Skip to main content

Aku Belajar Dari Mereka

         Beberapa bulan lalu saya berkesempatan untuk menjadi relawan salah satu calon walikota dan wakil walikota Bekasi. Yaitu Bapak Nur Suprianto dan Firdaus. Saya dan beberapa relawan lain mengadakan baksos bidang kesehatan. Kami memberikan pelayanan gratis kesehatan mulai dari mengukur vital sign dan mengecek gula darah, kolesterol dan asam urat. 
       Saya di tempatkan di bagian mengukur tekanan darah. Bersyukur ilmu keperawatan yang pernah saya dapatkan dulu, bisa saya praktekkan lagi sekarang. 

      Pada kesempatan ini kami melihat warga yang cukup antusias melakukan pemeriksaan kesehatan mereka. Tentunya sebagai petugas yang memeriksa tekanan darah para warga, saya harus lebih banyak bertanya kepada mereka tentang keluhan penyakit yang mungkin saja mereka miliki.
        Saya bersyukur Allah memberikan saya kesempatan untuk memeriksa masyarakat di sekitar kelurahan Harapan Jaya, Bekasi Utara ini. Karena seperti postingan saya beberapa waktu lalu, saya baru saja menjalani operasi pengangkatan kantung empedu. Saat itu saya merasa penyakit saya cukup parah. Kadang rasa sakit itu membuat saya down dan mungkin saja berkeluh kesah dalam hati. Karena sampai sekarang saya masih mengalami mual dan pusing karena asam lambung yang belum kembali normal.
      Namun ketika saya mengingat kembali saat-saat saya melakukan pelayanan kesehatan beberapa waktu lalu itu, rasa syukur saya kembali hadir. Hal ini akan selalu saya jadikan motivasi bagi diri saya ketika saya merasa tubuh saya kurang sehat. Ada beberapa keluhan warga yang masih saya ingat sampai hari ini. Yang insyaallah akan selalu menjadi motivasi saya agar tetap semangat menjalankan semua aktivitas.
      Saya bagi beberapa keluhan mereka itu di sini. Semoga kisah mereka bisa menjadi kekuatan juga bagi kita semua untuk selalu bersyukur. Berikut beberapa di antaranya. Pertama seorang asisten rumah tangga (ART) yang hanya bisa tidur 4 jam sehari sehingga tekanan darahnya rendah. Saat itu tekanan darahnya hanya 90/50 mmhg. Saya kaget melihat angka ini. Ini cukup rendah. Dan bisa saja dia pingsan jika tidak istirahat dan makan makanan yang bergizi. Saya sarankan minum madu, makan kurma dan makan teratur serta istirahat yang cukup kepadanya. Lalu mengalirlah cerita dari mulut ibu itu. 
    Menurutnya dia bekerja pada 4 keluarga. Dia harus melakukan hal itu untuk menjalani hidupnya. Dia punya anak yang harus diberi makan dan sekolah. Suaminya sudah tidak ada. Dia hanya bisa tidur tidak lebih dari 4 jam sehari semalam. Tidak ada waktu untuk beristirahat. Jika dia tidak bekerja, maka bisa dipastikan dia harus mengurangi jatah makan anak-anaknya. Dia bahkan hampir tak bisa makan makanan yang bergizi seimbang sesuai saran saya. 
       Ya Allah... saya merasa ditampar. Saya memberi saran kepada seseorang yang dia tidak mampu melaksanakan saran itu. :'( Saya tak tahu harus menyarankan apa lagi. Saya coba menyarankan agar dia memenuhi kebutuhan istirahatnya dulu. Tapi jawabannya malah lebih membuat saya merasa berdosa. Dia tidak mungkin menambah jam tidurnya. Karena jika dia melakukan hal itu, dia pasti telat ke tempat kerjanya. Imbasnya, dia akan dimarahi, bahkan mungkin dipecat yang pada akhirnya berdampak juga pada kehidupan dia dan anaknya.
      Saya hanya bisa tersenyum perih. Tak ada yang bisa saya lakukan selain memberi semangat pada ibu itu. "Saya doakan ibu selalu sehat ya. Insyaallah Allah akan memberikan kekuatan lebih pada ibu."
     Masih banyak keluhan-keluhan warga yang lain yang insyaallah saya catat dan akan saya ingat selalu ketika saya mulai mengeluh dengan keadaan saya. Beryukur pada Allah yang telah mengizinkan saya bergabung menjadi relawan NF dan Asyik di pilkada Bekasi. Karena dengan menjadi relawan itu, saya menjadi lebih bersyukur dengan keadaan saya yang jauh lebih baik dari beberapa masyarakat di sekitar saya. Semoga Allah memberikan kesehatan dan kesabaran kepada warga yang saya periksa beberapa waktu lalu itu. Aamiin...
  



Comments

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. ^_^

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kira-kira tiga bulan lalu, saya merasa ada yang aneh dengan penglihatan saya. Saya melihat benda seperti melihat dibalik fatamorgana atau melihat dibalik air. Seolah benda yang saya lihat itu tidak diam. Walau terasa tidak nyaman, saya berusaha melakukan semua kegiatan saya seperti biasanya. Saya mengantar Hauzan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis.
       Hanya saja, semakin hari penglihatan saya makin terasa tidak nyaman. Tanpa sengaja suatu hari saya mengucek mata kiri sambil melihat ke dinding. Saat itu saya melihat dengn mata kanan saya. Ada sesuatu yang aneh ternyata pada mata kanan saya. Dinding rumah yang seharusnya berwarna krem, ternyata ada lingkaran berwarna coklat sebesar bola sepak dalam penglihatan mata kanan saya. Karena penasaran saya coba menutup mata kiri dan melihat dengan mata kanan saja. Saya masih melihat hal yang sama. Ada lingkaran penuh dengan warna coklat bening terlihat di dinding rumah.

Pengaruh Membaca dan Mendengarkan Al Quran Terhadap Kecerdasan & Perkembangan Janin, Bayi dan Balita

Ketika hamil Hauzan (6 tahun) putera ke tiga saya, saya cukup lemah dan sering sakit. Saya lebih banyak bedrest. Pertama karena saya hampir tiap hari morning sicknes. Kedua karena sakit maag saya kumat sejak minggu ke 16 kehamilan hingga melahirkan, sehingga makanan sangat susah masuk. Akibatnya saya lemas dan kurang gizi.



      Karena hal tersebut, saya pun jadi lebih banyak khawatir. Khawatir apakah nanti janin saya baik-baik saja. Bagaimana nanti jika dia kurang gizi? Apakah janin saya akan sehat-sehat saja? Dan puluhan pertanyaan penuh kekhawatiran lainnya yang bertebaran dalam pikiran saya. Apalagi saat hamil anak ke tiga ini, usia saya sudah 35 tahun. Menurut dokter usia yang cukup riskan untuk hamil. Ditambah jarak kehamilan kedua dan ketiga ini cukup jauh. Sekitar 7 tahun.

Kejadian Aneh di Asrama

Masuk Asrama            Alhamdulillah bulan april 1993, aku diterima di sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Peraturannya, setiap siswa Sekolah Perawat Kesehatan harus bermukim di asrama. Pada hari yang telah ditentukan akupun masuk asrama bersama temanku yang lain. Kamipun di tempatkan di kamar yang khusus untuk siswa tahun pertama.
            Sebelum masuk asrama, kami wajib membawa baju dan peralatan lainnya yang sudah ditentukan oleh sekolah. Seperti baju rumah 3 stel, baju tidur 3 stel, baju seragam 3stel dan seterusnya. Bagiku ini bukan masalah, karena aku memang hanya punya sedikit pakaian yang aku pakai silih berganti.
           Tidak demikian halnya dengan beberapa orang temanku. Ada yang mengeluh ketika guru asrama memeriksa barang bawaan kami. Ketika beliau menemukan kelebihan pakaian dari yangseharusnya, maka pakaian itu harus dibawa pulang kembali oleh orangtua atau wali murid yang mengantar kami saat itu.  
            Kehidupan asrama, mulai aku rasakan. Ada s…