatakan, " Nanti saja. Mungkin jaki kaget dan takut. Karena tadi dia bersembunyi dan nangis di kamar mandi. Jadi saya nggak tahu juga apa yg terjadi. Lalu setelah saya tanya ternyata dia habis dipukul Hikmal." Jelas ibu jaki.
    Begitu mendengar penjelasan ibu jaki saya jadi bertanya dalam hati. Apa mungkin Hikmal yang tak pernah berkelahi itu menonjok anak yang lebih kecil darinya. Kenapa anak saya sampai kalap begitu. Apa yang terjadi sebenarnya.
    Saya pun minta izin ke rumah sebentar untuk menemui hikmal. Karena tadi saya panik saya berpikir anak saya yang bersalah. Dan sekarang saya ingin mengetahui kronologi kejadiannya.
     Sampai di rumah hikmal masih menangis walau tidak seperti tadi. Ketika saya tanya hikmal mulai menjelaskan. Bahwa saat dia main bola bersama teman2nya dan juga jaki. Jaki menendang bola ke kepala hikmal. Bola itu seperti sengaja di arahkan ke kepala Hikmal. Hikmal meminta jaki tidak melakukannya lagi. Karena hikmal kesakitan saat bola mengenai kepalanya.
  Ternyata jaki tidak mendengarkan hikmal. Beberapa kali berikutnya jaki seolah sengaja menendang bola ke arah badan hikmal. Sehingga kena dada dan kepala hikmal lagi. Hal ini berulang sampai 4 kali. Dan jaki tetap tidak mau mendengarkan permintaan  hikmal agar tidak mengarahkan bola ke badannya.
     Karena sakit terkena bola yang ditendang keras ke badannya, hikmal pun jadi kesal dan mengejar jaki. Lalu dia menedang kaki jaki. Ketika jaki jatuh dia memukul jaki.
    Saat dia memukul jaki itulah bapak jaki melihat mereka. Lalu jaki berlari masuk ke rumahnya. Dan beberapa menit kemudian bapaknya marah ke hikmal.
Bapak jaki menyuruh hikmal memanggil saya agar mengantar anaknya ke rumah sakit.
Setelah mendengar penjelasan hikmal. Saya mengajak hikmal minta maaf kepada jaki. Lalu saya pun minta maaf lagi pada jaki dan orangtuanya.
     Saya perhatikan lagi dada dan perut jaki. Tidak ada memar atau merah bekas pukulan di sana. Saya berharap jaki baik2 saja. Tapi sebagai tanda penyesalan saya atas sikap anak saya. Maka saya kembali membujuk jaki untuk diperiksa ke rumah sakit.
    Mungkin jika diperiksa dokter dan dironsen akan ketahuan keadaan di dadanya. Sayangnya orangtua jaki mengatakan nggak perlu.
     "Nanti saja kalau jaki sudah sedikit tenang." Demikian mereka memberi alasan.
    Berulang kali saya mengajak mereka ke rumah sakit. Tapi mereka masih menolak. Akhirnya karena sudah hampir azan maghrib. Saya pun pamit pulang.
    "Sekali lagi maafkan hikmal ya bu. Maafkan hikmal ya jaki. Kalau nanti ke rumah sakit. Tolong panggil saya. Saya akan membayar pengobatan jaki." Pinta saya.
    "Mungkin hanya kaget bu. Mudah2an nggak apa2, apalagi dia anaknya juga penggeli. Siapa tahu dia geli ketika dipegang badannya. Tapi dia bilang sakit." demikian jawaban ibu,  bapak, dan nenek jaki.
    Walau agak lega mendengar penjelasan mereka. Saya masih khawatir dengan keadaan jaki. Semoga Allah memberi kesehatan pada Jaki. Mohon doanya ya teman2.

Comments

  1. Semoga tidak ada yang serius dengan zaki ya

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. ^_^

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.