Skip to main content

SUARA KODOK

SUARA KODOK
Nelfi Syafrina


Sudah beberapa hari  hujan turun di tempat kami.  Alhamdulillah, rumah kami yang terletak di perkampungan di pinggir Jakarta, tidak terendam banjir seperti rumah-rumah di Jakarta.

Malam kedua setelah hujan deras,  tiba-tiba aku  mendengar suara yang amat nyaring, yang tak pernah ku perhatikan sebelumya.

"Kwong, kwung, kwong,kwung....” suara itu terdengar bersahutan. Aku dan Avi adikku segera menghentikan permainan kami menyusun puzzle. Adikku segera mendekati Ibu, dengan raut wajah ketakutan.

“Bu, suara apa itu” ujarnya sambil memeluk Ibu.

“Tidak apa-apa sayang, itu hanya suara kodok yang sedang bernyanyi” jelas Ibu sambil membelai Avi.

“Suara kodok, kok terdengar sangat nyaring sekali, kodok kan kecil Bu” tanya ku tak percaya.

“Benar sayang,  walau kecil , kodok bisa mengembung lehernya, saat ingin mengeluarkan suaranya, sehingga suaranya terdengar nyaring. Apalagi di musim hujan seperti sekarang ini” jelas Ibu lagi.

“Mungkin itu bukan kodok yang biasa kita lihat Bu” sela Avi.

“Tidak, itu adalah suara kodok yang biasa kalian lihat”

Seiring dengan percakapan kami, suara itu terus terdengar saling bersahutan. Aku jadi penasaran, bagaimana kodok kecil bisa mempunyai suara sebesar itu.  Aku ingin keluar melihatnya, tapi Ibu melarangku.
Adikku juga menahanku. “Jangan Kak, nanti Kakak di makan loh”  katanya.

"Tidak mungkin Vi,  mana mungkin kodok memakan manusia “ ujarku.

“Bisa saja, seperti yang di film-film, kodoknya berubah jadi monster, terus memakan semua orang yang didekatnya” Avi bergidik.

Hatiku ciut juga mendengar kata-katanya. Benar juga ya, bagaimana jika kodoknya berubah menjadi raksasa yang sangat besar. Hiiiy pasti  menyeramkan sekali. Aku jadi memikirkan Bapak yang belum juga pulang dari kantor, jika ada Bapak pasti lebih aman

“Sebaiknya kalian tidur. Sekarang sudah jam delapan” Ibu mengajak kami ke kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka.

“Bu aku tidur di kamar Ibu saja ya. Aku takut, suara kodok itu masih saja terdengar.” rengek adikku yang masih kelas satu itu pada Ibu ketika Ibu hendak meninggalkan kamar kami.

“Kan ada Kak Ami, kenapa Avi takut, lagi pula Ibu sudah bilang bahwa itu hanya suara Kodok, jadi Avi tidak perlu takut.” Ibu mencium dahi kami berdua bergantian. Kemudian beliau berlalu meninggalkan kamar kami sambil mematikan lampu kamar.

Sampai beberapa saat kami tidak bisa tidur juga. Suara itu masih mengganggu kami.

“Kak, kita tidur di kamar Ibu saja yuk” ajak Avi.

Tanpa berpikir panjang aku bangun dan turun dari tempat tidur.  “Yuk” kataku.

Tiba-tiba tanpa kami duga, bapak muncul didepan pintu kamar kami. “Ami dan Avi belum tidur?“ tanyanya.

“Bapak sudah pulang !” seru kami berdua gembira, sambil menghambur kearahnya.

“Belum Pak, kami tidak bisa tidur, karena suara itu” ucapku cepat.

“Ibu bilang kalian takut suara kodok itu ya” tanya Bapak dengan senyum tertahan.

“Iya Pak, kami tidur di kamar Bapak saja ya” Avi memelas.

“Begini saja, tadi Ami ingin melihat kodok yang sedang bernyanyi itu kan” tanya Bapak kepadaku. Aku mengangguk

“Kalau begitu ayo kita lihat kodoknya! Hujannya sudah reda, setelah melihat
kodok itu, kalian boleh memilih; tidur di kamar kalian atau di kamar Ibu dan Bapak” jelas Bapak.

Aku dan Avi  saling berpandangan. Avi tampak ragu-ragu.


“Ayo Vi, dari pada kita memikirkan monster, lebih baik kita lihat saja langsung, biar kita juga bisa tahu bentuk kodok jika sedang bersuara nyaring” rayuku, Avipun setuju.

Bapak, aku dan Avi keluar rumah. Bapak berjalan didepan kami sambil membawa lampu senter. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar, dengan teliti Bapak mengarahkan senter ke dekat genangan air, tempat suara kodok terdengar sangat nyaring.

“Itu , kodoknya ada beberapa ekor!” seru Bapak sambil mengarahkan cahaya senter kepada kumpulan kodok itu.

Benar saja Aku dan Avi melihat sekelompok kodok yang sedang mengembungkan lehernya bergantian seiring dengan suara nyaring yang kami dengar tadi. Wow, lucu sekali! Ternyata memang benar itu kodok biasa yang sering kami lihat, bukan kodok monster. Tak ada yang perlu ditakutkan seperti kata ibu tadi.

“Nah, sekarang kalian mau tidur di kamar siapa” tanya Bapak

“Di kamar kami saja Pak” jawab ku dan Avi mantap.[]

Di muat di rubrik Permata, majalah Ummi No. 03/ XIX juli 2007/ 1428 H

Source image : http://blog.student.uny.ac.id
Repost dari http://penulisbacaananak.blogspot.com/2011/01/cerpen-suara-kodok.html

Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…

Membuat Paspor Online yang Berakhir Offline

Ada pengalaman sedih saat saya mengurus Paspor beberapa hari lalu. Pasalnya saya sudah merasa persiapan saya sempurna. Saya sudah mendaftar dan mengisi beberapa data di formulir pembuatan Paspor online. Saya juga sudah mengirim scan surat-surat penting. Dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi kedatangan pembuatan paspor dari imigrasi pada tanggal 30 April 2014. Yang meminta saya membawa berkas tersebut ke bank dan membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di berkas yang dikirimkan ke email saya.